Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu-malu kucing
Naira langsung melangkah lebar ke arah meja kayu panjang di sudut ruko, mengabaikan tatapan anak-anak kelas 11-A yang masih melongo. Dia mengempaskan tubuhnya ke kursi plastik dengan gerakan agak menghentak, lalu meletakkan tas kecilnya di meja sebagai pembatas wilayah.
Begitu posisinya membelakangi Rama, runtuh sudah semua pertahanan anggun yang dia bangun sejak di kamar tadi.
Ihhh, apaan sih Naiii! Ya ampun maluuu, maluuu banget!!! teriak batin Naira histeris.
Kedua tangannya refleks terangkat, memegang kepalanya sendiri dengan gemas. Jari-jarinya meremas rambut panjangnya pelan, mengacak-acaknya sedikit seolah-olah dengan begitu dia bisa menghapus memori tatapan lempeng nan geli milik Rama barusan. Wajahnya yang sudah dilapisi cushion mahal kini terasa panas, mungkin warnanya sudah merah padam melebihi warna lip tint-nya.
Kenapa juga aku harus sekencang itu nyemprot parfum?! Kenapa pakai flanel ini?! Kenapa gak pakai kaos oblong butut aja tadi?! Naira merutuki dirinya dalam hati, rasanya pengen menghilang saat itu juga dari ruko fotokopi ini.
"Nai? Kamu... pusing?" ujar teman Naira dan Rama
Suara berat Rama tiba-tiba terdengar tepat di sampingnya.
Naira tersentak kaget. Dia langsung menurunkan tangannya dari kepala, membenarkan posisi duduknya secepat kilat, dan mendongak dengan wajah yang dipaksakan sedatar mungkin. Namun, sial bagi Naira, Rama sudah berdiri di sana sambil memegang sebuah kipas sate bambu tradisional yang entah dia dapat dari mana.
Tanpa permisi, Rama mulai mengayunkan kipas bambu itu ke arah Naira. Angin sepoi-sepoi yang dihasilkan kipas itu langsung menerpa wajah Naira yang kepanasan.
"Di sini memang agak gerah karena mesin fotokopinya nyala terus," ucap Rama santai, tangannya masih bergerak naik-turun mengipasi Naira. "Makanya tadi aku nanya, pakaian kamu tebal banget begitu. Tapi kalau itu baju sehari-hari kamu, ya... sori."
Naira mematung. Angin dari kipas bambu Rama memang bikin adem, tapi kombinasi antara aroma parfum mahalnya dengan bau anyam-anyaman bambu dari kipas Rama menciptakan sensasi wewangian baru yang sangat absurd di ruko itu.
Anak-anak kelas 11-A yang melihat dari kejauhan mulai berbisik-bisik sambil menahan tawa. "Gila, si Rama. Spek putri keraton begitu malah dikipasin pakai kipas sate," bisik salah satu teman mereka yang langsung mendapat pelototan tajam dari Naira.
"Gak usah dikipasin! Aku gak pusing, dan aku gak kepanasan!" seru Naira, menepis pelan tangan Rama yang memegang kipas. Dia merebut dokumen tugas kelompok lain yang tergeletak di meja untuk mengalihkan perhatian. "Udah, buruan! Ini kelompoknya si Rio kenapa Bab 3-nya malah ngebahas inflasi negara Zimbabwe?! Kita kan tugasnya ekonomi mikro!"
Rama menurunkan kipas bambunya, lalu menarik kursi plastik lain dan duduk di sebelah Naira. Jarak mereka yang dekat membuat Rama lagi-lagi mencium wangi vanila yang pekat, tapi cowok itu memilih fokus.
"Nah, itu dia masalahnya," sahut Rama, nadanya kembali serius ke mode belajar. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, membuka lembaran tugas. "Mereka cuma copy-paste dari internet tanpa filter. Menurutmu, bagian mana yang harus kita rombak duluan?"
Naira mencoba mengatur napasnya yang sempat berantakan. Melihat Rama yang bisa langsung profesional dan tidak membahas soal "baju fashion show" lagi membuat harga diri Naira sedikit terselamatkan. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap lembaran kertas di depannya, dan mulai mengeluarkan aura siswi cerdasnya.
"Halaman pertama sampai tiga hapus total," ucap Naira tegas, pulpen gelatiknya sudah siap mengeksekusi kertas-kertas malang itu. "Kita suruh mereka ambil data dari pasar lokal dekat sekolah besok pagi. Dan kamu, Rama..." Naira melirik cowok di sampingnya dengan tatapan menantang, "...kamu yang bagian bimbing mereka turun ke lapangan. Aku yang bagian benerin teorinya di sini. Adil, kan?"
Rama menatap Naira sejenak, lalu sebuah senyuman tipis yang kali ini tidak disembunyikan muncul di wajahnya. "Adil. Kerja bagus, Mentor Naira."
Naira cepat-cepat memalingkan wajahnya lagi ke arah kertas, pura-pura sibuk mencoret-coret teks, demi menyembunyikan senyumnya sendiri yang mendadak lolos. Ihh, apaan sih Naira, digituin aja baper! Fokus, Nai, fokus!