NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Busuk dan Rekaman Rahasia

Hari H "Pekan Raya Manajemen" akhirnya tiba. Lapangan tengah Universitas Jayasakti yang biasanya sepi kini disulap menjadi area bazar yang cukup ramai. Lagu-lagu pop lokal berdentum dari pengeras suara, dan beberapa stan makanan mulai dipadati mahasiswa dari luar kampus.

Sebagai anak magang dadakan di divisi perlengkapan, Arkan praktis menjadi orang yang paling sibuk. Kaus hitamnya kembali basah oleh keringat karena dia harus mondar-mandir memastikan kabel-kabel genset aman dan tidak ada stan yang kekurangan daya listrik.

Sementara itu, Rangga berjalan ke sana kemari memakai kemeja panitia berwarna biru dongker yang disetrika rapi, lengkap dengan handy talky (HT) yang tersampir di pinggangnya. Wajahnya tampak sangat jumawa.

Ghea, yang hari itu bertugas menjaga stan minuman milik Kafe Amarta di area bazar, sesekali melirik ke arah Arkan. Dia merasa lega melihat cowok itu sudah benar-benar pulih dari demamnya semalam, meskipun Arkan masih terlihat sedikit kelelahan karena langsung dihajar kerja fisik hari ini.

"Arkan! Sini lo!"

Tiba-tiba, suara melengking Rangga terdengar dari arah panggung utama. Suaranya yang menggunakan pelantang suara membuat beberapa orang di sekitar panggung menoleh, termasuk Ghea yang sedang melayani pelanggan.

Arkan berjalan mendekat dengan santai, mengelap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil. "Kenapa?"

Rangga menunjuk ke arah sebuah proyektor mahal milik kampus yang diletakkan di atas meja kontrol panggung. Lensa bagian depannya tampak retak parah, dan lampu indikatornya mati total.

"Lo apain ini proyektor?!" bentak Rangga kasar, sengaja membesarkan suaranya agar didengar oleh dosen pembina kemahasiswaan, Pak Mulyono, yang kebetulan sedang meninjau lokasi di dekat sana.

"Gue gak nyentuh barang itu dari tadi pagi," jawab Arkan lempeng. Matanya menatap datar ke arah proyektor yang rusak.

"Gak usah bohong lo! Divisi perlengkapan yang megang kunci gudang semalam itu cuma lo! Dan lo yang bertugas ngeluarin barang ini tadi subuh!" tuduh Rangga berapi-api. Dia menoleh ke arah Pak Mulyono yang mulai berjalan mendekat dengan dahi berkerut. "Pak Mulyono, lihat nih, Pak. Barang inventaris kampus yang harganya belasan juta dirusak sama anak baru ini. Dia harus tanggung jawab, Pak! Kalau gak bisa ganti, mending dipecat aja dari kampus!"

Pak Mulyono menghela napas berat, menatap Arkan dengan pandangan menuntut penjelasan. "Arkan, benar kamu yang terakhir memegang proyektor ini?"

"Benar, Pak. Tapi waktu saya keluarin dari gudang, barangnya masih dibungkus tas pelindung tebal dan dalam kondisi baik," bela Arkan tenang, meskipun di dalam hatinya dia mulai merasa ada yang tidak beres.

"Halah! Alasan klasik!" potong Rangga sinis. "Pokoknya kampus gak mau tahu. Ganti rugi belasan juta, atau urusan ini kita bawa ke sidang etik mahasiswa. Lo bisa di-DO!"

Arkan mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Uangnya saat ini benar-benar tidak cukup bahkan untuk membeli makanan layak, apalagi untuk mengganti proyektor belasan juta. Dan jika masalah ini sampai ke meja sidang etik, orang tuanya di Solaria pasti akan mendengar kabar ini, yang berarti masa hukumannya bisa diperpanjang atau dia akan dianggap gagal total oleh ayahnya.

From kejauhan, Ghea meremas kain celemeknya erat-erat. Dadanya bergemuruh hebat mendengar tuduhan murahan Rangga. Dia tahu betul Arkan—meski menyebalkan—adalah tipe cowok yang sangat bertanggung jawab dan tidak mungkin seceroboh itu.

Nggak mungkin Arkan yang ngerusak. Ini pasti kerjaan si ulat keket itu! batin Ghea geram, merujuk pada Rangga.

Saat jam istirahat siang, Ghea memutuskan untuk melakukan penyelidikan kecil. Dia berjalan mengendap-endap menuju ruang sekre HIMA yang terletak di sudut lantai satu gedung utama. Lorong di sekitar sana tampak sepi karena sebagian besar mahasiswa berkumpul di lapangan bazar.

Begitu mendekati pintu sekre yang sedikit terbuka, Ghea mendengar suara tawa yang sangat familier dari dalam.

"Hahaha! Gila, akting lo tadi pagi mantap banget, Ngga!" suara itu adalah suara salah satu anak buah setia Rangga.

"Ya iyalah. Lagian tuh anak baru belagu banget jadi orang. Biar tahu rasa dia," sahut Rangga dengan nada puas dan sombong. "Lagian proyektor itu kan emang udah rusak dari bulan lalu gara-gara jatuh pas acara wisudaan. Daripada HIMA yang disuruh ganti sama pihak fakultas, mending sekalian aja kita tumbalin si kuli fotokopi itu. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui!"

Tangan Ghea gemetar mendengar pengakuan menjijikkan itu. Rasa amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Dia refleks merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel Android murahnya yang untungnya memiliki fitur perekam suara bawaan yang masih berfungsi dengan baik.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena tegang, Ghea mengarahkan mikrofon ponselnya ke celah pintu yang terbuka, merekam seluruh percakapan licik Rangga dan temannya selama hampir dua menit sampai mereka selesai tertawa-tawa.

Setelah mendapatkan bukti yang sangat kuat, Ghea langsung berjalan cepat meninggalkan area sekre sebelum ada yang melihatnya.

Tantangannya sekarang adalah: bagaimana memberikan rekaman ini kepada Arkan tanpa membuat cowok itu curiga? Ghea tidak mungkin langsung mengirimkannya lewat pesan instan, karena nomor teleponnya pasti akan ketahuan.

Ghea memutar otak. Dia berjalan kembali ke stan Kafe Amarta, lalu mengambil sebuah kartu memori MicroSD cadangan berukuran kecil dari dalam dompetnya. Menggunakan ponselnya, dia memindahkan file rekaman suara tadi ke dalam kartu memori tersebut.

Sore harinya, saat suasana panggung mulai sepi karena acara jeda menjelang malam, Arkan tampak duduk sendirian di tangga koridor belakang gedung dengan wajah yang sangat penat. Tas duffel hitamnya tergeletak begitu saja di lantai semen di sampingnya.

Ghea berjalan melewati koridor tersebut dengan santai, berpura-pura sedang membawa sekotak tisu untuk stan bazarnya. Saat jaraknya sudah dekat dan Arkan sedang menunduk memijat pelipisnya, Ghea sengaja menyenggol tas duffel Arkan hingga bergeser sedikit.

"Eh, sori. Tas lo ngalangin jalan," ketus Ghea pura-pura judes.

Arkan mendongak, menatap Ghea dengan malas. "Jalanan segede gini masih dibilang sempit. Mata lo taruh di mana sih?"

"Terserah!" sahut Ghea sambil melengos pergi.

Namun, tanpa disadari oleh Arkan yang sedang lengah, saat menyenggol tas tersebut tadi, jemari lentik Ghea dengan sangat cepat dan lihai telah menyelinapkan kartu memori kecil yang dibungkus kertas tisu ke dalam kantong jaring-jaring bagian luar tas duffel Arkan. Di dalam kertas tisu itu, Ghea sudah menuliskan pesan singkat dengan huruf cetak besar:

“TONTON/DENGERIN ISI KARTU INI SEBELUM LO NEMUIN PAK MULYONO JAM 7 MALEM NANTI. JANGAN BODOH, PAKE OTAK LO BUAT BUNGKAM SI NORAK.”

Pukul enam sore, Arkan kembali ke kelas untuk merapikan barang-barangnya sebelum dipanggil menghadap Pak Mulyono dan Rangga di ruang dosen. Saat dia merogoh kantong luar tas duffel-nya untuk mengambil kunci kosan, jarinya menyentuh gumpalan tisu kecil.

Arkan mengernyit heran. Dia membuka gulungan tisu tersebut dan menemukan sebuah kartu memori serta secarik kertas kecil berisi tulisan tangan asing yang sengaja dibuat kaku.

"Apaan nih?" gumam Arkan penasaran.

Dia memasukkan kartu memori itu ke ponselnya, lalu membuka aplikasi pemutar suara. Detik berikutnya, suara tawa Rangga dan pengakuan liciknya terdengar sangat jelas dari pengeras suara ponsel Arkan.

Sebuah senyuman dingin dan tajam perlahan terukir di wajah tampan Arkan. Matanya yang tadi tampak lelah kini berkilat penuh antisipasi berbahaya.

"Oh... jadi lo mau main kotor, Rangga?" bisik Arkan pelan. Dia mengeluarkan kartu memori itu, lalu menyimpannya dengan aman di saku celananya.

Tepat pukul tujuh malam, di ruang rapat dosen yang sepi, Pak Mulyono duduk di balik meja besarnya, didampingi oleh Rangga yang berdiri dengan wajah sok prihatin namun matanya berkilat puas.

Arkan masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi depan meja Pak Mulyono.

"Arkan, Bapak sudah berdiskusi dengan Ketua HIMA," ujar Pak Mulyono dengan nada serius. "Kerusakan proyektor ini cukup fatal. Karena kamu tidak memiliki bukti bahwa kamu tidak merusaknya, kampus terpaksa meminta kamu mengganti rugi sebesar lima belas juta rupiah, atau kami akan memproses penangguhan status kemahasiswaan kamu."

Rangga tersenyum menang di belakang punggung Pak Mulyono. "Iya, Arkan. Mending lo ngaku aja sekarang. Jangan mempersulit diri sendiri di kampus ini."

Arkan menatap Rangga dengan pandangan meremehkan yang sangat dalam, membuat senyum di wajah Rangga perlahan memudar digantikan rasa tidak nyaman.

"Saya punya bukti baru, Pak Mulyono," kata Arkan tenang. Dia mengeluarkan ponselnya, meletakkannya di atas meja, lalu menekan tombol putar pada file rekaman yang baru saja dia dapatkan.

“...Lagian proyektor itu kan emang udah rusak dari bulan lalu gara-gara jatuh pas acara wisudaan. Daripada HIMA yang disuruh ganti... mending sekalian aja kita tumbalin si kuli fotokopi itu...”

Suara Rangga yang sangat jelas menggema di seluruh sudut ruangan dosen yang sunyi.

Wajah Rangga seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Tubuhnya mendadak kaku, dan keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.

"Ini... ini gak bener, Pak! Ini rekayasa! Suara saya diedit!" jerit Rangga panik, mencoba merebut ponsel Arkan dari atas meja.

Namun dengan sigap, Pak Mulyono menepis tangan Rangga dengan wajah yang kini memerah padam karena murka. "Rangga! Cukup! Kamu berani membohongi saya dan memfitnah mahasiswa baru?!"

"Pak, bukan gitu, Pak—"

"Besok pagi, kamu dan seluruh pengurus inti HIMA yang terlibat temui saya di ruang Dekan! Jabatan kamu sebagai Ketua HIMA akan saya tinjau ulang!" bentak Pak Mulyono tegas. Beliau kemudian menoleh ke arah Arkan dengan ekspresi menyesal. "Arkan, maafkan kelalaian pihak panitia. Kamu bebas dari segala tuduhan ganti rugi. Kamu boleh kembali ke kosan sekarang."

"Terima kasih, Pak," jawab Arkan sopan.

Arkan berdiri, lalu menatap Rangga yang kini tertunduk lemas dengan tubuh gemetar di pojokan ruangan. Sambil berjalan melewati Rangga, Arkan berbisik sangat pelan di telinga seniornya itu. "Lain kali, kalau mau main, pakai otak lo yang kecil itu. Jangan bikin malu diri sendiri."

Setelah keluar dari gedung kampus, Arkan berjalan menyusuri lapangan bazar yang mulai sepi karena malam sudah semakin larut. Angin malam Sukaasih bertiup lembut, menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Arkan merogoh saku celananya, menatap kartu memori kecil di telapak tangan. Pikirannya melayang pada sosok misterius yang menyelamatkannya malam ini. Dia sangat tahu, tidak ada satu orang pun di kampus ini yang peduli padanya atau memiliki keberanian untuk menyelinap ke sekre HIMA demi dirinya.

Kecuali satu orang.

Arkan mempercepat langkah kakinya menuju arah gerbang luar. Dari kejauhan, di dekat stan Kafe Amarta yang sedang bersiap untuk tutup, dia melihat Ghea sedang sibuk merapikan kardus-kardus kosong sendirian.

Arkan berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di depan stan dengan melipat kedua tangannya di dada.

Ghea mendongak, terkejut melihat kehadiran Arkan yang tiba-tiba. Dia buru-buru memasang wajah judes andalannya untuk menutupi rasa penasarannya. "Ngapain lo di sini? Masih hidup ternyata? Gue kira lo udah nangis-nangis di ruang dosen karena disuruh bayar belasan juta!"

Arkan tidak membalas ejekan itu. Dia hanya menatap Ghea lurus-urus dengan tatapan mata yang terasa jauh lebih hangat dan intens dari biasanya, membuat jantung Ghea mendadak berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normalnya.

Sebuah senyuman tipis tanpa sadar muncul di sudut bibir Arkan.

"Gue emang masih hidup," jawab Arkan pelan. "Dan berkat seseorang yang sangat berisik dan menyebalkan, malam ini gue bisa tidur nyenyak tanpa perlu bayar denda."

Ghea refleks membuang mukanya ke arah lain, menatap kardus kosong di tangannya dengan gugup, berusaha mati-matian menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba muncul di kedua pipinya.

"Gak jelas lo. Udah sana balik, ganggu orang kerja aja!" usir Ghea ketus, meskipun di dalam hatinya, ada rasa lega dan kebahagiaan luar biasa yang membuncah hangat karena tahu bahwa "musuh kesayangannya" itu sekali lagi berhasil selamat berkat bantuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!