.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Siang yang Terusik Politik Keluarga
Keinginan Ji Huang di kehidupan keduanya ini sebenarnya sangat sederhana dan tidak muluk-muluk: dia hanya ingin menikmati tidur siang yang berkualitas tanpa gangguan.
Setelah berjalan kaki dari arena turnamen dengan betis yang terasa pegal, dia langsung mengunci diri di dalam kamarnya. Mengabaikan fakta bahwa pintu kamarnya telah hancur berantakan akibat gebrakan dramatis ayahnya tadi pagi—yang kini hanya ditutupi selembar kain seprai tipis sebagai penghalang angin—Ji Huang langsung merebahkan diri. Dia bergulung di dalam selimut apeknya dan dalam hitungan detik, kesadarannya tenggelam ke alam mimpi yang damai.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama dua jam.
TAP! TAP! TAP!
Langkah-langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa mendadak menggema di halaman paviliunnya, menghancurkan keheningan siang itu. Sesaat kemudian, kain seprai yang berfungsi sebagai pintu kamarnya disingkap dengan kasar.
"Ji Huang! Bangun, dasar babi malas! Kenapa kamu malah enak-enakan tidur?!"
Ji Lan melangkah masuk dengan wajah pucat pasi. Napas sepupunya yang jutek itu memburu, dan matanya memancarkan kepanikan yang teramat sangat. Dia langsung mengguncang bahu Ji Huang yang masih terbungkus selimut. "Cepat bangun dan lari lewat jendela belakang! Tetua Kelima tahu apa yang kamu lakukan pada Huang Jian! Dia mengamuk dan membawa pasukan pengawal penegak hukum ke sini untuk menangkapmu!"
Ji Huang perlahan membuka matanya. Dia mengucek mata kanan dengan malas, lalu duduk di tepi ranjang sambil menguap sangat lebar. "Sepupu, bicaramu berisik sekali. Angin siang ini sudah sejuk, kenapa kamu harus membawa kabar yang merusak suasana?"
"Kamu—" Ji Lan hampir saja pingsan mendengar tanggapan kelewat santai itu. "Kamu baru saja menghancurkan lutut anak kesayangannya sampai menjadi cacat permanen! Tetua Kelima itu kultivator Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-6! Dia bisa meremukkan tulangmu hanya dengan satu jentikan jari!"
Belum sempat Ji Lan menarik paksa Ji Huang dari kasur, suara bentakan yang menggelegar seperti guntur mendadak memotong udara.
"BAJINGAN KECIL JI HUANG! KELUAR KAMU!"
BAM!
Sisa-sisa kusen pintu kamar Ji Huang hancur total menjadi serpihan kayu saat seorang pria paruh baya berjubah merah tua melangkah masuk. Wajahnya merah padam karena amarah, dan matanya menyalang penuh napsu membunuh. Di belakangnya, tampak delapan pengawal penegak hukum keluarga dengan seragam hitam, semuanya memegang tongkat besi. Pria itu adalah Tetua Kelima, ayah dari Huang Jian.
Aura energi spiritual (Qi Pressure) yang kuat dan menekan langsung memancar dari tubuh Tetua Kelima, membuat Ji Lan seketika sesak napas dan terpaksa melangkah mundur dengan wajah memucat.
Namun, Ji Huang tetap duduk di atas ranjang kerasnya dengan posisi santai. Dia menatap Tetua Kelima dengan pandangan polos, seolah pria paruh baya yang sedang marah besar di depannya ini hanyalah seekor lalat besar yang mengganggu tidurnya.
"Ji Huang, bajingan kecil!" Tetua Kelima menunjuk wajah Ji Huang dengan jari yang gemetar karena murka. "Kamu dengan sengaja menggunakan trik kotor dan keji untuk melumpuhkan putraku, Huang Jian, di atas panggung turnamen! Hari ini, aku sebagai Tetua Penegak Hukum akan menghancurkan dantian-mu dan mematahkan kedua kakimu sebagai pembalasan!"
Ji Huang memiringkan kepalanya, menatap Tetua Kelima dengan ekspresi tanpa dosa yang luar biasa jujur.
"Putramu yang menantangku duluan di panggung. Dia bahkan bilang mau melumpuhkanku secara legal," ucap Ji Huang blak-blakan tanpa filter sedikit pun. "Dan bukankah wasit juga bilang kalau melumpuhkan lawan itu sah-sah saja? Kalau dia sendiri yang lemah, kenapa sekarang Tetua malah menyalahkan tusuk sateku? Sungguh tidak masuk akal."
"Kurang ajar! Berani sekali kamu membalas ucapanku!"
Mendengar argumen polos yang kelewat jujur namun sangat menampar wajahnya itu, Tetua Kelima benar-benar kehilangan kendali emosinya. Aura Pengumpulan Qi Lapis ke-6 miliknya meledak sepenuhnya, menekan atmosfer di dalam kamar kecil itu hingga meja kayu di sudut ruangan mulai retak. Dia mengangkat telapak tangannya, siap melesat untuk menghancurkan dada Ji Huang.
"Hentikan! Jangan sentuh anakku!"
Tiba-tiba, sesosok tubuh agak tambun melompat masuk dari jendela samping dan langsung pasang badan di depan Ji Huang. Itu adalah Ji Tian, ayahnya. Meskipun kultivasi Ji Tian jauh lebih rendah—hanya berada di Lapis ke-2—dan tubuhnya gemetar ketakutan, dia tetap merentangkan kedua tangannya dengan dramatis untuk melindungi anaknya.
"Tetua Kelima! Kalau kamu mau menyentuh Huang-er, kamu harus melangkahi mayatku dulu! Anakku hanya membela diri dari kegagalan putramu yang tidak tahu diri!" teriak Ji Tian dengan gagah berani, meskipun air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya.
Tetua Kelima menyeringai kejam. "Kalau begitu, aku akan menghancurkanmu sekalian, Ji Tian!"
Ji Huang yang berada di belakang ayahnya menghela napas panjang. Sifat malasnya sebenarnya menolak untuk terlibat dalam urusan politik keluarga yang membosankan ini. Namun, melihat ayahnya yang bodoh tapi tulus itu siap mati demi dirinya, Ji Huang tahu dia tidak bisa tinggal diam. Dia tidak ingin hidup tenangnya ke depan terusik karena ayahnya terluka.
Sembari tetap duduk dengan bersila di atas kasur, jemari kanan Ji Huang meraba permukaan dipan kayu. Dia menemukan sebuah serpihan kayu kecil sisa dari pintu kamarnya yang hancur, berukuran tidak lebih besar dari sebutir beras.
Dengan wajah tetap lempeng dan polos, Ji Huang menjentikkan serpihan kayu itu menggunakan jari tengahnya.
Jentikan itu tidak menggunakan energi Qi sama sekali, melainkan murni dilapisi oleh Niat Pedang Tak Terlihat dari jiwa kedewataannya yang agung. Serpihan kecil itu melesat di udara dengan kecepatan yang melampaui persepsi manusia, menembus gelombang aura menekan milik Tetua Kelima tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Pluk.
Serpihan kayu itu menghantam tepat di titik meridian Shanzhong—pusat aliran energi di dada Tetua Kelima.
Detik berikutnya, serangan telapak tangan Tetua Kelima yang sudah hampir mengenai Ji Tian mendadak berhenti di udara. Mata Tetua Kelima melotot kencang. Seluruh energi Qi yang semula berkobar di sekeliling tubuhnya mendadak bocor dan padam seketika, bagai balon yang ditusuk jarum.
"Uhukk!"
Tetua Kelima menyemburkan seteguk darah segar. Tubuhnya mendadak lemas, dan kedua lututnya langsung menghantam lantai batu dengan keras. Dia merosot berlutut tepat di depan Ji Tian, memegangi dadanya yang mendadak terasa lumpuh total. Aliran energinya terkunci mati oleh sebuah kekuatan misterius yang sangat dingin dan mengerikan.
"T-Tetua Kelima?!" Ji Tian yang memejamkan mata siap menerima pukulan langsung kebingungan. Dia melihat Tetua Kelima berlutut di depannya sambil batuk darah, lalu menoleh ke arah Ji Lan dengan wajah bodoh. "Lan-er... apakah aura kehebatanku sebagai seorang ayah baru saja membuat Tetua Kelima berlutut minta maaf?"
Ji Lan tidak menjawab. Matanya melotot menatap Tetua Kelima, lalu beralih menatap Ji Huang yang kini perlahan turun dari atas kasurnya. Sebagai seorang kultivator berbakat, Ji Lan merasakan ada sesuatu yang salah, meskipun dia tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ji Huang melangkah santai, melewati ayahnya yang masih kebingungan, lalu berdiri tepat di depan Tetua Kelima yang kini sedang mendongak dengan wajah pucat pasi dan penuh ketakutan. Tetua Kelima gemetar hebat; dia mengira ada seorang master tersembunyi tingkat tinggi yang sedang melindungi Ji Huang dari bayangan.
Ji Huang berjongkok di depan Tetua Kelima. Wajahnya sangat polos, namun tatapan matanya sedingin es di kutub utara—sebuah tatapan sadis dari seorang Dewa Pedang yang tak tersentuh.
"Tetua Kelima," Ji Huang berbisik dengan nada yang sangat pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Jangan pernah berisik di depan kamarku lagi. Aku ini orangnya malas, tapi kalau besok pagi aku bangun tidur karena teriakanmu atau pasukanmu..." Ji Huang memberikan senyuman kecil yang sangat manis namun mengerikan. "...yang patah selanjutnya bukan cuma lutut putramu, tapi lehermu sendiri. Mengerti?"
Mendengar ancaman berdarah dingin yang disampaikan dengan wajah sepolos anak kecil itu, nyali Tetua Kelima runtuh sepenuhnya. Dia yakin bahwa bocah di depannya ini dikendalikan atau dilindungi oleh monster tua yang sangat kuat.
"M-Mundur... Cepat bawa aku mundur!" Tetua Kelima berteriak panik kepada para pengawalnya dengan suara serak.
Kedelapan pengawal penegak hukum yang ikut ketakutan segera membopong tubuh lemas Tetua Kelima dan berlari tunggang-langgang keluar dari paviliun Ji Huang, seolah-olah tempat itu adalah sarang iblis kuno.
Suasana kamar kembali menjadi sunyi. Ji Lan menatap Ji Huang seolah-olah sepupunya itu adalah makhluk asing dari planet lain, sementara Ji Tian langsung bersorak gembira.
"Hahaha! Hebat sekali! Tekanan batin seorang ayah memang tidak ada tandingannya!" seru Ji Tian bangga dengan kebodohannya yang murni.
Ji Huang hanya menguap kembali, menepuk jubahnya yang kotor, lalu berjalan kembali menuju ranjang kerasnya. Dia merebahkan tubuhnya, menarik kembali selimut tipisnya yang sempat berantakan.
"Ayah," kata Ji Huang dari balik selimut, suaranya sudah setengah mengantuk. "Besok, dari uang saku turnamen yang kudapatkan tadi, tolong belikan aku kasur baru yang lebih empuk. Kasur keras ini beneran bikin punggung dewa... maksudku punggung pemalasku ini terasa sangat pegal."
Ji Tian langsung mengangguk mantap. "Siap, Huang-er! Ayah akan carikan kasur bulu angsa terbaik di Kota Amerta!"
Sembari menutup matanya untuk melanjutkan tidur siangnya yang sempat tertunda, Ji Huang tersenyum puas dalam hati. Dengan mundurnya Tetua Kelima, dia yakin setidaknya untuk beberapa hari ke depan, tidak akan ada tikus-tikus kecil yang berani mengganggu waktu bersantinya di dunia baru ini.