**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 devan menemani alya belanja
Setelah badai drama di koridor mal mereda, suasana di sekitar Alya mendadak menjadi sangat sunyi. Kerumunan orang yang tadinya menonton kini bubar dengan teratur, tidak ada yang berani berbisik apalagi menunjuk-nunjuk setelah melihat bagaimana dua orang pengawal berbadan tegap menyeret Ratna dan Sela menjauh.
Alya masih bisa merasakan kehangatan jas abu-abu milik Devan yang tersampir di bahunya. Aroma maskulin khas kayu cendana yang menempel di kain wol premium itu entah bagaimana perlahan menenangkan debar jantungnya yang sempat berkejaran.
"Sudah tenang?" tanya Devan dingin, namun tangannya masih mendekap bahu Alya dengan protektif saat mereka berjalan menjauhi area koridor utama.
Alya mendongak, menatap profil samping wajah Devan yang terpahat sempurna. "I-iya. Terima kasih, Tuan Devan. Aku tidak menyangka Anda akan datang sendiri ke sini."
Devan mendengus pelan, mengalihkan pandangannya ke depan. "Aku kebetulan ada pertemuan bisnis di restoran lantai atas gedung ini. Jangan berpikir aku sengaja datang ke sini hanya untuk menyelamatkanmu."
> *[Cih. Bohong sekali. Ibu, jangan percaya padanya. Pertemuan bisnisnya baru akan dimulai dua jam lagi. Dia sengaja mempercepat jadwalnya setelah indra keamanannya mendeteksi bahwa detak jantung Ibu meningkat drastis akibat kepanikan tadi. Gengsi pria ini benar-benar tidak tertolong.]*
Alya menahan senyumnya kuat-kuat mendengar bisikan Baby El yang membongkar kedok ayahnya tanpa ampun. Ia hanya mengangguk patuh, pura-pura mempercayai kebohongan pria dingin di sampingnya.
"Lalu, sekarang kita mau ke mana? Pulang?" tanya Alya pelan.
"Pulang?" Devan menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah butik perlengkapan bayi dan ibu hamil yang sangat mewah. Pintu masuk butik itu terbuat dari kaca patri dengan logo mahkota emas yang elegan—persis seperti toko yang tadi disebutkan oleh Baby El. "Kamu belum membeli apa pun. Dan penampakanmu saat ini... sangat tidak mencerminkan calon istri dari seorang Devan Dirgantara."
Devan melirik kaos putih dan celana jeans Alya dengan tatapan menilai. "Ayo masuk. Aku akan menemanimu belanja."
Alya tertegun. "Hah? Anda mau menemani saya belanja baju bayi?"
> *[Yesss! Geser kartunya, Ibu! Kosongkan limit kartu hitam milik Ayah hari ini juga!]*
Sebelum Alya sempat menolak, Devan sudah melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam butik ber-AC sejuk tersebut. Begitu melihat Devan Dirgantara melangkah masuk, manajer butik dan beberapa pelayan langsung membungkuk hormat dengan wajah tegang bercampur ramah.
"Selamat sore, Tuan Muda Devan. Suatu kehormatan bagi kami menerima kedatangan Anda," sambut sang manajer butik dengan suara manis yang bergetar penuh hormat. "Apakah ada yang bisa kami bantu hari ini?"
"Siapkan pakaian hamil terbaik yang tidak menekan perut, berbahan serat organik alami, dan tidak panas," perintah Devan tanpa basa-basi. Ia kemudian menunjuk ke arah Alya yang masih berdiri canggung di dekat pintu. "Ukur tubuhnya. Pastikan semua bahan yang menyentuh kulitnya adalah bahan kualitas nomor satu."
"Baik, Tuan Muda. Mari, Nona, silakan lewat sini," sambut pelayan butik dengan sangat ramah, membimbing Alya ke area ganti eksekutif.
Selama hampir satu jam berikutnya, Alya mendadak merasa seperti seorang boneka barbie hidup. Para pelayan dengan cekatan membawakannya berbagai macam dress kasual, pakaian santai, hingga gaun malam yang didesain khusus untuk wanita hamil muda dengan kenyamanan maksimal.
Setiap kali Alya keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan pakaiannya, Devan hanya duduk di sofa kulit butik sambil memegang secangkir kopi hitam, sesekali memberikan penilaian yang sangat singkat dan dingin.
"Terlalu ketat di bagian pinggang. Ganti."
"Warnanya terlalu mencolok. Ganti."
"Bahan itu terlihat agak kasar di bagian leher. Ganti yang lain."
Alya hanya bisa menghela napas pasrah, menuruti standar selera sang CEO yang luar biasa cerewet dan perfeksionis. Namun, di dalam kepalanya, Baby El justru sangat menikmati sesi belanja ini.
> *[Wah, seleranya boleh juga. Gaun rajut longgar warna krem yang barusan itu membuat Ibu terlihat sangat anggun. Katakan pada pelayannya untuk membungkus gaun itu, Ibu. Dan jangan lupa, jatah kaus kaki mahkotaku!]*
Mengingat keinginan bayinya, Alya berjalan menghampiri rak mainan dan perlengkapan bayi setelah ia selesai memilih pakaiannya. Matanya tertuju pada barisan kaus kaki bayi mungil berlogo mahkota emas di bagian pergelangan kaki.
Alya mengambil satu pasang kaus kaki berwarna abu-abu muda yang sangat lembut. "Tuan Devan... boleh aku membeli ini?" tanyanya agak ragu, menunjukkan kaus kaki kecil itu kepada Devan.
Devan meletakkan cangkir kopinya, menatap kaus kaki mungil yang muat di dalam telapak tangan Alya tersebut. Sesuatu yang hangat mendadak berdesir di dalam dada pria dingin itu saat menyadari bahwa tidak lama lagi, seorang manusia kecil—darah dagingnya sendiri—akan mengenakan benda sekecil itu.
"Hanya satu pasang?" tanya Devan datar.
"Eh?"
Devan berdiri dari sofanya, melangkah menghampiri rak tersebut. Ia menatap manajer butik yang berdiri tak jauh dari mereka. "Bungkus semua warna untuk model kaus kaki ini. Dan siapkan juga ranjang bayi premium, stroller bersuspensi udara, serta seluruh set botol susu antiseptik terbaik yang kalian miliki."
Alya membelalakkan matanya. "Tunggu, Tuan Devan! Kandunganku baru berusia empat minggu! Kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya, dan bayi ini belum akan lahir sampai delapan bulan lagi! Kenapa harus beli stroller sekarang?!"
> *[Ibu, biarkan saja dia membelinya! Jiwa borjuisku sangat menyukai sifat impulsif Ayah yang satu ini. Stroller bersuspensi udara? Hmph, itu terdengar sangat nyaman untuk tidur siangku nanti!]*
Devan menatap Alya dengan sebelah alis terangkat. "Persiapan yang matang adalah kunci kesuksesan dalam hal apa pun, termasuk membesarkan anak. Lagipula, penthouse-ku terlalu luas, beberapa barang bayi ini bisa mengisi ruangan yang kosong."
Alya hanya bisa menepuk jidatnya. Alasan macam apa itu? Mengisi penthouse mewah yang kosong dengan stroller bayi? Benar-benar pola pikir orang kaya yang tidak masuk akal.
Setelah semua barang belanjaan selesai dipilih dan dicatat oleh Yudha untuk langsung dikirimkan ke Penthouse Lavender, manajer butik menyodorkan mesin gesek kartu dengan wajah berseri-seri. Nilai total belanjaan mereka sore itu setara dengan harga satu buah mobil keluarga baru.
Devan mengeluarkan sebuah kartu hitam mengilat—*Black Card* tanpa limit—dan menyerahkannya tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
Begitu mereka melangkah keluar dari butik, Alya mengembuskan napas lega. "Belanja dengan orang kaya ternyata sangat menguras tenaga," gumamnya pelan.
"Ini baru permulaan, Alya," sahut Devan dingin sembari berjalan di sampingnya. "Besok, tim hukumku akan datang ke penthouse untuk menyelesaikan draf pernikahan kontrak kita. Setelah pernikahan ini diresmikan, kamu harus siap menghadapi sorotan media."
Alya menghentikan langkahnya sesaat, menatap punggung tegap Devan yang berjalan beberapa langkah di depannya. Ada rasa gugup yang kembali merayap di hatinya memikirkan bagaimana hidupnya akan berubah total dalam waktu singkat. Dari seorang gadis yatim piatu miskin di kos-kosan sempit, menjadi istri kontrak dari orang paling berpengaruh di negara ini.
Namun, saat kecemasan itu mulai memengaruhinya, kehangatan lembut kembali menjalar di perutnya.
> *[Ibu, tidak perlu takut. Selama ada aku di dalam sini, dan pria dingin berjas itu di sampingmu, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyentuh seujung rambutmu lagi. Misi Terlahir Kembali berjalan dengan sangat mulus!]*
Alya tersenyum manis, mengelus perutnya dengan lembut, lalu mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Devan yang sudah menunggunya di depan lift privat dengan tatapan mata abu-abunya yang teduh.