Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Suasana restoran yang semula tenang berubah menjadi tegang. Menyadari perhatian para pengunjung mulai tertuju kepada mereka, keluarga Gilang segera bergegas meninggalkan ruang VIP melalui pintu samping. Tidak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Mereka memilih pergi secepat mungkin, sementara Mida masih berdiri dengan tubuh gemetar, air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Fandi dan Bu Ana berusaha menenangkannya, membimbingnya kembali ke meja. Ayah Fandi yang sejak tadi memperhatikan keadaan segera mengambil telepon genggamnya. Dengan wajah serius, ia menghubungi pihak yang berwenang untuk meminta penjelasan mengenai status hukum perkara tersebut. Dengan tenang namun tegas ia berkata, "Selamat malam. Saya ingin meminta penjelasan mengenai status perkara yang sedang kami dampingi. Kami baru saja melihat salah satu terdakwa berada di luar. Tolong jelaskan dasar hukumnya, karena kami perlu memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan yang berlaku." Setelah percakapan itu selesai, ia memandang Mida yang masih menangis. "Tenanglah, Nak."
Mida mengangkat wajahnya yang sembab.
"Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau memang ada kekeliruan dalam pelaksanaan putusan atau ada hal yang perlu diklarifikasi, kita akan mengusutnya melalui jalur hukum."
Fandi mengangguk menyetujui ucapan ayahnya. "Kita tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum mendapatkan penjelasan resmi."
Ayah Fandi kemudian menggenggam bahu Mida dengan penuh ketegasan. "Kamu tidak sendirian lagi. Kita akan terus mengawal perkara ini. Setiap langkah akan kita tempuh sesuai hukum."
Mida menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. "Aku hanya takut... Harapan tidak mendapatkan keadilan."
Ayah Fandi menggeleng pelan.
"Perjuangan kita belum selesai. Selama masih ada upaya hukum yang dapat ditempuh, kita akan terus berjuang."
Ucapan itu sedikit demi sedikit menenangkan hati Mida. Ia menyadari bahwa kemarahannya lahir dari kerinduan yang tak pernah selesai kepada putranya. Kini ia memilih kembali mempercayakan langkah berikutnya kepada Fandi dan keluarganya, yang bertekad mengawal perkara tersebut melalui jalur hukum hingga memperoleh kejelasan atas setiap proses yang dijalankan.
Beberapa jam setelah kejadian di restoran, keluarga Fandi segera mengumpulkan seluruh informasi yang mereka miliki. Mereka menyiapkan dokumen perkara, salinan putusan, serta mencatat secara rinci apa yang mereka saksikan malam itu. Bagi mereka, yang perlu dipastikan bukan sekadar keberadaan Gilang di luar, melainkan apakah pelaksanaan putusan telah sesuai dengan ketentuan hukum. Jika terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan putusan atau penyalahgunaan wewenang, hal itu harus diperiksa oleh aparat yang berwenang.
Keesokan paginya, Fandi bersama ayahnya mendatangi instansi terkait untuk mengajukan laporan dan meminta klarifikasi resmi mengenai pelaksanaan putusan tersebut.
Ayah Fandi berkata dengan tenang namun tegas, "Kami meminta agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Kami ingin mengetahui apakah putusan pengadilan telah dijalankan sesuai prosedur. Jika ada penyimpangan atau penyalahgunaan kewenangan oleh siapa pun, kami meminta agar hal itu diusut secara transparan dan diproses sesuai hukum."
Laporan itu kemudian diterima untuk ditindaklanjuti. Beberapa pejabat yang berwenang menyatakan akan melakukan pemeriksaan terhadap administrasi pelaksanaan putusan, termasuk pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan dugaan pelanggaran prosedur.
Tak lama kemudian, muncul penjelasan dari salah satu pihak yang berwenang bahwa terdakwa sempat tidak ditempatkan di lembaga pembinaan karena alasan kondisi psikologis yang memerlukan penanganan khusus.
Fandi tidak langsung menerima ataupun menolak penjelasan tersebut. Ia menjawab dengan tenang, "Kalau memang ada alasan medis atau psikologis, tentu harus dibuktikan dengan dokumen dan prosedur yang sah. Karena itu kami meminta seluruh proses diperiksa secara terbuka sesuai ketentuan hukum."
Ayah Fandi mengangguk. "Yang kami cari adalah kebenaran. Bila semua prosedur telah dijalankan dengan benar, biarlah hasil pemeriksaan yang menjelaskan. Namun jika ada penyimpangan, siapa pun yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkannya sesuai hukum."
Mida yang mendengar percakapan itu kembali memeluk foto Harapan. Ia tidak lagi ingin bertindak karena amarah. Kini ia hanya berharap penyelidikan dilakukan secara jujur, sehingga seluruh proses pelaksanaan putusan dapat dipastikan berjalan sebagaimana mestinya, demi keadilan bagi Harapan dan kepastian hukum bagi semua pihak.
***
Perjuangan keluarga Fandi tidak berhenti pada perkara Harapan. Setelah berbagai kejanggalan yang mereka temukan, tim kuasa hukum mulai menelusuri berbagai dokumen dan informasi yang berkaitan dengan pihak-pihak yang diduga menyalahgunakan kewenangan.
Ayah Fandi berpesan kepada seluruh tim, "Kalau memang ada dugaan pelanggaran, buktikan dengan hukum."
Semua mengangguk. Mereka bekerja siang dan malam. Berbagai laporan disusun. Dokumen diperiksa satu per satu. Setiap dugaan disampaikan kepada aparat penegak hukum melalui jalur yang sah agar dapat diselidiki secara profesional.
Beberapa waktu kemudian, hasil penyelidikan mulai bermunculan. Salah satu perkara yang menjadi perhatian publik adalah dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret ayah Gilang. Setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan, aparat mengumumkan bahwa terdapat bukti yang cukup untuk membawa perkara itu ke proses hukum.
Kabar tersebut langsung menggemparkan masyarakat. Belum selesai publik membahas perkara itu, muncul lagi penyelidikan lain mengenai dugaan penyalahgunaan dana sebuah yayasan pendidikan yang melibatkan kakek Gilang. Perkara tersebut pun diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.
Media massa mulai memberitakan perkembangan demi perkembangan. Media sosial pun kembali ramai. Tagar #JusticeForHarapan kembali menjadi perbincangan.
Seorang warganet menulis,."Akhirnya semuanya diperiksa satu per satu. Biarkan hukum bekerja."
Komentar lain berbunyi, "Kalau memang terbukti bersalah, siapa pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum."
Ada pula yang berkomentar, "Kasus Harapan ternyata membuka jalan bagi terungkapnya dugaan pelanggaran lain. Semoga seluruh proses berjalan adil dan transparan."
Di rumah keluarga Fandi, suasana tetap tenang. Mida membaca berita-berita itu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa puas. Ia menutup layar telepon genggamnya.
Di luar rumah, masyarakat masih terus mengikuti perkembangan berbagai perkara itu. Banyak yang terkejut karena dalam waktu yang hampir bersamaan, berbagai dugaan pelanggaran yang selama ini tersembunyi mulai terungkap dan diperiksa melalui proses hukum.
Bagi Mida, semua itu bukanlah akhir perjuangan. Satu-satunya harapan yang masih ia simpan tetap sama sejak awal: agar kematian Harapan memperoleh keadilan melalui proses hukum yang jujur, terbuka, dan berpijak pada kebenaran.
***
Di tengah proses banding yang masih berjalan, Fandi mengajak Mida pulang ke kampung untuk berziarah ke makam Harapan. Sore itu langit mendung ketika mereka tiba di pemakaman. Mida berlutut di depan pusara putranya sambil membawa bunga, tetapi langkahnya terhenti saat melihat beberapa tangkai bunga segar telah lebih dulu terletak rapi di atas makam. Ia mengerutkan dahi, bertanya-tanya siapa yang diam-diam datang mengunjungi anaknya.
Belum sempat rasa penasarannya terjawab, terdengar langkah kaki mendekat dari belakang. Dapit berdiri dengan kepala tertunduk, wajahnya pucat dan matanya sembap. Begitu bertemu pandang dengan Mida, anak itu langsung berlutut di hadapan makam Harapan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.