Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
Napas Kegelapan yang Merayap
Getaran di dalam Ruang Altar Utama kian tidak terkendali. Dinding-dinding basalt benteng retak menjalar hingga ke langit-langit, memuntahkan bongkahan batu besar yang runtuh menimpa lautan lava keunguan dibawahnya. Kegelapan pekat yang keluar dari Gerbang Jurang Maut tidak lagi sekadar berupa asap, melainkan wujud cairan ghaib yang merayap di sepanjang lantai, membekukan dan merusak setiap sudut yang tersentuholehnya.
Lord Malakor—yang kini sepenuhnya menjadi avatar Raja Iblis Kuno—tertawa melengking. Wujud raksasa kehitamannya dipenuhi duri-duri tajam dan mata merah bertaburan di sepanjang lengannya. Setiap tarikan napasnya memancarkan hawa busuk yang membuat dada Aurelia dan Cassian terasa sesak luar biasa.
"Kalian tidak memiliki jalan keluar lagi!" suara Malakor bergema bagai petir yang menyambar. "Dunia ini
akan melebur menjadi kegelapan murni, dan kalian berdua akan menjadi persembahan pertama bagi era baru!"
Cassian berdiri tegak, menyilangkan pedang besarnya di depan dada. Meskipun darah terus mengalir dari luka di bahunya, matanya memancarkan sinar biru dingin yang tidak pernah padam. "Selama jantung kami masih berdetak, langkahmu tidak akan pernah melampaui pelataran ini!" Benturan Dua Kekuatan Absolut Tanpa rasa takut, Cassian melompat tinggi ke udara. Sihir Es Abadi di dalam dirinya melonjak hingga batas tertinggi, membungkus pedang besarnya dengan kristal es murni yang memancarkan cahaya kebiruan menyilaukan. Dengan tebasan membela udara, Cassian meluncurkan *Tebasan Penghancur Abadi* langsung ke kepala Malakor.Malakor mengangkat tangan raksasanya, menahan serangan tersebut dengan cakar hitam berlapis sihir jurang maut. Dentuman energi dahsyat meledak di udara, memicu gelombang tekanan yang merubuhkan pilar-pilar batu utama di sekeliling arena.
"Sihir esmu sangat dangkal, Cassian!" ejek Malakor. Api hitam menjalar cepat dari cakarnya, membakar dan mencairkan es abadi pada pedang Cassian dengan kecepatan mengerikan.Di saat bersamaan, Aurelia merapalkan mantra terlarang dari Kitab Mawar Emas. Sisa-sisa energi sihir di dalam tubuhnya ia alirkan seluruhnya ke tanah. "*Akar Suci: Hukuman Cahaya Emas!*" teriak Aurelia seraya menancapkan tongkatnya ke lantai. Ratusan akar berlapis duri keemasan mencuat dari dalam lava, melilit leher dan tubuh Malakor. Sihir pemurni yang terkandung di dalam akar emas membakar daging raksasa Malakor, meluapkan bau gosong dan raungan kesakitan yang memekakkan telinga.
Keputusasaan di Ujung Tanduk Namun, pertahanan Malakor tidak sepadan dengan manusia biasa. Dengan kibasan tenaga dahsyat, Malakornmemutuskan seluruh akar emas Aurelia sekaligus. Reaksi balik sihir itu menghantam dada Aurelia, membuatnya terlempar keras ke dinding batu dan memuntahkan darah.
"Aurelia!" jerit Cassian seraya berpaling.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Malakor. Cakar hitam raksasanya mengayun cepat, menghantam dada Cassian dan melemparkannya hingga menembus barisan batu granit. Pedang es abadi milik Cassian terlepas dari genggamannya, terlempar dan menancap jauh di dekat reruntuhan altar.
Keduanya kini terbaring lemah, tubuh mereka dipenuhi luka berat dan sihir mereka hampir sepenuhnya terkuras habis. Malakor melangkah mendekat dengan perlahan, menatap kedua pahlawan itu dengan tatapan penuh kebanggaan dan kehancuran.
"Perjuangan yang sia-sia," bisik Malakor seraya mengangkat cakarnya yang terkumpul api hitam
mematikan. "Kalian hanyalah kerikil kecil di hadapan takdir tak terbatas."
Harapan yang Menolak Padam Aurelia merayap di atas tanah, mencoba meraih tangan Cassian yang terlentang tak jauh darinya. Ketika jemarinmereka saling bertautan, sebuah getaran aneh memancar dari dalam tubuh mereka. Cahaya emas dari sihir Mawar Emas Aurelia dan aura biru dari Sihir Es Abadi Cassian mendadak saling meresap dan menyatu, menciptakan pola sihir dwicahaya yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Lord Malakor terhenti sejenak, matanya yang melimpah menatap heran ke arah gabungan dua sihir elemen murni tersebut. Sebuah dorongan kekuatan baru membanjiri pembuluh darah Cassian dan Aurelia, membakar kembali tekad mereka di tengah keputusasaan puncak."Kita belum kalah, Aurelia," gumam Cassian seraya menggenggam erat jemari Aurelia dan perlahan bangkit berdiri.
"Ya... kita akan menghadapinya bersama sampai akhir," balas Aurelia dengan tatapan tajam mendalam. Meskipun tubuh mereka berada di ambang batas kemampuan manusia, panggung pertarungan kini bersiap memasuki babak-babak krusial terakhir. Takdir benua ini tergantung pada sisa-sisa perjuangan mereka.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"