Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Observasi
"Ayo ikut aja dulu." Arnold membukakan pintu dan menyilakan Lova lewat.
Di koridor luar ruangan, terlihat sang ibu yang langsung bangkit menyambut kemunculan mereka. "Kenapa, Dok? Lova menolak untuk ditindak?" tanya ibu Lova memasang wajah khawatir.
Arnold memberi aba-aba agar sang ibu tenang. "Ibu jangan khawatir. Saya masih mengobservasi putri Ibu. Jadi, tolong tunggu beberapa waktu lagi."
Lova melambaikan tangan kecil kepada sang ibu.
Wanita paruh baya itu langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketakutan di mata putrinya setelah keluar dari ruang konsultasi seorang dokter pria.
Tatapannya beralih pada Arnold. Pria dewasa itu memiliki penampilan yang terlalu rapi dan aura berbeda dari lelaki kebanyakan. Sehingga, sang ibu bisa menyimpulkan putrinya cukup merasa nyaman berada di sisinya.
Sang ibu akhirnya mengangguk. "Kamu yang patuh ya. Barusan Teddy menghubungi Mama. Dia merasa sangat senang saat tau kamu bersedia dibawa ke sini."
"Teddy? Jadi dia belum menyerah?" gumamnya dalan resah. Kedua tangannya tergenggam di dada.
"Hmmm, jadi ... Teddy?" goda Arnold mengecilkan mata di hadapan Lova.
Lova sedikit tersentak karena jaraknya terlalu dekat membuatnya mundur beberapa langkah dan menabrak tong sampah membuat tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. Dengan cepat, Arnold menarik tangan Lova sebelum wanita itu benar-benar jatuh.
Lova membeku beberapa detik. Sang ibu yang memperhatikan kejadian hampir menjerit dan menutup mulutnya. Jangankan disentuh pria, dekat dalam jarak kurang satu meter saja, Lova sudah mundur lima langkah.
"Ih, kamu kagetan amat?" ucap Arnold, candanya lalu berjalan mendahului Lova yang masih mematung.
Lova menatap tangannya yang baru saja dipegang oleh Arnold. Genggaman itu terasa begitu familier. Pernah ia rasakan tapi tak tau di mana.
"Lova, kamu tak apa?" Ibu menepuk pundak Lova.
Wanita itu tersentak. "Ah, iya ... Aku baik-baik aja," ucapnya.
"Nona Zarisha ... Aku sudah menunggu," ucap Arnold beberapa meter di depan.
Lova memutar badannya. Ia merasa tak keberatan nama itu keluar dari mulut dokter jiwanya ini.
"I-iya, Dok ..." Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju Arnold.
Sang ibu memiringkan kepala dan menggaruk pelipisnya.
"Khik ... Khik ... Khik ..."
Terdengar suara tawa dari perawat asisten sang dokter.
"Dokter Arnold itu memang lucu, Bu. Jadi Ibu jangan khawatir. Kasus yang dialami Mbak Lova ini, sangat cocok ditangani olehnya. Karena, dia memang bukan pria yang lakik banget. Jadi, dia bisa berada di tengah," terangnya sambil terkekeh.
"Maksudnya?" tanya ibu Lova dengan wajah bingung.
Sang perawat mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telinga ibu Lova. "Jangan bilang tau dari aku ya? Dokter Arnold itu bukan cowok macho, Bu." Lalu perawat itu menutup mulut menahan senyum. "Tapi, yang pastinya ... Dokter Arnold adalah psikiater yang hebat. Saya yakin, putri Ibu akan sembuh dalam waktu yang cepat."
Ibu Lova pun melihat kedua makhluk itu berjalan meski tak beriringan. Lova memilih jalan di belakang. Lova yang tadinya menunduk tampak mengangkat kepala dan mengangguk beberapa kali.
'Barangkali sang dokter yang menyuruhnya angkat kepala.'
...****************...
Beberapa waktu kemudian
"Nona Zarisha ... kira-kira kamu tau nggak, kita lagi ngapain?" Arnold berhenti dan menatap wanita yang berjalan di belakangnya.
Lova menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kan tadi aku dengar kamu takut sama laki-laki kan? Terus, pernah jalan kayak begini dengan laki-laki, sebelumnya?"
Lova menggeleng cepat.
"Terus, saat jalan sama aku, gimana perasaanmu?"
"Hmmm, a-ku ... baik-baik aja," ucap Lova setengah berbisik.
"Apa? Kamu bilang apa? Aku ga dengeeer," ucapnya.
"Aku merasa baik, Dok," ucap Lova cepat.
"Bagus ... " Lalu Arnold terlihat berpikir. "Bagaimana kalau kamu sekarang berjalan di samping aku?"
Lova melihat sisi Arnold yang kosong, lalu beralih pada pria yang ada di hadapannya. "Kenapa, Dok?"
"Ya, kita coba aja dulu. Aku hanya ingin tau aja," ucapnya dengan gaya yang khas.
Lova menggaruk dagu karena bingung. Seumur-umur mencoba psikiatri, untuk pertama kali ia rasakan seaneh ini.
Arnold memutar badan. Tangannya melambai memberi tanda agar Lova segera berada di sisinya.
Dengan kaku, Lova melangkah tepat berada si samping sang dokter. Ia lirik ke sebelah, tampak senyum puas dari bibir Arnold.
"Nah, setelah itu, jalannya beriringan di sisi aku ya. Kita akan kelilingi rumah sakit jiwa ini ...." ucapnya sembari mengangkat tangannya yang terkepal.
Lova hanya bisa menggaruk belakang telinganya sembari mengangguk mengikuti langkah pria itu mengelilingi setiap sudut rumah sakit khusus kejiwaan ini.
...****************...
Selang satu jam kemudian
Arnold kembali bersama Lova yang hanya diam mengikutinya. Ternyata, sang ibu tak menyadari kehadiran mereka, tengah asik membuka hiburan di layar ponsel.
"Ma," ucap Lova pada sang ibu yang masih asik dengan sosial media yang ditontonnya.
Ibu pun mengangkat wajah dan segera bangkit menyambut kehadiran putrinya. Di sana, Lova terlihat baik-baik saja, meski tampak sedikit lelah.
"Bagaimana dengan anak saya, Dok? Apakah dia bisa segera sembuh?"
Arnold mengerutkan kening, lalu berdehem. "Hmmm, Ibu harus sabar ya. Semua proses itu, membutuhkan waktu," ucapnya kembali bersikap formal.
Lova memperhatikan perbedaan sikap Dokter Arnold dengan sang ibunya, perlahan menahan senyum dan membuang pandangan ke arah lain.
"Untuk Ibu dan Nona Zarisha, saya persilakan ke dalam. Ada beberapa diagnosa yang perlu saya jelaskan." Arnold pun segera membuka pintu menyilakan keduanya masuk.
Sedikit merapikan jas putihnya, Arnold pun turut masuk dan duduk kembali di meja kerjanya.
"Bagaimana, Dok?" tanya sang ibu yang sangat penasaran.
Sejenak ia memperhatikan Lova. Dalam ingatannya muncul bayangan saat Lova berpas-pasan dengan pria lain yang kebetulan lewat. Baik itu satuan pengaman rumah sakit, perawat, pasien gangguan jiwa yang kebetulan jalan-jalan lalu menggoda mereka, tim kebersihan, dan sikap Lova masih sama. Ia langsung memilih memutar badan dan pasti kabur jika Arnold tidak menahannya.
Arnold mengusap dagunya pelan.
Selama satu jam masa observasi tadi, ia sudah mendapat cukup banyak kesimpulan.
"Kalau saya boleh jujur, kondisi Nona Zarisha ini cukup pelik. Selain penyebab trauma itu sendiri, tetapi juga karena terlalu lama dibiarkan."
Sang ibu membeku dan hatinya seketika diselimuti rasa bersalah. Namun, bukan karena ia tak mau menyembuhkan sang putri, tetapi Lova yang terus menutup diri, tak memberikan celah untuk sembuh.
"Sepertinya ini akan sulit, Bu." Arnold membuka laci mejanya, membuka sebuah map yang berisi file penting, menatap Lova dan ibunya bergantian.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣