NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Waktu berlalu lambat. Cahaya matahari sore yang pucat mulai menghilang, digantikan oleh bayang-bayang panjang pepohonan yang menyeramkan. Angin di luar mulai melolong, suara siulannya terdengar menakutkan saat menabrak dinding kayu kereta.

Elara memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan getaran tubuhnya, sementara Kaelen duduk diam tak bergeming, seolah hawa dingin tidak mampu menembus kulitnya.

Kereta kuda mulai melambat. Suara roda berubah, tidak lagi beradu dengan batu, melainkan suara renyah salju tebal yang digilas.

"Kita sudah sampai," ucap Kaelen singkat.

Elara mengusap kaca jendela yang berembun dengan ujung sarung tangannya. Di kejauhan, menembus kabut salju yang berputar-putar, sebuah siluet raksasa mulai terlihat.

Kastil Blackiron.

Itu bukanlah istana dongeng dengan menara-menara runcing yang berkilauan. Itu adalah sebuah benteng perang. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam vulkanik yang kasar, menjulang tinggi seolah ingin menantang langit kelabu.

Menara-menaranya gemuk dan kokoh, dirancang untuk menahan serangan trebuchet, bukan untuk mengurung putri cantik. Parit yang mengelilinginya tidak berisi air jernih, melainkan air gelap yang setengah membeku, dengan bongkahan-bongkahan es tajam yang mengapung seperti gigi-gigi monster.

Kastil itu tampak buas. Suram. Dan sepenuhnya terisolasi. Rasa takut yang murni mencengkeram perut Elara. Ia akan tinggal di sini. Di tempat yang terlihat seperti penjara ini, bersama pria yang menganggapnya sebagai beban. Tidak akan ada pesta dansa, tidak akan ada teman minum teh. Hanya batu dingin dan suami yang membencinya.

Kereta berhenti dengan sentakan pelan di halaman depan kastil yang luas. Pintu kereta dibuka dari luar oleh seorang prajurit berpakaian zirah tebal. Angin utara langsung menerobos masuk, menampar wajah Elara dengan brutal. Dinginnya menyengat seketika, membuat matanya berair.

Kaelen turun lebih dulu. Langkahnya mantap, sepatu bot militernya menapak kuat di atas salju. Ia tidak berbalik. Ia tidak mengulurkan tangan. Ia tidak menawarkan bantuan layaknya seorang suami kepada istrinya yang kesulitan dengan gaun lebar. Ia hanya berdiri di sana, membelakangi kereta, membetulkan sarung tangannya sambil menatap barisan prajurit yang menyambutnya.

Elara menatap punggung lebar itu dengan pandangan nanar. Pesannya jelas: Kau sendirian.

Dengan tangan gemetar, Elara mencengkeram sisi pintu kereta. Ia mengayunkan kakinya keluar. Sepatu satin tipisnya langsung terbenam ke dalam salju setinggi mata kaki.

Rasa dingin yang membakar langsung menyergap kulit kakinya yang hanya dilapisi stoking sutra. Ia terkesiap, hampir tergelincir di tangga kereta yang licin, namun berhasil menyeimbangkan diri di detik terakhir dengan mencengkeram bingkai pintu hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia turun, berdiri di halaman kastil yang luas dan kosong, menggigil hebat. Angin menerbangkan rambutnya yang tertata rapi, mengacak-acaknya tanpa ampun. Di hadapannya, berbaris dua lajur pelayan dan prajurit. Mereka semua menunduk hormat, namun Elara bisa merasakan lirikan mata mereka.

Lirikan yang penuh rasa ingin tahu, kasihan, dan mungkin sedikit cemoohan. Mereka melihat Duchess baru mereka: seorang gadis kecil yang gemetar kedinginan, dengan bibir yang mulai membiru, diabaikan sepenuhnya oleh suaminya sendiri.

Seorang pria tua dengan punggung bungkuk dan seragam kepala pelayan yang rapi berjalan mendekat. Wajahnya keriput, namun matanya tajam dan cerdas.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia Duke," sapanya dengan suara serak namun penuh wibawa. Lalu ia beralih pada Elara, membungkuk sedikit lebih rendah, matanya menyiratkan kelembutan yang kontras dengan suasana sekitar. "Dan selamat datang di Blackiron, Yang Mulia Duchess. Saya Silas, kepala pelayan kastil ini."

Elara mencoba tersenyum, namun wajahnya terlalu kaku karena dingin. Bibirnya terasa pecah-pecah. "Terima kasih, Silas," bisiknya lemah.

Kaelen tidak membuang waktu. Ia melepaskan jubah bulu tebal yang sedari tadi menyelimuti bahunya, memberikannya pada Silas—bukan pada istrinya yang kedinginan di sampingnya. "Siapkan ruang kerjaku. Ada laporan perbatasan yang harus kubaca malam ini. Aku tidak mau diganggu."

Silas menerima jubah itu, namun matanya melirik sekilas ke arah Elara yang kini memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan gertakan giginya. "Baik, Tuan. Dan untuk Nyonya Duchess? Kamar Utama di sayap timur sudah kami siapkan dengan perapian yang..."

"Tidak," potong Kaelen. Suaranya datar, namun memotong udara dingin dengan ketajaman yang mengerikan.

Elara mengangkat wajahnya, menatap suaminya. Silas pun terdiam, tampak terkejut.

Kaelen menoleh perlahan ke arah Elara. Untuk kedua kalinya hari ini, mata abu-abu itu menatapnya penuh. Kali ini, Elara melihat sesuatu yang lain di sana. Bukan kebencian, bukan juga rasa suka. Itu adalah kelelahan yang luar biasa, bercampur dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan untuk menjauhkan Elara dari hidupnya.

"Tempatkan dia di Menara Barat," perintah Kaelen.

Mata Silas membelalak sedikit. "Menara Barat, Tuan? Tapi itu... itu bangunan lama. Jauh dari bangunan utama, dan sistem pemanasnya belum diperbaiki sepenuhnya. Itu bukan tempat yang layak untuk..."

"Menara Barat," ulang Kaelen, suaranya turun satu oktaf, tidak mentolerir bantahan. "Dia butuh ketenangan untuk beradaptasi, bukan? Di sana sepi. Tidak ada yang akan mengganggunya." Ia menatap Elara tajam. "Kau bilang kau akan beradaptasi. Mulailah dari sana."

Tanpa menunggu jawaban, Kaelen berbalik dan melangkah menaiki tangga batu hitam menuju pintu masuk kastil yang menganga seperti mulut gua. Langkahnya cepat dan tegas, meninggalkan Elara yang terpaku di tempat.

Elara berdiri mematung di tengah salju. Menara Barat. Ia tidak perlu bertanya untuk tahu apa artinya. Ia melihat arah pandangan para pelayan yang kini menunduk gelisah. Menara itu berdiri terpisah dari bangunan utama, terhubung hanya oleh sebuah jembatan batu sempit. Itu adalah tempat terjauh dari pusat kehangatan kastil. Tempat terjauh dari kamar suaminya. Itu adalah pengasingan di dalam pengasingan.

Silas menatapnya dengan pandangan yang kini jelas menyiratkan rasa iba yang mendalam. "Mari, Nyonya," ucapnya lembut, nadanya berbeda jauh dari saat ia bicara pada Kaelen. "Mari masuk sebelum Anda membeku. Saya akan meminta pelayan menyiapkan air panas dan sup, dan... kami akan membawakan selimut tambahan ke Menara Barat."

Elara mengangguk lemah. Ia tidak memiliki tenaga untuk protes, tidak memiliki keberanian untuk mengejar suaminya dan menuntut haknya. Ia memaksakan kakinya yang sudah mati rasa untuk melangkah. Setiap langkah terasa berat, seolah salju di Vhaloria Utara ini memiliki gravitasi sendiri yang ingin menariknya jatuh dan menelannya bulat-bulat.

Saat ia melangkah melewati ambang pintu raksasa itu, Elara tidak menoleh ke belakang. Ia tahu tidak ada jalan kembali ke kehidupan lamanya. Pintu gerbang besi yang berat tertutup di belakangnya dengan dentuman keras yang bergema di seluruh aula batu yang dingin, mengunci nasibnya di dalam penjara es ini. Elara menarik napas panjang, menghirup aroma debu batu dan dingin yang menyengat, lalu melangkah mengikuti Silas menuju kegelapan koridor yang menantinya.

1
Yuii Klp
ceritanya menarik dan menegangkan
Jinan 2
ok
Jinan 2
ceritanya bikin ketagihan, alurnya cepat dan konflik terus berkembang
Kalong Super
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Kalong Super
👍👍👍👍👍👍gassss
Kalong Super
lanjuttttt 💪👍👍
rizky r
cerita seru menarik, langsung ke inti penulisannya juga mudah dibaca dan dipahami
Kalong Super
mantap and good
merry
gampar ajj org kyk gt el,, pcr bukn bini bukn klurga juga bukn cm mntn calon adik ipar donk mn pyn gak ngmg in itu,, kealen juga lemah bgtt
kiu kiu
kpn vespera hancur...mulutnya minta di masukin cabai.biar kepedesan .thor...bener bener bikin org pengen nampol vespera aja...org lagi di rumah mantan calon ipar.udah seperti penguasa aja.
kiu kiu
sebenarnya yg menjadi racun itu adalah keluarga lira sendiri.semoga elara bisa membuktikan ada kejahatan dan konspirasi dlm keluarga elara.
Ysya Jeje
menarik
Lucy Sandy
romantis banget
Roy Kkk
seru banget ceritanya
King Salman
🙏👍
King Salman
ayo lady aku mendukungmu
Vita Detty
apa jangan2 lyra msih hdup
merry
istana dingin hitam kyk kastil penyihir x ya rumh ya kalen
merry
td gudang skrg perpus,, dan kmar tamu lm lm kmu pindh ke kmr iblis itu el😆😆😆
merry
mkn sisa prajurit lg emng jht lki mu el,, buat dri mu berguna untuk dr mu sndri el ketika kmu di butuhkan minta byrann setimpal ell🙏🙏🙏
Kalong Super: jadi ikut sedih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!