NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tradisi Penyambutan

Di tengah kesibukan mereka membuka jendela yang tertutup, muncul sosok yang melintas perlahan di depan pagar tanaman yang terabaikan. Seorang wanita paruh baya berpakaian kebaya kutubaru hitam dan kain batik rapi melangkah dengan tenang, hampir tanpa suara. Rambutnya diikat rapi, memberikan kesan wajah yang tegas dan kaku.

Wanita itu adalah Nyai, istri dari Pak RT. Saat dia melewati halaman rumah kolonial itu, langkahnya tampak melambat. Ia menoleh perlahan dan memandang tajam ke arah Adrian dan teman-temannya yang ada di teras. Tatapannya dingin dan datar, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak dapat mereka mengerti.

“Sore, Bu!”. Sapa Adrian dengan suara yang cukup keras, berusaha menunjukkan sikap sopan sebagai mahasiswa baru.

Namun, tidak ada jawaban. Nyai terus berjalan tanpa menghentikan langkahnya maupun memberikan senyuman sebagai balasan. Dia hanya menatap mereka selama beberapa detik , tatapan yang membuat Adrian merasa seperti mendapatkan peringatan sampai akhirnya dia menoleh dan meneruskan langkahnya menuju kegelapan jalan di bawah rimbunan pohon bambu.

“Yan... siapa itu? Ekspresinya sangat dingin, seperti kita ini virus di bawah mikroskop yang sedang dia amati.”. Bagas yang berdiri di samping Adrian tiba-tiba terdiam dan tangannya yang memegang engsel jendela menjadi kaku.

“Mungkin dia tidak mendengar, Gas. Atau bisa jadi dia tipe orang desa yang pendiam terhadap orang asing. Sudahlah, ayo kita lanjut bekerja.”. Adrian berdehem, berusaha menyingkirkan rasa tidak nyaman itu.

Meskipun Adrian mengatakan demikian, suasana di teras rumah tua itu mendadak terasa lebih dingin, seakan kehadiran Nyai telah meninggalkan jejak aura yang tidak terlihat tapi menyesakkan. Setelah momen canggung dengan istri Pak RT, Adrian mencoba mengambil alih suasana agar lebih ringan.

“Oke semua, daripada diam terus, lebih baik kita segera bagi tugas. Kita harus menyelesaikan bersih-bersih sebelum gelap,”. Katanya sambil membagikan alat pembersih yang mereka bawa.

Mereka sepakat membagi area tidur menjadi dua bagian. Adrian dan Bagas memilih kamar depan yang cukup luas dengan jendela besar menghadap halaman.

“Kita di sini supaya kita bisa tahu kalau ada sesuatu yang terjadi atau tamu yang datang,”. Jelas Adrian dengan alasan yang logis, meskipun ia juga ingin memastikan Bagas merasa nyaman.

Sementara itu, Dinda memilih kamar belakang yang lebih dekat dengan dapur dan sumur.

“Aku di sini saja, supaya gampang kalau mau ke kamar mandi atau masak,”. Ujarnya, meskipun dia sempat menatap ragu ke arah pintu kayu kamar belakang yang tampak lebih gelap dibandingkan bagian rumah lainnya.

“Kenapa kita harus di depan, Yan? Jendelanya besar sekali, kalau ada yang mengintip dari balik pohon bambu saat kita tidur, bagaimana? Kacanya juga tipis.”. Bagas, sambil menyeret sapu lidi yang ia temui di sudut ruangan, mulai mengeluh pelan saat memasuki kamar depan.

“Gas, berhenti berpfikiran negatif! Dinda saja berani sendirian di belakang, masa kamu yang berdua dengan saya malah takut? Mending kamu bantu buka gordennya supaya sinar matahari masuk, debunya sudah bikin seperti semen,”. Balas Adrian singkat sambil mulai menyapu debu tebal di lantai.

Dengan pembagian tanggung jawab ini, suara debu yang disapu dan desahan kain pel mulai mengisi rumah kolonial yang sebelumnya sunyi itu. Meskipun mereka dalam keadaan sibuk, terkadang mereka memanggil satu sama lain dengan suara keras, seolah ingin memastikan tidak ada yang hilang di balik dinding tebal rumah tua tersebut.

Dinda memasuki kamar belakang yang kini menjadi ruang pribadi miliknya. Ruangan itu terasa lebih lembap dengan aroma kayu tua yang khas. Di sudut ruangan, terdapat lemari kayu jati besar dengan sebuah cermin oval yang mulai buram dan dipenuhi kerak.

Dalam kondisi kelelahan, Dinda meletakkan tas jinjingnya di atas tempat tidur besi yang berdecit, kemudian mendekati lemari itu. Begitu ia membuka pintu lemari yang berat, cermin besar itu bergerak perlahan. Pada saat itu, dalam pantulan cermin yang samar, terlihat sosok wanita berambut panjang mengenakan gaun putih yang tampak kotor oleh noda tanah.

Sosok tersebut berdiri tepat di belakang Dinda, menatap lurus dengan wajah yang tertutupi bayangan kelam.

Namun, ketika Dinda mencari barang di dalam tasnya untuk mengambil tumpukan pakaian, ia menutup pintu lemari itu dengan satu dorongan kuat. Braakk! Pintu menutup kuat, dan sosok menyeramkan dalam pantulan cermin itu menghilang sekejap, seolah kembali tenggelam ke dalam kegelapan kayu tua.

Dinda sama sekali tidak menyadari ketakutan yang baru saja terjadi di belakangnya. Dia hanya mengeluh sedikit karena suara engsel lemari yang berisik. Dengan bersenandung pelan untuk mengatasi kesunyian, dia melanjutkan aktivitasnya merapikan pakaiannya di rak, menata alat rias di atas meja kecil, dan menyusun perlengkapan kontennya, tanpa menyadari bahwa sesuatu yang  tak terlihat baru saja menyambut keberadaannya di ruangan tersebut.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!