kiano nama nya, orang-orang seakan melihat seorang pangeran kejam dan dingin pada dirinya dan sifat nya tidak jauh melenceng dari tanggapan mereka.
ia hidup dengan banyaknya penghianat sisinya, membuat kepribadiannya berubah, apalagi masa lalu kelam yang ia rasakan.
semua yang ia lakukan selalu salah Dimata orang lain, orang bilang dendam yang kau simpan itu tidak ada gunanya, Dengan balas dendam apa akan membuat kau lega?, pertanyaan dari orang yang tidak pernah berada di sisi korban.
mereka hanya bisa berkata luka orang lain tidak ada apa-apanya dengan luka mereka, seakan mereka tau yang ia rasakan.
#bromance
#kejam
#dendam
#benci
#family
#luka
#penghianat
#no romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsun_09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 adegan berdarah
Tiga tembakan dilayangkan kearah kiano,namun salah satu dari peluru itu mengenai ban motornya yang membuat motor itu oleng kesamping kanan dan itu bertepatan dengan jurang hutan yang sama ketika ia melakukan pembuahan dengan berlatarkan perlindungan diri.
Ketika jatuh dari motor kiano dengan cepat menarik Alvin kedalaman dekapannya,dan membuat mereka berdua berguling guling jatuh kedalam jurang.
___________________________
kepala dan tubuh kiano sesekali terbentur bebatuan kecil di jurang karena melindungi Alvin.
Mereka berdua terkapar di rerumputan dengan, sesekali Alvin meringis dengan luka yang ia dapatkan namun tidak separah kiano tentunya,kiano ia memperhatikan jurang tersebut dengan jeli seakan sedang menghitung ketinggiannya, walaupun kenyataannya seperti itu.
Jika diperhatikan lagi jurang itu tidak terlalu dalam dan tidak terlalu pendek, namun jika untuk keluar dari tidak memungkinkan dengan tubuh mereka yang sudah kacau ini.
Untuk kiano mungkin bisa jika keluar sendiri dengan tubuh penuh luka tapi sekarang ia sedang membawa anak orang bersamanya,ia kurang yakin kalau bocah astral itu bisa memanjat jurang itu untuk sampai keatas.
Alvin menoleh kearah kiano yang terlihat menutup matanya,ia berfikir apa kiano pingsan karena menahan sakit ditubuhnya.
Seketika panik melandanya ia takut jika kiano kenapa Napa, apalagi ada darah yang keluar dari kepala bagian belakangnya.
Alvin dengan susah payar berdiri untuk lebih dekat dengan kiano,ia mengguncang pelan tubuh terkapar itu namun tidak mendapatkan respon.
Karena semakin panik Alvin mengguncang cepat bahkan menampar kencang sekali wajah kiano.
"B-bang, b-bang bangun jangan pingsan Napa,gue takut nih bang,b-bang".Alvin Masih mengguncang tubuh Kiano,berharap kesadarannya segera kembali.
Sementara kiano yang sedang menutup matanya untuk mengurangi pusing di kepalanya merasa kesal,ia berharap rasa pusing itu berkurang tapi ini semakin bertambah akibat Alvin yang mengguncangnya dengan kasar.
"hah~"kiano menghela nafas lalu membuka matanya dan menatap tajam Alvin dengan aura yang tak bersahabat.
Alvin yang melihat itu merasa gugup,ia bingung kiano itu barusan pingsan atau tidur sih.
"hehehe...a-abang gak p-pingsan?"tanya Alvin dengan cengiran nya.
Apa tidak ada ekspresi lain yang bisa ia perlihatkan selain senyum tak berguna nya itu,pikir kiano lalu ia berdiri dan jalan dengan santainya menuju pohon besar yang tak jauh dari mereka.
Alvin yang melihat kiano yang berdiri dan berjalan dengan santainya dibuat cengo,apa tidak sakit tuh kaki mana banyak goresan lagi.
Ia mencoba berdiri dan berjalan seperti kiano tapi belum sempat berdiri kokoh tubuhnya sudah kembali limbung kebawah,sial! apa dia selebai itu,luka dikit aja udah jatuh padahal luka kiano lebih parah dan lebih banyak darinya.
Karena tidak bisa berdiri apalagi berjalan,Alvin memilih merangkak menuju Kiano,ia dapat melihat tubuh lusuh itu sedang bersandar dengan mata terpejam,tidak tau dia tidur atau sekedar menutup mata.
Alvin tengah duduk disamping kiano sambil memandangi dengan polos wajah tampan itu,kerutan tercetak jelas di dahi kiano.
ia berinisiatif untuk mengelusnya namun belum sempat tangannya menyentuh dahi remaja itu,mata dengan manik gelap itu terbuka dan menatap nya seolah bertanya 'kenapa'.
Alvin yang ditatap seperti itu langsung gelagapan takut membuat Kiano marah.
"G-gak ada bang,k-kalau Abang mau tidur tidur aja biar gue yang jaga"ucap Alvin cepat, takut singa marah dianya.
Kiano yang melihat gelagat aneh Alvin tadi tidak ambil pusing lalu kembali menutup matanya.
Hanya ada keheningan diantara mereka,kiano yang sudah pasti tidak akan berbicara apalagi memulai pembicaraan, sedangkan Alvin yang tidak tau punya topik pembicaraan hanya bisa merasakan canggung,tapi mungkin tidak untuk kiano.
Lama kelamaan dengan suasana sunyi seperti ini membuat Alvin perlahan mengantuk dan tertidur dengan posisi yang menyandar pada pohon besar itu.
Kiano membuka matanya dan melirik Alvin yang tertidur dengan kepala yang sesekali terbentur akibat kepalanya yang tidur bergerak dan sini.
Melihat itu kiano meletakan kepala Alvin di bahunya tapi lama kelamaan kepala bocah itu malah berpindah dengan menyandar ke dada bidang kiano.
Mereka selesai dengan urusan apartemen sekitar jam dua belas siang lalu dilanjut dengan kejar kejaran dan terjebak di jurang sekitar pukul satu dan sekarang mereka berdua sudah empat jam disana dan hanya duduk dan tertidur.
Kiano membuka handphone nya dan membuka aplikasi hijau dan membuka kontak seseorang.
Luxer
jemput
Ada apa tuan,tak seperti
Biasanya?
tidak perlu tau
Maaf tuan,Diman saya bisa menjemput anda tuan?
📍
Butu waktu dua jam untuk saya sampai tuan
Hm
Setelah kembali memasukkan handphone kembali kiano melirik Alvin yang tertidur lalu mengangkat tubuh kecil itu ke gendongan koalanya.
Untuk kiano sendiri ia bingung kenapa ia merasa terkadang tidak bisa menololak keinginan bocah yang di gendongan nya sekarang bahkan ia dengan suka rela untuk menggendongnya.
Langkah kakinya terus masuk kedalam hutan itu, mungkin untuk orang biasa hutan ini terlihat sangat menyeramkan tapi tidak bagi kiano,ia Masi berjalan dengan wajah datarnya tak ada terlihat sedikitpun ketakutan dari remaja itu.
Tidak ada sinyal dihutan dan baterai hp nya yang sudah habis Setelah menghubungi bawahannya tadi,dan ia tak perlu mengatakan dimana ia harus keluar karena ia yakin bawaha nya itu pasti akan berfikir dengan otaknya itu.
Tidak ada senter membuat kiano harus terus berjalan dengan instingnya,untung saja ia memiliki kepekaan yang tajam yang mungkin saja bisa menyelamatkan mereka dari hutan ini.
"Ughhh.."mendengar lenguhan itu kiano melihat kearah Alvin yang menggosok gosokkan wajahnya pada dada bidangnya.
Kenapa bocah ini selalu menggosokan wajahnya seperti itu apa ia pikir ia adalah kucing?, itulah pikiran kiano melihat Alvin yang beberapa kali ini mendusel -dusel kadadanya.
Alvin menatap sekelilingnya yang hanya ada pepohonan ditambah hari yang sudah gelap membuat hutan ini sangat mengerikan untuknya.
"Abang"panggil Alvin lirih Mendongakan kepalanya melihat kiano.
"hm?"gumam kiano melirik sekilas Alvin lalu kembali fokus pada jalanan didepan nya.
"Cara kita keluar dari sini Gimana bang?"tanya Alvin dengan tangan kiri yang mencabuti daun-daun disekitar nya.
Kiano tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alvin ia hanya diam saja tapi mampu membuat Alvin kesal karena pertanyaannya tak digubris.
Kiano tiba tiba tiba berhenti dan menyuruh Alvin untuk turun dari gendongannya,ia tadi menggendong bocah itu karena sedang tidur tapi sekarang kan sudah bangun berarti harus jalan sendiri jika Masi punya kaki.
Alvin yang disuruh turun tentu saja tidak mau,ia malah memeluk erat leher kiano dan mengalungkan kakinya pada pinggang kokoh remaja datar itu.
"Gak gue gak mau turun pokoknya!"ucap Alvin sedikit menaikan nada suaranya.
Kiano yang mendengar Alvin menaikan volume suara nya menatap datar dan dingin bocah yang Masi berada digendongannya itu,aura yang dikeluarkannya sangat menyeramkan dan aura itu membuat Alvin takut sulit bernapas.
"Turun"perintah kiano sekali lagi dengan aura yang semakin dingin dan mencekam,Alvin semakin ketakutan dan memilih turun dari kiano dari pada ia harus meregang nyawa disini kan gak lucu.
Setelah itu kiano meneruskan langkahnya dengan Alvin yang mengikuti nya dari belakang seperti anak bebek.
"A-abang,maaf"cicit Alvin sambil menunduk,demi apapun ia tak berani menatap wajah datar nak tembok itu,dan aura ini lebih mengerikan dua kali lipat dari pada keluarganya yang sering menyiksa itu.