NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Lembah Nisan Sunyi

*"Jangan berani-berani melangkah lebih dekat jika kau masih menyayangi nyawamu yang tidak berharga itu, siapa pun kau yang bersembunyi di balik bayang-bayang nisan!"*

Suaraku parau, pecah oleh udara dingin yang menusuk tulang. Aku berdiri dengan sisa tenaga yang kumiliki, memposisikan tubuhku di depan Julius yang masih terkapar tak berdaya di atas tanah yang kering dan berdebu. Tanganku gemetar hebat. Busur cahaya yang tadi melindungiku telah lenyap bersamaan dengan hilangnya seluruh aliran sihir di nadiku. Aku hanyalah seorang gadis tanpa perlindungan, di tempat yang bahkan tak ada peta di dunia ini yang sanggup melukiskannya.

Langkah kaki itu berhenti. Sepi yang menyusul kemudian terasa lebih menakutkan daripada suara apa pun. Lembah ini—tempat di mana ribuan nisan batu berdiri tegak seperti barisan prajurit yang sedang tertidur—seolah menahan napasnya sendiri.

*"Kau tidak perlu takut pada bayangan, Marie Vance. Karena di tempat ini, bayangan adalah satu-satunya hal yang akan tetap setia padamu ketika dunia sudah mengkhianatimu."*

Sosok itu muncul dari balik sebuah nisan besar yang retak. Dia mengenakan jubah kelabu yang tampak menyatu dengan warna langit yang mendung permanen. Wajahnya tertutup kerudung, namun ketika ia melangkah ke bawah cahaya remang-remang, aku bisa melihat sepasang mata yang sudah sangat tua—mata yang telah melihat ribuan tahun berlalu tanpa berkedip. Dia bukan pria bertopeng, bukan pula Julius. Dia adalah seorang wanita tua, dengan punggung yang bungkuk namun aura yang memancarkan sisa-sisa kekuatan sihir murni yang luar biasa besar.

*"Kau siapa?"* tanyaku, mataku menyipit waspada. *"Dan di mana kami? Ini bukan Oakhaven. Kau telah memindahkan kami dengan paksa?"*

Wanita tua itu tersenyum, sebuah senyuman yang menyedihkan. *"Ini adalah Lembah Keabadian, tempat di mana sisa-sisa terakhir dari para penyihir murni yang tidak ingin tunduk pada Dewan Langit bersembunyi. Kau tidak dipindahkan, Marie. Kau ditarik oleh 'Jantung' yang berdenyut di dalam dadamu. Ia memanggil pulang pemilik sejatinya ketika ia merasa terancam di dunia yang telah diracuni oleh ambisi manusia."*

Dia menatap tubuh Julius yang tak sadarkan diri di tanah. *"Pria itu... dia telah memberikan sebagian besar usianya untuk menjaga jantung itu tetap berdetak di dalam tubuhmu. Jika kau tidak segera menemukan cara untuk mengalirkan energi ke dalam nadi pria itu, dalam waktu kurang dari satu jam, tubuhnya akan menjadi sedingin batu-batu nisan di sini."*

Jantungku berdegup kencang—kali ini bukan karena sinkronisasi magis, melainkan karena rasa takut yang murni sebagai manusia. *"Apa maksudmu? Julius... dia punya sihir yang kuat. Dia adalah penguasa Syndicate! Dia tidak bisa mati hanya karena kehabisan tenaga!"*

*"Sihir adalah bahan bakar, Marie. Dan ketika kau mengosongkan tangkinya untuk menyelamatkan kotamu yang hancur itu, kau juga mengosongkan kehidupan mereka yang terhubung padamu,"* jawab wanita itu sambil mendekat. Ia menyentuhkan tongkat kayunya ke tanah, dan tiba-tiba tanah di bawah Julius mulai mengeluarkan uap hangat yang berwarna keemasan. *"Ini adalah sisa-sisa energi dari bumi. Hanya ini yang bisa kupinjamkan untuk memberinya napas, tapi itu tidak akan cukup jika kau tidak mencari 'Sumber Pertama'."*

*"Sumber Pertama? Apa itu?"*

Wanita itu menunjuk ke arah puncak bukit yang jauh, di mana sebuah menara batu hitam yang tampak tidak tersentuh waktu berdiri angkuh, dikelilingi oleh kabut yang berputar-putar. *"Itu adalah asal mula dari garis keturunan Vance. Sebelum mereka menjadi keluarga alkemis yang korup, mereka adalah penjaga dari Sumber Pertama. Jika kau bisa mencapai puncak itu dan meyakinkan jiwa-jiwa leluhurmu bahwa kau layak, kau bisa mengembalikan sihir yang hilang dan menyembuhkan pria yang kau cintai itu."*

*Cinta?* Kata itu terasa asing, namun ketika aku menatap wajah Julius yang pucat pasi, rasa sakit di dadaku begitu nyata. Aku tidak mencintainya sebagai suami yang kupilih, tapi aku mencintainya karena dia adalah satu-satunya manusia yang benar-benar memahamiku di dunia yang asing ini.

*"Mengapa kau membantuku?"* tanyaku, masih tidak bisa sepenuhnya percaya padanya.

Wanita tua itu tertawa kecil, suaranya seperti gesekan daun kering. *"Karena aku adalah pelayan dari ayahmu, Marie. Aku telah menunggu hari ini selama tiga puluh tahun. Aku telah melihat banyak 'wadah' yang dikirim oleh Dewan Langit untuk mengambil jantung itu, dan mereka semua gagal. Tapi kau... kau berbeda. Kau memiliki kemarahan yang jujur."*

Dia memberikan sebuah botol kristal kecil yang berisi cairan bening. *"Ini adalah air mata dari para penjaga. Minumkan sedikit ke bibir pria itu setiap seperempat jam. Itu akan menunda kematiannya, tapi ingat, Marie, kau tidak punya banyak waktu. Di lembah ini, para 'Pencari' sedang berburu. Mereka tahu bahwa jantung itu telah keluar dari tempat persembunyiannya."*

*"Pencari?"*

*"Sisa-sisa prajurit dari Dewan Langit yang tidak memiliki jiwa. Mereka hanya memiliki satu tugas: memusnahkan siapa saja yang membawa sisa-sisa sihir murni asli."*

Baru saja dia selesai berbicara, sebuah suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Bukan guntur, melainkan derap langkah yang berat dan ritmis. Aku melihat di ufuk lembah, puluhan sosok berbaju zirah hitam legam, tanpa wajah, dengan pedang-pedang yang memancarkan aura kegelapan yang pekat, mulai memasuki lembah nisan itu. Mereka tidak berlari, mereka bergerak dengan presisi yang mengerikan, menyapu setiap nisan yang mereka lewati.

*"Mereka sudah datang,"* bisik wanita tua itu. *"Pergilah! Ikuti jalur di balik nisan besar itu. Jangan menoleh ke belakang, jangan berhenti meskipun kau mendengar suara ayahmu atau ibumu memanggilmu. Di lembah ini, ilusi adalah musuh terbesarmu."*

Aku meraih botol kristal itu, lalu menggendong Julius dengan sisa kekuatanku. Beratnya luar biasa, namun aku tidak bisa membiarkannya mati di sini.

*"Siapa namamu?"* tanyaku sebelum melangkah pergi.

*"Namaku tidak penting. Katakan saja pada mereka bahwa kau adalah Marie Vance, pewaris yang tidak bisa dipatahkan."*

Aku mulai berlari di antara nisan-nisan itu. Derap langkah para Pencari semakin dekat, dan aku bisa mendengar suara pedang mereka yang bergesekan dengan batu nisan, menciptakan percikan api yang menyilaukan. Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari arah belakang—suara yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

*"Marie... bantu Ayah... sakit sekali, Marie..."*

Itu suara ayah Marie. Suaranya terdengar sangat nyata, penuh dengan kesakitan dan permohonan. Aku hampir berhenti. Aku hampir berbalik karena instingku berteriak untuk menolongnya. Tapi kemudian aku teringat peringatan wanita tua itu. *Ilusi.*

Aku menggertakkan gigiku, air mata mengalir di pipiku. *"Ayah sudah mati! Kau bukan dia!"* teriakku sambil terus berlari.

Aku mencapai jalur di balik nisan besar seperti yang diperintahkan. Jalur itu sempit, curam, dan tertutup oleh kabut yang sangat tebal. Saat aku masuk ke dalam kabut itu, suara-suara di belakangku menghilang seketika. Namun, yang menggantikannya adalah kesunyian yang justru lebih mencekam.

Aku harus menggendong Julius menanjaki jalur yang terjal itu selama berjam-jam. Kakiku lecet, bajuku robek terkena duri-duri tanaman merambat yang tumbuh di antara nisan, namun aku tidak berhenti. Setiap lima belas menit, aku berhenti untuk meneteskan air mata penjaga itu ke bibir Julius. Ajaibnya, napas Julius yang tadinya hampir hilang, kini mulai terasa sedikit lebih teratur.

*"Bertahanlah, Julius,"* bisikku saat aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. *"Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum kau menjelaskan semua kebohonganmu padaku."*

Tepat saat aku hendak melangkah lagi, tanah di bawah kaki kami berguncang. Kabut di depanku tersingkap, memperlihatkan sebuah jembatan gantung yang sangat panjang, terbuat dari tulang-belulang yang besar, membentang di atas jurang yang tidak terlihat dasarnya. Di ujung jembatan itu, menara hitam Sumber Pertama berdiri, menjulang tinggi menembus awan.

Namun, di tengah jembatan itu, seseorang sedang menunggu.

Itu adalah pria bertopeng burung hantu. Dia berdiri di sana dengan tenang, pedang peraknya sudah terhunus, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

*"Kau tidak bisa melewati jembatan ini, Marie,"* ucapnya datar.

*"Mengapa? Kau pun salah satu dari mereka? Salah satu dari Dewan Langit?"* tanyaku, meletakkan Julius perlahan di tanah dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Dia menggelengkan kepalanya pelan. *"Bukan. Aku bukan Dewan Langit. Tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu membangkitkan Sumber Pertama. Jika kau melakukannya, kau akan mengundang kehancuran yang jauh lebih besar daripada apa yang terjadi di Oakhaven. Kau pikir kau menyelamatkan kota itu? Kau justru membukakan pintu bagi sesuatu yang telah lama dikurung oleh ayahmu."*

*"Aku tidak peduli!"* teriakku. *"Aku hanya ingin menyembuhkan Julius dan memastikan aku punya kekuatan untuk melindungi diriku sendiri! Kau tidak berhak menghentikanku!"*

Dia melangkah maju. *"Aku tidak menghentikanmu karena aku musuhmu. Aku menghentikanmu karena aku adalah satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi jika kau meminum sisa energi di Sumber Pertama itu. Kau akan kehilangan jati dirimu, Marie. Kau akan menjadi 'wadah' yang benar-benar kosong."*

Aku mencengkeram tangan Julius yang dingin. *"Kalau begitu, beri aku cara lain! Beri aku jalan untuk menyelamatkannya tanpa harus mengorbankan diriku!"*

Pria bertopeng itu terdiam sejenak, lalu dia menurunkan pedangnya. *"Hanya ada satu cara. Tapi itu membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada sekadar bertarung melawan tentara."*

*"Katakan padaku!"*

*"Kau harus melepaskan jantung itu sekarang juga,"* katanya, suaranya menjadi sangat serius. *"Kau harus melepaskannya ke dalam jurang ini. Dengan begitu, Julius akan mendapatkan kembali sihirnya karena dia tidak perlu lagi membagikan nyawanya padamu. Tapi sebagai gantinya, kau akan kehilangan semua koneksimu dengan sihir. Kau akan menjadi manusia biasa, Marie. Tidak ada lagi kekuatan emas, tidak ada lagi kemampuan untuk memurnikan Nectar. Kau akan benar-benar menjadi Marie Vance yang lemah, yang akan selalu diburu oleh Dewan Langit tanpa cara untuk melawan."*

Dunia seolah berhenti berputar. Melepaskan jantung itu? Kehilangan semua kekuatanku? Menjadi lemah? Jika aku melakukan itu, aku akan menjadi mangsa empuk bagi Dewan Langit. Tapi jika aku tidak melakukannya... Julius akan mati.

Aku menatap wajah Julius yang pucat, lalu menatap jembatan tulang yang mencekam itu, dan terakhir menatap pria bertopeng yang menunggu jawabanku.

*"Kau bilang kau ingin kebenaran, bukan?"* lanjut pria bertopeng itu. *"Inilah kebenaran yang sebenarnya tentang harga sebuah kekuatan. Apakah kau rela menjadi manusia biasa demi menyelamatkan satu nyawa, atau apakah kau akan tetap menjadi penyihir yang kuat namun kesepian di atas takhta kehancuranmu?"*

Angin berhembus kencang, menggoyangkan jembatan tulang itu. Di bawah jurang, aku bisa mendengar suara tawa yang sangat familiar—tawa dari bayanganku sendiri, yang seolah-olah sedang menungguku jatuh.

Aku menarik napas panjang. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku meraih liontin jantung yang tersemat di balik bajuku, merasakannya berdenyut untuk terakhir kalinya di dalam dadaku.

*"Jika menjadi manusia biasa adalah harga untuk melihatnya membuka mata lagi..."* kataku, air mata mengalir deras di pipiku, *"maka ambillah."*

Aku menarik liontin itu dengan paksa. Cahaya emas meledak dari dadaku, dan aku merasakan seluruh sihir di tubuhku mengalir keluar, meninggalkan rasa hampa yang luar biasa, seolah-olah separuh jiwaku telah tercabut.

Liontin itu jatuh ke dalam jurang yang gelap.

Detik itu juga, Julius menarik napas panjang, matanya terbuka lebar secara tiba-tiba. Dia bangkit dengan kaget, menatap sekelilingnya dengan bingung, lalu matanya tertuju padaku—pada aku yang kini terduduk lemas di tanah, merasa begitu kecil dan tidak berdaya.

*"Marie? Apa... apa yang kau lakukan?"* suaranya bergetar saat dia melihat wajahku yang pucat pasi dan merasa tidak adanya aliran sihir di sekitarku.

Pria bertopeng itu tersenyum tipis di balik topengnya. *"Selamat datang di kehidupan sebagai manusia, Marie Vance. Sekarang, bersiaplah, karena tanpa sihir, Dewan Langit akan tiba di lembah ini dalam waktu sepuluh menit."*

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!