Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Cemburu Yang Tertahan Demi Menjaga Syariat
Cemburu yang tertahan demi menjaga syariat bergolak hebat di dalam dada Azzam sewaktu ia melangkah tegap meruntuhkan lingkaran intimidasi para pengurus yayasan di depan ruang perawatan rumah sakit. Matanya langsung tertuju pada selembar kertas pengumuman pernikahan paksa yang tertempel angkuh menggunakan lambang resmi pondok pesantren. Di hadapannya, ayah Sarah sedang berdiri pongah sambil memegang pulpen hitam, seolah olah seluruh masa depan silsilah suci surau sudah berada di dalam genggaman kekuasaannya. Emosi keduniawian yang sempat memuncak segera Azzam redam dengan istigfar panjang dalam hati demi menjaga adab kesalehan yang menjadi identitas profesinya sebagai pendidik agama.
"Siapa yang memberikan izin tertulis kepada kalian untuk menempelkan maklumat pernikahan sepihak ini?" tanya Azzam dengan nada suara rendah namun sarat akan tekanan wibawa yang mematikan.
Ayah Sarah melangkah maju satu jengkel, menatap lurus ke dalam sepasang mata sang ustaz muda dengan sorot mata yang penuh kalkulasi finansial. "Dewan sesepuh memiliki hak asasi mutlak untuk menyelamatkan reputasi sosial pondok dari gunjingan menantu kota yang tidak tahu adat itu, Azzam."
"Syariat tuhan tidak pernah membenarkan metode pemaksaan akad hanya demi memuaskan ketamakan harta wakaf kelompok kalian," tegas Azzam seraya merobek kertas maklumat tersebut hingga hancur berkeping keping.
"Kamu telah berani bertindak lancang kepada para guru senior yang telah membesarkan namamu," teriak salah seorang pengurus yayasan dari sudut koridor.
Azzam tidak bergeming sedikit pun, meskipun beberapa pasang mata sesepuh mulai memandangnya dengan pandangan penuh permusuhan sosial yang sangat kental. Keberanian radikal ini lahir karena ia tidak ingin lagi menjadi lelaki lemah yang membiarkan kesucian lembaga dakwah dikotori oleh kepentingan politik domestik keluarga Sarah. Di dalam benaknya, bayangan wajah tegar Hana saat mengusir Sarah dari butik perkotaan tadi sore justru menjadi sumber kekuatan moral yang baru. Dengan gerakan tangan yang mantap, Azzam mengeluarkan draf surat pengunduran dirinya dari jabatan kepala pengasuh asrama putra, lalu meletakkannya di atas tas kulit milik ayah Sarah.
Sementara itu, di dalam ruang tengah ruko butik kota yang mulai dilingkupi kegelapan malam, Hana sedang termenung memandangi selembar kain sutra putih yang terhampar di atas meja kerja. Perasaannya terasa sangat mati rasa, bergolak antara rasa cemburu yang teramat dalam akibat ucapan Sarah dan komitmen suci untuk tetap menjaga batasan agama sebagai istri sah. Wanita muda itu menyadari bahwa setiap desas desus mengenai rencana pernikahan suaminya di kampung halaman adalah ujian mental yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan dinding sabarnya. Namun, keangkuhan positif seorang wanita mandiri membuat Hana memilih untuk menenggelamkan diri dalam kesibukan memeriksa kembali pembukuan modal usaha konveksinya.
"Neng Hana, ada telepon mendadak dari salah seorang kerabat dekat almarhum ayah Anda di pinggiran desa pesantren," ujar Neti seraya menyerahkan gawai digital dengan wajah cemas.
Hana menerima gawai tersebut dengan jemari tangan yang mendadak dingin, mencoba mengatur ritme napasnya agar tetap terdengar tegar. "Halo, Paman, ada kabar penting apa yang terjadi di sana hingga menghubungi saya selarut ini?"
"Azzam baru saja mengumumkan pengunduran diri secara resmi dari yayasan setelah menolak mentah mentah rencana pernikahan darurat dengan Sarah, Hana," jawab suara di seberang nirkabel.
"Apakah keputusan itu diambil atas kemauan pribadinya atau karena tekanan dari pihak luar, Paman?" tanya Hana lagi dengan nada suara datar yang menyembunyikan getaran batinnya.
Kabar mengenai langkah ekstrem sang suami laksana hantaman ombak besar yang memecah keheningan malam di dalam ruang kerja butik tersebut. Hana meletakkan gawai digitalnya kembali di atas meja kaca, menatap kosong ke arah langit langit kamar yang bernuansa putih bersih. Ada kelegaan samar yang sempat menyelinap di sudut hatinya mengetahui Azzam memilih berjuang, namun ingatan akan rentetan fitnah keji masa lalu segera membuyarkan harapan instan tersebut. Ia tahu betul bahwa mundurnya Azzam dari struktur kekuasaan surau akan memicu kemarahan yang jauh lebih masif dari kelompok pengikut fanatik Umi Kalsum.
Kembali ke koridor rumah sakit yang mencekam, keputusan berani Azzam menyerahkan surat pengunduran diri seketika mengubah atmosfer rapat pleno menjadi sangat kacau. Ayah Sarah memandangi draf berkas itu dengan wajah yang memerah padam akibat luapan rasa malu dan murka yang luar biasa di depan para sejawatnya. Sarah yang baru saja tiba dari arah tangga darurat langsung menjerit histeris melihat kertas maklumat pernikahan impiannya telah robek menjadi sampah di lantai ubin. Azzam membalikkan badannya, melangkah menjauh menuju ruang rawat intensif tempat ibundanya masih terbaring lemah di bawah pengawasan peralatan medis kedokteran yang berbunyi teratur.
"Azzam, kembali kamu, jangan menjadi anak durhaka yang menghancurkan seluruh warisan silsilah suci keluarga kita," teriak Sarah dengan air mata kemarahan yang mulai membasahi pipinya.
Azzam menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang, memancarkan aura ketegasan seorang lelaki yang telah menemukan kembali hak asasi jiwanya. "Warisan terbaik dari leluhur kita adalah integritas moral, bukan tumpukan aset duniawi yang diraih dengan cara menindas kehormatan istri saya."
"Jika kamu keluar dari pintu ini, maka jangan pernah berharap bisa menggunakan nama besar pesantren lagi," ancam ayah Sarah dengan suara bariton yang bergetar hebat.
"Bumi tuhan ini sangat luas, dan rezeki saya tidak pernah ditentukan oleh selembar surat keputusan yayasan kalian," sahut Azzam sebelum menutup pintu ruang perawatan dengan rapat.
Di dalam keheningan kamar rawat intensif yang dingin, Azzam duduk bersimpuh di sebelah ranjang tempat Umi Kalsum yang masih belum membuka sepasang matanya. Ia meraih jemari tangan ibundanya yang sudah tampak keriput, menciumnya dengan penuh takzim meskipun hatinya diliputi oleh rasa kecewa yang teramat mendalam. Dalam kesunyian malam itu, sang ustaz muda melantunkan bait bait ayat suci Alquran dengan suara rendah yang sangat puitis, memohon kesembuhan fisik sang ibu sekaligus kelancaran jalan hijrahnya ke kota. Pengorbanan besar melepaskan status sosial demi membela keadilan bagi Hana adalah bukti nyata bahwa cintanya bukan sekadar ucapan manis di bibir semata.
Keesokan paginya di kota besar, suasana di sekitar ruko pertokoan modern milik Hana mendadak dikejutkan oleh kedatangan beberapa armada truk pengangkut barang. Beberapa pria berbadan tegap tampak mulai menurunkan gulungan kain dan mesin jahit baru yang dipesan Hana melalui jaringan distributor asosiasi perancang busana muslimah pusat. Langkah ekspansi bisnis ini adalah jawaban telak Hana terhadap ancaman boikot pasokan material yang sempat dilontarkan oleh para pengikut fanatik yayasan surau minggu lalu. Dengan mengenakan pakaian kerja bernuansa modern namun tetap menjaga kesantunan syariat, Hana berdiri di depan gerbang besi memimpin langsung proses bongkar muat barang niaga tersebut.
"Neng Hana, ada seseorang yang meletakkan amplop cokelat tebal ini di dalam kotak pos depan butik sejak subuh tadi," lapor seorang karyawan pria sambil menyerahkan berkas misterius.
Hana menerima amplop tersebut, membukanya perlahan di bawah temaram sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan selasar ruko. "Astaga, ini adalah seluruh dokumen sertifikat tanah wakaf pribadi milik almarhum ayah saya yang selama ini ditahan oleh pengurus pondok."
"Siapa yang kira kira memiliki keberanian besar untuk mengambil dokumen berharga ini dari brankas utama yayasan, Neng?" tanya karyawan itu dengan raut muka terheran heran.
Hana tidak menjawab, namun matanya menangkap sebuah tulisan tangan beraksen arab gundul di sudut lembaran kertas yang sangat ia kenali sebagai karakter tulisan Azzam. Air mata yang sejak semalam ia tahan demi menjaga harga diri akhirnya menetes juga, membasahi permukaan sertifikat tanah yang menjadi hak waris mutlaknya. Tindakan nekat suaminya mengembalikan aset berharga ini mengonfirmasi bahwa Azzam benar benar telah mendeklarasikan perang terbuka melawan kelicikan kelompok ayah Sarah. Namun, kebahagiaan kecil ini mendadak sirna sewaktu pandangan mata Hana menangkap sekelompok ibu ibu komplek perumahan sekitar yang mulai berkumpul di ujung jalan raya.
Mereka berdiri berkerumun sambil memegang gawai masing masing, melemparkan pandangan penuh selidik dan bisik bisik negatif ke arah papan nama butik Hana.