Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Gadis di Toilet Timur
Sejak kejadian di perpustakaan kemarin, Naresha mulai sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.
Sepanjang malam ia terus teringat sosok perempuan bermata hitam di ujung koridor.
Tatapan itu terasa terlalu jelas untuk dilupakan.
Dan yang paling membuatnya kesal…
Ia ketakutan.
Padahal selama ini Naresha selalu merasa dirinya bukan tipe orang yang gampang takut.
Namun sekolah itu perlahan mengubah semuanya.
Pagi harinya Naresha datang lebih awal dari biasanya. Hujan semalam membuat udara terasa lembap dan dingin.
Lorong sekolah masih sepi.
Hanya ada suara petugas kebersihan dan langkah kaki beberapa siswa yang baru datang.
Naresha berjalan sambil menahan kantuk.
Ia hampir tidak tidur semalaman.
“Kalau terus begini gue bisa gila,” gumamnya pelan.
Karena masih mengantuk, ia memutuskan pergi ke toilet timur untuk mencuci muka sebelum masuk kelas.
Toilet itu berada di ujung koridor lantai dua.
Tempatnya cukup jauh dari kelas-kelas utama sehingga jarang dipakai siswa.
Saat Naresha masuk, hawa dingin langsung menyambutnya.
Lampunya redup.
Dan suara tetesan air terdengar menggema pelan.
Tik…
Tik…
Tik…
Naresha berjalan menuju wastafel lalu membuka keran.
Air dingin langsung mengalir mengenai tangannya.
Ia membasuh wajah sambil menghela napas panjang.
Namun saat menatap cermin…
Tubuhnya langsung membeku.
Di belakangnya ada seseorang berdiri.
Siswi perempuan.
Rambutnya panjang dan basah.
Seragamnya kotor penuh noda hitam.
Dan kepalanya menunduk diam.
Napas Naresha tertahan.
Ia langsung menoleh cepat.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
“Anjir…”
Naresha kembali menatap cermin.
Dan sosok itu muncul lagi.
Kini lebih dekat.
Jantung Naresha mulai berdetak keras.
“Siapa lo?”
Tidak ada jawaban.
Siswi itu perlahan mengangkat tangannya.
Lalu menunjuk salah satu pintu bilik toilet paling ujung.
Krekkk…
Pintu bilik itu bergerak pelan terbuka sendiri.
Naresha mundur satu langkah.
Bulu kuduknya meremang hebat.
Namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
Dengan hati-hati ia berjalan mendekati bilik tersebut.
Langkahnya pelan.
Suasana toilet semakin dingin.
Dan suara tetesan air tadi terdengar makin keras.
Tik…
Tik…
Tik…
Saat Naresha berdiri tepat di depan pintu bilik, ia perlahan mendorongnya lebih lebar.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam.
“Hah?”
Naresha langsung menoleh ke belakang.
Sosok perempuan tadi hilang.
“Jangan mulai deh…”
Ia mencoba tertawa kecil walau tenggorokannya terasa kering.
Namun saat hendak pergi—
Ctak.
Semua lampu toilet mati.
Gelap.
Napas Naresha langsung tercekat.
“Astaga…”
Suasana mendadak sunyi total.
Tidak ada suara apa pun selain napasnya sendiri.
Lalu…
Bruk.
Terdengar suara sesuatu jatuh dari salah satu bilik toilet.
Naresha refleks menoleh ke arah suara.
Gelap.
Namun samar-samar…
Ia melihat kaki seseorang berdiri di bawah pintu bilik paling ujung.
Diam.
Tidak bergerak.
Padahal tadi kosong.
Naresha mundur perlahan.
Jantungnya berdetak sangat keras sampai telinganya berdenging.
“Siapa di situ?”
Tidak ada jawaban.
Perlahan…
Seseorang mulai mengetuk pintu bilik dari dalam.
Tok.
Tok.
Tok.
Pelan.
Tapi cukup membuat tubuh Naresha gemetar.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan itu semakin cepat.
Dan tiba-tiba terdengar suara perempuan berbisik lirih.
“Tolong aku…”
Naresha langsung membeku.
Suara itu sama seperti yang ia dengar di lorong lantai tiga.
“Tolong…”
Brakkk!
Pintu bilik mendadak terbuka keras.
Dan sosok perempuan itu berdiri di dalam.
Kepalanya miring tidak normal.
Rambutnya basah menutupi wajah.
Air hitam menetes dari tubuhnya ke lantai.
Naresha refleks mundur sambil menahan napas.
Namun sosok itu perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya kosong.
Kulitnya pucat.
Dan bibirnya bergerak pelan.
“Kenapa… kamu datang…”
Lampu tiba-tiba menyala kembali.
Ctak!
Sosok itu menghilang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam bilik.
Naresha berdiri mematung beberapa detik.
Napasnya tidak beraturan.
Tangannya dingin.
Dan saat ia menunduk…
Ada genangan air hitam tepat di depan sepatunya.
“Naresha!”
Suara seseorang membuatnya tersentak.
Keinan masuk ke toilet sambil membawa tas.
“Lo ngapain bengong di sini?”
Naresha langsung menoleh cepat.
“Lo tadi lihat siapa pun masuk?”
Keinan mengernyit bingung.
“Engga. Gue baru datang.”
Naresha menelan ludah pelan.
Matanya kembali melihat genangan air di lantai.
Namun kini…
Genangan itu sudah hilang.
“Lo pucat banget,” ujar Keinan khawatir.
Naresha menggeleng pelan.
“Gapapa.”
Namun jelas itu bohong.
Karena kini ia mulai sadar satu hal.
Sosok perempuan itu bukan cuma muncul di lorong lantai tiga.
Dia mulai mengikuti Naresha ke mana pun pergi.