Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pasar Gelap Bawah Tanah
Matahari terbit di ufuk timur, menembus kabut tebal Hutan Terlarang. Lin Fan dan Bai Yun telah bersiap-siap sejak fajar. Setelah semalaman beristirahat dan memulihkan tenaga, mereka bergerak menuju ujung utara lembah, sesuai petunjuk Bai Yun.
Di sana, tersembunyi di balik tirai air terjun yang deras, terdapat sebuah celah batu sempit yang hampir tidak terlihat. Lumut hijau menutupi pintu masuknya, menyamarkannya sebagai bagian dari tebing alami.
"Inilah pintunya," kata Bai Yun, suaranya bersaing dengan gemuruh air terjun. "Terowongan ini dibangun oleh pendiri kota ratusan tahun lalu sebagai jalur evakuasi darurat. Sekarang, hanya segelintir orang yang tahu keberadaannya—para pedagang gelap dan penyelundup."
Lin Fan mengangguk. Ia memeriksa kembali perlengkapannya: pisau kecil, sisa pil racun, dan Manik Giok yang berdenyut tenang di Dantian-nya. Level 7-nya memberinya kepercayaan diri baru, tapi ia tahu bahwa Pasar Gelap adalah sarang ular. Di sana, hukum rimba berlaku lebih keras daripada di hutan.
"Mari kita masuk," kata Lin Fan.
Mereka merayap masuk ke dalam celah batu. Di dalam, udara terasa pengap dan lembap. Dinding terowongan terbuat dari batu bata kuno yang dilapisi lumut licin. Mereka menyalakan obor kecil yang dibuat Bai Yun dari kain berminyak, cahaya redup menerangi jalan setapak tanah yang menurun tajam.
Perjalanan melalui terowongan memakan waktu sekitar dua jam. Selama perjalanan itu, Bai Yun menjelaskan lebih detail tentang struktur Pasar Gelap.
"Pasar Gelap dibagi menjadi tiga zona," bisik Bai Yun sambil berjalan hati-hati. "Zona Luar untuk barang curian biasa dan informasi murahan. Zona Tengah untuk transaksi ilegal seperti obat terlarang dan beast langka. Dan Zona Dalam tempat pertemuan elit kriminal dan pembunuh bayaran. Faksi loyalis Zhao Feng biasanya berkumpul di sebuah kedai teh bernama 'Paviliun Kabut' di perbatasan Zona Tengah dan Dalam."
"Berbahaya?" tanya Lin Fan singkat.
"Sangat," jawab Bai Yun jujur. "Jangan menarik perhatian. Jangan menunjukkan kekayaan. Dan jangan pernah menatap mata seseorang terlalu lama. Di sana, tatapan bisa diartikan sebagai tantangan."
Lin Fan mencatat semua itu. Ia akan bermain peran sebagai pengikut Bai Yun yang pendiam dan waspada.
Akhirnya, terowongan berakhir di sebuah tangga kayu tua yang mengarah ke atas. Dari atas, terdengar suara keramaian samar, musik gamelan yang sumbang, dan tawa kasar.
Bai Yun mendorong pintu jebakan di atas tangga. Cahaya kuning temaram dari lentera minyak masuk, disertai bau alkohol, keringat, dan daging panggang.
Mereka naik tangga dan muncul di sebuah lorong sempit di bawah tanah. Langit-langitnya rendah, ditopang oleh balok kayu hitam. Di sepanjang lorong, terdapat kios-kios kecil yang menjual berbagai barang mencurigakan: senjata berkarat, gulungan mantra palsu, botol berisi cairan berwarna-warni, dan bahkan organ beast yang masih segar.
Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah tertutup tudung atau topeng. Suasana tegang namun hidup.
"Ikuti aku," bisik Bai Yun. Ia menarik tudung jubahnya lebih rendah, menyembunyikan wajahnya yang mungkin dikenali oleh beberapa informan Elder Mo.
Lin Fan mengikuti dengan saksama, matanya mengamati sekeliling. Ia melihat seorang pria bertato naga sedang menawar harga sebuah pedang patah. Ia melihat sepasang wanita berpakaian minim yang menawarkan layanan khusus di sudut gelap. Ia melihat penjaga bersenjata lengkap yang berdiri di setiap persimpangan, memastikan tidak ada keributan yang mengganggu bisnis.
Mereka berjalan melewati Zona Luar, di mana para pencuri kecil berteriak menawarkan barang curian. Lin Fan tidak tertarik. Fokusnya adalah Paviliun Kabut.
Saat mereka memasuki Zona Tengah, suasana berubah. Orang-orang di sini lebih diam, lebih berbahaya. Transaksi dilakukan dengan bisikan dan pertukaran tas kecil. Lin Fan merasakan beberapa tatapan curiga mengarah pada mereka, terutama karena Bai Yun tampak sedikit gugup.
"Tetap tenang," gumam Lin Fan pelan.
Bai Yun mengangguk, mencoba menenangkan napasnya.
Akhirnya, mereka mencapai sebuah bangunan kayu dua lantai yang terletak di persimpangan utama. Papan nama di depannya bertuliskan karakter kuno: Paviliun Kabut. Di depan pintu, dua penjaga bertubuh kekar berdiri silang tangan, menghalangi masuknya siapa pun tanpa undangan.
Bai Yun mendekat, menunjukkan sebuah cincin perunggu dengan ukiran awan kepada salah satu penjaga.
"Aku punya janji dengan Tuan Lao," kata Bai Yun.
Penjaga itu memeriksa cincinnya, lalu melirik Bai Yun dan Lin Fan dengan curiga. "Tuan Lao sedang sibuk. Tapi dia meninggalkan pesan. Jika kau membawa 'obat' itu, masuklah. Sendirian."
Penjaga itu menunjuk Lin Fan. "Dia tidak boleh masuk."
Bai Yun terpaku. "Tapi dia..."
"Aturan adalah aturan," potong penjaga itu dingin. "Satu orang. Atau tidak ada yang masuk."
Lin Fan menatap Bai Yun. Ini adalah ujian kepercayaan. Apakah Bai Yun akan meninggalkannya? Atau apakah ini jebakan?
Bai Yun menelan ludah, lalu menatap Lin Fan. "Tunggu di sini. Aku akan segera keluar. Jangan pergi ke mana-mana."
Lin Fan mengangguk datar. "Hati-hati."
Bai Yun masuk ke dalam Paviliun Kabut. Pintu tertutup di belakangnya.
Lin Fan berdiri di luar, dikelilingi oleh kerumunan orang asing yang berpotensi mematikan. Ia merasa telanjang tanpa perlindungan Bai Yun. Tapi ia tahu ia tidak bisa menunjukkan kelemahan. Ia bersandar pada dinding, menutup matanya seolah-olah tidur, namun indranya tetap waspada terhadap setiap gerakan di sekitarnya.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit.
Bai Yun belum keluar.
Kecemasan mulai merayap ke hati Lin Fan. Apakah Bai Yun ditangkap? Apakah dia mengkhianati Lin Fan?
Tiba-tiba, pintu Paviliun Kabut terbuka lagi. Bukan Bai Yun yang keluar, melainkan seorang pelayan muda dengan wajah datar.
"Tuan Lao mengundang temanmu masuk," kata pelayan itu, menatap Lin Fan. "Masuklah. Dia sudah menunggu."
Lin Fan mengerutkan kening. "Di mana Bai Yun?"
"Dia sudah masuk lebih dulu. Silakan."
Lin Fan ragu sejenak, tapi ia tidak punya pilihan lain. Jika dia lari, dia akan kehilangan satu-satunya sekutu dan informasinya. Jika dia masuk, dia mungkin menghadapi jebakan. Tapi Lin Fan bukan tipe yang mundur karena ketakutan.
Ia melangkah masuk ke dalam Paviliun Kabut.
Interior paviliun itu mewah secara aneh untuk tempat bawah tanah. Karpet merah tebal menutupi lantai, lentera sutra menggantung dari langit-langit, dan aroma dupa mahal memenuhi udara. Musik gamelan dimainkan lembut di latar belakang.
Di ujung ruangan, di balik layar tipis, terdapat sebuah meja rendah. Seorang pria tua berjanggut putih duduk di sana, memainkan catur sendirian. Di sampingnya, Bai Yun duduk dengan wajah pucat, tangannya terikat di belakang punggungnya.
"Ah, akhirnya," kata pria tua itu tanpa menoleh. Suaranya berat dan berwibawa. "Silakan duduk, Pemuda Lin."
Lin Fan berhenti melangkah. Pria itu tahu namanya.
"Siapa Anda?" tanya Lin Fan, tangannya siap di gagang pisau.
Pria tua itu akhirnya menoleh. Matanya tajam, cerdas, dan penuh kewibawaan. Dia mengenakan jubah sutra biru tua dengan bordiran naga emas—simbol Clan Zhao.
"Aku adalah Zhao Tian, paman Zhao Feng," kata pria tua itu tenang. "Dan aku adalah pemimpin faksi loyalis yang ingin membersihkan nama keponakanku."
Lin Fan terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu langsung dengan tokoh tingkat tinggi seperti itu.
"Kenapa Bai Yun diikat?" tanya Lin Fan dingin.
"Karena dia mencoba membunuhku lima menit yang lalu," jawab Zhao Tian santai, melanjutkan permainan caturnya. "Dia pikir aku adalah agen Elder Mo. Ternyata, kecurigaan masa lalunya membuatnya sulit membedakan teman dan lawan."
Bai Yun menunduk malu, tidak berani menatap Lin Fan.
Zhao Tian menatap Lin Fan. "Tapi kau... kau berbeda. Kau tenang. Kau tidak panik saat mengetahui identitasku. Itu menunjukkan kecerdasan, atau kebodohan yang ekstrem. Aku harap itu yang pertama."
"Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Lin Fan.
"Bukti," kata Zhao Tian. "Bai Yun memberitahuku tentang pengkhianatan Zhao Wei. Tapi kata-katanya saja tidak cukup. Aku butuh bukti konkret. Rekaman jiwa, surat, atau saksi yang bisa membuktikan bahwa Zhao Wei bekerja sama dengan Elder Mo."
Lin Fan tersenyum tipis. "Saya punya sesuatu. Tapi harganya mahal."
Zhao Tian tertawa kecil. "Aku suka negosiasi. Sebutkan hargamu."
"Kebebasan," kata Lin Fan. "Nama saya dibersihkan dari tuduhan pembunuhan Zhao Feng. Dan perlindungan Clan Zhao selama saya berada di Kota Qingyun. Selain itu, saya ingin akses ke Perpustakaan Rahasia Clan Zhao untuk mempelajari teknik kultivasi tingkat tinggi."
Zhao Tian mengangkat alis. "Permintaan yang ambisius untuk seorang buronan. Tapi jika kau bisa memberikan bukti yang tak terbantahkan, aku akan mempertimbangkannya."
Lin Fan mengeluarkan gulungan kertas bertinta darah yang ia terima sebelumnya, serta catatan ledger palsu yang ia salin ulang dari ingatannya (detail transaksi Zhao Wei).
"Ini awal," kata Lin Fan. "Tapi saya bisa mendapatkan lebih. Saya tahu di mana Zhao Wei menyimpan barang bukti aslinya. Di rumahnya. Ada brankas rahasia di ruang studinya."
Zhao Tian matanya berbinar. "Kau tahu lokasinya?"
"Bai Yun memberitahuku," bohong Lin Fan setengah. Sebenarnya dia menduga, tapi dengan otoritas Zhao Tian, pencarian bisa dilakukan. "Jika Anda mengirim tim elit untuk menggeledah rumah Zhao Wei malam ini, Anda akan menemukan surat-surat komunikasi dengan Elder Mo."
Zhao Tian berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk. "Baik. Aku akan mengirim timku. Jika kau berbohong, nyawamu akan melayang. Jika kau benar... kau akan mendapatkan apa yang kau minta."
Ia mengisyaratkan kepada penjaganya untuk melepaskan Bai Yun.
Bai Yun rubah, lega namun masih waspada.
"Pergilah," kata Zhao Tian. "Tunggu di luar kota. Dalam dua hari, jika operasimu berhasil, utusanku akan menghubungimu. Jika gagal... anggap dirimu mati."
Lin Fan dan Bai Yun meninggalkan Paviliun Kabut, kembali ke lorong gelap Pasar Gelap.
Saat mereka berjalan keluar, Bai Yun bertanya pelan, "Apakah kau yakin dengan rencana itu? Zhao Tian bisa saja menjebak kita."
Lin Fan tersenyum dingin. "Mungkin. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Dan satu hal yang pasti... Zhao Wei akan panik malam ini. Dan saat dia panik, dia akan membuat kesalahan."
Mereka keluar dari terowongan, kembali ke hutan yang dingin.