NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Benih Kecurigaan dan Penawar yang Pahit

Lantai lima puluh gedung Artha Group selalu menjadi pusat kendali yang tak tergoyahkan. Namun, pagi ini, fokus Narendra Pradipta tampak buyar. Berkas audit internal divisi Hubungan Masyarakat yang tergeletak di atas meja marmernya sama sekali tak tersentuh. Pikirannya terus tertuju pada kejadian di ruang makan tadi pagi—tatapan dingin Alika, penggunaan panggilan formal "Pak Narendra", serta getaran aneh pada tangan istrinya.

Narendra menekan tombol interkom di mejanya. "Joshua, ke ruangan saya sekarang."

Dalam hitungan detik, sekretaris pribadinya itu masuk dengan langkah teratur. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Narendra?"

Narendra memutar kursi kebesarannya, menghadap jendela kaca raksasa yang menyuguhkan panorama Jakarta. "Joshua, saya minta salinan log aktivitas sopir operasional untuk mobil Nyonya Pradipta kemarin sore. Saya ingin tahu rutenya setelah jam lima."

Joshua sempat tertegun sejenak mendengar permintaan yang tidak biasa itu, namun ia segera mengangguk patuh. "Baik, Pak. Tapi... seingat saya dari laporan fleet management pagi ini, mobil operasional Nyonya Alika sudah kembali ke basement gedung tepat pukul 17.15 kemarin. Pak Moko, sopir divisi humas, melaporkan bahwa Nyonya Alika memintanya pulang lebih awal."

Alis Narendra bertaut tajam. "Pulang lebih awal? Lalu dia pulang ke Menteng naik apa?"

"Menurut pantauan CCTV lobi samping, Nyonya Alika menaiki taksi daring yang dipesan sendiri, Pak."

Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruangan itu. Rahang Narendra mengeras hingga otot pelipisnya tampak berkedut. Nyonya Pradipta, seorang istri konglomerat dengan fasilitas keamanan lengkap, memilih menyelinap pergi menggunakan taksi daring?

Ego Narendra terasa seperti tertusuk duri. Berbagai spekulasi liar mulai memenuhi kepalanya. Getaran tangan Alika pagi tadi... mungkinkah itu rasa takut karena kebohongannya hampir terendus? Siapa yang ditemui Alika hingga ia harus bersandiwara? Narendra memang tidak pernah peduli pada perasaan Alika, namun bayangan bahwa miliknya berani bermain api di belakangnya adalah sebuah penghinaan besar.

"Jangan bicarakan masalah ini dengan siapa pun, Joshua. Mulai hari ini, minta pihak keamanan memberikan laporan rute harian Nyonya Alika langsung ke meja saya. Lakukan secara diam-diam," perintah Narendra dengan nada dingin yang mengancam.

"Baik, Pak Narendra."

Sementara itu, di lantai sepuluh, Alika tengah berjuang meredam rasa sakit yang mendera.

Obat antiradang yang ia telan semalam dan pagi tadi memang ampuh meredakan nyeri sendi, sehingga ia bisa berjalan tanpa terlihat pincang. Namun, sebagai gantinya, lambungnya terasa seperti diiris perlahan dengan pisau berkarat. Di balik lapisan makeup yang tebal, wajahnya pucat pasi. Keringat dingin terus merembes dari tengkuknya.

"Bu Alika... wajah Ibu pucat sekali," tegur Murni yang baru saja meletakkan segelas air hangat di meja kerja Alika. "Ibu belum makan siang, kan? Lambung Ibu bisa bermasalah kalau dibiarkan kosong sambil terus bekerja."

"Aku sedang tidak nafsu makan, Murni. Perutku rasanya menolak apa pun yang masuk," keluh Alika lirih sembari memijat pelipisnya yang berdenyut.

Murni tampak ragu sejenak sebelum berbisik, "Bu... apa tidak sebaiknya kita ke dokter lagi? Kali ini ke spesialis penyakit dalam? Saya khawatir Ibu keracunan makanan atau terkena tifus."

Alika menggeleng lemah. "Tidak perlu, Murni. Tolong tinggalkan aku sendiri sebentar. Aku butuh ketenangan."

Begitu Murni keluar dan menutup pintu, Alika segera meraih ponsel di dalam laci. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencari kontak dr. Raditya. Ia sadar tidak bisa lagi menahan perih di lambungnya tanpa memancing kecurigaan orang-orang di kantor.

Panggilan itu tersambung pada nada dering ketiga.

"Halo, Ibu Alika? Ada yang bisa saya bantu?" Suara bariton Raditya terdengar tenang dan bersahabat, sangat kontras dengan nada bicara suaminya pagi tadi.

"Dokter... maaf mengganggu waktu praktik Anda," suara Alika bergetar menahan erangan sakit. "Obat yang Dokter berikan... sendi saya memang membaik, tapi lambung saya rasanya seperti terbakar. Saya terus mual dan hampir tidak bisa makan sejak pagi."

Terdengar helaan napas pendek yang sarat empati dari Raditya. "Itu yang saya khawatirkan. Apakah Anda meminumnya dalam kondisi stres tinggi atau perut kosong, Ibu Alika? Obat kortikosteroid dosis tinggi itu sangat keras bagi dinding lambung."

Alika terdiam. Meminumnya dalam kondisi stres tinggi? Tentu saja. Semalam ia menelan obat itu tepat setelah pertengkaran hebat dengan suaminya gara-gara noda lipstik di kerah kemeja.

"Saya... ya, mungkin saya sedikit stres, Dok," jawab Alika getir.

"Anda tidak boleh melanjutkan obat itu jika lambung bereaksi sekeras ini. Peradangannya bisa merambat ke sistem pencernaan," tegas Raditya, suaranya kini terdengar lebih protektif. "Bisa Anda ke rumah sakit sore ini? Saya harus segera memberikan injeksi pelindung lambung dan meresepkan penetral asam lambung untuk mendampingi obat utama Anda."

"Sore ini?" Alika melirik jam dinding di ruangannya. Pukul tiga sore. Jika ia ke rumah sakit sekarang, risiko Narendra mengetahuinya sangat besar. "Apa tidak bisa diganti dengan obat minum yang ada di apotek saja, Dok?"

"Tidak bisa, Ibu Alika. Anda harus diobservasi. Tolong, jangan abaikan sinyal dari tubuh Anda sendiri," bujuk Raditya lembut namun tetap tegas.

Alika memejamkan mata. Rasa perih di perutnya kembali meremas kuat, memaksanya menyerah pada logika. "Baik. Pukul lima sore, saya akan ke sana."

Setelah memutus panggilan, Alika menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Ia tidak menyadari bahwa keputusan sederhananya untuk berobat sore itu akan menjadi kepingan puzzle pertama yang memperkuat kecurigaan Narendra. Sang penguasa Artha Group itu tengah membangun narasi perselingkuhan di benaknya, sementara Alika hanya sedang berjuang sendirian untuk tetap bertahan hidup.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!