Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
[4] Ketahuan Papa
Langit mengambil ponselnya dan kursi lalu duduk di depan jendela kamarnya yang tengah terbuka. Netranya melirik rumah sebelah. Mengintip Albiru dari balik jendela.
Langit hafal jadwal Albiru. Malam ini itu Biru gak dinas. Pasti lagi di rumah. Tapi tidak ada tampak kegiatan. Jendelanya padahal terbuka.
"Kak Biru lagi ngapain ya?"
Ia menunduk membuka WhatsApp-nya.
Lekas ia ketikan pesan. Pria itu tengah online.
Anda:
[Assalamualaikum Kak
Albiru]
Ia menepuk permukaan ponselnya dengan pelan ke bibir. Matanya terus mengawasi kamar Biru.
Ting!
Notif masuk membuat Langit membuka
Segera.
Calon imam
[Wa'alaikumsalam]
Anda
[Kak Biru gak dinas kan?]
Calon imam
[Gk].
Anda
[Kak Biru, lagi ngapain?]
[Langit ganggu Kak Biru gak?]
Calon imam
[Ganggu.]
Anda
[Kak Biru makasih banget loh tadi pagi Langitnya dianter]
Calon imam
[Hm]
Anda
[Kak Biru mau hadiah apa?]
[Langit janji tadi pagi mau kasih]
Calon imam
[Gak usah]
Anda
[Kak Biru sukanya apa?]
Calon imam
[Gak usah]
Anda
[Langit pinter masak.][Dimasakin mau? Latihan jadi calon istri hehe]
Calon imam
[Ngawur!]
Anda
[Yakin itu harus kak Biru][Langit yakin kita bakal jodoh kok]
Calon imam
[Saya yang gak mau]
Anda
[Gak mau sama Langit?]
Calon imam
[Y]
Ia mengerucutkan bibirnya kesal. Sedih sekali ditolak mentah-mentah. Tapi bukan Langit namanya langsung nyerah.
Anda
[Gak apa-apa. Langit mau kok]
Calon imam
[Terserah!]
Anda
[Itu jawaban cewek kak Biru]
Calon imam
[Saya mau off]
Anda
[Eh tunggu kak Biru!]
Calon imam
[Apa lagi?]
Anda
[Mama tadi nanyain Tupperware]
Calon imam
[Yang mana?]
Anda
[Kotak bekal tadi pagi Dokter ganteng]
[Kak Biru?]
[Kak?]
[Kok di read doang sih]
[Kak Albiru?]
[Dokter?]
Langit menghela nafas. Padahal tadi dia sengaja biar bisa lama-lama ngobrol. Eh malam di read dong.
TOK TOK TOK
Ketukan disertai pintu yang kemudian terbuka menampilkan Gara dengan wajah datarnya. "Makan." Hanya kata singkat itu yang keluar dari bibir adik beda tiga tahu dengannya itu. Melihat Gara ide Langit muncul.
"Gara sini deh." Langit mengerakkan
Tangannya agar sang adik mendekat. Gara nurut.
"Kepalamu pusing gak?"
"Gak!"
"Masa?"
"Gak!'
"Pusing aja dong. Kakak temenin periksa ke sebelah."
"Bang Dokter?"
Senyum Langit melengkung lebar. "Iya Bang Dokter. Yuk!" Ia berdiri. Menggandeng tangan adiknya yang tingginya udah hampir sama dengannya. Ini cara Langit aja biar ketemu Biru.
"Gara gak pusing."
"Ya udah bilang aja pusing."
"Gak mau."
Langit menatap malas adiknya ini. "Ayo dong dedek kakak yang ganteng kayak paра."
"Gara mau makan. Gak mau. Lagian dosa boong."
"Kakak Langit pinjemkan ponsel semalaman buat main games deh. Mau gak?"
Tawarnya. Bodo amat dia gak pakai ponsel malam ini, yang penting ketemu Biru.
Gara diam sesaat. Ia menatap tatapan permohonan kakaknya. Di iming-iming dia jadi tertarik. Apalagi games. Gara tidak punya ponsel. Ia belum dikasih izin Ezhar dan Orlin.
"Beneran?"
Kepala Langit mengangguk cepat. "Iya. Benar. Janji."
"Kak Langit gak boongin Gara kan?"
"Enggak dong. Sejak kapan Kak Langit jahat sama Gara?"
"Sering," balas Gara menyindir. Langit terkekeh. Ia merangkul adiknya keluar setelah mengambil hijab.
"Kalau mama papa tanya bilang apa?"
Langit menaruh telunjuk di depan bibirnya."Kita diem-diem. Ruang makan kan gak kelihatan kalau kita jalan ke pintu."
"Tapi bentar ya? Entar mama papa panggil. Kalau ketahuan kak Langit yang tanggung jawab."
"Iya bawel."
"Ck. Habis ini makan."
"Aman."
"Terus kasih ponselnya sama Gara."
"Oke. Tapi jangan bilang kak Langit kasih pinjem ponsel."
"Deal!"
Ah senangnya dalam hati. Dengan senyum terus mengambang, ia bersama Gara keluar diam-diam. Gerakan kaki mereka pelan. Sebisa mungkin keduanya tidak menimbulkan suara. Terutama begitu membuka pagar.
"Kak Langit. Beneran gak apa?" Gara menatap khawatir ke dalam rumah. Beda dengan Langit. Gara itu anak baik dan penurut.
"Iyaa," bisiknya. "Dekat kok lagian.
Sebelah rumah."
"Ya udah."
Kala keduanya memencet bel rumah Biru, pria itu lalu keluar memakai baju koko dan sarung serta peci. Tentu saja membuat Langit terpukau. Calon imamnya itu makin tampan.
Dua alis Biru naik. "Mau ambil Tupperware?" tanyanya dingin.
"Iya."
"Nanti saya antar. Baru mau di cuci."
Langit mengerjap.
"Sudah, kan?"
"Eh tunggu dulu kak Biru!"
"Hm?"
Dia menunjuk Gara. Adiknya yang tidak mengerti hanya diam. Sontak Langit menginjak kaki adiknya.
"Aw Kak Langit!" Gara mendelik kesal. Bibir Langit bergerak pelan. Dia menyentuh pelipisnya memberi kode.
"Kok kaki Gara kamu injak?"
"Hehe iya em itu. Gak kok Kak Biru. Gara tadi katanya gak enak badan. Jadi sekalian mau diperiksa boleh enggak?"
Perhatian Albiru beralih seketika pada Gara. "Gara sakit?" tanyanya lembut dengan punggung tangan mendarat di dahi adiknya.
Langit menekuk wajah sebal. Sama Gara aja nadanya lembut. Gak ketus. Lah sama dia? Boro-boro lembut.
Gara memberi anggukan ragu. Ia melirik
Kakaknya.
"Mau masuk dulu? Saya periksa. Atau mau saya yang ke sebelah aja?"
"Eh di rumah kak Biru aja!" Itu Langit yang menjawab. "Ya kan dek?" Ia menatap adiknya yang memberi anggukan kemudian.
Albiru memberi anggukan juga. Ia membukakan pintu lebar-lebar. "Mari masuk," ajaknya. Langit mengangguk senang. Gara jalan duluan. Saat kaki Langit ikut melangkah masuk, tangan Biru mencegatnya.
"Tunggu!"
Langit mengerjap. "Kenapa Kak?"
"Kamu mau ngapain?"
"Ya ikut. Kan Gara mau diperiksa." Ia tunjuk adiknya.
"Yang sakit kan Gara. Bukan kamu. Kamu tunggu di sini!"
"Kenapa gitu?"
"Ya gitu. Diem di sini."
"Tapi Langit mau lihat."
"Gak. Kamu perempuan. Ini rumah pria."
"Ada Gara."
Albiru menatap tajam. Langit menelan ludah. "Kalau gitu ambil tupparware bentar boleh?"
"Nanti saya kasih Gara. Kamu tunggu di sini atau pulanglah dulu."
"Langit tungguin aja deh."
"Bagus."
Setelahnya Biru masuk membawa Gara.
Langit hanya dapat menghela nafas kecewa. Ia kemudian berdiri saja menunggu. "Yah gak jadi deh lama-lama sama Kak Biru," dumelnya.
Padahal itu tujuannya bawa Gara
Netranya hanya bisa melihat isi rumah Albiru dari sana. Bersih. Rapi untuk ukuran pria. Gimana dia tidak tergila? Udah ganteng, dokter rapi, sholeh lagi.
Langit melihat Albiru itu kayak papanya.
Walupun dingin di luar kalau udah halal aslinya pasti bucin parah. Membayangkannya saja membuatnya tersenyum malu. Ketika dia benar jodoh sama Biru lalu... Langit menungkup pipinya.
Jadi gak sabar buat nikah.
Kalau lihat Albiru tiap sholat makin ganteng seperti tadi, itu baik untuk matanya.
Apalagi kalau kelak bisa gandengan. Ini mah mimpinya!
"Bismillah soon gue jadi istri Kak Biru," bisiknya.
"Ehem!"
Deheman yang terdengar tidak jauh membuatnya yang tengah halu itu menolehkan kepala. Bola matanya membulat melihat Ezhar berdiri dibalik pembatas antar rumahnya dengan Albiru. Sedang melipat tangan menatapnya tegas.
"Eh papa."
"Papa kok di luar? Tadi makan." Langit mendekat pelan walau terhalang mobil. Ia nyengir.
"Mana adik kamu?"
Tangannya menunjuk ragu ke dalam rumah Biru.
"Masuk ke rumah."
"Gara gimana?"
"Papa tungguin."
"Tapi-"
"Cepat. Habis itu hafal Al-Waqiah."
"Yah yah Papa."
"Tambah Yasin?"
Bahunya lemas. Mau tidak mau Langit segera memasuki gerbang rumahnya. "Langit sekalian ambil Tupperware papa sayang. Tadi pagi sama kak Biru. Mama pasti tanyain kalau Tupperware nya hilang."
"Kenapa bisa sama Biru? Kamu kasih apa sama Biru?"
"Hehe. Bekal yang mama bikin?" jawabnya cengcesan.
Ezhar menatap datar putrinya.
"Pa. Kak biru kan sendiri. Terus Langit kan baik hati kasih bekal."
"Gak sekalian bilang Langit berkedok dekatin Kak Biru, Pa," ujar Ezhar membuat Langit tergelak.
"Papa tahu aja. Gimana Pa?"
"Apanya yang gimana?"
"Bisa yuk nikahin Langit sama Kak Biru." Matanya berkedip-kedip. Ezhar mendekat sedikit dan menunduk. Tangannya naik menjitak kepala putrinya.
"Mau tambah hafal surah Al-baqarah
Sayang?"
"Boleh. Demi nikah sama kak Biru." Senyum Langit makin lebar. Ezhar mengangga. Ia kembali berdiri dan menghela nafas.
"Gak ada nikah nikah. Masuk sana."
"Gak dipertimbangan dulu Pa?"
"Gak."
"Menantunya Dokter loh." Langit mencolek lengan papanya.
"Daripada nikah. Belajar yang benar. Rangkingnya urutan 5 terbawah terus."
Ia mengerutkan bibirnya.
"Malam Om." Suara Albiru membuat keduanya kompak menoleh. Senyum Langit melengkung pada Albiru yang masih lengkap memakai pakaian sholat. Di samping Biru ada adiknya. Berdiri pegang tupperware bekal.
"Duh Masya Allah banget deh calon imam," ungkapnya dalam hati.
"Oh iya. Malam Albiru." Ezhar memberi anggukan kecil. "Gara ngapain sama Bang Biru, Nak?"
Wajah Gara langsung panik.
"Gara tadi bilang gak enak badan Om.
Makanya datang sama Langit. Tadi saya periksa."
Dua alis Ezhar naik. "Gak enak badan?" Ezhar menatap Gara yang tampak tegang. Pasti bohonh. Ia bisa tahu dari reaksi putranya yang kini menatap Langit.
"Mampus." Kaki Langit gerak-gerak gelisah. "Ketahuan gue," batinnya.
"Langit?" Ezhar menatap putrinya meminta penjelasan. "Tadi bilangnya minta tupperware."
"Aduh perut Langit sakit." Langit tiba-tiba mengaduh memegang perutnya. "Kok perut Langit sakit ya. Papa langit mau ke kamar mandi dulu ya?" tanpa menunggu jawaban, ia berlari ke dalam rumah.
"Gara dibujuk Kak Langit. Suwer deh!" Gara memamerkan dua jari tangannya saat tatapan Ezhar kembali padanya.
Ezhar menghela nafas berat.
***
"Papa ganteng. Dispensasi yah dua minggu?"
"Gak, tiga hari!" Ezhar melipat tangannya.
Langit tengah baca Al-quran sibuk hafalan. Di sampingnya juga ada Gara. Batal kesempatan adiknya puas main games. Ponsel juga di sita Ezhar malam ini.
"Papa Langit ngantuk. Bobok yah?"
"Masih jam setengah sembilan. Ayo hafalan. Papa tungguin sampai jam sepuluh."
Langit menatap nanar papanya yang duduk di atas sofa dengan laptop di pangkuannya. Ia melirik Gara kemudian.
"Pa Gara udah hafal."
"Loh kok cepat?" Langit protes. Dia saja baru ayat 5 dari tadi.
"Gara rajin hafalan. Gak kayak Kak Langit yang hafalannya pas kena hukum papa aja.
Coba kalau gak dihukum. Gak mau hafalan."
Orlin datang dari arah dapur membawa cemilan untuk mereka.
"Itu kan karena Gara ikut program tahfidz Mama," belanya.
"Kakak juga masuk, tapi malah kabur terus tiap program kan? Ujung-ujungnya keluar." Ungkap Ezhar. Langit cengcesan. Sudah dibilang kan, dibanding dia. Gara nurut.
Lah Langit kalau di rumah sih harus hafalan. Kalau enggak. Ponselnya benar-benar ditahan. Selain itu Ezhar ancam pindah ke pesantren. Walaupun dia udah kelas 12.
"Ayo kak, hafal dulu dikit-dikit." Mamanya kini duduk di samping papanya. "Nih mama bawah sponsor makanan."
"Iyaa," angguknya malas.
"Gara ayo sini papa dengar."
Gara sontak mendekat. Dia duduk menyila dan memejamkan mata. Suaranya mengalun merdu memenuhi ruangan keluarga. Orlin dan Ezhar yang menyimak tersenyum mendengarnya. Gara memiliki suara yang sangat merdu.
Jika Langit hafal Al-waqiah. Surah yang Ezhar pilih untuk dihafal. Kalau Gara melanjutkan hafalannya. Sudah juz 11. Iya Gara juga dihukum. Bukan hanya Langit.
"Shodaqallahul adzim." Gara membuka mata begitu menyelesaikan murajaahnya. Ezhar mengusap kepala Gara dan mengucup puncak kepala putranya.
"Masya allah. Papa bangga. Karena Gara hafalannya naik terus nih boleh main games sampai jam sepuluh. Kalau udah jam sepuluh.
Ponselnya kasih papa lagi oke?"
Gara tersenyum lebar dengan anggukan. Ezhar menyerahkan ponsel. Dengan bahagia dia terima. Ia lekas berdiri kemudian ke kamar.
"Ingat ya Nak. Jam 10 siap-siap tidur,"
pesan Orlin sebelum Gara beranjak.
Anak keduanya itu memberikan acungan jempol. "Siap Mama." Gara juga mencibir pada Langit yang mencebik.
"Hafalan ya Kak Langit."
"Hish!"
"Ayo sayang. Kalau hari ini hafal 15 ayat Al-Waqiah. Papa belikan novel besok. Bebas."
Bola mata gadis itu langsung berbinar. "Beneran Pa?"
"Iya. Mau gak?" Sama seperti Orlin. Langit juga suka baca novel. Ia punya koleksi. Punya mamanya sudah dia baca semua. Jadi kalau dibelikan novel gimana dia tidak bersemangat.
"Mauu!"
"Hafal 15 ayat dulu ya minimal."
"Oke siapa takut." Langit jadi bersemangat. "Tapi novelnya Langit beli
Sendiri ya Pa? Langit yang pilih."
Ezhar memberi anggukan setuju. Dia punya cara tersendiri membuat Langit bisa menghafal. Langit memang tidak sehebat adiknya Gara dalam belajar ataupun menghafal. Maupun Gea, kembaran Gara. Karena itu trik ini menjadi jalan untuk memacu semangat Langit. Lagipula setiap anak itu berbeda.
Rewards sebagai penghargaan akan membuat anak lebih bersemangat. Pemberian hadiah setelah berjuang akan menanamkan mindset anak bahwa perlu perjuangan dan usaha dulu untuk mendapatkan sesuatu.
Orlin tersenyum melihat Langit yang kini duduk di bawah bersila memegang Al-Quran.
Fokus pada ayat Al-Quran. Dia menatap bangga Ezhar kemudian.