Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gesekan di Koridor Dekanat
Atmosfer di koridor luar ruang dekanat mendadak terasa begitu pekat dan menekan, bahkan mengalahkan hawa gerah siang itu. Bima masih berdiri kokoh di posisinya, bersedekap dengan kedua tangan yang mencengkeram lengan korsa Tekniknya sendiri. Sepasang mata hitamnya menatap Danu dengan intensitas yang sangat dingin, lurus, dan penuh kalkulasi.
Mendengar penuturan Kirana tentang sup ayam ginseng dari Danu yang masuk ke rumah gadis itu semalam membuat sesuatu di dalam dada Bima terasa bergeser secara paksa. Ada parameter egonya yang terusik melihat bagaimana cowok di depannya ini bisa masuk ke wilayah personal Kirana dengan begitu halus.
"Sore, Bim. Baru selesai urusan administrasi proyek?" tanya Danu dengan nada suara yang tetap terjaga kesopanannya, namun matanya menatap Bima dengan sorot yang sama-sama tidak mau mengalah. Sebagai sesama mahasiswa Teknik seangkatan, Danu tahu persis bahwa Bima bukanlah tipe orang yang bisa diremehkan, dan ia memilih untuk menghadapi persaingan ini dengan cara yang ksatria.
Bima tidak langsung menjawab. Ia menurunkan kedua tangannya, lalu membetulkan letak tas ranselnya yang terasa berat. "Gue udah selesai. Semua berkas fisik udah ditandatangani dan masuk rekonsiliasi data dekanat," jawab Bima, suaranya terdengar sangat dalam, dingin, dan penuh penekanan pada kata 'selesai', seolah ingin menegaskan batas teritori kerjanya bersama Kirana yang tidak bisa diganggu gugat.
Danu mengangguk paham, senyum tipisnya tidak luntur sedikit pun. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Kirana, menatap adik tingkatnya itu dengan binar mata yang jauh lebih lembut. "Ra, nanti sore ada kelas lagi nggak? Kalau nggak ada, aku kebetulan mau ke toko buku pusat dekat stadion. Mau sekalian aku antar pulang? Kemarin kan belum sempat."
Kirana yang berdiri di antara kedua kating Teknik itu mendadak merasa lidahnya kelu. Otaknya sama sekali tidak bisa memproses kenapa situasi formal pasca-keluar dari ruang dekanat bisa berubah menjadi se-kompetitif ini. Di matanya, Danu murni hanya sedang menawarkan tumpangan karena sifat aslinya yang memang ramah dan perhatian, sementara Bima... Kirana melirik Bima yang wajahnya sekarang sudah seratus persen kembali ke mode "Beruang Kutub" yang tidak bersahabat.
"Eh... itu, Kak Danu... Aku—"
"Dia ada evaluasi draf bab akhir sama gue jam empat nanti, Dan," potong Bima cepat, memotong kalimat Kirana sebelum gadis itu sempat memberikan jawaban. Bima melangkah satu langkah ke depan, memposisikan dirinya sedikit di depan Kirana, menghalangi jarak pandang langsung antara Danu dan gadis Sastra itu. "Logistik dan jadwal proyek kita hari ini padat. Jadi dia nggak punya waktu luang."
Danu menaikkan sebelah alisnya, menangkap basah sikap protektif Bima yang sangat agresif siang ini. Namun, Danu tidak terpancing untuk emosi. Ia justru terkekeh pelan, menatap Bima dengan senyum menantang yang elegan. "Gue cuma nanya Kirana, Bim. Opsi tumpangan itu hak dia buat milih. Lagian kalau cuma evaluasi draf, bukannya bisa dikerjain sambil makan sore? Gue bisa sekalian temani kalian kalau emang itu urusan proyek."
"Nggak perlu. Struktur kerja tim gue sifatnya tertutup," balas Bima lempeng, mutlak, dan tidak menerima negosiasi dalam bentuk apa pun.
Kirana menatap punggung lebar Bima di depannya dengan mata membelalak. Sejak kapan jadwal evaluasi draf proyek mereka mendadak dipindahkan ke jam empat sore ini? Bukankah tadi di dalam ruangan dosen mereka sudah sepakat kalau revisi baru akan dimulai besok malam via Google Docs? Kirana ingin sekali memprotes dan menjewer lengan kemeja Bima, namun melihat ketegangan yang nyata di antara kedua cowok seangkatan ini, ia memilih untuk menahan diri demi keselamatan reputasinya di koridor kampus.
Danu akhirnya menghela napas pelan, menyadari bahwa mengeras di depan Bima saat ini hanya akan membuat suasana semakin tidak kondusif bagi Kirana. Ia mundur setengah langkah, lalu menatap Kirana dari balik bahu Bima. "Ya sudah kalau begitu, Ra. Aku duluan ya, buku-bukunya harus segera aku balikin ke perpus soalnya. Sampai ketemu nanti, ya."
"Iya, Kak. Hati-hati ya," jawab Kirana dengan senyum canggung yang dipaksakan.
Danu mengangguk tegas ke arah Bima. "Duluan, Bim."
Bima hanya membalas dengan anggukan kepala yang sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Matanya terus mengawal langkah kaki Danu sampai cowok flanel itu benar-benar menuruni tangga koridor dan hilang di balik belokan gedung.
Begitu situasi kembali sunyi, Bima langsung berbalik, menatap Kirana dengan tatapan yang sangat ketus dan tidak santai. "Supnya enak?" tanya Bima mendadak, intonasi suaranya terdengar sangat sinis dan tajam.
Kirana tersentak, dahi indahnya berkerut dalam. "Hah? Apaan sih, Bim? Tiba-tiba nanya sup."
"Jus jeruk sama sup ayam ginseng. Logistik lo mewah banget semenjak sekelompok sama gue," sindir Bima lagi, sambil melangkah berjalan mendahului Kirana menuju arah parkiran motor tanpa menunggu balasan.
Kirana yang ditinggal begitu saja langsung mendengus kesal, menghentakkan kakinya ke lantai keramik sebelum akhirnya berlari kecil mengejar langkah lebar asisten lab Teknik tersebut.
"Bima! Tungguin gue! Lo utang penjelasan ya, sejak kapan kita ada jadwal evaluasi jam empat sore ini, hah?!" teriak Kirana kesal, mengabaikan fakta bahwa jantungnya di dalam sana sedang berdegup dengan ritme yang luar biasa berantakan karena sadar dirinya baru saja diperebutkan.