Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *4
Di belakang Reyno, Yara masih menunduk dalam-dalam. Tangannya mencengkeram ujung jaketnya sendiri begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bahunya berguncang hebat menahan isak tangis yang tak lagi bisa dibendung. Wajahnya terlihat benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus ke mana, tak tahu harus melakukan apa.
“Maaf ....” Suara Yara terdengar sangat kecil, hampir berbisik, tapi terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. “Maaf banget ganggu malem-malem gini. Aku gak tahu harus ke mana lagi. Keluarga kami jauh di luar kota, dan kak Rey satu-satunya orang yang aku kenal deket di sini.”
Mendengar itu, hati Merlin yang tadinya tegang dan penuh tanya langsung melembut seketika. Rasa kaget dan herannya berubah menjadi rasa iba yang besar. Ia melihat gadis muda itu yang baru saja kehilangan saudara satu-satunya, berdiri di tengah hujan, sendirian, ketakutan.
“Astaga,” gumam Merlin pelan. Ia buru-buru melangkah maju, mendekati Yara, lalu menyentuh lengan gadis itu pelan. “Udah, jangan minta maaf. Kamu masuk dulu. Basah kuyup gini, nanti sakit.”
Yara mengangguk pelan, lalu melangkah masuk dengan langkah gontai dan berat. Malam itu berubah menjadi kacau. Segala rencana sederhana mereka, makan malam hangat, obrolan santai, atau sekadar waktu istirahat berdua, semuanya hilang seketika digantikan oleh kabar duka yang berat itu.
Tidak ada makan malam hangat. Makanan dingin di meja dibiarkan begitu saja. Reyno sibuk sekali. Ia mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang makan, menelepon rumah sakit, menelepon kantor kepolisian, menghubungi kerabat jauh Lucas, dan mengurus segala hal teknis yang harus dilakukan saat seseorang meninggal dunia.
Wajahnya terlihat begitu tertekan, begitu bersalah, dan begitu sedih. Sementara Merlin, ia berusaha sekuat tenaga membantu Yara. Ia menyediakan handuk kering, menyuguhkan teh hangat, duduk di samping gadis itu, dan membiarkan Yara menangis sepuasnya di bahunya.
Apartemen kecil mereka yang biasanya penuh kehangatan, canda, dan tawa. Mendadak terasa penuh sesak oleh duka, rasa kehilangan, dan ketidakpastian.
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi saat suasana mulai sedikit tenang. Yara akhirnya tertidur lelap di sofa ruang tamu, dibalut selimut tebal milik mereka. Gadis itu kelelahan menangis seharian.
Reyno baru saja menutup telepon terakhirnya, lalu duduk diam di kursi makan, menatap kosong ke arah dinding. Merlin perlahan berjalan mendekat, lalu masuk ke kamar tidur mereka. Ia melihat Reyno sedang duduk di tepi tempat tidur, punggungnya membungkuk ke depan, kedua tangannya mengepal erat di atas lutut. Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.
“Rey ... ” panggil Merlin pelan. Ia duduk di samping suaminya perlahan, cukup dekat namun tidak menyentuh dulu.
Pria itu langsung menunduk lebih dalam, kepalanya hampir menyentuh lututnya sendiri. Bahunya berguncang pelan.
“Kalau aja aku gak minta dia jemput, kalau aja aku naik kendaraan sendiri.” Suaranya terdengar pecah, penuh rasa penyesalan yang tak terbayangkan. “Ini semua salahku, Merlin. Dia mati gara-gara aku.”
Merlin langsung memegang tangan suaminya, menggenggamnya erat, berusaha menyalurkan kekuatan. “Jangan gitu ngomongnya. Ini kecelakaan, Rey. Takdir Tuhan. Kamu gak bisa nyalahin diri sendiri terus,” ucapnya lembut, berusaha menenangkan meski ia pun masih syok luar biasa.
“Tapi, dia korbankan nyawanya buat nyelamatin aku,” desis Reyno lirih, air mata akhirnya jatuh juga dari sudut matanya. “Kalau dia gak ada, aku juga udah gak ada di sini sekarang.”
Merlin tidak menjawab lagi. Ia hanya menarik tubuh besar itu masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan suaminya menangis sepuasnya di bahunya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Merlin merasakan Reyno gemetar hebat di dalam pelukannya. Gemetar ketakutan, gemetar karena rasa bersalah, dan gemetar akibat rasa kehilangan yang mendalam.
“Aku janji sama Lucas,” bisik Reyno pelan di samping telinga istrinya, suaranya serak dan lemah. “Pas terakhir kali ngobrol, aku janji sama dia. Kalau ada apa-apa sama dia, aku bakal jagain Yara. Aku bakal anggep dia kayak adikku sendiri. Aku bakal pastiin dia aman, dia sejahtera, dia bahagia.”
Merlin terdiam sesaat. Hatinya mencelos perlahan. Namun melihat betapa hancurnya suaminya saat itu, ia tak punya hati untuk menolak atau bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk kecil, mengusap punggung Reyno berulang kali.
“Iya. Iya, Sayang. Kita jaga dia sama-sama. Kamu gak sendirian,” jawabnya pelan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga.
Saat itu, di detik itu juga, Merlin belum tahu.
Ia belum sadar sepenuhnya, bahwa janji sederhana yang diucapkan di tengah rasa duka itu, perlahan namun pasti, akan menjadi retakan terbesar yang perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Rumah yang dulu hangat itu, kini mulai terbuka pintunya untuk orang lain. Dan Merlin, tanpa sadar, baru saja mengizinkan hal itu terjadi.
***
Langit di atas pemakaman terlihat kelabu pekat, seolah ikut merasakan kesedihan yang memayungi seluruh suasana hari itu. Awan mendung menggantung rendah, membuat udara terasa dingin menusuk hingga ke tulang, sementara aroma tanah basah bercampur wangi melati dan bunga krisan putih memenuhi udara, menciptakan suasana yang suram, berat, dan penuh kepedihan.
Lucas telah tiada. Pria yang dulu selalu ada di samping Reyno, sahabat karib yang rela berkorban nyawa demi menyelamatkan nyawa temannya sendiri, kini terbaring diam di dalam peti kayu yang perlahan ditutup tanah. Semua orang yang hadir tampak berduka, namun ada dua sosok yang terlihat paling hancur di antara kerumunan itu.
Merlin berdiri tidak jauh dari barisan depan, tepat di bawah payung hitam yang ia genggam erat di tangan kanannya. Matanya diam-diam tak lepas dari sosok suaminya, Reyno, yang berdiri kaku di sisi makam.
Reyno terlihat benar-benar hancur. Wajahnya yang biasanya tampan dan berwibawa kini tampak pucat pasi. Matanya merah dan bengkak karena hampir tidak tidur sejak kemarin malam. Dan sorot matanya kosong seolah jiwanya ikut terkubur bersama Lucas.
Sejak upacara pemakaman dimulai, pria itu hampir tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya diam, menunduk, menahan rasa sakit yang begitu besar hingga membuat seluruh tubuhnya tampak tegang.
Di sisi lain, agak menjauh sedikit, berdiri sosok gadis bertubuh mungil dengan wajah yang sama pucatnya. Itu Yara, adik kandung Lucas. Gadis itu berdiri di depan gundukan tanah yang masih basah itu sambil menangis tanpa suara. Bahunya naik turun menahan isak tangis yang menyakitkan. Tubuhnya yang kecil dan rapuh itu terlihat begitu sendirian, begitu tak berdaya, seolah dunia runtuh menimpanya saat ini juga.
Beberapa kali selama upacara berlangsung, Reyno mendekati gadis itu. Ia menahan tubuh Yara yang beberapa kali hampir jatuh terguling karena lemas akibat menangis. Ia menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu, berbisik menenangkan, menyuruhnya minum air, bahkan sempat membawakan jaket tebal miliknya saat melihat Yara menggigil kedinginan di bawah rintik hujan yang mulai turun.
🥹🥹