Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah butik dengan fasad kaca tinggi di kawasan Jakarta Selatan. Nama butiknya hanya terdiri dari satu kata emas yang sangat elegan: 'VOGUE’E'. Aneska tahu butik ini. Ini adalah tempat di mana para artis dan sosialita memesan gaun custom yang harganya bisa setara dengan gaji Aneska selama dua tahun.
"Mas... Mas Gani, kita ngapain ke sini?" tanya Aneska ragu, matanya tak lepas dari papan nama butik itu.
"Mencari gaun untuk pertunangan minggu depan," jawab Arga santai sembari mematikan mesin.
"Tapi Mas, di sini mahal banget! Gue punya tabungan sih, tapi kalau buat beli baju di sini, kayaknya gue harus puasa sampai tahun depan," bisik Aneska panik.
Arga menoleh, menatap Aneska dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian mengulurkan tangan, mencubit pelan hidung Aneska. "Kamu tidak perlu mengeluarkan sepeser pun. Anggap saja ini investasi untuk calon istri saya."
Aneska terpaku. Investasi? Kalimatnya kok kayak CEO banget ya?
Begitu mereka melangkah masuk, denting lonceng di atas pintu menyambut mereka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat modis langsung berlari kecil menghampiri. Wajahnya cerah, tampak ingin menyapa dengan sangat akrab.
"Ya ampun, Pak Ar—"
"Gani," potong Arga dengan suara yang sangat tegas dan dalam, matanya menatap tajam ke arah wanita itu.
Wanita itu langsung tersentak, mengerem ucapannya dengan paksa. Ia melirik Arga, lalu melirik Aneska yang tampak bingung, kemudian kembali ke Arga dengan ekspresi yang sangat canggung. "Ah... iya... Mas Gani. Maaf, saya salah sebut tadi. Silakan, silakan masuk. Ada yang bisa saya bantu, Mas Gani?"
Aneska menyipitkan mata. "Tadi dia mau panggil apa, Mas?"
"Pak Gan—i. Mungkin dia pikir saya sudah tua sampai dipanggil bapak," jawab Arga cepat, sangat tenang.
"Tapi Mas, dia kayak kenal banget sama lo," selidik Aneska.
"Saya sering memesan... seragam kantor di sini untuk karyawan saya," kilah Arga. "Ayo, jangan banyak tanya. Fokus cari gaun yang kamu suka."
Wanita pemilik butik itu, yang ternyata bernama Madam Rosa, segera membawa mereka ke ruang VIP. Di sana, deretan gaun indah terpampang nyata. Arga duduk di sofa beludru, melipat kaki, dan memberikan isyarat agar Aneska mencoba beberapa gaun.
Aneska keluar dari ruang ganti dengan gaun pertama: sebuah gaun A-line berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah.
Arga menggeleng tanpa suara. "Terlalu mencolok. Kamu akan jadi pusat perhatian pria-pria nakal."
Aneska masuk lagi, lalu keluar dengan gaun kedua: mermaid dress berwarna emas yang sangat ketat.
"Terlalu sesak. Kamu tidak akan bisa bernapas saat makan," komentar Arga lagi, meskipun matanya sempat terpaku pada lekuk tubuh Aneska yang sempurna.
Sampai pada gaun ketiga. Sebuah gaun berwarna
dengan detail brokat bunga kecil-kecil yang sangat halus, berlengan pendek transparan, dan panjangnya pas menyapu lantai. Begitu Aneska keluar dan berdiri di depan cermin besar, ruangan itu mendadak sunyi.
Aneska terlihat sangat anggun, lembut, namun tetap memancarkan aura cantik yang berkelas.
Arga berdiri dari sofanya. Ia berjalan perlahan menuju Aneska, berdiri tepat di belakang gadis itu. Melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu.
"Ini," bisik Arga. "Kamu cantik sekali, Aneska."
Wajah Aneska memanas. "Beneran? Tapi harganya, Mas... gue takut lihat labelnya."
"Jangan dilihat. Biar saya yang urus," Arga berpaling pada Madam Rosa. "Saya ambil yang ini. Kirim ke alamat saya seperti biasa."
"Siap, Pak Ar—maksud saya, Mas Gani!" Madam Rosa membungkuk hormat.
Saat Aneska kembali ke ruang ganti untuk melepas gaun, Arga berjalan menuju meja kasir. Di sana, asisten butik yang masih muda tampak sibuk dengan komputernya.
"Pak Arga, mau pakai kartu yang Platinum atau—"
"Pakai ini," Arga menyodorkan sebuah kartu hitam tanpa nama yang sangat eksklusif. "Dan ingat, jangan panggil saya Arga di depan gadis tadi. Mengerti?"
Si asisten mengangguk cepat dengan wajah pucat. "Baik, Pak. Maafkan saya."
Tiba-tiba, pintu butik terbuka kembali. Dua orang pria berjas rapi masuk dengan terburu-buru. Begitu mereka melihat Arga, mereka langsung berseru kompak.
"Woi, Arga! Dicariin di kantor ternyata malah di sini! Rapat sama investor dari Singapura udah mulai sepuluh menit lalu, Bro!" teriak salah satu pria itu.
Arga membeku. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan "ingin membunuh" pada kedua temannya itu.
Aneska baru saja keluar dari ruang ganti tepat saat kata-kata itu terlontar. Ia mengerutkan kening, menatap kedua pria asing itu, lalu beralih ke Arga.
"Arga? Siapa yang Arga?" tanya Aneska bingung.
Kedua pria itu terdiam, menatap Aneska yang cantik, lalu menatap Arga yang sedang memberikan kode mata agar mereka diam.
"Eh... itu... Arga... Arga itu nama tengahnya Gani!" seru salah satu teman Arga, mencoba menyelamatkan situasi dengan asal-asalan. "Iya, kan, Ga—ni?"
Aneska menatap Arga dengan penuh selidik. "Mas Gani punya nama tengah Arga? Kok di aplikasi kencan cuma ditulis 'Gani'?"
Arga berdehem, mencoba menguasai keadaan. "Iya. Nama lengkap saya memang ada Arga-nya. Tapi saya tidak suka menggunakannya karena... itu terlalu pasaran. Dan kedua orang ini," Arga menunjuk teman-temannya dengan tatapan tajam, "adalah bawahan saya yang sangat tidak sopan."
Kedua teman Arga melongo. Bawahan? Kita kan partner bisnis! batin mereka protes, tapi melihat aura Arga yang mengerikan, mereka hanya bisa mengangguk-angguk pasrah.
"Oalah... kirain siapa," ucap Aneska, tampak percaya meski masih agak sangsi.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Saya harus... rapat dengan investor Singapura yang dibilang 'bawahan' saya tadi," Arga segera merangkul bahu Aneska, menggiringnya keluar butik sebelum rahasianya benar-benar terbongkar.
Di dalam mobil, Aneska terdiam cukup lama. Ia menatap profil samping wajah Arga yang sedang fokus menyetir.
"Mas Gani," panggil Aneska pelan.
"Ya?"
"Lo beneran cuma wiraswasta biasa, kan? Lo nggak lagi bohongin gue soal apa pun, kan?"
Arga terdiam sejenak. Ia menghentikan mobil di lampu merah, lalu menoleh menatap Aneska. Untuk pertama kalinya, ada kilatan rasa bersalah di mata pria itu, namun tertutup oleh ketenangan yang luar biasa.
"Saya adalah pria yang akan menikahimu minggu depan, Aneska. Itu satu-satunya kenyataan yang perlu kamu tahu sekarang."
Aneska mendengus. "Jawaban lo nggak nyambung, Mas!"
Arga hanya tersenyum tipis. Dalam hati, ia berbisik, Maafkan aku, Aneska. Tapi kalau kamu tahu aku adalah Argani Sebasta sekarang, kamu pasti akan kabur. Dan aku... aku tidak akan membiarkan itu terjadi.