NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 19

Happy Reading Guys!

____

Di sepanjang perjalanan, Sophia hanya diam.

Ia duduk tegak di kursi penumpang sambil menatap jalanan yang terus bergerak di balik kaca mobil.

Sejujurnya, ia hanya ingin menghindari Damian. Kejadian di butik tadi terus berputar-putar di kepalanya. Gaun sialan itu. Hanya karena terinjak, bagaimana bisa sobek begitu mudah? Sophia memejamkan mata sesaat.

Memikirkan kejadian itu saja sudah cukup membuat wajahnya memanas.

Tadinya ia bersikeras ingin pulang menggunakan taksi. Namun, lelaki itu mengatakan bahwa ibunya bisa saja mengetahui hal itu, dan Damian terlalu malas untuk berdebat. Akhirnya ia juga yang mengalah.

Bahkan sebelumnya Sophia sempat berniat duduk di kursi belakang. Tetapi setelah melihat wajah Damian yang tampak suram, ia akhirnya memilih duduk di depan. Bagaimanapun juga, lelaki itu sedang mengantarnya.

Ia tidak ingin Damian berpikir bahwa dirinya benar-benar memperlakukannya seperti sopir pribadi.

Sophia mengembuskan napas panjang, memikirkan tempat kerja, jelas sudah tidak ada harapan. Sekarang semua orang tahu bahwa ia adalah tunangan Damian.

Siapa yang masih berani bersikap biasa padanya? Orang-orang pasti akan menjaga jarak. Merasa sungkan. Atau justru terlalu berhati-hati.

Apa pun itu, suasana kerja tidak akan pernah sama lagi. Namun tiba-tiba Sophia teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Damian yang sedang fokus mengemudi.

"Kau memberi tahu Ibumu di mana aku bekerja?"

Nada suaranya terdengar lebih seperti tuduhan daripada pertanyaan.

Damian bahkan tidak menoleh.

Ekspresinya tetap datar.

"Ibuku punya banyak bawahan."

Sophia menunggu kelanjutannya.

"Kalau memang aku ingin menemuimu, aku bisa datang sendiri. Untuk apa repot-repot memberitahunya?"

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Lagipula aku bukan tipe orang yang suka mengadu."

Sophia terdiam.

Ia masih mengingat dengan jelas ucapan Nyonya Sarah di toko . Wanita itu mengatakan bahwa ia mengetahui tempat kerja Sophia dari putranya. Namun di sisi lain, perkataan Damian juga masuk akal.

Lelaki itu memang bukan tipe yang suka melaporkan hal-hal sepele kepada ibunya. Bahkan hubungan ibu dan anak itu bisa dibilang terlalu dingin.

Setelah beberapa saat berpikir, Sophia akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.

"Aku akan keluar dari pekerjaan itu."

Damian tidak terlihat terkejut.

"Kau memang tidak punya pilihan."

Sophia menoleh.

Damian masih fokus menyetir.

"Kalau kau masih bekerja, karyawan lain akan merasa diawasi. Tetapi kalau kau bermental baja. Itu bukan masalah yang besar."

Sophia mengernyit.

Bukankah seharusnya dia meminta maaf? Karena dia ia harus keluar dari kerjaan. Sophia tersenyum kecut, tetapi apa yang bisa diharapkan dari seorang Damian. Tidak ada.

"Aku akan cari pekerjaan lain." Setelah jeda singkat, ia kembali berkata, "Tapi tidak sekarang. Aku mau istirahat dulu beberapa waktu."

Damian meliriknya sekilas.

"Aku masih ada tabungan. Mungkin bulan depan baru mulai cari kerja lagi. Aku tak bisa mengharapkan apapun dari orang lain," ucap Sophia kesal.

Lelaki itu mengangkat sebelah alis.

"Apa? Kau ingin minta kerjaan?"

Sophia langsung terdiam.

Beberapa saat kemudian ia mendengus pelan.

"Gara-gara kau aku harus keluar kerja."

Damian terkekeh kecil.

"Keluhkan itu pada Ibuku. Aku tak punya urusan."

"Tapi, semua orang tahu aku tunanganmu." Sophia menatapnya jengkel. "Nama baikku juga dipertaruhkan."

Damian tertawa sinis.

"Sebaiknya, katakan itu juga pada Asistenku. Katakan padanya kalau kau masih punya harga diri."

Sophia langsung memahami ke mana arah pembicaraan itu. Wajahnya seketika memanas.

Sophia tidak bisa membalas.

Untuk sekali ini, Damian memang tidak sepenuhnya salah. Kalau saja sejak awal ia tahu Arkan sudah memiliki istri, mana mungkin ia membicarakan lelaki itu di depan Damian?

Lagipula saat itu ia tak mengetahuinya. Kalau tahu mana mau bertanya dimana Arkan, memikirkannya saja membuat Sophia ingin mengubur dirinya sendiri.

Melihat wanita itu terdiam, Damian berkata santai, "Tenang saja."

Sophia menoleh.

"Aku akan menjaga rahasiamu."

Tatapan Sophia penuh kecurigaan. Jelas ia tidak percaya begitu saja.

Damian tersenyum tipis.

"Tentu dengan imbalan yang setimpal."

Sophia langsung waspada.

"Imbalan apa?"

Namun, Damian tidak menjawab. Ia hanya kembali fokus pada jalanan di depan.

Sophia yang tidak mendapatkan jawaban akhirnya mendengus pelan. Saat itulah pandangannya tanpa sengaja jatuh ke arah dasbor mobil. Ia mengerutkan kening, ada kain yang terasa sangat familiar.

Sophia baru saja hendak melihat lebih jelas ketika Damian bergerak lebih cepat.

Dengan santai lelaki itu langsung memasukan kain itu ke dalam laci mobil. Seolah tidak ingin dirinya melihat apa pun.

Sophia mengernyit.

Perasaan aneh tiba-tiba muncul di hatinya. Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, Damian sudah kembali mengalihkan seluruh perhatiannya ke jalan.

Seakan tidak terjadi apa-apa.

 

[Apa kau sudah pulang kerja? Aku akan menjemputmu.]

Entah sudah berapa kali Arkan mengirimkan pesan yang sama.

Tidak ada satu pun mendapat balasan. Awalnya ia berniat menjemput Sophia sepulang kerja. Akan tetapi, mengingat wanita itu masih marah padanya, Arkan akhirnya mengurungkan niat tersebut.

Dari kemarin ia bahkan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.

Bukan karena sengaja menghindar. Ia hanya merasa memberi Sophia ruang mungkin akan membuat suasana membaik.

Yang tidak ia mengerti adalah alasan kemarahan wanita itu. Menurutnya, Sophia bereaksi terlalu berlebihan.

Ia memang mengajak Sophia ikut berlibur bersama dirinya dan Sintia. Namun, bukankah ia sudah menjelaskan semuanya? Pernikahan itu hanya sementara. Ia dan Sintia tidak memiliki hubungan seperti suami istri pada umumnya.

Mereka bahkan akan menempati kamar yang berbeda.

Kalau Sophia merasa canggung, ia juga bisa memperkenalkannya sebagai istrinya sementara Sintia adalah kakak iparnya. Tidak akan ada yang mengetahui kebenarannya.

Lalu sebenarnya apa yang membuat Sophia marah sebesar itu?

Arkan mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya.

Yang ia inginkan hanya satu.

Membuat Sintia bahagia selama masa kehamilan dan merawat bayi itu bersama Sophia.

Sesederhana itu.

Saat mobilnya memasuki area apartemen, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah mobil yang terasa familiar.

Arkan langsung mengernyit.

Mobil Damian.

Untuk sesaat ia menoleh mengikuti arah kendaraan tersebut.

Jantungnya mendadak terasa tidak nyaman. Apa yang dilakukan Damian di sini? Mustahil lelaki itu datang tanpa alasan. Pikiran Arkan langsung tertuju pada satu orang.

Sophia.

Wajahnya seketika menegang.

Tanpa membuang waktu lagi, ia segera memarkir mobil dan bergegas masuk ke dalam gedung apartemen.

Langkahnya semakin cepat.

Begitu pintu lift terbuka, ia hampir berlari keluar.

Dan di ujung koridor, ia melihat sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Napas Arkan langsung terasa lega.

Setidaknya wanita itu baik-baik saja.

Tanpa sadar ia mempercepat langkah lalu meraih pergelangan tangan Sophia.

Sophia terkejut dan spontan menoleh.

Arkan sempat terdiam.

Hari ini Sophia terlihat berbeda, rambutnya tertata rapi, wajahnya dirias tipis. Gaun yang dikenakannya membuatnya tampak jauh lebih anggun dari biasanya.

Cantik.

Sangat cantik.

Namun perasaan yang muncul di dada Arkan bukanlah kekaguman. Melainkan kegelisahan.

"Kau dari mana?" tanyanya pelan namun tegas. "Aku mengirim banyak pesan. Kenapa tidak dibalas?"

Sophia menatapnya datar.

"Aku bertemu Nyonya Sarah."

Rahang Arkan langsung menegang. Cengkeramannya di tangan Sophia ikut menguat.

"Aku sudah bilang padamu untuk tidak berurusan lagi dengan Damian."

Sophia tertawa kecil. Namun, senyum yang muncul di bibirnya terasa dingin.

"Aku akan bertunangan dengan Damian."

Kalimat itu membuat tubuh Arkan membeku.

Sophia melepaskan tangannya lalu berbalik hendak pergi.

Tetapi Arkan kembali menahannya.

"Apa dia mengancammu?"

"Tidak."

Sophia menjawab tanpa ragu.

"Aku yang setuju."

Mata Arkan langsung menggelap.

Ia sudah berusaha bersabar.

Memberi waktu.

Menunggu Sophia meredakan emosinya.

Tetapi sekarang wanita itu justru mengatakan bahwa dirinya menerima pertunangan tersebut dengan sukarela?

"Batalkan."

Nada suara Arkan terdengar keras.

"Aku akan mengurus semuanya."

Sophia menoleh.

"Ini bukan urusanmu."

"Apa kau sudah memikirkannya baik-baik?"

Arkan kembali menariknya. Emosinya mulai sulit dikendalikan. Namun kali ini Sophia tidak lagi memilih diam.

"Apa kau juga memikirkanku?"

Suara Sophia meninggi. Matanya memerah.

"Aku menderita, kau puas! Aku merasa seperti simpanan. Apa kau paham hal itu?"

Arkan terdiam.

Sophia tertawa getir.

"Hanya karena kau bilang pernikahan itu palsu, aku harus menerima semuanya begitu saja?"

"Aku tidak punya pilihan."

Arkan menjawab cepat.

"Kau juga tahu itu."

Sophia menggeleng.

"Aku memang menerimanya. Tapi bukan berarti aku tidak terluka."

Koridor mendadak terasa sunyi. Arkan menatap wanita di hadapannya tanpa mampu berkata apa-apa. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berbicara lagi.

"Aku akan menemui Damian."

"Tidak perlu."

"Aku akan menjelaskan kalau kau berubah pikiran."

"Aku bilang tidak perlu."

Arkan mendadak memegang kedua pipi Sophia. Tatapannya tajam. Penuh amarah yang sejak tadi berusaha ditekan.

"Aku tidak akan membiarkanmu terlibat dengan Damian."

Sophia tidak mengalihkan pandangan. Ia justru menatap balik lelaki itu.

"Aku bisa menerimanya. Sebaiknya kau bisa menerimanya juga!"

Pertanyaan itu membuat Arkan terdiam sesaat. Dengan suara rendah ia menjawab, "kau milikku."

Sophia tersenyum. Namun, senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya.

"Kalau aku milikmu ..." Suaranya perlahan berubah serak. "Lalu kau milik siapa, Arkan?"

Arkan membeku.

Sophia menatapnya lurus.

"Bisakah kau melepaskan Sintia sekarang?"

"..."

"Bisakah kau menceraikannya? Kau sudah menikahinya. Semua orang tahu itu anakmu. Apa kau bisa meninggalkannya?"

Dan untuk pertama kalinya, Arkan tidak mampu memberikan jawaban.

B e r s a m b u n g ....

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!