"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dibawah rembulan
Satu minggu telah berlalu sejak badai di Samudra Abyss mereda. Kastil Obsidian, yang biasanya hanya dipenuhi oleh aroma minyak senjata dan aura dingin yang mencekam, kini dipenuhi dengan kesibukan yang sangat tidak biasa. Pelayan berlarian ke sana kemari membawa nampan berisi hidangan mewah, dan aroma daging panggang bumbu herbal Aether tercium hingga ke menara pengawas.
Sylus Qinche duduk di meja kerjanya, mencoba berkonsentrasi pada laporan logistik pasca-perang. Namun, konsentrasinya hancur setiap kali ia melihat Mephisto—gagak setianya—sedang sibuk bertengkar dengan seekor kucing liar kecil di jendela ruangan.
"Mephisto, berhenti bermain dengan makananmu atau aku akan mencabut bulu ekormu yang gosong itu," tegur Sylus dengan nada rendah namun tajam.
Mephisto mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti protes, lalu terbang dengan malas menuju bahu Sylus. Burung itu tampak sedikit kesal karena sebagian bulu sayapnya masih terlihat agak "kriting" akibat ledakan energi Void di episode sebelumnya. Mephisto mencoba merapikan bulunya dengan paruh, namun justru berakhir dengan menjatuhkan setumpuk dokumen penting dari meja Sylus ke lantai.
"Sialan," umpat Sylus pelan. Pria kelahiran 1996 itu menghela napas panjang. Sejak Evelyne mengambil peran lebih besar di Orde, suasana kastil terasa lebih... hidup, atau mungkin lebih tepatnya, lebih kacau.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan—sebuah tindakan yang biasanya berujung pada hukuman berat, kecuali jika pelakunya adalah Evelyne.
"Sylus! Kau harus mencoba ini!" Evelyne masuk dengan wajah ceria, membawa sebuah piring berisi kue berwarna ungu terang yang tampak mencurigakan. Di belakangnya, Luke mengekor dengan wajah pucat, seolah baru saja melihat hantu.
"Nona Evelyne... saya sudah katakan, Panglima tidak terlalu suka makanan manis, apalagi yang... bereaksi secara magis," bisik Luke dengan nada memohon.
Sylus menatap kue itu, lalu menatap Evelyne. "Warna ungu itu... apakah itu berasal dari energi Katalis-mu atau kau hanya salah memasukkan bahan dapur?"
"Ini resep baru yang aku kembangkan bersama para koki! Aku menamakannya 'Aetheric Velvet Cake'. Rasanya meledak-ledak!" seru Evelyne penuh semangat, menyodorkan sesendok kue tepat ke depan mulut Sylus.
Sylus melirik ke arah Luke yang memberikan kode gelengan kepala yang sangat halus. Namun, melihat binar harapan di mata kelabu Evelyne, sang Panglima yang ditakuti seluruh Aetheria itu akhirnya menyerah. Ia membuka mulutnya dan mencicipi kue tersebut.
Hening sejenak.
Tiba-tiba, telinga Sylus mengeluarkan percikan listrik kecil berwarna ungu. Mephisto yang berada di bahunya langsung terbang ketakutan hingga menabrak lampu gantung.
"Evelyne..." suara Sylus terdengar sedikit bergetar oleh aliran listrik statis. "Rasanya... memang meledak. Harfiah."
Evelyne menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa. "Oh maaf! Sepertinya aku memasukkan terlalu banyak bubuk Thunder-Root. Tapi kau terlihat sangat menggemaskan dengan rambut yang sedikit berdiri begitu!"
Luke tidak bisa lagi menahan tawanya, membuat Sylus memberikan tatapan yang sanggup membekukan air terjun. Luke segera berdehem dan kembali ke posisi tegak sempurna. "Mohon maaf, Panglima. Saya akan segera memerintahkan koki untuk menyiapkan... penawar listrik."
Setelah Luke keluar dengan terburu-buru (dan masih terdengar suara tawanya di koridor), ruangan itu menjadi sunyi. Hanya ada Sylus dan Evelyne. Mephisto yang masih syok memutuskan untuk bersembunyi di atas rak buku tua.
Sylus menarik tangan Evelyne, membuat gadis itu terduduk di pangkuannya. Ia merapikan beberapa helai rambut Evelyne yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan kekejamannya di medan perang.
"Kau hampir meledakkan kepala Panglimamu sendiri," bisik Sylus, suaranya kini berubah menjadi dalam dan romantis, menghilangkan suasana komedi sebelumnya.
"Setidaknya kau masih hidup untuk mengeluh," balas Evelyne, melingkarkan tangannya di leher Sylus. Ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu, sebuah pengingat bahwa mereka benar-benar selamat dari maut. "Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Kau terlalu serius mengurus klan-klan yang keras kepala itu."
Sylus terdiam sejenak, menatap mata Evelyne. "Dunia ini selalu meminta sesuatu dariku, Evelyne. Kesetiaan, kekuatan, atau nyawa. Hanya kau yang datang padaku dan memberikan... kue listrik yang aneh."
Sylus mengecup kening Evelyne lama, lalu berbisik di telinganya. "Terima kasih karena tetap berada di sini. Tanpamu, fajar yang kulihat di laut kemarin tidak akan berarti apa-apa."
Evelyne menyandarkan kepalanya di dada Sylus, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun kuat. "Aku tidak akan pergi ke mana pun. Meskipun dimensi lain memanggilku kembali, aku akan memilih untuk tetap tersesat bersamamu."
Momen romantis itu pecah saat Mephisto tiba-tiba terjatuh dari rak buku karena mencoba mematuk hiasan emas di sana, menimpa kepala Sylus dengan suara gedubrak yang keras.
"MEPHISTO! Keluar!" raung Sylus, yang disambut dengan tawa lepas Evelyne yang memenuhi seluruh ruangan.
Malam harinya, perjamuan resmi diadakan. Ini adalah momen pertama Evelyne diperkenalkan secara formal sebagai The Grand Catalyst di hadapan seluruh anggota Orde Bayangan. Suasana sangat meriah. Kieran menunjukkan beberapa trik sihir ilusi yang membuat anak-anak di kastil terpukau, sementara Luke sibuk menenangkan para jenderal klan sekutu yang masih sedikit canggung.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Kieran mendekati Sylus yang sedang berdiri di balkon, mengawasi perayaan dari ketinggian.
"Panglima, ada sesuatu yang harus Anda lihat," bisik Kieran. Wajahnya tidak lagi penuh senyum ilusi.
Kieran menunjukkan sebuah fragmen kecil dari sisa Gulungan Takdir Hitam yang ia ambil dari lokasi pertempuran. Fragmen itu tidak hancur, justru pendarannya semakin kuat.
"Kaelen memang sudah menjadi abu, tapi gulungan ini... dia telah mengaktifkan protokol 'Echo'. Sesuatu sedang dikirimkan ke suatu tempat," jelas Kieran. "Dan koordinatnya tidak merujuk pada Aetheria."
Sylus menyipitkan matanya. "Ke mana?"
"Ke dimensi asal Evelyne. Bumi."
Sylus mencengkeram pagar balkon hingga batu marmer itu retak. Ancaman baru muncul tepat saat mereka baru saja hendak bernapas lega. Konflik yang mereka kira sudah berakhir ternyata hanyalah jembatan menuju badai yang lebih besar yang melibatkan dua dunia.
Bersambung