NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Malam itu, setelah kembali ke Menara Wijaya, suasana terasa lebih tegang dari sebelumnya. Tidak ada lagi obrolan ringan, tidak ada lagi senyum manis yang menyembunyikan niat. Keduanya tahu: besok pagi, semuanya akan berakhir—atau baru saja dimulai.

Sari memberi izin Kirana untuk kembali ke kamarnya sendiri, dengan satu syarat: dia tidak boleh meninggalkan lantai 30, dan tidak boleh menggunakan alat komunikasi apa pun tanpa izin. Tapi Kirana masih menyimpan satu alat kecil yang tersembunyi di dalam sol sepatunya—alat komunikasi darurat yang sangat kecil, yang hanya bisa mengirim sinyal singkat dan terenkripsi.

Dia menunggu sampai larut malam, sampai suara di seluruh gedung menjadi sunyi senyap. Dengan hati-hati, dia mengeluarkan alat itu, menekan tombol kombinasi tertentu, dan mengirim pesan singkat: Dilema besar. Butuh bicara segera. Aman?

Beberapa menit kemudian, balasan datang: Aman. Temui aku di tempat biasa, jam 3 pagi. Jangan ada yang tahu.

 

Jam 3 pagi. Taman Kota yang sepi.

Dengan bantuan rute yang sudah dihafal dan memanfaatkan celah pengawasan yang sengaja dibiarkan terbuka—atau setidaknya itulah yang dia pikirkan—Kirana berhasil keluar dari gedung dan sampai di taman kota yang gelap dan sepi. Di bawah pohon besar yang rindang, seorang pria berdiri membelakangi cahaya lampu jalan. Saat dia berbalik, wajah tegas Komisar David Kusuma terlihat jelas.

"Kamu datang," sapa David dengan nada rendah. "Bagaimana keadaannya? Apakah kamu selamat?"

"Aku baik-baik saja, Pak," jawab Kirana, napasnya masih sedikit terengah karena terburu-buru. "Tapi ada hal-hal yang harus saya sampaikan. Banyak hal yang tidak saya duga sebelumnya."

David mengangguk, mengajaknya duduk di bangku kayu yang tertutup bayangan. "Katakan semuanya. Tidak ada yang mendengar kita di sini."

Kirana mulai bercerita—mulai dari apa yang dia lihat di pesta amal, pertemuan dengan orang tua Sari, perjalanan ke lembah terlarang, sampai tawaran yang diberikan Sari kepadanya. Dia bercerita dengan jujur, termasuk keraguannya, perasaannya yang bingung melihat sisi lain dari kekuasaan Sari, dan ancaman terhadap keluarganya.

Setelah selesai bercerita, dia menatap David dengan tatapan memohon petunjuk.

"Apa yang harus saya lakukan, Pak? Kalau saya menolak, dia bisa menyakiti bibi dan paman saya. Kalau saya menerima... saya akan menjadi bagian dari kejahatan itu. Apakah benar apa yang dia katakan? Bahwa kalau dia ditangkap, akan muncul orang yang lebih kejam? Bahwa sistem di sini sudah rusak total?"

David terdiam sejenak, menatap ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Kirana.

"Kamu sudah melihat banyak hal, Kirana. Hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh orang seumurmu. Dan kamu benar—tidak semuanya hitam dan putih seperti yang kita pelajari di akademi."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah:

"Tapi ada satu hal yang tidak kamu ketahui. Hal yang sudah lama disembunyikan."

David mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku jasnya, menyerahkannya kepada Kirana. "Baca ini. Ini adalah berkas lengkap yang kami kumpulkan selama bertahun-tahun. Di dalamnya ada nama-nama, bukti transaksi, dan hubungan yang tidak terduga."

Kirana membuka amplop itu, mengeluarkan dokumen-dokumen di dalamnya. Matanya melotot perlahan saat dia membaca satu per satu. Ada nama Andri Andalan, ada nama Sari Dewi, ada nama-nama pejabat tinggi, pengusaha, dan... ada nama David Kusuma.

Dia menatap David dengan wajah pucat. "Ini... apa maksudnya? Nama Bapak ada di sini..."

David tersenyum tipis, senyum yang pahit dan penuh kepasrahan.

"Kamu pikir aku bisa bertahan selama ini, mengumpulkan bukti, bergerak bebas tanpa diketahui oleh mereka? Tidak mungkin, Kirana. Sejak bertahun-tahun yang lalu, aku sudah terlibat. Aku menerima uang, aku menutup mata terhadap beberapa hal, aku menjadi bagian dari sistem ini—semua dengan satu tujuan: mendapatkan kepercayaan mereka, sampai pada titik di mana aku bisa menjatuhkan mereka semuanya sekaligus."

Dia menatap mata Kirana dengan tegas.

"Sari Dewi pintar. Dia benar bahwa banyak orang di kota ini sudah dibeli. Dia benar bahwa sistemnya rusak. Tapi dia salah satu hal penting: kekuasaan yang dia miliki tidak akan pernah digunakan untuk kebaikan. Seiring waktu, dia akan menjadi semakin haus akan kekuasaan. Dia tidak akan berhenti sampai dia menguasai segalanya. Dan orang-orang yang dia lindungi hari ini, bisa menjadi korbannya besok kalau mereka tidak lagi berguna."

David berdiri, menatap ke arah jalan raya yang sepi.

"Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Tawaran yang dia berikan padamu... itu bukan karena dia percaya padamu. Itu karena dia membutuhkan seseorang yang bisa dia percayai—atau lebih tepatnya, seseorang yang bisa dia kendalikan sepenuhnya. Dia melihat potensi dalam dirimu. Dia melihat bahwa kamu bisa menjadi seperti dia. Dan dia ingin memastikan kamu tidak akan menjadi ancaman baginya di masa depan."

Dia berbalik menghadap Kirana.

"Jadi, inilah rencanaku. Terima tawaran itu. Bergabunglah dengannya. Dapatkan kepercayaannya sepenuhnya. Masuklah ke lingkaran dalamnya. Dan saat saat yang tepat tiba—saat kami sudah memiliki bukti yang cukup untuk menjatuhkan seluruh jaringan, dari yang paling bawah sampai yang paling atas—kita akan bertindak. Kamu akan menjadi kuncinya."

Kirana tertegun. "Jadi... Bapak mau saya berpura-pura bergabung? Tapi bagaimana kalau dia tahu? Bagaimana kalau dia menyakiti keluarga saya?"

"Aku akan mengurus keamanan mereka," jawab David tegas. "Mereka akan dipindahkan ke tempat yang aman, di luar jangkauan siapa pun. Sari tidak akan bisa menyentuh mereka. Tapi ini adalah satu-satunya cara. Tidak ada jalan lain yang lebih aman dan lebih efektif."

Dia meletakkan tangan di bahu Kirana.

"Aku tahu ini berat. Aku tahu ini terasa seperti mengkhianati prinsipmu sendiri. Tapi kadang, untuk mengalahkan kejahatan, kita harus masuk ke dalamnya. Kita harus memakai topeng, kita harus berperan, sampai saatnya kita bisa melepaskannya."

Kirana memegang berkas di tangannya, pikirannya berputar kencang. Dia melihat pilihan yang sama seperti sebelumnya, tapi sekarang dengan lapisan kerumitan yang lebih dalam. Dia melihat bahwa atasannya sendiri juga tidak sepenuhnya bersih. Dia melihat bahwa garis antara teman dan musuh semakin kabur.

 

Pagi berikutnya. Kamar tamu utama Menara Wijaya.

Sari sudah menunggu di sana, duduk dengan tenang di kursi besar, memegang secangkir teh. Saat Kirana masuk, dia menatapnya dengan tatapan tajam, menilai setiap ekspresi di wajah gadis itu.

"Kamu sudah memikirkannya?" tanya Sari langsung, tanpa basa-basi.

Kirana menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dia menatap mata Sari dengan tegas.

"Aku sudah memikirkannya. Dan aku..."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang tenang namun jelas:

"...Aku menerima tawaranmu."

Senyum tipis terbit di bibir Sari. Senyum yang tidak menyembunyikan kepuasan, tapi juga tidak terlihat terkejut.

"Bagus. Aku tahu kamu akan membuat keputusan yang bijaksana."

"Tapi ada syaratku," tambah Kirana cepat. "Keluargaku harus aman. Tidak ada yang boleh menyentuh mereka. Dan aku tidak akan ikut serta dalam hal-hal yang menyakiti orang yang tidak bersalah. Aku akan membantu mengatur hal-hal yang ada, tapi aku tidak akan membiarkan orang menderita tanpa alasan."

Sari tertawa kecil, suara yang terdengar tulus namun tetap memiliki nada yang dingin.

"Kamu masih punya prinsip. Itu bagus. Prinsip itu membuatmu kuat. Baiklah, aku setuju. Keluargamu akan aman. Dan kita akan berusaha membuat hal-hal ini berjalan sebaik mungkin. Ingat, kita adalah mitra sekarang. Kita saling membutuhkan."

Dia berdiri dan berjalan mendekat, mengulurkan tangan.

"Selamat bergabung, Kirana. Sekarang, tidak ada lagi rahasia antara kita. Dan tidak ada jalan mundur."

Kirana mengulurkan tangannya, menjabat tangan Sari dengan erat. Di permukaan, keduanya tersenyum. Tapi di dalam hati masing-masing, ada perasaan yang berbeda:

Kirana: Aku akan masuk ke dalamnya. Aku akan melihat semuanya. Dan saat waktunya tiba, aku akan memastikan keadilan benar-benar ditegakkan—apa pun yang terjadi.

Sari: Kamu memilih jalan ini, Kirana. Kamu pikir kamu bisa berpura-pura? Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku dari dalam? Tunggu saja. Seiring waktu, kamu akan melihat. Kamu akan memahami. Dan pada akhirnya... kamu akan menjadi bagian dari dunia ini. Atau kamu akan hancur berusaha melawannya.

 

Beberapa jam kemudian.

Di sebuah ruangan rahasia di lantai bawah, Riko Surya berdiri di depan layar komputer yang menampilkan rekaman percakapan di taman semalam. Dia menoleh ke arah Sari yang berdiri di sampingnya, menonton dengan tenang.

"Jadi, dia berpura-pura menerima tawaran itu. Dia bekerja sama dengan Komisar David Kusuma," kata Riko dengan nada datar. "Apakah kita harus menyingkirkan mereka sekarang?"

Sari menggeleng pelan, matanya tetap menatap layar dengan tatapan yang penuh perhitungan.

"Tidak. Biarkan mereka berpikir rencana mereka berjalan lancar. Biarkan Kirana berpikir dia menjadi mata-mata di sini. Biarkan David berpikir dia bisa menjatuhkan kita."

Dia tersenyum miring, senyum yang penuh dengan keyakinan yang dingin.

"Ini jauh lebih menarik seperti ini. Kita tahu apa yang mereka rencanakan. Kita tahu setiap langkah mereka. Dan kita bisa mengatur permainan ini sesuai keinginan kita. Biarkan mereka bergerak. Biarkan mereka mengumpulkan bukti. Dan saat mereka merasa sudah siap untuk menyerang... kita akan menjatuhkan mereka sekaligus."

Sari berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Selama ini, biarkan Kirana melihat apa yang dia inginkan. Libatkan dia dalam urusan yang lebih kecil. Buat dia merasa dia dipercaya. Dan terus awasi dia. Setiap gerakannya, setiap kata-katanya—semuanya harus diketahui."

"Siap, Nona," jawab Riko.

Sari berhenti di ambang pintu, menoleh sebentar.

"Permainan ini baru saja menjadi jauh lebih seru. Mari kita lihat siapa yang akan menjadi pemenang di akhir."

 

⚔️🎭 PERMAINAN GANDA DIMULAI!

1. Dua Topeng, Satu Permainan:

Sekarang, keduanya saling berpura-pura. Kirana berpikir dia bisa menyusup dan menjatuhkan Sari dari dalam, sementara Sari sudah tahu segalanya dan membiarkannya berjalan sesuai rencananya sendiri. Siapa yang akan terlebih dahulu membuka kartu asnya?

2. Kebenaran yang Terungkap:

Kirana menyadari bahwa tidak ada pihak yang benar-benar bersih. Bahkan atasannya sendiri terlibat dalam sistem korupsi. Ini membuatnya semakin sadar bahwa tugasnya jauh lebih sulit dan berbahaya dari yang dia bayangkan.

3. Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Di Bab 31, Kirana mulai terlibat dalam urusan internal keluarga Wijaya-Andalan. Dia akan melihat bagaimana bisnis mereka dijalankan, bertemu dengan orang-orang kunci, dan mulai menyadari bahwa ada rahasia yang lebih besar—rahasia tentang kematian ayah Sari yang sebenarnya, dan asal mula kekuasaan keluarga ini. Dan di tengah itu, dia mulai merasakan tarikan yang aneh: apakah dia benar-benar bisa mempertahankan prinsipnya, atau apakah dia perlahan-lahan mulai terpesona oleh kekuasaan dan cara pandang Sari?

Ingin lanjut melihat bagaimana Kirana mulai beradaptasi dengan peran barunya, dan rahasia apa yang mulai terungkap? 🕵️‍♀️💼🔓

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!