NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Iblis / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DewaC1nta

Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Makam Kuno (bagian pertama)

...Ada hal di dunia ini yang tidak perlu di katakan....

...Seperti arak yang disimpan di dalam tanah, tak pernah di ucapkan, namun semakin lama semakin kuat membakar dinginnya dunia....

...Begitulah cinta seorang laki-laki yang di panggil "ayah."...

 Mungkin kata-kata ini cocok untuk di gambarkan kepada seorang ayah. Di masa lalu, gadis ini pernah memiliki seorang ayah yang selalu menjadi tempatnya pulang.

 Lelaki itu tidak memiliki banyak kata. Suaranya jarang terdengar, lebih sering tenggelam oleh bunyi hantaman kapak pada kayu atau derit pintu yang terbuka di sepertiga malam. Baginya, bicara adalah pemborosan tenaga. Dan tenaga adalah sesuatu yang harus ia simpan rapat-rapat untuk bekerja esok hari.

 Gadis itu masih ingat betul tekstur punggung tangan ayahnya. Kasar dan penuh retakan, seperti tanah kering yang merindukan hujan. Namun anehnya, tangan yang sanggup meruntuhkan batang pohon besar itu akan berubah menjadi sangat ragu-ragu dan lembut saat menyentuh puncak kepalanya.

 "Makanlah selagi hangat," hanya itu yang sering ia ucapkan. Pendek. Tanpa bumbu.

  Namun di balik kalimat pendek itu, ada punggung yang hampir patah karena memikul beban yang tak pernah ia tunjukkan.

 "Ayah, hari ini aku berhasil selamat dari bahaya. entah esok atau pun lusa siapa lagi bisa menjadi perisaiku."

 Gadis itu berbisik pada sunyi. Di hadapannya, terpampang dua makam dengan bentuk yang berbeda.

 Makam kakek buyutnya terlihat megah dengan batu nisan yang terukir indah, seolah ingin menceritakan kejayaan di masa lalu yang kini telah memudar. Sedangkan di sampingnya, makam ayahnya hanyalah gundukan tanah sederhana dengan nisan kayu yang mulai dimakan usia.

 Dua pusara, dua cerita.

 Satu melambangkan kehormatan yang tinggi, dan yang satu lagi melambangkan pengorbanan yang rendah hati.

 Dalam beberapa saat, suasana menjadi hening. Seolah alam semesta sedang menahan nafas akan sesuatu yang lebih besar akan terjadi.

 Keheningan itu pecah saat suara deru batu bergeser terdengar dari makam milik kakeknya. Perlahan nisan megah itu bergeser, menyingkap sebuah terowongan seukuran tubuh manusia yang mengarah jauh ke kegelapan bawah tanah.

 Gadis itu terpaku. Matanya menyipit, mencoba menembus kegelapan di dalam sana. Ayahnya tak pernah bercerita tentang lubang ini. Kakek buyutnya pun tidak pernah meninggalkan catatan apapun tentang terowongan di balik pusaranya sendiri.

 "apa yang terjadi?," bisik gadis itu setengah tertahan. Dia berusaha menoleh ke dalam lubang yang terbuka itu dengan hati-hati. Namun, dia tidak berani untuk terlalu jauh melangkah ke dalamnya.

 Tiba-tiba terdengar cekikan suara serak dari dalam kegelapan nisan itu. Suara itu kering, seperti gesekan dua bilah bambu tua, atau seperti tenggorokan yang sudah bertahun-tahun tidak di sentuh air.

 Gadis itu tersentak mundur, tangannya meraih sepotong kayu kering sebagai pelindungnya. Ia menatap lubang itu dengan waspada, otot-otot lengannya menegang. Kayu itu mungkin rapuh, tapi saat ini, hanya itu satu-satunya alat yang bisa menjadi senjatanya.

 "siapa di sana?" serunya. suaranya pecah, seolah itu adalah satu-satunya tanda keberanian yang tersisa dalam dirinya. Keberanian yang di paksakan untuk tegak di hadapan ketakutan yang luar biasa.

 "hehehe...tidak usah takut gadis kecil," sahut orang di bawah makam tersebut. nada suaranya kini terdengar tidak menakutkan malah ada sedikit nada jenaka yang aneh, seolah ia sedang menyapa seorang kawan lama di pasar, bukan dari dalam lubang kuburan.

 Ketegangan di bahu gadis itu sedikit mengendur, namun kewaspadaannya tidak hilang. Kayu kering di tangannya masih terangkat.

 "masuklah nona Su Ying, aku telah lama menunggumu," kata orang dari bawah kuburan itu lagi.

 Su Ying membeku. ia semakin curiga dan waspada akan orang di bawah itu.

 "Dia mengenalku?" gumamnya nyaris tak terdengar.

 Orang di bawah sana tertawa geli. sebuah tawa yang tenang namun dalam, seolah dia paham dan tahu setiap gerak gerik Su Ying bahkan sebelum gadis itu menggerakkan kakinya.

 "kau memegang kayu itu seolah itu adalah pedang mustika," suaranya kembali menggema, kali ini ada nada kekaguman yang tersembunyi. "sama seperti mendiang kakek buyutmu di masa lalu." dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "namun, apa artinya keberanian jika hanya mengorbankan diri kepada orang yang hanya memanfaatkannya? Dunia ini penuh dengan serigala berbulu domba, nona kecil. Dan sebagian dari mereka...mungkin adalah orang-orang yang pernah kau anggap sebagai kawan."

 Su Ying tidak memahami maksud dari perkataan orang itu, tapi dia merasa orang itu mengenal baik keluarganya bahkan mungkin lebih baik dari pada dirinya sendiri.

 Su Ying menurunkan kewaspadaannya sedikit demi sedikit, mencoba menyimak setiap kata yang keluar dari kegelapan itu. Kayu di tangannya tidak lagi terarah kedepan, namun ia tetap menggenggamnya.

 "kamu begitu mengenal keluargaku...siapa sebenarnya kamu?!" Su Ying menuntut, suaranya naik satu nada. Bergetar antara rasa ingin tahu dan ketakutan.

 Orang di bawah Nisan itu terkekeh, "jika kamu begitu penasaran dengan diriku, kenapa tidak masuk saja?." sahutnya. "di dalam sini ada banyak rahasia tentang keluargamu," lanjutnya. Suaranya kini terdengar lebih berat seolah kata "rahasia" itu sendiri memiliki beban yang nyata. Ia berhenti sejenak, memberikan ruang sunyi yang menekan, membiarkan Su Ying bertarung dengan batinnya sendiri.

 Rasa penasaran dan curiga menyelimuti Su Ying seperti kabut tebal yang mencekik. Namun, di balik semua itu ada rasa penasaran yang kuat membakar pikirannya. Selangkah demi selangkah Su Ying melangkah mendekati batu nisan yang terbuka itu.

 Tepat sebelum kakinya melangkah memasuki kegelapan nisan, ia berhenti sejenak. Tangannya mencengkram pinggiran batu yang kasar memastikan satu hal terakhir.

 "Tapi, apakah kamu tidak berniat jahat?" tanya Su Ying. Suaranya rendah namun tajam mencoba mencari kejujuran dalam kegelapan di bawah sana.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!