11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik tirai sutra istana
Sebagai anak tunggal sekaligus pewaris takhta utama Kerajaan Palipurna, kehidupan Cindy Gulla di dalam istana sering dianggap sebagai puncak kesempurnaan oleh mata rakyat biasa. Mereka membayangkan hari-hari seorang putri kerajaan selalu dipenuhi gaun sutra yang indah, hidangan lezat di atas piring perak, serta pelayan yang selalu sigap memenuhi setiap keinginan. Namun bagi Cindy, kenyataannya jauh lebih dalam dan berat daripada sekadar kemewahan yang terlihat mata.
Sembari berjalan melintasi koridor beralas karpet beludru merah menuju paviliun pribadinya, Cindy mengembuskan napas panjang. Ia menatap para pelayan yang selalu menunduk hormat setiap kali dirinya lewat.
“Orang-orang di luar sana mungkin mengira hidup di istana ini penuh kemewahan dan kenikmatan. Tapi kalau mereka tahu jadwalku sehari-hari, mungkin mereka justru akan memilih menjadi rakyat biasa saja,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecut.
Ia terus melangkah menuju sebuah gazebo kayu cendana yang menghadap langsung ke danau buatan istana. Di atas meja batu, camilan manis dan buah segar sudah tertata rapi seperti biasa. Cindy duduk bersandar, memandangi riakan air yang tenang, lalu mulai merenungkan seluruh perjalanan hidupnya yang melelahkan namun penuh makna.
Sejak ia bisa membaca dan memegang pedang kayu, Ayahnya—Raja Allaric Gulla—sudah menyusun aturan hidup yang sangat ketat baginya. Setiap fajar menyingsing, bahkan sebelum matahari terbit sepenuhnya, Cindy sudah harus bangun untuk berlatih fisik dasar bersama para instruktur Garda Kerajaan. Sang Raja selalu menegaskan bahwa seorang pewaris takhta tidak boleh memiliki raga yang lemah. Latihan keras itulah yang akhirnya menempa tubuhnya menjadi kuat, hingga mampu bertahan dalam berbagai situasi sulit dan berbahaya.
Namun, tantangan fisik itu belum seberapa dibandingkan beban yang harus ia pikul sesudahnya. Setelah mandi dan sarapan, ia tak diperbolehkan bersantai sejenak. Siang harinya selalu dihabiskan di perpustakaan istana untuk mempelajari hukum kerajaan, taktik diplomasi, serta sejarah kuno Palipurna bersama para penasihat tua yang sangat membosankan. Sering kali Cindy tertidur di atas tumpukan buku tebal, yang berujung pada hukuman menulis ulang pasal hukum sebanyak seratus kali.
Puncak dari segala tempaan itu adalah keputusan Raja Allaric yang mengirimnya ke Perguruan Arpati untuk belajar langsung di bawah bimbingan Mpu Sandry. Di sana, statusnya sebagai putri kerajaan sama sekali tak ada artinya. Cindy harus mencuci pakaiannya sendiri, menyapu halaman latihan, dan menekuni ilmu kanuragan spiritual dari nol. Sifatnya yang kadang keras kepala, mandiri, namun sedikit manja, sebenarnya terbentuk karena ia selalu hidup di bawah bayang-bayang harapan besar dari seluruh kerajaan.
Cindy menopang dagunya, matanya menatap lembut ke arah buku tua yang sejak tadi terselip aman di balik sabuk gaun mewahnya—hadiah berharga dari Yuse. Ia mengelus sampul buku itu perlahan, seolah menyentuh kenangan yang hangat.
Keinginan Cindy untuk menguasai ilmu bela diri dan mengendalikan kekuatan Phoenix ini bukan karena kerajaannya sedang terancam bahaya, melainkan murni kemauan dan tekadnya sendiri. Ia ingin membuktikan kepada Ayahnya, kepada Panglima Aloska, dan tentu saja kepada Yuse, bahwa ia bisa menjadi pelindung yang tangguh dan hebat—bukan sekadar perhiasan cantik yang hanya bisa diam di dalam istana.
Di balik sikapnya yang kadang manja, sedikit ceroboh, dan selalu tampak ceria, Cindy Gulla menyandang tanggung jawab yang luar biasa berat di pundak kecilnya. Kehidupan istana telah menempanya menjadi permata yang tak hanya indah dipandang, tapi juga memiliki ketajaman yang mematikan. Dengan Janma Manunggal di tangannya, Cindy bersumpah dalam hati: ia akan menentukan takdirnya sendiri, dan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa darah keluarga Gulla mengalir kuat dan gagah di dalam setiap jengkal tubuhnya. Rasanya kini jauh lebih bebas—tak lagi terkurung di balik tembok tinggi istana, tak lagi sekadar menjadi bayangan yang dijaga ketat oleh para pengawal.
Cindy menatap kertas perkamen kosong yang tergelar rapi di atas meja batu gazebo. Setelah larut dalam renungan panjang, rasa rindu pada pemuda yang selalu menggaruk kepala sambil tersenyum polos itu tiba-tiba membuncah tak terbendung. Jemari lentiknya meraih kuas kecil, lalu mulai menggoreskan tinta hitam dengan tulisan yang rapi, anggun, dan penuh makna.
Ia ingin menulis surat rahasia untuk Yuse Yattama.
Setelah selesai, ia melipat surat itu menjadi gulungan kecil. Cindy lalu bersiul pelan ke arah langit biru. Tak lama kemudian, seekor burung merpati putih peliharaan istana yang sangat terlatih terbang menukik turun, lalu mendarat dengan anggun di atas lengkungan kursi kayu. Dengan telaten dan lembut, Cindy mengikatkan gulungan surat itu di kaki burung tersebut.
“Tolong antarkan ini ke rumah Yuse, di kaki bukit,” bisiknya pelan, sebelum melepaskan burung itu kembali terbang membelah udara pagi yang cerah.
Di dalam surat itu, tertulis pesan singkat namun jelas:
“Yuse, besok siang datanglah ke area luar istana. Temui aku di kebun bunga yang terletak tepat di tepi danau luar. Jangan terlambat ya! Ada hal sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu.”
Cindy sengaja memilih tempat itu karena kebun bunga di tepi danau luar adalah lokasi yang sangat indah, asri, dan terbuka. Di sana mereka bisa mengobrol dengan santai layaknya teman biasa—tanpa terikat protokol kerajaan yang kaku, tanpa diawasi tatapan tajam para pengawal Ayahnya.
Sambil menatap merpati putih yang perlahan lenyap di kejauhan menuju arah desa, Cindy tersenyum tipis. Pipinya sedikit merona merah, membayangkan wajah kaget dan bingung Yuse saat menerima surat undangannya besok.