NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:136.5k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Recovery

Luka memang akan terasa sakit setelah lama tergores. Maka, hal itu yang kini Lova rasakan. Entahlah...sosok Afnan masih selalu terbayang-bayang dalam ingatan. Begitu pun hal tega yang telah ia lakukan.

Lova terbilang gadis yang cukup manja. Untuk hal begini saja, ia memilih tak masuk keesokan harinya dengan alasan sakit. Giliran bunda mengajaknya periksa ke rumah sakit, ia menolak dan lebih memilih mengurung diri saja di kamar.

Bahkan panggilan Alika saja tak ia angkat, padahal sahabatnya itu hanya ingin menanyakan kabarnya sambil jenguk.

Jujur saja, Lova merasa butuh waktu dan ruang tanpa melihat Afnan untuk sejenak. Sekaligus malas saja, pelajaran hari ini adalah matematika.

Srekkk....

Obsesi? Lova merobek foto Afnan yang ia pajang di atas meja belajarnya, tepat di samping tempat pensil. Katanya waktu itu sih biar bisa mandangin Afnan saat ia melirik.

Bukan tanpa sebab ia menyimpan foto Afnan, bukan pula untuk menakut-nakuti kecoa di rumah, melainkan sebagai motivasinya belajar, eaaaa! Namun nyatanya, kini sosok berwajah manis yang biasanya mengisi ruang-ruang semu di hati Lova itu begitu membuat Lova muak, "munafik lo, Nan!"

"Bilang aja lo sukanya Syara...pake bawa-bawa islam segala!"

"Jahat lo Nan, gue kira lo beneran soleh...nyatanya lo solehudin! Tetep aja mau megang-megang cewek!" umpatnya lagi menghardik foto.

Lova berkali-kali membuang nafasnya kasar, sesekali mendengus sebal manakala otaknya itu begitu menghafal sosok Afnan bahkan sampai detail rambut dan bulu hidungnya saja ia hafal, sampai-sampai...saking ingatnya, kini ia kesulitan untuk melupakan.

Ia re mas robekan-robekan foto Afnan yang ia ambil diam-diam saat Afnan sedang duduk di depan kantin itu, kakinya menghentak lantai kamar lalu berjalan ke arah jendela kamar dan membukanya.

Perlahan namun pasti, ia menebarkan kertas sehingga potongan foto Afnan terbawa angin beserta rasa kecewanya.

Sempat terbersit di benak Lova ketika memandang ke lantai bawah untuk melakukan hal lak nat, apalagi jika ingat rasa malunya yang sampai ubun-ubun itu memancing setan untuk membisikan kalimat-kalimat rayuan lak natnya.

Pandangan iba anak-anak FRM padanya tempo hari....hoofft! Pandangannya mulai kabur oleh lelehan hangat di pelupuk mata.

"Maluuuu...."

Sikap sadis dan tega Afnan yang memandangnya begitu ilfeel...hoofft! Pandangannya semakin panas, hingga tak terasa air mata itu kini mulai jatuh kembali di pipi.

Bahkan rasa iba kawan-kawannya membuat Lova ingin menghilang ke dasar bumi saja saat ini, hiks!

"Malu bangetttt..."

Lova masih termenung di depan jendela yang terbuka, dan hanya angin yang menyapa membuat gorden menerawang itu melambai-lambai saat bunda memperhatikan dan mengawasinya penuh sorot mata khawatir dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.

Hiks...hiks...

Cowok tuh sama aja ternyata, mau yang nakal yang soleh sekalipun, munafik!

Bullshit!

Isakan di hidungnya selaras dengan sesenggukan yang dialami, betapa sakit hatinya.

/

Meskipun keesokan berikutnya ia memberanikan diri untuk masuk sekolah, tapi terhitung beberapa sore, bahkan lebih dari seminggu Lova hanya menghabiskan waktu senggangnya dengan terdiam merenung demi menenangkan dirinya.

Luka hati memang sulit sembuh, tak ada obat penawarnya. Mungkin hanya waktu yang dapat menyembuhkan.

Setidaknya, setelah kejadian lalu, sosok ceria Lova padam terutama saat ia berada di sekolah, apalagi ketika waktu tak sengaja mempertemukannya dengan sosok Afnan.

Matanya bertemu dengan mata Lova ketika tak sengaja berpapasan di dekat persimpangan kelasnya.

Yuda menyenggol-nyenggol bahu Afnan dan tersenyum pada Lova, "Lovaaa...ini ada aa Afnan..." goda Yuda.

Bahkan Alika ikut mere mas tangan Lova, seolah sedang bersiap menahan Lova yang ditakutkan akan menggila dadakan. Namun, alih-alih melakukan hal tak waras lainnya--seperti biasanya--Lova justru mengalihkan pandangan dinginnya lalu melintas begitu saja tanpa ada sapaan ceria seperti biasanya.

Jangankan menyapa, senyum pun terasa mahal sekarang. Praktis sikapnya itu membuat mereka cukup dibuat syok sekaligus kebingungan.

Bahkan kini, Afnan sendiri yang mengernyitkan alisnya sekilas akan sikap dingin Lova, apakah gadis itu sudah menyerah?

Sikap diam dan dingin Lova itu bukan hanya terjadi di sekolah saja, tapi terbawa hingga ke rumah, dan bunda dapat merasakan perbedaan yang terjadi dari diri putrinya itu.

Bukan-bukan, bukan hanya bunda, tapi mbak Astri, Alika dan ustadz Afif pun cukup merasakan perubahan Lova.

Seperti dua hari lepas, ketika Afif mengajarnya mengaji. Lova justru banyak melamun dan tak fokus lagi seperti sebelumnya.

Huffft! Afif menghela nafasnya berat, tugasnya saja di kampus cukup banyak, lantas kali ini...Lova pun cukup membuat kesabarannya setipis kanvas rem Supra bapak, sampai-sampai ia membentak Lova berkali-kali. Hanya saja sedikit aneh.

Tumben sekali gadis itu tak melawan, memberikan alibi dan alasan yang membuat Afif jengkel, ia justru hanya menatap Afif penuh kegetiran dan mengangguk saja meski setelah itu ia salah kembali.

"Kamu sedang ada masalah?"

"Bukan dipendam sendiri, tapi adukan pada pemilik-Mu. Masalah, cobaan, ujian itu datangnya dari pemilik bumi serta isinya. Maka kembalikan lagi pada-Nya. Mintalah kemudahan...."

***

Tidak sekali, dua kali pula bunda melihat putri semata wayangnya itu menangis sendiri dan merenung di kamar persis orang kena jerat pinjol.

Bahkan akhir-akhir ini, bunda sering menemukan Lova yang melamun sembari memandangi layar ponsel dimana musik-musik orang galau menggema membuai hati yang terluka seraya matanya yang berkaca-kaca.

Dapat bunda tebak, putrinya itu sedang patah hati.

Ceklek

Suara pintu terbuka tak serta merta membuyarkan lamunan Lova, netranya masih saja menatap lurus sementara kedua telinganya ia sumbati dengan headphone dengan mulutnya yang menggumamkan lagu-lagu sendu.

Bunda menghela nafasnya, ia lantas mengambil duduk di ranjang samping Lova, tepatnya di tepian kasur.

Lova melepaskan headphonenya dan menatap bunda tanpa sepatah kata pun ia tanyakan.

"Lova kenapa?" tanya bunda membuka obrolan dengan putrinya, sembari satu tangannya mengusap kepala Dealova penuh sayang.

Bibirnya boleh berkata tak apa-apa, namun sorot matanya menyiratkan sebaliknya.

"Lagi ada masalah? Mau share sama bunda?" tanya nya lagi pelan-pelan.

Lova tersenyum, ia lantas langsung menghambur memeluk bunda, "Lova patah hati bun," akuinya dengan suara yang bergetar, "udah dicoba move on, udah dicoba juga sarannya ustadz Afif buat banyak-banyak istigfar tapi ngga ngaruh...susaahhh lupa. Udah dicoba pura-pura benci juga malah makin susah..."

Hanya helaan nafas panjang yang bunda keluarkan sembari memeluk Lova yang sesenggukan.

"Harusnya Lova tau, berani jatuh cinta harus terima patah hatinya juga." Belai bunda di kepala Lova.

"Lagian kaya ngga ada cowok lain lagi aja, siapa sih cowok yang udah bikin anak bunda galau berhari-hari begini...ngga lucu tau, ngga seru."

Lova tetap bungkam perihal siapa pemuda itu, dan bunda juga tak memaksa. Jujurly, Lova hanya ingin dia yang tak boleh disebutkan namanya itu, hilang dari hati dan pikirannya dan tak harus diingat-ingat lagi.

Secangkir kopi lantas tersaji dengan masih mengepulkan asap beraroma wangi menenangkannya.

"Wah, makasih loh bun..." ujar ayah antusias menerima itu, rasa penat karena pekerjaan yang menggunung sedikitnya dapat berkurang dengan kopi buatan sang istri.

"Hm, sama-sama." Bunda menatap laman pekerjaan sang suami yang merupakan arsitektur.

"Projek kerjasama bareng Aditama grup gimana, jadinya yah?"

"See..." tunjuk ayah ke arah laptopnya, "sudah mulai dikerjakan tim."

Bunda tersenyum bangga, tentunya projek besar begini akan menghasilkan cuan yang besar pula, ditambah siapa yang tak tau Aditama grup atau Jilo corp? Salah satu perusahaan properti yang cukup tersohor di Indonesia.

"Ini buat yang di Ubud?" tanya bunda lagi diangguki ayah.

"Jadi CEO Aditama tuh katanya pengen ada sentuhan Santorini campur budaya setempatnya." jelas ayah menyeruput kopinya, sementara bunda men-slide laman yang kemudian menunjukan desain rumah pribadi.

"Loh ini?"

"Oh, itu...request khusus pak Syailendra, buat villa pribadinya. Beliau katanya mau nikah dua bulan lagi, minta ini dikebut duluan."

Kembali bunda mengangguk paham, "alhamdulillah."

Namun hanyut dalam euforia kelancaran rejeki sang suami, tak membuat bunda lupa akan sesuatu tentang Lova. Ditambah tayangan televisi yang saat ini sedang menayangkan berita kriminal dimana akibat pergaulan, seorang remaja perempuan digau li oleh 6 orang pria secara bergilir.

Tak tanggung-tanggung, berita yang disiarkan hampir beberapanya adalah berita memilukan tentang ancaman remaja putri akibat salah bergaul, bahkan salah satunya ada pula yang nekat bu-nuhh diri akibat kekecewaan pada lawan jenis, naudzubillah! Jangan sampai Lova seperti itu.

Semakin saja bunda terdorong untuk membicarakan dengan ayah pasal Lova.

"Yah, ada yang mau bunda omongin sama ayah tentang Lova..."

(..)

"Lova harus ada yang bimbing...Lova juga harus punya seseorang yang bisa mengimbangi."

"Bunda takut, yah...takut Lova kaya gitu..."

.

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!