Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Penyesalan yang Terlambat, Pernikahan yang Megah
Hari-hari berlalu dengan cepat sejak hari pengumuman itu. Berita tentang lamaran Arkan Adhitama kepada Nara menjadi pembicaraan hangat di seluruh kota, bahkan sampai ke luar daerah. Semua orang kini tahu betapa besarnya cinta yang dimiliki pengusaha muda itu pada wanita pilihannya. Akibatnya, fitnah dan berita buruk yang disebarkan keluarga Pradipta perlahan-lahan hilang tertiup angin. Masyarakat justru semakin mengagumi Arkan karena ketegasan dan kesetiaannya yang jarang dimiliki orang kaya.
Di kantor pusat Adhitama Group, suasana kembali kondusif. Izin proyek pelabuhan yang sempat dicabut, kini dikembalikan lagi oleh pemerintah. Para mitra yang sempat mundur, kini berdatangan kembali meminta maaf dan ingin bekerja sama lagi. Semua sadar, melawan Arkan sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Arkan bukan sekadar pengusaha, dia adalah pemimpin yang berani mempertaruhkan segalanya demi prinsip dan cintanya.
Sore itu, di ruang kerja Arkan yang luas dan mewah, terdengar ketukan pintu pelan.
"Masuk," ucap Arkan tenang sambil menandatangani satu berkas.
Pintu terbuka, dan Pak Wijaya masuk dengan wajah agak ragu. Di belakangnya, tampak dua sosok yang sangat dikenal namun kini tampak sangat berbeda: Bapak Pradipta dan Sera. Keduanya tampak tak berdaya, wajahnya kusut, dan sama sekali tidak lagi memiliki keangkuhan atau keberanian seperti dulu.
Arkan meletakkan pulpennya perlahan, menatap mereka berdua dengan tatapan datar, tanpa rasa benci namun juga tanpa rasa hormat berlebih.
"Ada keperluan apa Bapak Pradipta dan Nona Sera datang ke sini?" tanyanya dingin.
Bapak Pradipta menarik napas panjang, lalu melangkah maju sedikit, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Arkan... kami datang... untuk meminta maaf. Sungguh, kami minta maaf sebesar-besarnya. Aku salah. Aku terlalu sombong dan terlalu memikirkan keuntungan sendiri sampai lupa betapa hebatnya kamu. Aku pikir dengan mengancam dan menjatuhkan perusahaanmu, kamu akan menuruti kemauanku. Ternyata aku salah besar. Aku malah membuat diriku sendiri malu dan merusak nama baik perusahaanku sendiri."
Pria tua itu terdiam sejenak, suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan.
"Semua mitra kami pergi. Semua kerja sama kami batal. Orang-orang menjauhi kami karena takut menyinggung kamu. Kami hancur, Arkan. Dan kami sadar... semua ini pantas kami terima. Kami sudah berusaha merusak kebahagiaanmu dan wanita yang kamu cintai."
Sera berdiri di samping ayahnya, matanya bengkak merah. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arkan dengan pandangan yang sudah tidak ada lagi rasa benci atau tantangan, hanya ada rasa malu dan kesadaran yang terlambat.
"Arkan... aku juga minta maaf," suaranya lirih dan bergetar. "Aku kira aku yang paling pantas untukmu. Aku kira Nara cuma penghalang. Aku menghinanya, aku menyakitinya, aku berusaha memisahkan kalian dengan cara kotor... tapi semakin aku berusaha, semakin aku melihat betapa besarnya cinta kamu padanya, dan betapa mulianya hati Nara yang tidak pernah membalas kejahatanku. Aku kalah, Arkan. Aku kalah telak dari dia, bukan karena harta atau jabatan, tapi karena hati."
Arkan diam sejenak, menatap mereka berdua lekat-lekat. Di dalam hatinya memang masih ada sisa rasa sakit atas semua perbuatan mereka, tapi ia sadar, memendam dendam hanya akan membebani dirinya sendiri. Terlebih lagi, Nara selalu mengajarkannya untuk memaafkan.
"Baiklah," jawab Arkan pelan. "Aku terima permintaan maaf kalian. Demi nama baik perusahaan kita dulu, dan demi kedamaian hati Nara yang selalu mengajarkan aku kebaikan, aku tidak akan menuntut balas apa pun. Tapi ingat satu hal: jangan pernah lagi mencoba mengganggu hidup kami, atau menatap rendah wanita yang akan menjadi istriku. Karena menyakiti dia sama saja dengan menghancurkan segalanya."
"Terima kasih, Arkan... terima kasih banyak," ucap Bapak Pradipta lega, sementara air mata Sera menetes pelan. Mereka membungkuk hormat, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu untuk selamanya, menyadari bahwa babak persaingan ini sudah berakhir, dan mereka adalah pihak yang kalah.
Setelah kepergian mereka, Arkan segera pulang ke rumah. Ia ingin berbagi kabar ini dengan Nara. Saat ia masuk ke halaman, ia melihat Nara sedang duduk di taman, di bawah pohon besar, sedang merapikan bunga-bunga dengan senyum lembutnya yang khas. Cahaya matahari sore menyinari tubuhnya, membuatnya tampak seperti bidadari yang turun ke bumi.
Arkan berjalan mendekat tanpa suara, lalu memeluk pinggang Nara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Sayang..." bisiknya lembut.
Nara tersenyum, menyentuh lengan Arkan yang melingkar erat di perutnya. "Kamu sudah pulang? Ada kabar apa hari ini?"
"Sera dan ayahnya sudah datang," jawab Arkan pelan. "Mereka minta maaf, dan berjanji tidak akan mengganggu kita lagi. Semua urusan masa lalu sudah selesai. Sekarang tidak ada lagi halangan, tidak ada lagi ancaman. Hanya ada kita, dan masa depan kita."
Nara berbalik dalam pelukan itu, menatap mata Arkan dengan mata berbinar bahagia. "Syukurlah... aku senang mendengarnya. Aku tidak pernah membenci mereka, Arkan. Aku cuma sedih kenapa mereka harus menyakiti diri sendiri hanya karena tidak mau menerima kenyataan. Tapi sekarang semuanya sudah baik."
Arkan mengecup kening Nara lama, lalu menatapnya dengan pandangan penuh gairah dan kasih sayang.
"Karena semua masalah sudah beres... sekarang kita fokus ke satu hal terpenting: pernikahan kita. Aku sudah minta tim khusus untuk mengurus segalanya. Aku ingin pernikahan ini menjadi yang terindah, terbesar, dan tak terlupakan seumur hidupmu."
Dua minggu berlalu dalam kesibukan yang indah. Persiapan pernikahan Arkan Adhitama dan Nara menjadi pembicaraan seluruh negeri. Arkan tidak main-main, ia mengadakan pesta pernikahan yang sangat megah di lokasi yang sama saat ia melamar dulu: hamparan luas di pinggir pantai, tapi kali ini dihiasi ribuan bunga, lampu gantung kristal, dan panggung setinggi satu meter yang menghadap langsung ke samudra luas.
Undangan dikirimkan ke pejabat tinggi, pengusaha sukses, artis ternama, hingga tetangga desa asal Nara—semua diundang dan dijamu dengan kemewahan yang luar biasa. Arkan ingin menunjukkan kepada semua orang, termasuk keluarga Nara, betapa berharganya wanita ini di matanya.
Dan akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba.
Pagi itu, langit cerah berwarna biru bersih, angin laut bertiup lembut membawa aroma garam dan bunga. Ribuan tamu hadir, duduk rapi dengan pakaian terbaik mereka. Di ujung jalan setapak yang dihiasi kelopak bunga putih, Nara berdiri diam, memegang lengan ayahnya yang sudah tua, matanya berkaca-kaca menatap sosok pria yang berdiri menunggunya di ujung sana.
Arkan tampak luar biasa tampan dan gagah. Ia mengenakan setelan jas putih bersulam emas, rambutnya disisir rapi, dan senyum bahagia mengembang lebar di bibirnya. Jantungnya berdebar kencang, rasanya lebih gugup daripada saat ia harus menandatangani kontrak bernilai triliunan rupiah. Karena kali ini, yang dipertaruhkan adalah hatinya, hidupnya, dan masa depannya selamanya.
Musik mengalun lembut, indah dan menyentuh hati. Nara mulai berjalan perlahan mendekat.
Hari ini, Nara mengenakan gaun pengantin yang sangat indah, dibuat khusus oleh perancang busana terkenal dunia. Gaun itu berwarna putih bersih dengan renda halus yang melambai, dihiasi sedikit manik-manik yang berkilau seperti embun pagi. Rambut hitam panjangnya digelung indah dengan mahkota sederhana namun anggun. Ia tidak memakai perhiasan berlebih, karena kecantikannya sendiri sudah cukup untuk membuat seluruh pantai itu tampak redup dibandingkan dirinya.
Saat sampai di hadapan Arkan, ayah Nara menyerahkan tangan putrinya ke telapak tangan Arkan yang besar dan hangat.
"Jagalah dia, Nak... dia harta paling berharga yang aku punya," bisik ayah itu dengan suara bergetar.
"Aku janji, Pak. Aku akan jaga dia lebih dari nyawaku sendiri," jawab Arkan tegas, matanya tak lepas menatap wajah Nara.
Upacara berlangsung sakral dan penuh haru. Saat Arkan mengucapkan janji suci, suaranya terdengar berat, jelas, dan penuh perasaan, membuat banyak tamu yang ikut meneteskan air mata.
"Aku Arkan Adhitama, berjanji akan mencintaimu, menghormatimu, dan menjagamu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit. Aku berjanji akan menjadi pendampingmu yang setia, teman bicaramu yang baik, dan pelindungmu yang tak akan pernah mundur. Aku mencintaimu, Nara... sekarang dan selamanya."
Giliran Nara. Wanita itu menatap Arkan dengan mata berbinar penuh cinta dan kebanggaan.
"Aku Nara, berjanji akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu, dan menjadi rumah tempatmu pulang. Aku berjanji akan mencintaimu dengan segenap jiwaku, menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, dan setia kepadamu sampai akhir hayat. Terima kasih sudah memilihku, Arkan... terima kasih sudah membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Aku mencintaimu, lebih dari apa pun."
Saat cincin dipasangkan dan bibir mereka bersentuhan dalam ciuman suci yang lembut namun penuh rasa memiliki, suara tepuk tangan dan sorak sorai meledak memenuhi udara, bercampur dengan suara deburan ombak yang seolah ikut merayakan persatuan dua jiwa yang telah melewati begitu banyak badai itu.
Malam itu, setelah pesta besar selesai dan semua tamu pulang, Arkan membawa Nara kembali ke rumah besar mereka—yang kini benar-benar menjadi rumah mereka berdua.
Arkan menggendong Nara melewati ambang pintu, menaiki tangga, dan masuk ke kamar utama mereka yang malam ini dihiasi dengan kelopak bunga mawar putih dan lilin-lilin yang menyala lembut, menciptakan suasana hangat dan romantis yang tak terlukiskan.
Ia meletakkan Nara perlahan di atas kasur empuk, lalu berdiri di samping tempat tidur, menatap istrinya yang tampak begitu mempesona dengan sisa riasan pengantinnya. Arkan perlahan melepas dasi dan kemejanya, matanya tak lepas dari wajah dan tubuh indah wanita yang kini sah menjadi miliknya selamanya.
"Sudah resmi sekarang, Istriku..." bisik Arkan parau, suara beratnya penuh dengan hasrat yang meluap-luap namun tetap lembut. "Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi batasan. Kamu milikku sepenuhnya, tubuhmu, hatimu, jiwamu... semuanya milikku."
Nara tersenyum malu-malu, wajahnya memerah indah. Ia mengangguk pelan, matanya menatap Arkan dengan penuh keinginan yang sama besarnya. "Dan kamu milikku, Suamiku... selamanya."
Arkan berbaring di samping Nara, menarik tubuh wanita itu agar miring menghadapnya. Tangannya yang besar dan hangat mulai bergerak lembut, membuka kancing gaun pengantin itu satu per satu dengan perlahan dan penuh hormat, seolah sedang membuka bungkusan harta karun paling berharga. Setiap kali kulit putih Nara terekspos, Arkan mendaratkan ciuman hangat di sana, menyalakan api kehangatan yang menjalar cepat ke seluruh tubuh keduanya.
"Kamu sangat cantik... sangat indah... sempurna..." gumam Arkan di sela-sela ciumannya, bibirnya menyusuri lekuk leher, bahu, hingga ke dada yang naik turun cepat karena napas yang memburu.
Tangan Nara melingkar erat di leher Arkan, jari-jarinya menyelip ke rambut hitam pria itu, menarik wajah itu mendekat agar ciuman mereka semakin dalam dan lapar. Malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini penuh rasa syukur, penuh rasa sah, dan penuh rasa memiliki yang utuh tanpa sisa.
Arkan menindih tubuh Nara dengan lembut, menopang berat badannya dengan siku agar tidak menekan istrinya. Ia menatap mata Nara lekat-lekat, memastikan koneksi jiwa mereka tetap terjalin erat saat mereka mulai menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Gerakan Arkan lambat, dalam, dan penuh perasaan. Setiap dorongan adalah ungkapan cinta, setiap belaian adalah bukti kasih sayang yang tak terhingga. Ia bergerak dengan kelembutan yang luar biasa namun juga dengan gairah yang membara, memastikan Nara merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang sejati, kenikmatan yang hanya dimiliki oleh suami istri yang saling mencintai.
Desahan halus dan bisikan cinta terdengar bergantian memenuhi ruangan, berpadu dengan detak jantung yang berpacu dalam satu irama yang sama. Di bawah cahaya lilin yang bergoyang lembut, di tengah pelukan yang saling mengunci erat, mereka merayakan malam pertama mereka sebagai suami istri yang sah, melepas segala rindu, segala rasa sakit masa lalu, dan menggantinya dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
Saat kebahagiaan puncak itu akhirnya datang, dan tubuh mereka bergetar bersama dalam pelukan erat, Arkan mencium kening Nara lama, lalu memeluknya begitu rapat seolah takut akan terpisah lagi.
"Kita sudah sampai di sini, Sayang..." bisik Arkan pelan di telinga Nara, napasnya masih berat dan memburu. "Banyak ujian sudah kita lewati, dan kita menang. Dan percayalah... perjalanan kita masih sangat panjang. Masih banyak kebahagiaan yang menunggu kita, masih banyak momen indah yang akan kita buat bersama. Aku akan ada di sini, selalu di sampingmu, sampai rambut kita memutih dan napas kita berhenti."
Nara membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang kini berdetak tenang dan damai. Ia merasa sangat aman, sangat dicintai, dan sangat bahagia.
"Aku siap menemani kamu sampai kapan pun, Arkan... ke mana pun kamu pergi, aku ikut."
Malam itu berakhir dengan tidur yang sangat damai, dalam pelukan yang tak terlepas, di bawah selimut cinta yang hangat dan abadi. Kisah cinta mereka yang dimulai dari kejatuhan, air mata, dan penghinaan, kini berubah menjadi kisah kemenangan, kemewahan, dan kebahagiaan yang sempurna.
Bersambung...