Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang tersisa
Gavin mengemudi pelan. Jalan yang ia tuju bukan ke rumahnya, melainkan rumah yang ia beli untuk ditinggali Azalia. Rumah sederhana yang berada jauh dari keramaian.
Dari halaman, dia bisa melihat gelapnya rumah itu. Debu di permukaan jendela dan juga lantai teras cukup tebal. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Matahari sudah akan tenggelam sepenuhnya ketika Gavin membuka pintu rumah itu. Langit di luar berpendar jingga keemasan, menciptakan bayangan panjang di lantai saat ia melangkah masuk.
Suasana di dalam terasa hampa.
Gavin melepas jasnya, melemparnya asal ke sandaran sofa, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Sangat sunyi. Tak ada lagi langkah ringan yang gegas menghampirinya, tak ada suara seseorang yang biasanya menyapanya dengan ragu.
Gavin meneguk air perlahan, tubuhnya bersandar di meja dapur. Matanya mengamati setiap ruang yang terasa kosong. Rumah sederhana yang biasanya tampak hidup, kini serasa suram dan hampa.
Sofa di ruang tengah tampak sepi, bantal-bantal tersusun sempurna. Tidak ada selimut tipis yang biasanya dibiarkan Azalia sebagai pelengkap. Di meja, tak ada secangkir kopi yang kadang-kadang lupa dihabiskan.
Bahkan aroma samar Azalia yang biasanya memenuhi rumah ini sudah menghilang sepenuhnya.
Ia menoleh ke arah kamar yang sama sunyi nya. Tak ada lampu yang menyala, tak ada suara pintu kamar terbuka.
Rumah ini selalu kosong, Gavin sadar itu. Tapi tidak pernah terasa sekosong ini.
Gavin berdecak pelan, menggelengkan kepala. Ia tidak mengerti mengapa hal-hal kecil itu tiba-tiba terasa begitu mencolok.
Bukankah ini yang ia harapkan?
Harusnya ia lega, Azalia benar-benar pergi dari hidupnya.
Namun, saat ia berjalan melewati ruang tamu, bayangan samar melintas dalam pikirannya, sekelebat sosok yang pernah berdiri di sana, dengan mata yang selalu penuh sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
Gavin mengalihkan pandangannya, lalu menyalakan lampu. Seketika, kegelapan itu sirna.
Karena tadi ia bergegas datang kemari, Gavin melewatkan makan siangnya.
Ia melangkah ke dapur untuk kedua kalinya.
Bukankah Azalia selalu membawa bekal makan siang untuknya selama ini? Seharusnya ada bahan makanan yang masih bisa ia gunakan.
Bergegas ia membuka lemari es. Masih ada telur, ikan, bakso, dan beberapa bahan lain yang tidak banyak. Tapi tiba-tiba dia bingung harus masak apa. Sedangkan selama ini ia tidak pernah memasak sendiri.
Gavin menyapu pandangannya. Di rak kabinet, ia melihat ada banyak mie instan. Rasanya hanya itu yang mudah dan bisa di buat olehnya.
Gavin menuang bumbu ke dalam piring. Air pun akan segera mendidih.
Ia memungut semua sampahnya, memasukkan ke tong sampah. Namun sebelum semua sampahnya jatuh, gerakannya tertahan di tengah-tengah.
Sampah itu penuh. Bukan dengan sesuatu yang lain, melainkan hanya sampah dari bungkus mie instan.
Ekspresi Gavin langsung suram. Dengan tak sabaran ia nekat menuang isi tong sampah tersebut, ia tidak menemukan sampah lain selain bungkus mie instan.
Dengan kesal Gavin menendang tong sampah itu.
Sialan!
Apa yang dilakukan Azalia? Apa dia hanya makan mie instan? Kenapa dia tidak mengambil bahan makanan yang ada di kulkas?
"Pak!" Seorang pria datang dari luar. Melihat kekacauan di bawah kaki Gavin, dia hanya melirik tanpa berani berkomentar.
"Bicara!" Perintahnya cepat. Emosinya pada setumpuk bungkus mie instan tadi masih belum mereda.
"Maaf, saya tidak bisa mendapat informasi yang Anda inginkan. Pihak rumah sakit berkata jika semua data mengenai istri Anda disimpan oleh Dokter Wahyu sendiri. Saya sudah menemui dokter itu, tapi dia bersikeras menahan sesuai permintaan pasien."
"Dimana wanita itu sekarang?" tanya Gavin dingin.
Pria itu menelan ludah gugup, sebelum akhirnya berani bicara. "Istri anda sudah tidak ada di rumah sakit itu. Dia sudah pergi."
"Jadi dia sungguh ingin bermain-main denganku?" Gavin menyeringai. Matanya memerah merasa dipermainkan Azalia.
Lihat saja. Bagaimanapun perceraian itu harus terjadi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Udara dingin menyusup ke dalam jaket yang dikenakan Azalia saat ia berdiri di depan sebuah rumah kecil di sudut kota.
Rumah itu jauh dari kota, memiliki lingkungan yang sederhana, bangunan-bangunan tua berdiri rapat dan jalanan berbatu terlihat sedikit basah oleh gerimis yang baru saja reda.
Lampu jalan berwarna kekuningan, menciptakan bayangan panjang di trotoar yang mulai retak karena dimakan usia.
Jari-jari Azalia gemetar saat mengetuk pintu kayu yang sudah mulai mengelupas catnya. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka dengan berderit.
Seorang wanita muncul di ambang pintu, di susul pria dengan mata hitam yang dipenuhi rasa penasaran.
"Astaga..." Keduanya terkejut, sebelum akhirnya suara si wanita terdengar memanggil. "Azalia?"
Azalia mengangguk.
"Aza, kau...kau baik-baik saja?" Tanya si wanita yang merupakan anak wanita yang mengasuh Azalia dulu.
Azalia mencoba tersenyum, meskipun wajahnya pucat. "Aku....aku boleh numpang beberapa hari disini?" Tanya Azalia, menelan gumpalan emosi di tenggorokannya.
Tak butuh waktu lama bagi Niken untuk menarik tubuh Azalia ke dalam pelukannya, mendekatnya erat seakan takut kehilangan lagi. Pelukannya hangat, penuh dengan kasih sayang seperti saudara kandung.
"Ini juga rumahmu, Azalia." Suara Niken terdengar marah sekaligus lega.
Azalia tidak bicara lagi. Ia hanya membenamkan wajahnya di bahu wanita itu, menghirup aroma sabun dan teh yang mengingatkan Azalia pada ibu pengasuhnya dulu.
Niken menarik Azalia masuk ke dalam rumah mungilnya.
Ruangan itu sempit, dengan perabotan tua yang tertata rapi. Sebuah sofa kecil dengan selimut rajut terlipat di atasnya, beberapa set cangkir teh diletakkannya di bufet tua, dan rak buku berdebu yang penuh dengan buku-buku lama.
Aroma kayu manis dan sedikit wangi teh menyelimuti udara, memberikan kehangatan yang sulit dijelaskan.
"Apakah kau lapar? Aku tadi membuat sup ikan andalan ibu." Kata Niken sambil menatap Azalia dengan penuh perhatian.
"Biar aku hangatnya untukmu." Gibran berdiri, lelaki yang merupakan suami Niken sudah lama mengenal Azalia, dan mereka menyukai gadis itu sejak dulu, sejak Azalia belum menikah.
Azalia mengangguk, senyuman samar muncul di bibirnya.
Gibran tertawa kecil. "Duduklah Azalia, aku akan memanaskan sup untukmu."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Azalia merasa punya tempat pulang.
Walaupun tempat ini adalah tempat terakhir yang menjadi tujuan. Karena Azalia sudah tidak memiliki pilihan lagi.
Meski senang dengan kedatangan Azalia, tapi Niken sudah merasakan sesuatu yang besar terjadi pada gadis itu.
Juga.... Tubuh Azalia yang jauh lebih kurus, ringkih, seolah dia sedang menanggung beban yang amat berat.
Wajah Azalia sayu, pucat, dan matanya menunjukkan cekungan yang agak dalam.
Niken menarik napas pelan, menekan kepahitan yang menjalar seperti tumbuhan merambat di tubuhnya.
Gibran datang menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk kecil dan meletakkannya di depan Azalia. Aroma kaldu yang kaya dan rempah-rempah yang familiar membawa sedikit kenyamanan di tengah keheningan mereka.
Gibran dan Niken duduk di kursi seberang, mengamati Azalia dengan mata sayu yang dipenuhi kebijaksanaan bertahun-tahun. Kemudian, dengan suara lembut yang penuh kehati-hatian, Gibran bertanya,
"Apa suamimu tahu kau ke sini?"
Sejak sebelum menikah dengan Niken, Gibran sudah menganggap Azalia seperti adiknya sendiri, hanya saja, kehidupan mereka kurang beruntung. Gibran yang hanya pekerja pabrik, tidak memiliki finansial yang cukup untuk melindungi Azalia yang juga sudah seperti adik untuk sang istri.
Tangan Azalia yang memegang sendok bergetar. Ia menunduk, menatap supnya yang bergoyang pelan dalam mangkuk.
Dalam per sekian detik, kekosongan dalam dirinya seperti runtuh. Dadanya sesak, dan sebelum bisa menahan diri, air matanya jatuh, menetes ke atas meja kayu itu.
Tanpa berkata-kata, Niken langsung bangkit dari kursinya dan beringsut mendekat ke Azalia, lalu memeluk tubuh ringkih itu erat-erat.
Seketika tangis Azalia pecah.
Gibran tidak bertanya lagi. Ia hanya mendesah pelan, lalu ikut menghampiri Azalia dan membelai kepalanya dengan lembut.
Azalia menggigit bibirnya, berusaha menahan isakannya, tetapi sia-sia. Ia tidak bisa menjelaskan apa pun.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa suaminya pria yang dulu ia kira akan selalu bersamanya kini bahkan tidak ingin melihatnya.
Yang mampu Azalia ucapkan hanyalah, "Aku gagal..." Dengan suara yang nyaris tenggelam.
Niken mendekapnya lebih erat, seolah mencoba menahan Azalia agar tidak hancur berkeping-keping. "Azalia satu-satunya kegagalan di dunia ini adalah ketika kita berhenti mencoba. Tapi kau masih berdiri di sini, masih datang pada kami, itu menunjukkan jika kau belum sepenuhnya gagal."
Azalia terisak dalam diam. Kata-kata Niken begitu hangat, tetapi di saat yang sama, terasa menyakitkan.
Nyatanya, meski dia bisa datang ke rumah ini, dia tetap gagal total.
Setelah beberapa saat, Niken melepaskan pelukannya, menangkup wajah Azalia di kedua telapak tangannya yang hangat, dan mengamati Azalia lebih dekat. Saat itu juga, ekspresinya berubah.
"Azalia.." suaranya pelan. "Kenapa kok kurus sekali? Wajahmu pucat. Apa kau sakit?"
Buru-buru Azalia menggeleng, mencoba tersenyum, tetapi bahkan bibirnya terlalu lemah untuk membentuk lengkungan sempurna.
"Aku baik-baik saja,"
Di tempat duduk mata Gibran ikut mempertahankan Azalia, menatapnya tajam, seolah bisa melihat sesuatu yang coba Azalia sembunyikan. Pria itu menghela napas, tangannya membentuk kepalan.
Niken dan Gibran belum buta, dia bisa melihat jika Azalia tidak baik-baik saja.
"Apa aku boleh tinggal di sini sementara waktu?" Azalia bahkan lupa ketika tadi dia sudah mempertanyakan hal itu sebelum Niken membawanya masuk.
Tapi tetap saja Niken dan Gibran menjawab pertanyaan itu dengan suka cita.
"Ini juga rumahmu. Kami ini keluargamu, kau boleh jika ingin tinggal di sini selama yang kau mau."
Malam itu, setelah sekian lama, Azalia merasa berada di tempat yang tepat. Rumah Niken dan Gibran memang sempit, tapi terasa begitu nyaman untuk ditinggali.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Azalia baru saja keluar dari kamar mandi ketika matanya melihat ponselnya yang sengaja ia matikan.
Azalia tidak ingin di ganggu Mamanya untuk sementara, jadi Azalia tidak berniat menyentuhnya.
Niken sedang menyeduh teh, sementara Gibran sedang bersiap berangkat ke pabrik.
Melihat Azalia membawa handuk, Gibran bertanya.
"Masih gerimis Azalia, jemur saja di dalam, nanti handuk mu malah basah."
"Aku tidak sedang ingin menjemur handuk, tapi aku mau mandi."
"Mandi?" Gibran mengulang dengan kerutan di wajah. "Bukannya kau baru saja mandi?"
Benarkah?
Azalia mengerjap, mencoba mengingatnya. Tapi dia tidak ingat. Dia tidak ingat apa dia sudah mandi atau belum.
Di depan Gibran, Azalia tersenyum canggung. "Ah, benar. Aku lupa jika aku sudah mandi."
Gibran menggeleng pelan, tersenyum tipis. Tapi ada kekhawatiran di dadanya.
Di dapur, Niken ikut melihat ke arah Azalia dengan mata penuh kasih, tangannya masih mengaduk teh yang baru diseduh, sesekali ia melirik ke arah Azalia, memastikan dia baik-baik saja.
"Azalia, teh mu." Niken membuang kantong teh bekas pakai ke tong sampah.
Azalia tersenyum dan berjalan menghampiri Niken.
Matanya melihat ke arah teh yang Niken buatkan untuknya.
"Untukku?" Tanyanya pelan, ragu." Aku alergi teh."
Niken menghentikan gerakan tangannya. "Apa?"
Azalia menatap Niken, kebingungan. "Sejak kecil aku alergi teh, kan?"
Niken terdiam sejenak sebelum tersenyum lembut. "Tidak, Azalia. Kau sejak dulu suka sekali dengan teh hangat dengan satu sendok gula."
Azalia menggeleng perlahan. "Aku yakin aku alergi teh."
Niken mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menghela napas pelan, kemudian mengambil gelas untuk membuatkan Azalia susu.
Azalia menerima susu dari Niken. Tangannya gemetar, napasnya sedikit tersengal. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres seolah kepalanya sedang bermain-main dengannya.
Kenangan yang ia kira benar ternyata berbeda dari yang dikatakan orang lain. Apakah ia lupa? Atau... Ia hanya mengarang sendiri memorinya?
Perasaannya semakin kacau.
Gibran menyadarinya. Ia menyentuh bau Azalia dengan lembut. "Aza, istirahatlah sebentar. Kau terlihat lelah."
Azalia menggeleng cepat. "Tidak, aku baik-baik saja."
Namun, gelas itu meluncur dari tangannya. jemari Azalia terlalu lemah. Pandangannya mulai kabur. Napasnya memburu. Kenapa tangannya begitu sulit digerakkan?
Niken segera menangkap kedua tangan Azalia, mengusapnya lembut. "Biar aku yang bersihkan, Azalia. Kau hanya butuh istirahat saja, tanganku juga sering kesemutan ketika aku sedang lelah, itu sangat wajar."
Azalia mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Kak Niken....apa aku mulai melantur?"
Niken terdiam sejenak sebelum mengusap kepala Azalia penuh kasih. "Tidak, Azalia. Kau hanya kelelahan."
Azalia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, di dalam hatinya, ia tahu sesuatu sedang terjadi. Ia tahu bahwa waktu yang dimilikinya semakin sedikit.
Sementara setelah Azalia masuk ke dalam kamar.
Niken menumpahkan tangisnya di pelukan Gibran.
########
Bab ini panjanggggg sekali, harusnya sebagian untuk update esok hari, tapi tidak apa-apa, biar kalian semangat kasih like dan komennya untukku...
Episode berikutnya akan hadir setelah like lebih 20 dan komen lebih dari 5 seperti biasanya ya....
Happy Reading
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...