Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 TUJUH RATUS LIMA PULUH JUTA
Malam itu, Abdul tidur dengan nyenyak meski kepalanya sempat dipenuhi beban akibat insiden tumpahan kopi di teras rumah. Di alam bawah sadarnya, Abdul mendapati dirinya sedang berjalan melintasi lantai marmer hitam yang berkilau luar biasa rapi.
Ia berada di dalam sebuah showroom mobil mewah yang sangat megah. Deretan mobil sport dan SUV keluaran terbaru berjejer rapi, memantulkan cahaya lampu kristal dari langit-langit gedung. Seorang pria bermantel rapi membungkuk hormat, menyerahkan beberapa berkas dokumen kendaraan dan kunci berlogo mewah kepadanya.
Dalam mimpi itu, Abdul dengan santai menandatangani nota pembelian untuk memborong beberapa unit mobil operasional konveksi sekaligus. Angka yang tertera di nota tersebut sangat jelas: Rp750.000.000,00.
Sementara itu, di dunia nyata, jarum jam dinding di kamar Abdul baru saja menunjukkan pukul 04:50 subuh. Di atas meja kecil tepat di samping bantalnya, layar handphone android baru milik Abdul tiba-tiba menyala dengan sendirinya dan memancarkan cahaya keemasan yang redup. Deretan teks sistem berwarna putih bercahaya mulai mengetik secara otomatis dengan kecepatan tinggi di atas layar ponselnya:
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Memborong Unit Showroom Mobil.]
[Nominal Akumulasi Visual dalam Mimpi: Rp750.000.000,00.]
[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]
[Proses Konversi Selesai. Mengirimkan Dana ke Rekening Target...]
Detik berikutnya, cahaya keemasan itu lenyap, digantikan oleh getaran pendek ponsel yang menandakan sebuah pesan teks masuk.
Bzzzt.
Abdul menggeliat, kelopak matanya perlahan terbuka seiring dengan kumandang azan subuh yang mulai bersahut-sahutan di luar jendela. Rasa kantuknya seketika sirna begitu tangannya meraih ponsel. Ia membuka panel notifikasi dan membaca sebuah pesan resmi yang baru saja mendarat.
[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp750.000.000,00. Saldo Akhir Anda:.....]
Abdul terduduk kaku di atas kasur kapuknya. Matanya berkedip beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak sedang mengigau. Jantungnya berdegup kencang saat ia membuka aplikasi mobile banking miliknya untuk memeriksa total dana keseluruhan yang ia miliki sejak pertama kali fenomena ajaib ini terjadi.
"Hah... saldoku... saldoku sekarang udah hampir satu miliar," gumam Abdul dengan suara bergetar pelan. Ia menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Tuhan... ini bener-bener nyata. Uang ini lebih dari cukup buat beli tanah dan membangun tempat tinggal baru yang layak buat Ibu dan Bapak."
Setelah melaksanakan salat subuh dan menenangkan pikirannya, Abdul tidak ingin membuang waktu. Pagi-pagi sekali, ia langsung menghubungi seorang makelar tanah lokal yang cukup terkenal di kelurahannya, Pak Basuki, untuk mencari info lahan kosong yang dijual di sekitar pinggir jalan utama Gang Seng.
Sekitar pukul sembilan pagi, Abdul sudah berdiri di sebuah lahan kosong seluas 600 meter persegi yang terletak strategis di pinggir jalan utama, hanya berjarak beberapa ratus meter dari mulut Gang Seng. Lahan itu tampak datar, ditumbuhi ilalang hijau, dan memiliki akses jalan yang sangat lebar, sangat cocok untuk memisahkan area rumah dan workshop konveksi.
"Gimana, Mas Abdul? Lahan ini surat-suratnya lengkap, bersertifikat hak milik, dan lokasinya paling top di daerah sini. Cocok banget kalau mau bikin bangunan besar," ujar Pak Basuki mempromosikan lahan tersebut dengan penuh semangat.
Abdul mengangguk-angguk puas sambil menginjakkan kakinya ke tanah. "Bagus, Pak Basuki. Saya cocok sama tempat ini. Sisi kiri nanti bisa saya buat rumah tinggal pribadi buat Ibu, dan bangunan sebelah kanannya khusus buat workshop jahit biar gak keganggu. Berapa harga pasnya?"
"Pemiliknya buka harga di empat ratus lima puluh juta, Mas. Tapi kalau Mas Abdul serius, bisa kita urus langsung ke notaris hari ini juga," jawab Pak Basuki sumringah.
"Oke, saya ambil. Gak usah tawar-menawar lagi, kita urus berkasnya sekarang," ucap Abdul mantap.