NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Mobil Rolls Royce hitam itu berhenti dengan suara mesin yang halus di depan pilar-pilar raksasa mansion Mahendra. Bagi orang luar, rumah ini adalah simbol kesuksesan yang tak tercapai, namun bagi Adelard, setiap jengkal bangunan ini terasa seperti monumen rasa sakit. Hanya dua hari yang lalu, ia masuk lewat pintu belakang dengan seragam pelayan yang basah oleh peluh. Malam ini, ia masuk lewat pintu depan dengan digandeng oleh sang pemilik rumah.

"Kita sudah sampai, Nak. Jangan takut," bisik Tuan Mahendra, suaranya dipenuhi janji perlindungan.

Pintu jati raksasa itu terbuka. Di dalam lobi yang megah, Nyonya Siska Mahendra berdiri dengan wajah yang kaku, tangannya bersedekap di dada. Di sampingnya, Clarissa duduk di kursi roda dengan lutut yang diperban, matanya bengkak karena menangis, namun sorot matanya tetap tajam penuh kebencian.

"Hendra! Apa-apaan ini? Kenapa kau membawa pelayan ini masuk lewat pintu depan? Dan kenapa dia memakai pakaian mahal itu?" Nyonya Siska memulai serangan sebelum suaminya sempat melangkah lebih jauh.

Tuan Mahendra menghela napas panjang, menatap istrinya dengan kecewa. "Siska, aku sudah memberitahumu di telepon. Hasil laboratorium tidak berbohong. Gadis ini adalah Adelard Mahendra. Dia putri kandung kita yang selama ini kita cari."

"TIDAK! Itu bohong!" Clarissa menjerit, suaranya melengking memecah keheningan lobi. "Ibu, jangan percaya! Ayah pasti sudah dicuci otaknya oleh gadis miskin ini! Dia hanya ingin merampas harta kita!"

Nyonya Siska berjalan mendekat, menatap Adel dengan tatapan yang lebih dingin dari es. "Hendra, kau terlalu impulsif. Tes DNA bisa dipalsukan. Teknologi zaman sekarang bisa menipu siapa saja. Kau melihat gadis ini hanya karena kau merasa bersalah padanya. Bagaimana mungkin kau bisa membuang Clarissa yang sudah aku rawat selama tujuh belas tahun hanya demi... demi anak panti asuhan ini?"

"Siska! Jaga bicaramu! Dia darah dagingmu sendiri!" Tuan Mahendra membentak, membuat para pelayan yang mengintip di balik pilar gemetar ketakutan.

"Darah daging?" Siska tertawa sinis, matanya melirik luka di lengan Adel. "Lihat dia. Dia tumbuh di tempat kumuh, berperilaku seperti rakyat jelata, dan tidak memiliki aura seorang Mahendra sedikit pun. Bagiku, Clarissa adalah satu-satunya putriku. Aku tidak akan menerima orang asing masuk ke rumah ini dan menggantikan posisinya."

Adel hanya diam. Ia merasakan perih yang lebih dalam dari luka di lengannya—perih karena penolakan dari wanita yang seharusnya memberikan pelukan hangat padanya sejak tujuh belas tahun lalu.

"Nyonya Siska..." suara Adel parau, namun tetap tenang. "Saya tidak meminta untuk menggantikan siapa pun. Saya hanya ingin kembali ke tempat yang seharusnya menjadi hak saya."

"Hakmu?" Clarissa memotong, tawanya terdengar histeris. "Hakmu adalah di dapur! Di tempat sampah! Ibu, lihat dia! Dia bahkan berani menatap kita dengan mata kurang ajarnya!"

Tuan Mahendra memegang bahu Adel. "Pak Dirman! Siapkan kamar utama di lantai dua untuk Adel. Kamar tamu VIP yang paling luas."

"Tunggu!" Siska mengangkat tangannya, memerintah kepala pelayan yang baru saja muncul. "Tidak ada kamar di lantai dua untuknya. Semua kamar di sana sedang direnovasi."

Tuan Mahendra mengerutkan kening. "Renovasi? Apa maksudmu? Kemarin semuanya baik-baik saja."

"Aku baru saja memerintahkan tukang untuk mulai besok. Rumah ini adalah domainku, Hendra," ucap Siska dengan nada otoriter. Ia menatap Adel dengan senyum penuh kemenangan yang kejam. "Jika dia bersikeras ingin tinggal di sini sebelum tes DNA ulang yang aku pilih sendiri keluar, maka dia harus tinggal di tempat yang sesuai dengan levelnya."

"Siska, apa yang kau rencanakan?" Tuan Mahendra mulai curiga.

"Biarkan dia tinggal di kamar yang dulu sering dia gunakan saat bekerja lembur. Kamar staf di paviliun belakang. Itu cukup luas untuk orang yang terbiasa tidur di gang kumuh, bukan?"

Adel tersentak. Kamar staf? Itu adalah kamar sempit di dekat gudang, tanpa pendingin ruangan yang layak, dan sering kali lembap saat hujan. Penolakan ibunya bukan hanya secara lisan, tapi secara fisik.

"Itu tidak mungkin! Dia putriku!" Tuan Mahendra meledak marah.

"Hendra, jika kau memaksanya tinggal di lantai dua, aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga membawa Clarissa! Pikirkan reputasimu! Apa kata rekan bisnismu jika tahu kau membawa masuk seorang 'pelayan' ke kamar utama sebelum ada pengumuman resmi?" Siska memberikan ancaman yang mematikan. Sebagai sosialita papan atas, ia tahu kelemahan suaminya adalah reputasi.

Suasana menjadi sangat tegang. Clarissa tersenyum licik dari kursi rodanya, merasa bahwa ia masih memiliki kendali atas ibunya.

Tuan Mahendra menatap Adel dengan penuh rasa bersalah. "Nak... Ayah minta maaf. Ini hanya sementara. Besok Ayah akan—"

"Tidak apa-apa, Ayah," potong Adel. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan pahit yang menggumpal di kerongkongannya. "Saya akan tinggal di sana."

"Adel?" Tuan Mahendra terkejut.

Adel menatap lurus ke mata Nyonya Siska. "Saya akan tinggal di kamar pelayan itu malam ini. Tapi ingat satu hal, Nyonya Siska. Dinding-dinding di kamar pelayan itu memiliki telinga. Mereka mendengar setiap hinaan yang Anda lontarkan. Semakin lama Anda membiarkan saya di sana, semakin besar hutang permohonan maaf yang harus Anda bayar nanti saat Anda menyadari bahwa saya benar-benar putri Anda."

Wajah Nyonya Siska mendadak pias. Ia merasa terintimidasi oleh ketenangan gadis tujuh belas tahun ini.

"Bawa dia ke belakang, Dirman!" perintah Siska kasar, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

---

Satu jam kemudian, Adel berdiri di tengah kamar pelayan yang sempit. Hanya ada satu tempat tidur kayu kecil dan sebuah lemari usang. Sangat kontras dengan kamar Clarissa yang seluas lapangan basket di gedung utama.

Pintu kamar terbuka. Clarissa didorong masuk oleh seorang pelayan ke dalam kamar sempit itu. Ia menyuruh pelayan itu pergi agar bisa bicara berdua saja dengan Adel.

"Lihat dirimu," ejek Clarissa, berdiri dari kursi rodanya dengan perlahan (ternyata ia hanya berpura-pura tidak bisa jalan di depan ayahnya). "Dulu kau pelayan, sekarang kau adalah 'putri pelayan'. Ayah mungkin menyayangimu, tapi Ibu membencimu. Seluruh rumah ini membencimu."

Adel menoleh perlahan. "Kau takut, Clarissa?"

"Takut? Padamu?"

"Kau takut karena kau tahu kau adalah barang palsu. Kau takut karena saat rahasia ini benar-benar dibuka ke publik, kau tidak akan punya tempat lagi—bahkan di kamar pelayan ini pun kau tidak layak," ucap Adel dingin.

Clarissa maju dan mencengkeram kerah baju Adel. "Dengarkan aku, Gadis Sampah. Aku sudah tinggal di sini selama tujuh belas tahun. Semua orang di sekolah, semua pelayan di sini, semuanya adalah milikku. Kau tidak akan bertahan seminggu di neraka ini. Aku akan membuatmu memohon untuk kembali ke panti asuhanmu yang bau itu!"

"Kita lihat saja," tantang Adel. "Oh, dan Clarissa... terima kasih sudah datang ke kamarku. Kau baru saja membuktikan bahwa kau begitu gelisah sehingga kau harus datang ke mari hanya untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau masih menang."

Clarissa menggeram, matanya berkilat penuh amarah. Ia menjatuhkan vas bunga plastik yang ada di atas meja Adel hingga pecah berantakan sebelum keluar dari kamar.

Adel duduk di pinggiran tempat tidur yang keras. Ia menatap pecahan vas itu. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh satu tetes. Ia merasa sendirian di tengah kemewahan ini. Namun, saat ia meraba saku bajunya, ia menemukan sebuah kartu nama yang terselip di sana. Kartu nama milik Devan Dirgantara.

Di balik kartu itu ada tulisan tangan yang rapi: *"Seekor serigala tidak akan pernah menjadi domba, meskipun dia tidur di kandang domba. Tetaplah tajam, Adelard."*

Adel menggenggam kartu itu erat. Ia menyeka air matanya.

"Benar," bisik Adel pada kegelapan kamar. "Ini bukan rumah. Ini medan perang. Dan aku tidak akan kalah dua kali."

Di lantai atas, di kamar mewahnya, Nyonya Siska sedang memandangi foto bayi Clarissa dengan tangan gemetar. Di dalam hatinya, sebuah keraguan mulai tumbuh, namun egonya terlalu besar untuk mengakuinya. Sementara itu, Tuan Mahendra sedang menelepon pengacara terbaiknya.

Malam itu, mansion Mahendra yang megah tampak tenang dari luar, namun di dalamnya, api dendam dan perebutan takhta telah resmi berkobar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!