NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17; Penulis Baru

Setelah konflik kreatif itu selesai, meja 7 berubah.

Nggak cuma jadi tempat Alya dan Revan curhat, tapi jadi kotak surat rahasia buat orang-orang yang nggak berani ngomong langsung.

Itu dimulai waktu seorang mahasiswi bernama Lintang ninggalin amplop cokelat di atas meja 7.

Di dalamnya ada surat tulis tangan 3 halaman, sama satu helai bunga kering.

_“Kak Alya,

Aku baca ‘Meja yang Tidak Kabur’ sambil nangis di kosan.

Aku juga pernah plagiat tugas kuliah karena kepepet deadline.

Aku takut ketahuan, takut dibenci, takut gagal.

Tapi baca bab terakhir, aku ngerti… jujur itu lebih sakit, tapi lebih lega.

Makasih udah nulis sesuatu yang bikin aku nggak ngerasa sendiri.

– Lintang, FKIP UGM”_

Alya baca surat itu sambil duduk di pangkuan Revan di dapur kafe.

Suaranya gemetar.

“Van… ada yang ngerti.”

Revan ngelus rambutnya.

“Katanya dulu kamu nulis buat satu orang aja. Sekarang satu orang itu jadi banyak.”

Minggu depannya, surat kedua datang.

Kali ini dari bapak ojek online langganan kafe, Pak Darno.

Tulisannya belepotan, tapi tulus.

_“Mbak Alya,

Aku nggak pinter baca buku. Tapi istriku beliin novel Mbak, katanya bagus.

Aku baca pelan-pelan. Ternyata ceritanya kayak hidupku.

Dulu aku hampir pisah sama istri karena gengsi.

Sekarang aku ngerti, minta maaf itu nggak bikin aku kecil.

Makasih ya Mbak. Meja 7 tempatnya enak buat mikir.

– Pak Darno”_

Alya tempel surat itu di papan kayu kecil di sudut kafe.

Judulnya: _“Surat untuk Meja 7”_.

Lama-lama, papan itu penuh.

Ada surat dari anak SMA yang baru putus cinta.

Dari ibu rumah tangga yang kangen kerja lagi.

Dari cowok yang akhirnya berani bilang “aku gay” ke keluarganya setelah baca bab 12.

Semua ditinggal diam-diam di meja 7, kayak titip curhat ke semesta.

---

Suatu malam, Alya duduk sendiri di meja 7 baca semua surat itu.

Revan keluar dari dapur bawa dua gelas susu panas.

Lihat Alya diem, dia duduk di sebelah, nggak ngomong.

“Gue ngerti sekarang,” kata Alya pelan.

“Kenapa Dara maksa gue nulis.”

Revan ngangguk.

“Karena ada orang yang butuh denger kata-kata kamu, meski kamu nggak kenal mereka.”

Alya ngelirik Revan.

“Kamu nggak cemburu? Semua orang curhat ke gue, bukan ke kamu.”

Revan ketawa.

“Cemburu sih enggak. Tapi gue cemburu kalau kamu lebih sayang susu panas daripada gue.”

Alya cubit pelan lengannya.

“Manja banget sih.”

Revan senyum miring.

“Strategi. Biar kamu nggak kabur baca surat orang lain.”

Mereka ketawa bareng.

Terus Alya narik tangan Revan, naruh di pipinya.

“Makasih ya. Udah tetap di sini waktu gue sibuk jadi tempat curhat orang.”

Revan kecup keningnya singkat.

“Gue nggak butuh kamu jadi tempat curhat orang lain.

Gue cuma butuh kamu jadi tempat pulang gue.”

Alya diem. Terus peluk lengan Revan erat.

“Deal. Kamu tempat pulang gue. Satu-satunya.”

---

Hari Sabtu, mereka bikin kotak kayu kecil di pojok kafe.

Tulisannya: _“Tinggalin Curhatmu di Sini. Meja 7 Dengerin.”_

Alya janji, tiap minggu dia bakal baca satu surat di Instagram kafe. Tanpa nyebut nama.

Responsnya luar biasa.

Banyak orang DM bilang, “Aku nangis dengerin itu. Rasanya kayak dibacain sama kakak.”

Malam itu, setelah kafe tutup, Revan buka kotak surat.

Di dalamnya ada satu amplop tanpa nama.

Isinya pendek banget:

_“Kak,

Aku mau nikah bulan depan.

Aku takut.

Tapi baca cerita Kakak, aku jadi berani bilang iya.

Makasih udah ngajarin aku buat tinggal.

– Penulis Baru”_

Alya baca itu, terus ngeliat Revan.

“Van…”

“Hmm?”

“Kayaknya kita harus cepet-cepet nikah juga. Biar nggak kalah sama ‘penulis baru’.”

Revan ketawa.

“Siap, Nyonya. Tapi lamaran harus di meja 7 ya. Biar adil.”

Alya nyengir.

“Deal. Tapi ciumannya harus lebih lama dari yang kemarin.”

Revan angkat alis.

“Tantangan diterima, Nyonya.”

---

Malam itu mereka tutup kotak surat, matiin lampu, dan duduk di meja 7 sambil pegangan tangan.

Di luar hujan turun pelan.

Di dalam, meja 7 nggak cuma jadi saksi cinta mereka.

Tapi jadi rumah buat ratusan orang yang lagi belajar buat nggak kabur.

Alya nyandar ke bahu Revan.

“Gue nggak nyangka ya… dari satu meja kecil, bisa jadi sebesar ini.”

Revan ngelus rambutnya.

“Karena kamu nggak pernah berhenti jujur, Al.

Dan orang jujur itu… bikin orang lain berani jujur juga.”

Alya ketawa kecil.

“Romantis banget sih kamu malam ini.”

Revan nyengir.

“Besok nikah, jadi wajar romantis.”

Alya pukul pelan dadanya.

“Belum nikah juga udah nggak sabaran.”

Revan ketawa.

“Ya namanya juga calon suami. Harus semangat.”

---

*[Bersambung: ]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!