NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Perangkap yang Tak Terlihat

Malam itu, strategi senyap yang dirancang Andini seketika memutar haluan pergerakan seluruh divisi khusus di Al-Fatih Group dan Nadir Label. Di bawah komando Farhan, tim legal beserta intelijen bisnis diminta menunjukkan gestur panik yang dibuat-buat di hadapan publik. Mereka sengaja membiarkan kabar burung mengenai keretakan internal dan tersendatnya produksi Nadir Label bocor hingga sampai ke telinga para informan yang bekerja untuk Wijaya Corps.

Sementara itu, di sebuah laboratorium tekstil rahasia milik Nadir Label yang terletak di kawasan industri Cikarang, Andini bersama tim peneliti asal Jerman bekerja dalam kesunyian yang mutlak. Mereka tengah menyempurnakan struktur kimia inti dari serat kain sutra anti-radiasi versi final yang kini diberi tajuk Nadir-Shield V.2.

Sangat berbeda dengan versi lama yang dicuri oleh Tante Sofia—yang memiliki kelemahan berupa serat kain yang rapuh serta berisiko memicu iritasi kulit jika terpapar panas matahari ekstrem—versi terbaru ini memanfaatkan polimer organik alami. Hasilnya, kain menjadi jauh lebih stabil, lentur, dan sepenuhnya aman bagi pemilik kulit sensitif.

Satu minggu berselang, umpan yang ditebar Farhan mulai menampakkan hasil. Pagi itu, ruang auditorium utama gedung Wijaya Corps di kawasan elite SCBD Jakarta sesak oleh puluhan wartawan ekonomi dan teknologi. Adrian Wijaya melangkah penuh percaya diri ke atas panggung dengan setelan jas abu-abu besutan desainer Eropa. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya saat ia berdiri di depan spanduk raksasa bertuliskan: Grand Launching: Wijaya-Armor Silk – Teknologi Serat Kain Masa Depan Pertama di Indonesia.

"Hari ini, Wijaya Corps membuktikan diri sebagai pionir sejati dalam inovasi tekstil medis dan fashion," ucap Adrian dengan suara lantang yang menggema di hadapan sorot kamera. "Kami telah resmi mendaftarkan hak paten internasional atas teknologi serat kain anti-radiasi ini. Kami sadar ada pihak lain yang mencoba meniru riset kami, namun hukum telah membuktikan siapa pemilik sah yang bergerak paling cepat."

Adrian sengaja melontarkan sindiran tajam yang jelas dialamatkan kepada Nadir Label tanpa menyebutkan nama secara eksplisit. Di layar monitor besar, ia memamerkan draf bagan struktur kimia kain yang ia dapatkan dari Tante Sofia, lengkap dengan sertifikat pendaftaran HKI yang terbit beberapa hari lalu.

Di saat bersamaan, melalui siaran langsung yang dipantau dari ruang kerja utama Al-Fatih Group, Andini dan Farhan duduk berdampingan menatap layar televisi. Di sana juga hadir Ahmad dan Citra yang turut mengamati situasi.

"Dia benar-benar menelan umpan kita tanpa ragu, Mas," bisik Andini seraya melipat tangan di depan dada. Senyum tipis yang anggun tersungging di bibirnya.

"Adrian terlalu jemawa. Dia mengira posisi kita sudah terdesak setelah penundaan tender CBD Menteng," sahut Farhan dengan binar mata tajam menyerupai elang yang siap menyergap mangsa. "Dia pikir paten itu sudah mengunci seluruh ruang gerak kita."

Farhan kemudian beralih menatap Ahmad. "Ahmad, bagaimana dengan persiapan tim?"

"Semua sudah matang, Pak Farhan," jawab Ahmad dengan nada mantap. "Firma hukum rekanan kita di Jerman telah mendaftarkan seluruh dokumen uji klinis resmi dan sertifikasi keamanan internasional untuk Nadir-Shield V.2 ke otoritas Eropa sejak tiga hari lalu. Dokumen tersebut mencantumkan tanggal riset final kita yang jauh lebih awal dibandingkan tanggal pendaftaran paten abal-abal milik Adrian."

Ahmad lantas menyodorkan sebuah berkas hitam ke hadapan Farhan dan Andini. "Dan yang paling krusial, tim laboratorium kita di Jerman sore ini akan merilis laporan ilmiah terbuka mengenai kegagalan struktur kimia versi lama yang digunakan Wijaya Corps. Kita akan membuktikan kepada dunia bahwa kain yang diproduksi Adrian berbahaya bagi kesehatan jika dikenakan dalam jangka panjang."

"Citra," panggil Andini kepada sahabatnya. "Pastikan semua draf rilis pers dan video testimoni dari para ahli tekstil independen sudah siap diunggah tepat tiga puluh menit setelah Adrian menutup konferensi persnya."

"Siap, CEO," jawab Citra dengan cengiran lebar. "Aku sudah tidak sabar melihat raut wajah 'Si Jagal' itu saat menyadari dia baru saja mematenkan produk cacat."

Kembali ke auditorium Wijaya Corps, Adrian baru saja turun dari panggung setelah sesi tanya jawab yang menurutnya berjalan sempurna. Ia melangkah menuju ruang kerja pribadinya di lantai atas dengan tegap, didampingi oleh sekretarisnya.

"Bagaimana pergerakan saham Al-Fatih Group sore ini?" tanya Adrian sembari menuangkan minuman ke dalam gelas kaca.

"Terjadi penurunan sekitar 1,5 persen akibat sentimen penundaan proyek CBD Menteng, Tuan Adrian," lapor sang sekretaris. "Rencana Anda untuk menyudutkan mereka lewat isu paten ini tampaknya berhasil membuat para investor ragu."

Adrian terkekeh pelan, menyesap minumannya dengan perasaan puas. "Farhan Al-Fatih mungkin merasa bisa mengendalikan Jakarta dengan nama besarnya. Namun ia lupa bahwa dalam bisnis modern, siapa yang memegang informasi, dialah yang berkuasa. Perintahkan tim marketing untuk segera menggenjot kontrak pra-penjualan kain ini ke rumah sakit dan lini fashion di seluruh Asia Tenggara."

Namun, kebahagiaan Adrian hanya seumur jagung. Tepat dua puluh menit kemudian, pintu ruang kerjanya digedor dengan keras. Kepala Divisi Humas Wijaya Corps masuk dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal, jemarinya gemetar memegang sebuah sabak digital.

"Tuan Adrian! Kita... kita dalam situasi darurat!" seru pria itu dengan nada panik.

Adrian mengerutkan kening, merasa terganggu. "Ada apa? Jaga sikapmu, jangan bertingkah seperti amatiran."

"Nadir Label baru saja merilis pengumuman global, Tuan!" Kepala Humas itu meletakkan perangkatnya di atas meja kerja Adrian. "Mereka tidak membantah paten kita. Sebaliknya, mereka justru meluncurkan versi final bernama Nadir-Shield V.2 yang sudah mengantongi sertifikasi lolos uji klinis tingkat tertinggi dari laboratorium federal di Berlin, Jerman!"

Adrian menyambar sabak tersebut, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris rilis pers internasional dari Nadir Label. Jantungnya berdegup kencang saat melihat poin berikutnya dalam pengumuman itu.

Terpampang sebuah video penjelasan ilmiah dari profesor komite tekstil Eropa yang menyatakan bahwa struktur kimia kain yang baru saja dipatenkan oleh Wijaya Corps sore ini—yang polimernya menggunakan data lama hasil curian Tante Sofia—merupakan formula gagal. Jika terkena radiasi panas matahari yang ekstrem di negara tropis, kain tersebut akan melepaskan senyawa kimia beracun yang memicu luka bakar serta iritasi akut pada kulit.

Di bagian akhir rilis pers, Andini Larasati selaku CEO Nadir Label memberikan pernyataan video pendek yang sangat tenang namun menghujam:

"Nadir Label selalu menempatkan keselamatan dan kemanusiaan di atas sekadar kecepatan bisnis. Kami mengimbau kepada seluruh calon mitra dan masyarakat untuk waspada terhadap produk tiruan yang menggunakan draf formula gagal dari riset awal kami, yang telah kami buang karena tidak memenuhi standar keselamatan."

Prangg!

Gelas kaca di tangan Adrian terlepas, hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Rona di wajah direktur utama Wijaya Corps itu seketika sirna, berganti dengan gurat kemarahan dan syok yang luar biasa.

Ia baru saja tersadar bahwa konferensi pers megah yang ia gelar sore itu bukanlah puncak kemenangannya, melainkan sebuah panggung jebakan tak kasatmata yang sengaja disiapkan oleh Andini dan Farhan untuk mempermalukannya dan meruntuhkan reputasi Wijaya Corps di mata dunia internasional.

1
falea sezi
ending nya suka😍
Sahabat Oleng
Aku udah mampir nih thor 😇
Semangat 💪
banana cookie
Banyak konflik menarik namun tidak membuat bosan. Karakter Andini memberikan contoh agar wanita tidak mudah disepelekan dan harus bisa berdaya untuk dirinya dan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!