NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Makasih Angga~

Selesai sarapan.

Piring-piring sudah bersih di wastafel. Angga yang membereskannya, seperti biasa. Adea hanya membantu dengan mengelap meja makan sambil bersiul kecil tidak jelas nadanya.

"Udah selesai, berangkat yuk," ucap Angga sambil melepas celemek birunya dan menggantungnya di belakang pintu dapur.

"Iyee~"

Adea sudah melesat ke luar rumah sebelum Angga sempat mengatakan apa-apa lagi.

---

Pekarangan rumah kecil itu terasa sejuk di pagi hari. Matahari belum terlalu tinggi, embun masih menempel di daun-daun petunia ungu dan mawar merah yang Adea tanam dengan penuh cinta.

Gadis itu berjongkok di samping pot-pot bunga, selang hijau di tangannya, menyirami tanaman satu per satu dengan hati-hati. Air menyembur lembut, membasahi tanah dan sedikit dedaunan.

"Udah pada minum ya, jangan layu-layu lagi," bisik Adea pada bunganya, seperti biasa.

Dari dalam rumah, Angga muncul dengan jaket kulitnya yang khas. Ia membawa tas ransel besar di punggung, helm biru Adea di tangan kirinya.

Ia melihat ke arah Adea. Gadis itu masih asyik menyiram, jemarinya menyentuh kelopak mawar dengan lembut. Wajahnya tenang. Matanya penuh kasih sayang.

Angga berhenti sejenak di teras. Menonton.

Dia cantik kalau lagi begini, pikirnya.

Tapi ia tidak pernah mengatakannya.

"Dea, udah! Berangkat!" panggilnya akhirnya.

Adea menoleh. Tersenyum. Lalu melepaskan selang begitu saja.

Angga berjalan mendekat dan mematikan keran air dengan gerakan cepat. Tidak ada air yang terbuang sia-sia. Kebiasaan yang diajarkan Adea padanya sejak dulu.

---

Adea sudah berdiri di samping motor, jari-jarinya bermain-main dengan ujung rok seragamnya. Tingginya baru mencapai bahu Angga, dan dengan helm biru di tangannya, ia terlihat seperti anak SMA yang ikut antar jemput kakaknya.

Bukan. Bukan kakak.

Angga mendekat. Dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia membuka kaca helm biru itu dan memasangkannya ke kepala Adea.

"Ditekuk dikit," perintahnya pelan.

Adea menunduk sedikit. Angga mengencangkan tali helm di bawah dagu gadis itu, tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar. Pas. Seperti semua hal yang ia lakukan untuk Adea.

"Naik."

Ia mengangkat Adea dengan kedua tangan di pinggang gadis itu, mengangkatnya ringan seperti menempatkan boneka di atas jok belakang. Adea duduk dengan mulus, kakinya yang pendek menggantung tidak menyentuh footstep dengan sempurna.

Tapi itu tidak masalah. Yang penting ia sudah duduk.

Angga baru akan naik ketika-

"Meong~"

Cumi keluar dari balik pintu. Kucing abu-abu gembul itu berjalan pelan mendekati kaki Angga, lalu menggesekkan tubuhnya ke celana jins pria itu sambil mendengkur halus.

"Cumi..." Angga tersenyum kecil.

Ia jongkok. Tangannya yang besar mengelus bulu lebat Cumi dari kepala hingga ekor. Kucing itu menutup mata, menikmati setiap sentuhan.

"Cumi diam di sini ya," bisik Angga lembut. "Jagain rumah. Jangan buka pintu buat orang asing."

Cumi mengeong sekali, seperti mengerti.

Adea dari atas motor tertawa kecil. "Cumi kan kucing, bukan anjing, Angga."

"Dia pinter," balas Angga singkat sambil berdiri.

Ia memasang helmnya sendiri, helm hitam polos tanpa motif. Lalu naik ke motor. Mesin Ninja ZX menyala dengan suara berat yang menggelegar sebentar sebelum akhirnya stabil menderu pelan.

Adea langsung merapat. Tangannya melingkar di perut Angga, memeluk erat.

"Dadaaa~ Cumiii~" Adea melambai ke belakang dengan satu tangan, tangan satunya tetap memegang erat jaket kulit Angga.

Cumi duduk manis di teras rumah, ekornya melingkar di kaki, matanya yang bulat kuning mengikuti motor hitam itu perlahan meninggalkan pekarangan.

"Meong..." suara Cumi pelan, seolah berbisik hati-hati di jalan.

---

Motor melaju pelan melewati jalan kampung yang masih sepi.

Pepohonan rindang di kanan-kiri. Udara pagi Lombok yang segar masuk melalui celah helm. Sesekali Angga membelokkan motornya menghindari lubang, dan setiap kali itu terjadi, Adea memeluknya lebih erat.

"Angga."

"Hm?"

"Makasih ya... buat sarapan."

"Biasa aja."

"Dan... buat semuanya."

Angga tidak menjawab.

Tapi di balik kaca helm hitamnya, ia tersenyum.

Di belakangnya, Adea mengubur wajahnya di punggung Angga. Jaket kulit itu sedikit dingin, tapi di baliknya, ia bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu.

Ia memejamkan mata sejenak.

"Angga," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.

"Apa?"

"Gue... gue seneng tinggal sama lu."

Angga terdiam beberapa detik.

Lalu tangannya yang kiri turun sebentar, menyentuh jemari Adea yang melingkar di perutnya. Hanya sebentar. Lalu kembali ke setang.

"Gue juga, Dea."

Motor melaju lebih cepat sedikit.

Di kejauhan, gedung fakultas Universitas Mataram mulai terlihat.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!