NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI SUCI DAN KEBAHAGIAAN UTUH

Matahari pagi itu terbit begitu indah, menyinari langit dengan cahaya keemasan yang hangat. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu, hari di mana semua doa, rencana, perjuangan, dan rasa rindu bersatu menjadi kenyataan. Di rumah Pak Bimo, hiasan tarub dan janur melambai indah ditiup angin, seolah ikut menyapa dan merayakan datangnya hari bahagia itu.

Sejak pukul lima pagi, rumah itu sudah ramai sekali. Suara riuh rendah persiapan, tawa bahagia, dan doa-doa baik terdengar dari segala penjuru. Di tengah kesibukan itu, Intan sudah berdiri siap di sisi Arum. Sebagai sahabat sekaligus tetangga dekat, Intan tidak pernah lepas dari sisi Arum. dia yang membantu mengenakan pakaian terakhir, merapikan hiasan di rambut sahabatnya, dan memastikan tidak ada satu pun yang kurang. Arum duduk diam di kamarnya, mengenakan busana adat yang sangat megah dan anggun, wajahnya bersinar cantik bak bidadari, namun matanya berkaca-kaca menahan debaran jantung yang tak beraturan.

"Cantik banget, Rum... Kamu beneran jadi pengantin paling cantik hari ini. Tenang aja ya, aku di sini terus sama kamu. Nggak ke mana-mana," bisik Intan sambil menggenggam tangan Arum yang terasa dingin karena gugup.

Di ruang tengah dan halaman, Ibu Intan terlihat sibuk membantu Bu Saras mengatur jamuan dan menyambut kerabat yang datang lebih awal. Dia tersenyum lebar, sangat bahagia melihat putri sahabatnya bersinar begitu indah, namun ia tahu tempatnya. Dia hanya ada untuk membantu, untuk meringankan beban keluarga pak Bimo dan bu Saras, dan menjadi saksi kebahagiaan besar ini.

Begitu juga dengan Bapak Intan, berdiri gagah di samping Pak Bimo, memastikan keamanan, kenyamanan tempat duduk, dan kelancaran jalannya acara. Ia bekerja sekuat tenaga seolah ini pesta anaknya sendiri, namun tetap tahu diri, hanya sebagai tetangga dan sahabat yang tulus membantu.

Di sisi lain, di antara rombongan keluarga Angkasa, ada Dewa yang sibuk mengatur tamu dan saksi. Namun, di sela-sela kesibukannya, mata Dewa seolah punya jalur sendiri. Setiap kali ia berpapasan atau melihat ke arah sisi keluarga wanita, matanya selalu mencari sosok Intan.

Entah sudah berapa lama Dewa menaruh hati pada sahabat dekat Arum itu, dan hari ini, di tengah kemeriahan pernikahan sahabatnya sendiri, Dewa makin bertekad untuk makin mendekatkan diri. Sesekali saat Intan lewat membawa nampan minuman, Dewa segera menyambar kesempatan itu, mendekat dan tersenyum jahil namun sopan.

"Rajin banget sih Mbak Intan? Cantik, rajin, baik lagi... udah ada yang punya belum nih?" goda Dewa pelan, membuat Intan kaget dan langsung menunduk malu sambil menepuk pelan lengan Dewa.

"Mas Dewa ini ada-ada aja. Bantuin dong, malah godain orang," jawab Intan sambil berlalu pergi, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan dari wajah merah merona. Dewa hanya tertawa puas, melihat punggung Intan yang menjauh dengan perasaan berbunga-bunga.

Pukul delapan pagi tepat, iring-iringan rombongan Angkasa tiba. Suara alunan musik tradisional dan suara sorak-sorai warga menyambut kedatangan mereka. Angkasa berjalan di barisan paling depan, mengenakan pakaian serasi dengan Arum, tampak gagah, berwibawa, namun terlihat sangat tenang dan tulus.

Di sebelah kanan dan kirinya berjalan Bapak dan Ibu Dewa, orang tua yang selama ini membesarkan dan mendampinginya, yang hari ini berdiri bangga mewakili keluarga kandung Angkasa sebagai wali nikah.

Angkasa masuk ke ruang tengah yang sudah tertata sakral. Di sana, di hadapan penghulu, para saksi, keluarga besar, dan orang-orang yang menyayangi mereka, Angkasa berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena bahagia yang meluap-luap. Ia melirik sekilas ke arah tirai tempat Arum bersembunyi, dan hatinya berbisik: "Aku di sini, Sayang. Aku datang menjemputmu."

Prosesi Akad Nikah pun dimulai. Suasana menjadi hening total, penuh rasa takzim dan doa. Penghulu membuka dengan kalimat sakral, menjelaskan makna pernikahan, tanggung jawab seorang suami, dan keberkahan ikatan ini.

Saat momen paling puncak tiba, saat pak Bimo selaku wali nikah mewakilkan dan menyerahkan Arum kepada Angkasa, suara Angkasa terdengar lantang, tegas, jelas, dan bergetar penuh rasa haru saat mengucapkan kalimat sakral itu:

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Arum Sekarwangi binti Bimo, dengan mas kawin tersebut, tunai..."

Satu kalimat itu mengubah segalanya. Satu kalimat itu mengikat dua hati yang dulu saling mencari, yang pernah terpisah, yang pernah ragu, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sampai kapan pun.

Seketika itu juga, suara "SAH!" bergema dari mulut para saksi dan seluruh hadirin yang ada di ruangan itu. Tepuk tangan dan ucapan selamat terdengar riuh, disusul lantunan shalawat yang merdu. Air mata haru menetes di mana-mana. Bapak Dewa dan Ibu Dewa langsung memeluk Angkasa dengan bangga dan bahagia. Pak Bimo dan Bu Saras saling berpelukan sambil menangis haru.

Di balik tirai, Arum yang mendengar suara tegas suaminya itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis terharu tak kuasa menahan bahagia. Intan langsung memeluk sahabatnya itu erat-erat, ikut menangis bahagia, namun tetap menjadi pendamping setia di sisi.

Di sudut ruangan, Bapak Intan dan Ibu Intan tersenyum lebar sambil mengusap air mata sendiri, merasa sangat bahagia hanya dengan menyaksikan momen indah itu, merasa cukup hanya dengan menjadi bagian dari orang-orang yang membantu mewujudkan kebahagiaan ini.

Setelah akad selesai dan sah, tibalah momen Sungkeman, prosesi penghormatan dan permohonan doa restu kepada orang tua kandung dan keluarga terdekat. Karena orang tua Arum masih lengkap dan utuh, sungkeman dilakukan secara berurutan hanya kepada mereka dan keluarga inti.

Arum dibawa keluar dari balik tirai, kini ia sudah bukan lagi gadis biasa, tapi sudah menjadi Nyonya Angkasa. Ia berjalan perlahan menuju pelaminan, di mana Angkasa sudah berdiri menunggunya dengan tatapan yang tak bisa lepas, tatapan penuh cinta, rasa syukur, dan rasa bangga yang tak terhingga.

Saat mata mereka bertemu untuk pertama kalinya hari ini, saat mereka berdua sudah sah menjadi suami istri... rasanya dunia berhenti berputar sejenak. Semua rasa rindu, semua perjuangan, semua malam-malam panjang... terbayar lunas saat itu juga.

Mereka berdua berjalan beriringan menghadap Pak Bimo dan Bu Saras, orang tua kandungnya. Di sini momen terharu terjadi.

Dengan penuh hormat dan ketulusan, mereka bersimpuh di kedua kaki orang tua Arum. Arum yang sudah menangis sejak tadi, kini makin tersedu-sedu. Ia memegang lutut ibunya, lalu ayahnya, menundukkan kepala serendah mungkin.

"Bunda...Ayah... Maafin Arum kalau selama ini banyak salah, banyak kurangnya. Makasih sudah besarkan Arum, makasih kasih sayang seumur hidup. Hari ini Arum pamit, Arum dibawa sama Mas Angkasa. Doain Arum ya, Bun...Yah... Biar jadi istri yang baik, jadi istri yang berbakti, rumah tangganya bahagia dan berkah..." ucap Arum di sela isak tangisnya, suaranya terdengar sangat menyentuh hati.

Bu Saras dan Pak Bimo pun menangis terharu, membelai kepala putri kesayangan mereka, lalu memeluknya erat.

"Anakku... Putriku... Bahagia terus ya, Nak. Jangan lupa sama orang tua, jangan lupa jalan pulang. Kamu anak baik, kamu pantas bahagia. Jaga diri baik-baik, jaga rumah tanggamu.Ayah sama Bunda selalu doain kamu dari sini, selalu bangga sama kamu," ucap Bu Saras sambil mencium kening Arum berkali-kali.

Kemudian giliran Angkasa. Ia pun bersimpuh dengan sangat rendah hati di hadapan mertuanya, yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.

"Ayah, Bunda.. Angkasa minta maaf kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan. Angkasa minta doa restu, izin bawa Arum. Angkasa janji, demi Tuhan, Angkasa bakal jagain Arum lebih dari nyawa sendiri. Angkasa bakal kasih bahagia, kasih hidup yang layak, dan jadi suami yang bertanggung jawab seumur hidup. Angkasa anggap Ayah sama bunda kayak orang tua kandung sendiri, rumah ini tetap rumah Angkasa juga," ucap Angkasa dengan suara tegas namun bergetar, matanya penuh kesungguhan.

Pak Bimo mengusap bahu menantunya itu dengan bangga. "Kami percaya sama kamu, Nak. Kami serahkan apa yang paling berharga buat kami ke tangan kamu. Kami tau kamu laki-laki baik. Jaga dia ya, selamanya."

Setelah itu, mereka berdua beralih bersimpuh di hadapan Bapak dan Ibu Dewa, orang tua yang membesarkan Angkasa, yang hari ini menjadi wali dan keluarga utama. Di sini tangis Angkasa pecah. Ia yang hidup sebatang kara, kini punya dua pasang orang tua yang menyayanginya.

"Bapak, Ibu... Makasih buat semuanya. Tanpa Bapak sama Ibu, saya nggak bakal sampai di titik ini. Makasih udah anggap saya anak sendiri, makasih kasih sayang yang nggak terhingga. Saya janji bakal bikin Bapak sama Ibu bangga, bakal jaga Arum sebaik mungkin," ucap Angkasa, tak kuasa menahan haru.

Bapak dan Ibu Dewa langsung menarik tubuh Angkasa dan Arum ke dalam pelukan hangat, memeluk mereka berdua bersamaan. "Anak-anak kami... Bahagialah selalu. Ini kebahagiaan kami juga lihat kalian bersatu. Jaga satu sama lain, saling mengerti, dan selalu ingat Tuhan. Kami ada di sini buat kalian selamanya."

Sementara prosesi sungkeman berlangsung sakral itu, di sisi pelaminan, Intan berdiri mengapit Arum dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya, Bapak Intan dan Ibu Intan hanya tersenyum haru dan mengangguk-anggukkan kepala tanda ikut mendoakan.

Di sela-sela jeda acara, saat suasana agak longgar, Dewa yang berdiri di sisi keluarga Dewa kembali menyempatkan diri mendekat ke arah Intan yang sedang mengelap air mata haru.

"Terharu banget ya, Mbak? Sampai nangis gitu," bisik Dewa pelan sambil menyodorkan selembar tisu.

Intan menoleh, menerima tisu itu sambil tersenyum malu. "Iya... seneng banget lihat Arum akhirnya bahagia. Rasanya kayak mimpi."

Dewa menatap wajah Intan lekat-lekat, nadanya berubah jadi lebih lembut dan serius. "Nanti giliran kamu ya, Intan. Aku juga pengen lihat kamu bahagia kayak gini... bahkan lebih bahagia lagi. Nanti kalau saatnya tiba, aku mau jadi orang pertama yang bakal bahagiain kamu kayak gini."

Intan terdiam, pipinya memerah merona hebat mendengar ucapan yang mengandung makna mendalam itu. Ia buru-buru menunduk dan kembali memfokuskan diri ke acara, tapi hatinya berdebar kencang. Dewa tersenyum puas, kembali ke tempatnya dengan perasaan makin yakin.

Matahari sudah berada di tengah langit, sinarnya terang benderang menyinari halaman rumah yang kini penuh sesak oleh tamu undangan. Waktu untuk Resepsi atau Temu Manten pun tiba. Suasana yang tadinya hening dan haru, kini berubah menjadi sangat meriah, ceria, dan penuh sukacita.

Angkasa dan Arum duduk berdampingan di pelaminan besar yang indah, tampak serasi, anggun, dan bak pangeran serta putri dalam dongeng. Di sebelah mereka duduk kedua pasang orang tua: Pak Bimo,Bu Saras, di sebalah Arum dan Bapak Dewa-Ibu Dewa disebelah Angkasa. Di sisi kiri dan kanan pelaminan, berdiri para pengapit, dan di posisi paling depan dekat Arum, berdiri Intan yang senyumnya tak pernah lepas dari wajah, bangga sekali melihat sahabatnya bersinar begitu terang. Di sisi lain, Bapak Intan dan Ibu Intan duduk di barisan tamu kehormatan terdepan, ikut tersenyum bangga dan menikmati kebahagiaan itu.

Acara resepsi dimulai dengan penyambutan tamu undangan. Satu per satu kerabat, tetangga, teman, dan kenalan datang bersalaman, memberi selamat, dan mendoakan kebahagiaan mereka. Angkasa dan Arum menundukkan pandangan dengan sopan, menerima ucapan selamat itu dengan senyum bahagia dan penuh rasa syukur.

Di tengah acara resepsi, dilangsungkan beberapa prosesi adat yang penuh makna, seperti Kacar-Kucur dan Dulangan.

Prosesi Kacar-Kucur dilakukan oleh orang tua Arum, simbol penyerahan rezeki dan harapan agar pasangan pengantin nanti hidup berlimpah, saling memberi, dan saling berbagi. Pak Bimo dan Bu Saras menaburkan beras, jagung, kacang-kacangan, dan uang logam ke depan kaki Angkasa dan Arum, diiringi doa agar rumah tangga mereka subur, makmur, dan berkah.

Kemudian dilanjutkan dengan Dulangan, simbol saling berbagi rezeki dan kasih sayang. Angkasa menyuapi Arum, lalu Arum menyuapi Angkasa. Momen ini terlihat sangat manis, penuh tawa, dan membuat semua tamu tersenyum melihat keakraban mereka. Saat Arum menyuapi suaminya, Angkasa sempat berbisik pelan yang hanya bisa didengar Arum:

"Makasih ya, Sayang... Akhirnya beneran jadi istri aku. Kita jalani semuanya bareng ya mulai sekarang."

Arum hanya membalas dengan senyum malu-malu namun sangat bahagia, matanya berbinar penuh cinta.

Sepanjang acara resepsi itu, Intan tidak pernah jauh-jauh. Dia yang membantu merapikan kain pengantin, dia yang memberi tanda kalau ada tamu yang butuh perhatian, dia yang selalu ada di samping Arum untuk menopang kebahagiaan sahabatnya itu. Begitu juga Bapak Intan dan Ibu Intan, ikut mengatur tamu, membantu keluarga, dan merasa bahagia hanya dengan menjadi bagian dari penyaksian hari bersejarah ini.

Sore perlahan menjelang. Cahaya matahari mulai miring, menyinari pelaminan dan kedua mempelai dengan keemasan yang indah. Semua acara sudah selesai, semua tamu sudah pulang, semua ucapan selamat sudah diterima.

Angkasa dan Arum duduk berdua sejenak di beranda rumah, melepas lelah namun hati mereka justru terasa sangat ringan dan penuh. Angkasa menggenggam tangan istrinya erat sekali, menatap cincin di jari manis Arum yang kini sudah sah selamanya.

"Capek ya, Sayang? Tapi bahagia banget kan?" tanya Angkasa lembut, mengusap pipi Arum.

Arum menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, mengangguk pelan. "Bahagia banget, Mas. Lebih dari yang aku bayangkan. Semuanya indah... Orang tua kita, Intan sama Bapak Ibu Intan yang udah bantuin luar biasa, Dewa... semua orang... Semuanya baik banget sama kita. Aku ngerasa jadi orang paling beruntung sedunia."

Angkasa tersenyum, mencium kening istrinya dalam-dalam. "Aku juga, Sayang. Dulu aku cuma punya tato nama kamu di lengan, cuma punya mimpi. Sekarang? Aku punya kamu, aku punya keluarga, aku punya rumah. Kamu bikin semuanya jadi lengkap. Perjalanan kita panjang banget ya, dari buku catatan yang tertukar, sampai di sini... jadi suami istri."

Arum mengangkat wajahnya, menatap mata Angkasa lekat-lekat. "Perjalanan kita belum selesai kok, Mas. Ini baru awal. Kita bakal jalan bareng terus, melewati hari-hari senang, susah, sedih, dan bahagia sampai kita tua nanti."

Angkasa mengangguk mantap, genggamannya makin erat. "Iya, Sayang. Sampai kapan pun. Aksara nama kamu di lengan aku ini, dan nama kamu yang sekarang ada di hati dan hidup aku... nggak bakal pernah hilang selamanya."

Di kejauhan, terlihat Dewa dan Intan sedang berdiri berdua di dekat gerbang, mengobrol sambil tersenyum-senyum sendiri, seolah kisah cinta baru sedang perlahan tumbuh di samping kebahagiaan besar ini. Bapak Intan dan Ibu Intan serta kedua orang tua mereka melihat itu sambil tersenyum penuh makna.

Kisah cinta Angkasa dan Arum yang dimulai dari pertemuan tak terduga, penuh rintangan, rindu, dan ujian, kini telah berubah menjadi kisah rumah tangga yang indah, sakral, dan penuh berkah

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!