Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 20
Mahesa tidak peduli pada tatapan karyawan yang berderet di sepanjang koridor, pun pada bisik-bisik yang mulai memenuhi lorong kantor. Dengan langkah lebar, dia menerobos keluar lobi menuju parkiran khusus. Wajahnya yang dingin dan rahangnya yang mengeras menjadi tameng bagi siapa pun yang berani melayangkan tatapan ingin tahu.
Begitu sampai di mobil, Mahesa mendudukkan Inara dengan sangat hati-hati di kursi penumpang depan. Dia bahkan tidak segan-segan memasangkan sabuk pengaman untuk wanita itu, meskipun tangan Inara berusaha menepisnya dengan gerak yang lemah.
"Jangan menyentuhku," bisik Inara.
Suaranya parau. Kepalanya bersandar di kaca jendela yang dingin, menghindari menatap wajah suaminya.
Mahesa tidak menjawab. Dia memutari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan segera memacu kendaraannya membelah kemacetan kota dengan kecepatan yang terukur namun pasti.
Di dalam mobil, suasana terasa sesak oleh keheningan. Mahesa sesekali melirik ke arah Inara yang memejamkan mata. Dia menyalakan penghangat kabin agar Inara tidak menggigil, lalu merogoh ponselnya, membatalkan semua pertemuan penting hari itu dengan satu kalimat perintah yang singkat kepada sekretarisnya.
Sesampainya di rumah, Mahesa kembali menggendong Inara masuk ke dalam kamar utama. Dia merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang dengan penuh kelembutan. Hal yang selalu membuat hati Inara berde-nyut. Dia tak paham dengan perasaan Mahesa padanya. Apalagi di saat seperti ini.
"Aku akan menyiapkan air hangat untuk mengompresmu sambil menunggu Dokter Tirta datang!" ujar Mahesa, suaranya kini terdengar tulus, tanpa ada lagi nada memerintah atau tuduhan.
Namun, perhatian itu justru memicu ledakan emosi di dada Inara. Dia membuka matanya, menatap punggung Mahesa yang tengah sibuk menyiapkan handuk di kamar mandi.
"Kenapa harus sekarang, Mahesa?" tanya Inara tiba-tiba bahkan kedua matanya tak mampu membendung air mata. Padahal dia berusaha menjadi kuat di depan Mahesa. Tapi kenapa pertahanannya selalu runtuh?
Mahesa berhenti di ambang pintu kamar mandi, menoleh perlahan.
"Kenapa apa?"
"Kenapa harus berpura-pura peduli?" Inara mendudukkan dirinya dengan susah payah, wajahnya yang pucat kini memerah karena luapan emosi yang menahan sesak.
"Tadi pagi kamu mengabaikanku demi Clarissa. Siang tadi kamu menghinaku di depan semua orang. Dan sekarang? Kamu memperlakukanku seolah aku adalah prioritas utamamu?" Inara tertawa getir, suaranya bergetar.
"Perhatianmu ini lebih menyakitkan daripada penghinaanmu padaku. Ini membingungkan. Kamu memperlakukanku seperti sampah saat aku butuh perlindungan, dan sekarang kamu berusaha menjadi pahlawan saat aku sudah terlalu lelah untuk berharap."
Mahesa mendekat, mencoba menyentuh bahu Inara, namun wanita itu menghindar seolah sentuhan Mahesa adalah api yang membakar kulitnya.
"Jangan banyak bicara dan marah-marah malah akan semakin membuat Kamu demam!" bisik Mahesa.
Cup
Sebelum pergi bahkan Mahesa mencium kening Inara. Inara tak sempat menghindar karena Mahesa melakukannya dengan cepat. Inara membulatkan mata karena kesal. Dia marah kepada respon tubuhnya yang bahkan malah merasa tenang dengan ciuman di kening oleh Mahesa.
"Aku akan segera kembali!" ujar Mahesa sebelum menutup pintu kamar.
"Kenapa? Kenapa kamu harus perhatian padaku Mas? Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku? Kamu benar-benar membuatku bingung! Aku benci! Aku benci pada diriku yang malah masih mengharapkan sedikit cinta dan kasih sayang darimu. Padahal sudah jelas tak ada sedikitpun celah di hatimu yang sudah di penuhi Clarissa untukku!" Inara kembali menangis.
Mahesa masuk kembali ke kamar dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Wajahnya yang semula tampak khawatir kini mengeras seketika saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama Clarissa menyala terang di layar, seolah sedang menantang suasana genting di dalam kamar itu.
Inara, yang masih terisak, menatap layar ponsel itu dengan tatapan benci sekaligus luka yang teramat dalam. Mahesa melirik ponsel itu, lalu menatap Inara yang gemetar menahan demam. Tanpa ragu, dia menyambar ponselnya dan menjawab panggilan itu dengan nada dingin yang menusuk.
"Apa?" tanya Mahesa tanpa basa-basi.
Suara manja Clarissa terdengar di seberang sana, meskipun teredam oleh suara speaker yang sengaja tidak dinyalakan Mahesa. Namun, Inara bisa melihat perubahan rahang Mahesa yang kembali mengeras.
"Aku sedang sibuk. Jangan telepon lagi," ujar Mahesa ketus.
"Tapi, Mahesa tadi kita belum selesai bicara soal..."
"Aku bilang, aku sibuk, Clarissa!" potong Mahesa tajam.
Lalu Mahesa mematikan sambungan secara sepihak dan mematikan daya ponselnya.
Dia meletakkan ponsel itu di meja dengan pelan, lalu berbalik menatap Inara. Dia sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. Seolah dunia di luar sana termasuk Clarissa. Tidak lagi memiliki arti dibandingkan dengan suhu tubuh Inara yang panas.
Mahesa duduk di tepi ranjang. Dia memeras handuk hangat itu dengan tangan besarnya yang kini terasa begitu lembut.
"Berbaringlah, Inara," perintahnya pelan.
"Jangan," Inara menarik selimut, menutupi separuh wajahnya.
Dia tidak ingin disentuh, dia tidak ingin merasa luluh oleh perhatian palsu yang baginya hanya akan menjadi racun di kemudian hari.
"Simpan perhatianmu untuk dia. Jangan buat aku merasa berharga hanya untuk dibuang lagi besok. Aku bisa melakukannya sendiri!"
Mahesa menghela napas panjang. Dia tidak memaksakan tangannya untuk menyentuh Inara kali ini. Dia meletakkan handuk hangat itu di sisi bantal, tepat di samping kepala Inara.
"Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan tentangku saat ini," suara Mahesa rendah, nyaris seperti gumaman yang penuh penekanan.
"Kamu bisa membenciku, kamu bisa menganggapku sampah, atau menganggap perhatian ini sebagai sandiwara. Tapi jangan pernah minta aku untuk membiarkanmu sakit sendirian di depanku."
Mahesa menatap mata Inara yang sembab, menahan luapan emosi yang tertahan di tenggorokannya.
"Soal Clarissa itu urusanku. Dan soal kamu..." Mahesa menggantung kalimatnya, menatap lekat-lekat ke arah Inara seolah sedang berusaha mencari sesuatu di balik kilatan amarah di mata wanita itu.
"Kamu adalah istriku. Seburuk apa pun aku, aku tidak akan membiarkanmu hancur karena kelalaianku."
"Aku sudah kamu han-curkan, Mas!"
Inara terdiam, dadanya naik turun menahan isak. Dia kepada Mahesa dan juga kepada dirinya sendiri. Dia benci dengan kelemahannya yang begitu mencintai Mahesa, Suaminya. Selama pernikahan selalu berharap Mahesa melihatnya sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri yang mencintainya.
Mahesa tidak menanggapi kalimat terakhir Inara. Dia tahu, jika dia terus berdebat, Inara akan semakin terkuras tenaganya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Mahesa menarik selimut yang menutupi wajah istrinya, lalu mengambil handuk hangat yang tadi dia letakkan di sisi bantal.
Inara memalingkan wajah, matanya terpejam rapat, berusaha mengabaikan kehadiran pria itu. Namun, ketika handuk hangat itu menyentuh keningnya dengan tekanan yang begitu lembut dan penuh ketelitian, pertahanan Inara kembali goyah. Ada kehangatan yang menjalar, bukan hanya dari air hangat di handuk itu, tapi dari cara Mahesa memperlakukannya. Seolah-olah Inara adalah benda yang sangat rapuh dan berharga.
"Diamlah, Inara. Jangan memaksa dirimu untuk terus bicara," gumam Mahesa datar.
Meski tangannya tak berhenti mengusap kening dan pelipis Inara dengan gerakan yang menenangkan.
Inara tidak merespons, namun napasnya yang semula tersengal-sengal perlahan mulai beraturan. Dia terjebak dalam perang batin, benci karena perlakuan Mahesa yang berubah-ubah, namun juga tak berdaya menolak perhatian yang selama ini ia idamkan. Setiap kali Mahesa membilas handuk itu di baskom, dia melakukannya dengan telaten. Seolah dia adalah suami idaman selama ini.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭