Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"M-maaf, Pak Adrian. Saya tidak bermaksud—"
"Satu hal lagi," potongku cepat, tidak sudi mendengar pembelaan dirinya. Aku bersandar pada kursi kebesaranku, menatap pintu masuk ruang kerjaku sejenak sebelum kembali menatapnya dengan perintah yang mutlak. "Nanti, kalau ada staf administrasi bernama Aruna Prameswari datang ke sini, langsung suruh dia masuk. Jangan ditahan, jangan ditanya macam-macam. Mengerti?"
Ariana tampak terkejut mendengar nama Aruna disebut olehku, tapi ketakutannya pada amarahku membuatnya langsung mengangguk patuh dengan cepat.
"B-baik, Pak. Mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya terburu-buru, melangkah keluar ruangan dengan wajah masam dan langkah yang dihentak kesal.
Begitu pintu ruanganku tertutup rapat, aku menghembuskan napas panjang. Aku melirik jam tangan pintuku. Sudah jam sembilan pagi. Harusnya gadis kuncir kuda itu sudah sampai di kantor sekarang. Aku kembali melirik ke arah pintu, mendadak merasa sedikit gelisah menunggu ketukan pintu dari seseorang yang membawa jas hitamku.
Jarum jam di dinding ruanganku sudah bergeser melewati angka dua belas siang. Jam makan siang sudah dimulai, tetapi pintu besar ruang kerjaku sama sekali belum ada ketukan dari orang yang sejak pagi kutunggu. Aruna tidak kunjung datang.
Aku meletakkan tablet kerjaku ke meja dengan agak kasar, merasa fokusku buyar total sepanjang hari ini. Pikiran buruk mulai berputar di kepalaku. Apakah dia trauma karena kejadian semalam? Atau bajingan bernama Raka itu datang lagi ke rumahnya pagi-pagi?
Tidak bisa menahan rasa penasaran dan cemas yang mulai mengacaukan logikaku, aku meraih telepon kabel di meja kerja, lalu menekan nomor ekstensi divisi HRD—bagian yang mengurusi data kehadiran dan absensi seluruh karyawan perusahaan.
Telepon tersambung pada nada kedua.
"Halo, dengan divisi HRD di sini. Ada yang bisa dibantu?" suara staf di seberang sana terdengar formal.
"Saya mau tanya. Tolong periksa absensi hari ini atas nama Aruna Prameswari dari divisi administrasi. Apa hari ini dia mengajukan izin atau sakit?" tanyaku langsung tanpa basa-basi, mencoba menjaga intonasi suaraku agar tetap terdengar seperti bos yang sedang memeriksa staf biasa.
Terdengar bunyi ketikan keyboard yang cepat dari seberang telepon selama beberapa saat sebelum staf itu kembali bersuara.
"Halo, Pak. Sudah saya periksa di sistem. Untuk absensi atas nama Aruna Prameswari, hari ini statusnya masuk kantor, Pak. Dia melakukan fingerprint masuk tepat waktu pada pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi tadi."
Aku mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Dia masuk?"
"Benar, Pak. Aruna masuk dan masih ada di area kantor."
"Baik, terima kasih."
Aku langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. Dahiku makin berkerut, memikirkan situasi yang terasa sangat aneh ini.
Kalau dia masuk kantor sejak pagi, lalu kenapa dia tidak kunjung datang ke ruanganku untuk mengembalikan jasku semalam? Padahal jelas-jelas semalam aku menyuruhnya untuk mengembalikan jas itu hari ini di kantor.
Apakah dia sengaja menghindariku karena merasa malu soal insiden pelukan semalam? Ataukah dia ketakutan menghadapi sikap dingin Ariana di depan meja sekretarisku?
Aku bersandar di kursi kerjaku sambil mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja. Rasa penasaran ini perlahan berubah menjadi rasa gemas sekaligus jengkel. Gadis kuncir kuda itu benar-benar punya cara tersendiri untuk menguji tingkat kesabaranku setiap harinya.
Hingga jam pulang kantor tiba, batang hidung Aruna sama sekali tidak terlihat di lantai atas. Gadis itu benar-benar sukses menghindari aku seharian ini. Jas hitamku pun entah nasibnya bagaimana sekarang. Ditambah lagi, besok sudah masuk hari Sabtu dan Minggu—hari libur kantor. Artinya, aku harus menahan rasa penasaran dan jengkel ini selama dua hari penuh tanpa bisa menuntut penjelasan darinya. Sialan. Sifat kekanak-kanakannya itu sukses membuat emosiku berantakan.
Efeknya langsung terasa malam ini. Aku duduk di sudut meja lounge sebuah hotel bintang lima dengan wajah sekaku papan gilas. Malam ini adalah acara pertunangan salah satu sahabat dekat kami—Leon, yang otomatis membuatku, Gavin, dan seluruh lingkaran pertemanan kami harus hadir.
"Yan, lo kalau dateng ke pesta tunangan orang dengan muka kayak mau ngajak perang gitu, mending lo balik ke kantor deh. Sumpah, aura lo merusak kebahagiaan malam ini," celetuk Gavin yang baru datang membawa dua gelas minuman, lalu menyerahkan salah satunya kepadaku.
Aku menyambar gelas itu dengan kasar. "Diam, Gavin. Gue lagi gak minat bercanda."
"Tuh, kan! Sensitif banget kayak pantat bayi," Gavin mencibir, lalu ikut bersandar di meja bundar tinggi kami. "Kenapa sih lo? Proyek triliunan lo ada yang jebol? Atau saham Aurora corporation tiba-tiba anjlok?"
Aku memilih meneguk minumanku tanpa menjawab. Bagaimana mungkin aku harus jujur pada Gavin kalau kekesalanku malam ini murni karena seorang karyawan yang mendadak hilang tanpa kabar setelah memelukku di pinggir jalan? Kalau aku cerita, Gavin pasti akan menertawakanku sampai tahun depan.
Sayangnya, malam ini tidak berjalan tenang sesuai keinginanku. Sebagai CEO Aurora corporation, kehadiranku di acara seperti ini ibarat magnet bagi para kolega bisnis. Belum sempat aku menghabiskan minumanku, beberapa pengusaha senior sudah melangkah mendekat ke arah meja kami, masing-masing membawa anak perempuan mereka yang berpakaian luar biasa mewah dan anggun.
"Malam, Pak Adrian. Wah, suatu kehormatan bisa bertemu di sini," sapa salah satu kolega senior dari perusahaan properti, sambil menepuk bahuku akrab. "Kenalkan, ini putri saya, Clarissa. Dia baru saja menyelesaikan master bisnisnya di London. Saya rasa dia butuh banyak belajar dari mentor sehebat Anda, Pak Adrian."
Clarissa tersenyum manis, mengulurkan tangannya dengan gestur yang sangat terdidik dan anggun. "Malam, Pak Adrian... Senang bisa bertemu langsung dengan Anda."
Satu per satu kolega lain ikut menimpali, mencoba menyodorkan anak gadis mereka untuk menarik perhatianku. Ada yang pamer pendidikan, ada yang pamer silsilah keluarga, semuanya berlomba-lomba membuatku terkesan.
Gavin yang berdiri di sebelahku hanya menahan tawa sambil menyenggol sikuku, sengaja memanaskan suasana.
Namun, alih-alih tertarik, aku justru merasa mual dan kesal sendiri. Di depanku ada deretan wanita cantik, berpendidikan tinggi, dan berpakaian desainer kelas atas, tetapi otakku malah dengan kurang ajarnya berputar balik memikirkan hal lain. Aku malah teringat pada gadis yang lari tunggang-langgang dengan tank top murah dan celana kain pendek sambil menangis ketakutan. Gadis yang dengan berani mengunyah siomay di depanku sambil mengomel panjang lebar tanpa keanggunan sama sekali.
Mengapa standar wanita di mataku mendadak bergeser menjadi seberantakan itu?
"Maaf semuanya," potongku dingin, memutus obrolan para kolega itu sebelum mereka melangkah terlalu jauh. Aku meletakkan gelas minumanku kembali ke meja dengan ketukan yang tegas. "Saya ada urusan mendesak yang harus diselesaikan sekarang. Selamat menikmati acaranya."
Tanpa memperdulikan wajah-wajah syok dan kecewa dari para kolega dan anak-anak perempuan mereka, aku langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan hiruk-pikuk pesta.
"Heh, Yan! Adrian! Mau ke mana lo?! Acara utamanya belum mulai!" teriakan Gavin menggema di belakangku, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menoleh.
Aku butuh udara segar. Berada di tempat penuh kepura-puraan ini hanya membuat kepalaku semakin pusing, terutama saat bayangan wajah Aruna yang penuh misteri itu terus-menerus mengacaukan konsentrasiku malam ini.