Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : Batas Obsesi dan Ancaman Serigala
Raungan mesin Kawasaki H2 Carbon milik Jayden beradu sengit dengan Honda CBR1000RR milik Alka di lintasan lurus sepanjang satu kilometer. Keduanya melesat bagai dua kilatan cahaya di bawah temaram lampu jalanan sirkuit Sentul lama. Angin malam yang menusuk tulang sama sekali tidak mampu mendinginkan darah mereka yang tengah mendidih.
Di tikungan pertama yang terkenal tajam, Alka mengambil jalur dalam, mencoba memotong pergerakan Jayden. Namun, Jayden bukanlah lawan yang mudah diintimidasi. Dengan ketenangan yang mematikan, ia menurunkan posisi tubuhnya hingga hampir menyentuh aspal, melakukan cornering ekstrem yang memaksa motornya tetap memimpin satu ban di depan Alka.
Dari tepi pembatas lintasan, Elleanor memperhatikan setiap pergerakan mereka tanpa berkedip. Sebagai seorang Queen Racer, ia tahu persis bahwa teknik yang digunakan Jayden berada di tingkat yang sangat tinggi. Cowok itu tidak hanya mengandalkan kecepatan, tapi juga kalkulasi yang matang dan keberanian yang nyaris gila.
"Bos Jayden emang gak ada tandingannya kalau udah di atas aspal," celetuk Erlan yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Elle, bersedekap dada dengan senyum bangga.
Elle melirik Erlan sekilas, lalu kembali menatap ke arah lintasan di mana kedua motor itu kini mulai memasuki putaran terakhir. "Ketua lo itu... emang selalu senekat itu kalau balapan?" tanya Elle, mencoba terdengar kasual meski ada sedikit rasa cemas yang menyelinap di dadanya.
Erlan terkekeh pelan. "Nekat? Biasanya kagak. Tapi malam ini beda, El. Bos Jayden lagi nandain wilayahnya. Dan yang gua maksud bukan cuma wilayah Jakarta Barat." Erlan menatap Elle dengan arti pandangan yang dalam, membuat gadis itu mendengus dan memilih membuang muka.
Klik!
Suara knalpot Jayden yang meledak di garis finis menjadi penanda akhir dari pertarungan sengit malam itu. Jayden Xeno Frederick berhasil menyentuh garis akhir, hanya terpaut selisih beberapa milidetik dari Alka.
Sorak-sorai anak-anak VULTURES langsung pecah membelah keheningan malam. Erlan dan Haikal langsung berlari menghampiri sang ketua, sementara Shaka hanya mengangguk puas dari atas motornya sendiri.
Jayden membuka helmnya, napasnya memburu teratur. Tatapan pertamanya tidak tertuju pada piala taruhan atau pada Alka yang baru saja turun dari motor dengan wajah frustrasi, melainkan langsung mengunci sosok Elle yang masih berdiri di tempatnya. Jayden turun dari motornya, melangkah lebar melewati kerumunan yang mengelu-elukannya, dan berhenti tepat di hadapan Elle.
"Gua menang. Dan sesuai kesepakatan, lo gak punya alasan lagi buat nolak perintah gua," ucap Jayden, suaranya berat dan serak karena lelah, namun sarat akan penekanan yang mutlak.
Elle melipat tangannya di dada, mencoba menahan debaran aneh di jantungnya. "Heh, Muka Tembok. Yang taruhan itu lo sama Alka, bukan gua. Gua gak pernah ngerasa setuju jadi hadiah taruhan lo berdua!"
Jayden maju satu langkah, membuat tubuh tinggi tegapnya mengungkung ruang gerak Elle. Ia menunduk, menatap manik mata gadis itu dengan intensitas yang begitu pekat hingga membuat Elle menahan napas. "Gua gak pernah jadiin lo hadiah, Elleanor. Karena dari awal, lo emang gak punya pilihan selain jadi milik gua."
Tangan Jayden terangkat, mencengkeram pergelangan tangan Elle dengan erat namun tidak sampai menyakitinya. "Ikut gua. Gua anter lo balik."
"Gak bisa, Jayden."
Sebuah tangan lain mencengkeram lengan atas Elle, menahannya agar tidak ditarik oleh Jayden. Alka berdiri di sana dengan rahang mengeras dan napas yang masih memburu akibat kekalahan tadi. Di belakangnya, Nalendra dan beberapa inti WOLFANGS sudah bersiap dengan wajah menegang.
"Gua emang kalah taruhan wilayah barat malam ini. Tapi gua gak bakal biarin lo bawa Elle pergi gitu aja," desis Alka, menatap Jayden dengan pandangan penuh permusuhan.
Suasana di area pit stop mendadak berubah mencekam. Anak-anak Vultures yang melihat ketegangan itu langsung merapat ke belakang Jayden, membuat jarak antara kedua geng motor terbesar di Jakarta itu kini hanya tersisa beberapa langkah saja. Satu pemantik kecil, dan tawuran besar pasti akan pecah di tempat ini.
Jayden menurunkan pandangannya ke arah tangan Alka yang memegangi lengan Elle. Kilat amarah yang gelap langsung memenuhi netra hitamnya. Sisi obsesif dan posesifnya mendadak meledak ke permukaan.
"Lepasin tangan lo dari dia, Adhytama. Sebelum gua patahin tangan lo malam ini juga," ancam Jayden, suaranya begitu rendah dan dingin hingga atmosfer di sekitar mereka terasa membeku seketika.
"Jay, Alka, stop!" Elle akhirnya berteriak jengah, menghentikan ketegangan yang hampir meledak itu. Dengan sentakan kuat, ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Jayden sekaligus dari pegangan Alka.
Elle menatap keduanya bergantian dengan tatapan galak andalannya. "Gua bukan anak kecil yang harus diperebutkan kayak gini! Gua bisa balik sendiri naik taksi!"
Sebelum kedua ketua geng itu sempat merespons, Elle sudah berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area sirkuit dengan menghentakkan kakinya kesal. Namun, baru beberapa langkah Elle berjalan, Jayden sudah memberi kode mata pada Shaka dan Erlan. Dalam sekejap, sebuah mobil sport mewah milik keluarga Frederick yang sejak tadi terparkir di sudut sirkuit meluncur dan berhenti tepat di depan Elle, menghalangi jalannya.
Jayden berjalan santai menyusul Elle, lalu membukakan pintu penumpang depan mobil tersebut. "Masuk, Elleanor. Atau gua gendong lo di depan semua anak-anak geng malam ini?" ancam Jayden dengan seringai tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus berbahaya di mata Elle.
Elle menatap pintu mobil, lalu menatap kerumunan anak Vultures dan Wolfangs yang sedang memperhatikan mereka. Mengetahui bahwa Jayden tidak pernah main-main dengan ucapannya, Elle mendengus kasar, lalu masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.
Jayden tersenyum puas. Ia sempat melirik Alka sekilas, memberikan tatapan kemenangan yang mutlak sebelum akhirnya memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi, meninggalkan sirkuit malam itu bersama gadis yang kini telah resmi masuk ke dalam sangkar emasnya.