Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas
Jam istirahat berbunyi. Suasana kelas XII-A mulai riuh. Brielle masih duduk di kursinya, pura-pura membaca buku meskipun pikirannya melayang entah ke mana. Keisha dan Celine sudah bersiap di sampingnya, menunggu untuk berangkat ke kantin.
Tapi sebelum mereka sempat melangkah, pintu kelas terbuka.
Elvaro masuk dengan senyum khasnya—lembut, hangat, seperti biasa. Di belakangnya, dua sahabatnya ikut masuk, langsung menyapa beberapa teman sekelas dengan santai.
“Sayang~,” panggil Elvaro, suaranya lembut.
Brielle mendongak. Matanya bertemu dengan Elvaro. Seketika, hatinya berdesir—tapi bukan desiran bahagia seperti dulu. Ada yang ganjal. Ada yang berat.
“El,” balasnya pelan.
Seketika, suasana kelas langsung berubah heboh. Suara bisik-bisik mulai bermunculan.
“Wih, Elvaro datang lagi!”
“Brielle tuh beruntung banget sih, punya pacar ganteng dan perhatian.”
“Elvaro juga setia banget. Setiap hari jemput.”
“Couple goals abis!”
Keisha dan Celine hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu apa-apa tentang pernikahan Brielle. Tidak ada yang tahu. Hanya Brielle, Nevran, dan kedua keluarga mereka yang menyimpan rahasia itu. Bagi seluruh dunia—termasuk sahabat sekalipun—Brielle masih gadis lajang, dan Nevran masih cowok dingin yang tiba-tiba dekat dengannya tanpa alasan jelas.
Elvaro berjalan mendekat, tangannya otomatis meraih tangan Brielle dengan lembut. “El kangen, Sayang. Akhir-akhir ini kok jarang banget balas chat El? Jarang juga mau ketemu.”
Deg.
Jantung Brielle berdetak cepat. Rasa bersalah menusuk dadanya.
“Maaf, El. Belakangan ini aku lagi fokus belajar,” ucap Brielle dengan lembut, berusaha membuat suaranya tetap tenang.
Elvaro terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil. Tapi tawanya tidak seperti biasanya. Ada nada getir di sana. Ada kekecewaan yang ia coba tutupi.
“Haha...” Elvaro menghela napas. “Yaudah, ke kantin yuk, Ay.”
Ia tetap tersenyum. Tetap lembut. Tapi panggilan “Ay” yang biasa terdengar manja itu, kini terasa berbeda. Tidak semanis dulu.
Brielle bisa merasakannya. Dan itu menyakitkan.
---
Di pojok ruangan, Nevran duduk di samping Axel. Matanya tidak bergerak dari pemandangan di depannya.
Tangan kirinya mengepal erat di bawah meja. Sangat erat. Urat di tangannya terlihat menonjol.
Axel yang duduk di sampingnya ikut menegang. Ia bisa merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh Bos-nya. Tapi Axel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tahu bahwa Bos-nya belakangan ini semakin dingin, semakin pendiam, dan semakin tidak bisa ditebak.
Derryl, Nayel, Kyven, dan Haikal yang ada di sekitar mereka juga ikut diam. Mereka hanya saling pandang, bingung.
Haikal menatap Nevran lekat-lekat. Ada sesuatu di mata sahabatnya itu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
“Bri, ayo,” ucap Elvaro lagi, tangannya masih menggenggam Brielle lembut.
Brielle tersenyum tipis. “Iya, bentar.”
Ia berpaling ke arah Keisha dan Celine. “Keish, Lin, gue ke kantin dulu sama El. Kalian nyusul?”
Keisha dan Celine mengangguk santai. “Iya, Bri. Hati-hati,” jawab Keisha.
Haikal yang melihat itu, mencoba bergurau—seperti biasa.
“Hati-hati, Le,” ucap Haikal dengan nada santai, “soalnya cuaca lagi panas nih.”
Ambigu. Tapi semua teman Nevran langsung terkekeh. Mereka tahu maksud Haikal. Matahari memang terik, tapi yang dimaksud Haikal bukan matahari—itu tentang Nevran yang dari tadi diam-diam memanaskan suasana.
Nevran tidak bereaksi. Matanya tetap lurus ke depan. Tapi rahangnya mengeras.
Brielle hanya melirik sekilas ke arah Haikal, lalu kembali fokus ke Elvaro. “Yuk, El.”
Ia berjalan keluar kelas bersama Elvaro dan kedua sahabatnya, meninggalkan suasana yang semakin tegang di dalam.
---
Begitu Brielle dan Elvaro menghilang di balik pintu, Nevran berdiri.
Diam-diam. Tanpa suara.
Langkahnya santai, seperti tidak ada yang terjadi. Tapi aura dinginnya menyebar ke seluruh ruangan. Beberapa siswa yang kebetulan di dekatnya otomatis menunduk, tidak berani menatap.
“Bos?” Axel memanggil hati-hati.
Nevran tidak menjawab. Ia berjalan keluar kelas, meninggalkan teman-temannya yang saling pandang bingung.
“Dia kenapa sih?” bisik Derryl.
Haikal menghela napas. “Gatau. Tapi yang jelas... jangan diganggu.”
---
Di lorong menuju kantin, Brielle berjalan di samping Elvaro. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang sekolah, tentang tugas. Tapi tidak ada hangat seperti dulu. Brielle menjawab sekenanya, sesekali tersenyum—tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Elvaro merasakannya. Tapi ia tidak bertanya.
Sampai akhirnya—
Brak.
Sebuah tangan menarik pergelangan tangan Brielle dengan tegas.
Brielle tersentak, hampir terjatuh. “Cadel?!”
Nevran berdiri di depannya, wajahnya datar. Tidak ada ekspresi. Tapi matanya gelap.
“Cadel, lo ngapain?! Lepasin—"
“Ikut gue.”
Bukan ajakan. Bukan permintaan. Perintah.
“Gue lagi mau ke kantin sama El—"
“Gue bilang, ikut gue.”
Suaranya dingin. Tajam. Tidak ada ruang untuk menolak.
Elvaro melangkah maju, wajahnya berubah tegang. “Nevran, lo apaan sih? Lepasin tangan dia.”
Nevran tidak menoleh ke Elvaro. Matanya tetap pada Brielle.
“Lo mau gue ulang?” bisiknya pelan—hanya untuk Brielle.
Deg.
Jantung Brielle berdetak kencang. Ia tahu tatapan itu. Ia tahu nada itu. Nevran tidak akan mundur.
“El... gue ikut dia bentar,” ucap Brielle pelan, melepas genggaman Elvaro dengan lembut.
“Tapi—"
“Bentar aja, Janji.”
Elvaro terdiam. Ia menatap Brielle, lalu menatap Nevran yang masih berdiri dengan wajah dingin itu. Ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu harus bertanya apa.
Brielle membiarkan Nevran menariknya pergi. Mereka berjalan menyusuri lorong, melewati tangga, lalu naik ke atas.
Menuju rooftop.
Sepanjang jalan, tidak ada suara. Hanya hening yang tegang.
Sampai akhirnya Nevran melepaskan tangannya begitu mereka sampai di atas. Angin sore berhembus, membawa rambut Brielle terbang.
“Cadel, lo apaan sih? Gue lagi—"
“Lo masih sayang sama dia?”
Pertanyaan itu keluar pelan. Datar. Tapi berat.
Brielle terdiam.
Nevran menatapnya lekat-lekat. Matanya yang biasanya dingin, kini terlihat rapuh—hanya sesaat. Lalu ia membuang muka.
" gw nggak peduli jawaban lu. Tapi gw tekankan, lu sekarang milik gw. Gw Elle!! Stop buat gw muka!!
Bersambung
bantu support juga yaa😇