NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Jangan Mati Lagi

“Aku mau hidup sebagai diriku sendiri.”

Ruangan langsung sunyi.

Api masih berkobar.

Alarm masih meraung.

Tapi kalimat Subject 07 asli terasa lebih keras dari semua itu.

Nayra menatap anak kecil di depannya dengan dada sesak.

Karena untuk pertama kalinya…

anak itu tidak terdengar seperti eksperimen.

Tidak terdengar seperti monster.

Tapi seperti anak kecil yang akhirnya ingin punya hidup sendiri.

Dan itu menyakitkan.

Sangat menyakitkan.

Founder langsung berjalan cepat mendekat.

“Tidak.”

Tatapannya tajam.

“Kamu tidak bisa masuk ke sana.”

Subject 07 asli memiringkan kepala sedikit.

“Kenapa?”

“Kamu terlalu berharga.”

“Berharga buat siapa?”

Founder langsung diam.

Dan Nayra sadar sesuatu.

Pria tua itu memang gila.

Tapi ia benar-benar menganggap Subject 07 asli sebagai sesuatu yang penting baginya.

Dengan cara yang rusak.

Dengan cara yang salah.

Namun tetap nyata.

“Aku capek jadi barang eksperimen,” kata anak itu pelan.

Tatapannya turun sebentar.

“Semua orang selalu bilang aku sempurna.”

Lalu ia menatap Nayra.

“Tapi aku nggak pernah merasa hidup.”

Deg.

Air mata Nayra langsung turun lagi.

Karena ia tahu rasanya.

Merasa kosong.

Merasa seperti ada bagian dari diri yang hilang.

Dan sekarang ia sadar—

bagian itu berasal dari anak ini.

“Kalau kamu masuk ke sana…” suara Nayra bergetar. “Kamu bisa mati.”

Anak itu menatapnya polos.

“Takut mati itu seperti apa?”

Hening.

Nayra bahkan tidak langsung bisa menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu berat keluar dari anak kecil.

“Itu…”

Napas Nayra pelan.

“…rasanya kayak kehilangan semua hal yang belum sempat kamu lakukan.”

Subject 07 asli diam.

Mencoba memahami.

Lalu berkata pelan—

“Aku belum pernah hidup.”

Kalimat itu langsung menghancurkan suasana.

Bahkan Arsen memalingkan wajah sebentar.

Dan Zavian menutup matanya pelan.

Timer darurat muncul lagi di layar besar.

CORE COLLAPSE IN 05:00

Lima menit.

Mereka benar-benar kehabisan waktu.

“Kita nggak bisa debat terus!” bentak Arsen.

Hyren langsung berdiri di dekat pintu reaktor.

“Aku masuk.”

“Enggak.” Zavian langsung menahannya lagi.

“Kamu keras kepala banget dari kecil.”

“Aku belajar dari kamu!”

Hyren hampir tertawa.

Hampir.

Tapi matanya terlalu sedih sekarang.

Founder tiba-tiba mengeluarkan kartu akses hitam lain dari sakunya.

“Masih ada cara.”

Semua langsung menoleh.

Pria tua itu menatap Nayra dan Subject 07 asli bergantian.

“Kalian berdua bisa distabilkan.”

Arsen langsung mendecih.

“Mulai lagi.”

“Project Lazarus belum selesai.”

Tatapan Founder berubah obsesif lagi.

“Kalau aku bisa menyatukan kalian—”

“STOP!”

Nayra akhirnya berteriak.

Suaranya menggema di seluruh ruangan.

“Aku capek jadi eksperimen kalian!”

Napasnya berat.

“Aku capek hidup diatur orang lain!”

Tatapannya mulai panas oleh air mata dan amarah.

“Aku mau hidup biasa!”

Founder menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya…

ia terlihat benar-benar tidak mengerti.

“Biasa?”

“Iya!”

“Kehidupan biasa itu rapuh.”

“Setidaknya itu kehidupan kami sendiri!”

Sunyi.

Kalimat Nayra menggantung lama di udara.

Dan anehnya…

bahkan beberapa pasukan bertopeng yang tersisa terlihat ragu sekarang.

Seolah mereka juga manusia biasa yang terlalu lama dikurung tempat ini.

Tiba-tiba salah satu layar menyala lagi.

Berita mulai muncul.

Wajah Founder terpampang di mana-mana.

Organisasi mereka terbongkar.

Polisi.

Militer.

Media.

Seluruh dunia mulai bergerak.

Arsen menyeringai tipis.

“Oke. Sekarang mereka resmi tamat.”

Founder menatap layar itu tanpa berkedip.

Kerajaannya runtuh dalam hitungan menit.

Dan Nayra melihat sesuatu yang aneh—

pria itu tampak… lelah.

Sangat lelah.

“Aku cuma mau menyelamatkan seseorang.”

Suara Founder akhirnya terdengar pelan.

Tidak seperti monster.

Tidak seperti pemimpin organisasi.

Tapi seperti ayah tua yang kalah.

“Awalnya cuma itu.”

Nayra diam.

“Setelah anakku mati…”

Tatapannya kosong.

“…aku nggak bisa menerima dunia yang membiarkan itu terjadi.”

Hening.

“Kemudian aku mulai berpikir…”

Tawa kecil pahit keluar dari bibirnya.

“Kalau kematian bisa dilawan.”

Arsen menatapnya dingin.

“Dan kamu menghancurkan ribuan hidup buat itu.”

Founder menutup mata sesaat.

“Mungkin aku memang sudah terlalu jauh.”

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan.

Tapi sudah terlambat.

Terlalu terlambat.

CORE COLLAPSE IN 04:01

Ruangan berguncang lagi.

Api mulai masuk dari lorong-lorong.

Asap semakin tebal.

Mereka tidak punya banyak waktu.

Subject 07 asli tiba-tiba berjalan mendekati Nayra.

Lalu memegang tangan gadis itu perlahan.

Hangat.

Untuk pertama kalinya.

“Aneh,” bisiknya.

“Apa?”

“Dadaku nggak kosong waktu dekat kamu.”

Deg.

Air mata Nayra langsung jatuh lagi.

Karena ia sadar sesuatu.

Mungkin…

mereka memang seharusnya satu.

Dua bagian dari satu jiwa yang dipisahkan.

“Aku punya ide,” kata Hyren tiba-tiba.

Semua langsung menoleh.

Dan Nayra langsung tidak suka nada suaranya.

Karena biasanya berarti nekat.

“Kita matiin reaktor…”

Tatapannya pindah ke Subject 07 asli.

“…dan pakai sistem transfer inti.”

Arsen langsung mengernyit.

“Tunggu.”

Zavian juga langsung paham duluan.

“Jangan bilang…”

Hyren mengangguk kecil.

“Kalau inti memorinya dipindahkan kembali…”

Tatapannya ke Nayra.

“…mereka bisa jadi satu lagi.”

Sunyi.

Nayra membeku.

“Hah?”

Subject 07 asli juga diam.

“Apa maksudnya jadi satu?”

Hyren menarik napas pelan.

“Kalian awalnya satu orang.”

Tatapannya rumit.

“Kalau sistem Lazarus disatukan kembali…”

Ia menelan ludah.

“…mungkin tubuh dan jiwa kalian bakal stabil.”

“Mungkin?!” bentak Nayra. “KAMU BARUSAN BILANG MUNGKIN?!”

“Aku nggak punya waktu buat bikin presentasi ilmiah!”

“Itu bukan alasan!”

Arsen memijat pelipisnya.

“Aku benci sains.”

“Tapi kalau gagal…” suara Zavian rendah.

Hyren diam.

Dan itu sudah cukup menjawab.

Nayra langsung pucat.

“Aku bisa mati?”

“Bisa.”

“Dia juga?” Nayra menunjuk Subject 07 asli.

Hyren mengangguk pelan.

Hening.

Api terus membesar di belakang mereka.

Dan Nayra merasa dunia kembali memaksanya memilih sesuatu yang mustahil.

Subject 07 asli menatap Nayra lama.

Lalu bertanya pelan—

“Kalau kita jadi satu…”

Tatapannya kosong namun lembut.

“…aku akhirnya bisa jadi manusia?”

Deg.

Nayra langsung menutup mulutnya sendiri.

Karena pertanyaan itu terlalu menyakitkan.

“Aku nggak mau kehilangan siapa-siapa lagi.”

Suara Zavian tiba-tiba terdengar.

Semua menoleh.

Cowok itu berdiri diam di dekat api dengan wajah tegang.

Tatapannya ke Nayra.

Lalu ke Subject 07 asli.

“Aku udah terlalu sering ditinggal.”

Kalimat itu terdengar sangat jujur.

Sangat rapuh.

Dan Nayra sadar—

selama ini Zavian selalu bertindak dingin bukan karena ia tidak peduli.

Tapi karena ia takut peduli terlalu dalam.

Karena semua orang yang ia sayangi selalu hilang.

Subject 07 asli berjalan pelan mendekati Zavian.

Lalu menatapnya polos.

“Kamu takut.”

Zavian tertawa kecil hambar.

“Iya.”

“Aku juga mulai takut sekarang.”

Hening.

Anak itu menyentuh dadanya sendiri perlahan.

“Ini perasaan takut?”

Nayra mengangguk kecil sambil menangis.

“Iya…”

“Aneh.”

Tatapan anak itu turun.

“Tapi aku nggak benci.”

Deg.

Perlahan…

anak itu benar-benar belajar menjadi manusia.

Dan justru karena itu—

kemungkinan kehilangan dirinya terasa makin menyakitkan.

CORE COLLAPSE IN 02:57

“Putusin sekarang!” bentak Arsen.

“Kalau nggak kita semua meledak bareng!”

Nayra menggigit bibir keras.

Pikirannya kacau.

Kalau ia setuju…

mereka mungkin mati.

Kalau ia menolak…

seluruh tempat ini bisa hancur.

Dan Subject 07 asli mungkin tidak akan pernah punya hidup.

Founder tiba-tiba tertawa kecil lagi.

Semua langsung menoleh.

Pria tua itu terlihat lemah sekarang.

Tua.

Rusak.

“Lucu sekali…”

Tatapannya ke Nayra dan Subject 07 asli.

“Aku menghabiskan hidupku mencoba melawan kematian…”

Lalu matanya perlahan menutup sebentar.

“…tapi akhirnya yang mengajariku tentang hidup malah kalian.”

Hening.

Tak ada yang menjawab.

Karena bahkan Nayra tidak tahu harus membenci pria itu sepenuhnya atau tidak.

Ia monster.

Tapi juga manusia yang hancur karena kehilangan.

Dan terkadang…

itu jauh lebih menakutkan.

Nayra akhirnya menatap Subject 07 asli.

Anak kecil itu balas menatapnya diam.

“Kamu percaya aku?” tanya Nayra pelan.

Anak itu mengangguk kecil.

“Aneh ya.”

“Hah?”

“Aku baru kenal kamu…”

Tatapannya lembut.

“…tapi rasanya kayak kenal sejak lama.”

Air mata Nayra jatuh lagi.

Karena memang begitu.

Mereka berasal dari tempat yang sama.

Rasa sakit yang sama.

Kesepian yang sama.

Nayra menarik napas panjang.

Lalu menatap Hyren.

“Kalau kita lakuin ini…”

Tatapannya gemetar.

“…apa kita punya kesempatan hidup?”

Hyren diam beberapa detik.

Lalu menjawab jujur—

“Aku nggak tahu.”

“Aku benci jawaban itu.”

“Aku juga.”

Nayra tertawa kecil di tengah tangisnya.

Dan entah kenapa…

itu membuat suasana sedikit lebih ringan.

Sedikit.

Lalu Nayra menggenggam tangan Subject 07 asli lebih erat.

Dan berkata pelan—

“Oke.”

Semua langsung diam.

“Kita coba.”

Deg.

Mata Zavian langsung membesar.

“Nayra—”

“Aku capek lari.”

Tatapannya perlahan berubah lebih kuat.

“Kalau ini cara buat ngakhirin semuanya…”

Ia menatap Subject 07 asli.

“…aku mau kasih dia kesempatan hidup juga.”

Hening.

Lalu Subject 07 asli tersenyum kecil.

Senyum manusia.

Senyum pertama yang benar-benar hangat.

Dan itu membuat seluruh ruangan terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!