NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Retaknya Kebersamaan di Ruangan Pengap

​Ketika bel masuk berbunyi, kubu anak-anak kelas 12 F terpaksa masuk ke dalam ruangan mereka yang pengap dan berdebu. Namun, ketegangan dari koridor tidak mereda; justru intensitasnya meningkat di dalam ruangan yang tertutup itu.

​Andi Nugroho langsung duduk di bangkunya, mengabaikan sekitar dan menenggelamkan wajahnya ke layar ponsel yang menampilkan permainan game online. Jarinya bergerak dengan kecepatan penuh, menembaki musuh virtual dengan ekspresi dingin. "Berisik banget sih di luar. Mending main game. Cuma di sini gue bisa menang, cuma di sini gue nggak dibilang anak ampas yang nggak berguna kayak kata bokap gue," gumam Andi, mencari pelarian total dari kenyataan pahit hidupnya.

​Di bangku paling belakang, Bima Saputra sudah merebahkan kepalanya di atas meja yang keras. Tubuhnya terasa luar biasa remuk. Dari jam sepuluh malam hingga jam lima subuh tadi, ia harus bermandikan keringat menjadi kuli angkut sayur di pasar induk demi mendapatkan beberapa puluh ribu rupiah untuk membelikan susu dan membayar biaya sekolah adik-adiknya yang masih kecil. Rasa kantuk dan kelelahan kronis mengalahkan segalanya, bahkan ia tidak peduli lagi jika dicap sebagai siswa termalas di sekolah ini.

​Callista Amelia berjalan memutari meja-meja, mencoba mencairkan suasana yang kaku dengan membagikan beberapa bungkus camilan yang ia bawa dari tasnya. "Eh, makan ini yuk... biar nggak stres," ujar Callista dengan senyum yang dipaksakan. Tindakannya yang tampak ceria dan hobi membagikan makanan itu sebenarnya hanyalah kedok untuk menyembunyikan gangguan makan (eating disorder) akut yang dideritanya. Setiap kali ia mendengar orang tuanya bertengkar hebat memperebutkan harta di rumah, Callista akan mengalami kecemasan hebat yang merusak pola makannya, dan memberi makan orang lain adalah caranya merasa memegang kendali atas hidupnya.

​Di pojok kelas yang sunyi, kubu pendiam memilih untuk tidak terlibat dalam riuh rendah ruangan. Nabila Syafitri duduk diam dengan pulpen di tangannya, jemarinya mencoret-coret buku catatan khususnya dengan tulisan-tulisan yang dipenuhi diksi kegelapan dan kecemasan. Catatan-catatan itu adalah katarsis dari depresi mendalam akibat pelecehan emosional berulang yang ia terima dari lingkungan keluarganya yang toksik. Di sebelahnya, Kinara Larasati hanya menatap ke luar jendela, memegang sebuah buku sketsa kecil dengan erat. Sejak menyaksikan insiden kecelakaan tragis yang merenggut nyawa orang terdekatnya di masa lalu, Kinara menderita selective mutism—ia mengunci suaranya rapat-rapat dari dunia, memilih berbicara hanya melalui goresan kuas dan warna yang sunyi.

​Sementara itu, di barisan dekat mading kelas, kubu siswi berkumpul dengan beban pikiran masing-masing yang merayap di balik wajah-wajah muda mereka.

​Aini Alvira duduk termenung sambil menatap layar ponselnya yang terus-menerus bergetar menerima rentetan pesan penuh ancaman dari pacarnya di luar sekolah. Hubungan asmara yang toksik (toxic relationship) dan penuh kekerasan verbal itu telah menyita seluruh fokus batinnya, menyisakan ruang kosong di otaknya yang membuat nilai-nilai akademisnya terjun bebas ke dalam jurang kelas buangan.

​Di sebelahnya, Hana Fitriani duduk tegak dengan pandangan kosong. Hana sebenarnya adalah siswi yang cerdas, namun hidupnya berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Usaha dagang ayahnya bangkrut total karena ditipu orang, membuat keluarganya diusir dari rumah kontrakan karena tidak mampu membayar sewa. Kini, bersama adiknya, Hani Yuliana yang masih duduk di kelas 1 SMA CAKRAWALA BANGSA, Hana harus bertahan hidup di sebuah ruangan petak yang sempit bersama orang tuanya yang selalu dirundung kesedihan. Masalah ekonomi yang mencekik itu mengubah Hana menjadi sosok yang pendiam dan kehilangan gairah belajar, hingga posisinya merosot tajam ke kelas ini.

​"Gue nggak tahu harus bertahan sampai kapan kalau situasinya kayak gini terus," bisik Hana pelan kepada Freya Lafatunnisa yang duduk di depannya.

​Freya Lafatunnisa hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rahasia besar. Di dalam tasnya, tersimpan beberapa botol obat dosis tinggi. Freya Lafatunnisa menderita penyakit kronis tersembunyi yang membutuhkan biaya pengobatan sangat besar, hal yang membuatnya sering kali absen berhari-hari dari sekolah karena harus menjalani perawatan intensif. Absensi yang menumpuk itulah yang menyeret namanya ke dalam daftar hitam kelas buangan.

​Di barisan tengah, Amara Sophia tampak sibuk menunjukkan tas bermerek barunya kepada beberapa siswi lain dengan suara sengaja dikeraskan. "Bagus, kan? Ini bokap gue yang beliin langsung dari luar negeri," pamer Amara. Namun, di balik gaya hidup mewah palsu dan kebiasaan menghamburkan uang itu, Amara sebenarnya adalah anak yang telantar. Kedua orang tuanya tidak pernah pulang ke rumah dan hanya mengiriminya uang bulanan yang berlimpah sebagai pengganti kehadiran fisik yang sangat ia rindukan.

​Luna Syakira Wardani yang mendengar pameran Amara hanya bisa mendengus pelan sambil memijat pelipisnya. Luna berada di kelas ini karena sebuah bentuk pemberontakan pasif; ia mengalami krisis identitas yang parah akibat selalu dituntut untuk mengikuti standar kesempurnaan yang ditetapkan oleh kakeknya, seorang tokoh dominan di jajaran komite sekolah SMA Cakrawala Bangsa. Sengaja menghancurkan nilainya adalah cara satu-satunya bagi Luna untuk berteriak melawan kendali sang kakek.

​Kondisi psikologis yang rapuh juga melanda Aqila Ayudia dan Dewi Nur Fitria. Aqila sering kali menjadi bahan gunjingan jahat di sekolah, dituduh sebagai wanita simpanan karena sering terlihat keluar malam bersama pria paruh baya. Padahal kenyataan pahitnya, Aqila harus bekerja paruh waktu merawat seorang lansia lumpuh yang sakit-sakitan sepulang sekolah demi mencari sesuap nasi. Sementara Dewi Nur Fitria harus kehilangan sosok ibunya di usia yang masih sangat muda, memaksanya memikul tanggung jawab berat mengurus seluruh urusan rumah tangga dan adik-adiknya sendirian menggantikan peran almarhumah ibunya, hingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk menyentuh buku pelajaran.

​Di bangku depan, Nadia Andini Febriyanti

menatap buku paket bahasa Indonesia di depannya dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa frustrasi dan putus asa. Huruf-huruf yang tertera di atas kertas putih itu tampak melompat-lompat, berputar, dan terbalik di dalam penglihatannya. Nadia meremas pinggiran buku itu dengan kuat, air mata frustrasi hampir menetes dari matanya. Ia merasa sangat rendah diri karena ia menderita disleksia—sebuah gangguan dalam proses belajar yang membuatnya mengalami kesulitan besar untuk membaca, mengeja, dan memahami simbol teks. Sayangnya, kondisi medis ini tidak pernah dipahami atau dideteksi oleh guru-guru sebelumnya di sekolah ini, sehingga ia selalu dicap secara kejam sebagai anak yang bodoh, malas, dan keras kepala hingga akhirnya didepak ke kelas buangan.

Ketakutan yang berbeda juga melanda Keira Ayuni yang duduk tepat di dekat pintu kelas. Setiap kali mendengar suara langkah kaki sepatu yang berat melintas di koridor barat, tubuh Keira akan langsung menegang dan matanya akan melirik panik ke luar jendela. Keira sangat sering membolos dari sekolah bukan karena ia benci belajar, melainkan karena ia harus melarikan diri dan bersembunyi bersama ibunya dari kejaran para penagih utang (debt collector) yang kerap kali mendatangi rumah kontrakannya dengan membawa senjata tajam dan melakukan ancaman kekerasan fisik akibat utang mendiang ayahnya yang menumpuk.

​Di barisan belakang kubu siswi, Raina Salsabila tampak sibuk mengambil foto narsis dirinya (selfie) menggunakan kamera ponsel dengan berbagai pose yang menarik, lalu dengan cepat mengunggahnya ke akun media sosial miliknya. Raina mengidap kecanduan media sosial yang sangat akut demi mencari validasi, komentar pujian, dan tanda suka (likes) dari orang-orang asing yang tidak dikenalnya di internet. Semua itu ia lakukan sebagai bentuk pelarian psikologis karena di dalam rumahnya sendiri, ia tidak pernah sekali pun mendapatkan pujian, apresiasi, atau pelukan hangat dari sosok ayahnya yang berwatak sangat kaku, dingin, dan selalu mengkritik setiap kegagalan kecil yang dilakukannya.

​Siti Annisa, gadis yang mengenakan hijab paling lebar di kelas itu, duduk merenung di sudut dekat papan tulis. Ia berasal dari latar belakang keluarga sangat religius yang kolot. Tekanan mentalnya sangat berat karena beberapa hari yang lalu, orang tuanya dengan tegas menyatakan bahwa setelah lulus SMA nanti, Siti tidak diizinkan kuliah dan dipaksa untuk menikah muda dengan pria pilihan keluarga. Masa depannya telah dikunci sebelum ia sempat memulainya.

​Di antara riuhnya kubu siswi, Dzaky Hidayat duduk dengan pundak merosot di bangkunya. Dzaky adalah siswa laki-laki yang sering kali salah tempat; ia memiliki fisik yang lemah dan gemar memasak—sebuah hobi yang membuatnya sering menjadi sasaran perundungan verbal dari anak-anak laki-laki kelas lain karena dianggap tidak maskulin menurut standar sosial yang dangkal. Ia merasa lebih aman duduk di dekat kubu siswi daripada harus berkumpul dengan anak laki-laki yang hobi berkelahi.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!