NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 19 : Musuh

"Tunggu dulu, ada sesuatu yang aneh." Silas menghentikan langkah mereka. Ia memandangi sebuah rumah, lalu ia melemparkan sebuah batu ke dalam rumah.

klotak

Drap!

Sekelompok orang dengan masker hitam, dan topi jerami keluar dari rumah warga.

"Serahkan uang kalian! Atau, kami akan membunuh kalian!" ujar seorang pria menodongkan pedang ke arah Theo dan Silas.

"Kak, mau White bantu?" White mendongakkan kepalanya menawarkan bantuan.

"Nggak usah White, kakak nggak mau jadi kakak yang lemah."

"Hehehe, White seneng deh punya kakak."

White kembali meringkuk tenang di leher Theo.

"Maaf, kami nggak bawa uang." Silas menolak ancaman dari orang di depannya.

"Kalau begitu, semuanya serang!"

Berbondong-bondong orang datang ke arah Theo, Silas, dan Lucy.

"Bersiaplah, mereka datang."

Silas dan Lucy mendekat, lalu membentuk sebuah formasi. Silas menyerang orang di depannya dengan perisai dan pedang, sedangkan Lucy menembakkan anak panah ke arah orang itu.

"Theo! giliranmu."

Theo maju, ia memegang tongkatnya.

Buk buk duak

Theo mengayunkan tongkatnya ke depan, belakang, atas dan bawah.

"Awas!" Lucy segera menembak orang di belakang Theo.

Jleb!

"Sialan! Serang mereka!" Pemimpin kelompok itu segera berlari ke arah Theo.

Duk duk

Beberapa pedang menyerang Silas, tapi bisa ditahannya.

Sreet!

Pedang Silas menyobek badan para perampok.

Tiba-tiba, seorang perampok dengan belati mendekati Theo.

"Awas Theo, sudah dekat."

Tring

"Hah. Makasih."

Theo berhasil menangkis serangan belati dengan kukrinya.

"Haah... Syukurlah."

Silas dan Lucy segera membunuh semua perampok yang ada.

"Sial! Dasar keparat sialan!"

Glek

Pemimpin perampok itu menelan sebuah ramuan berwarna merah darah.

Gulp gulp

crek

kratak!

Orang itu berubah, tubuhnya membesar menjadi lima kali lipat. Matanya mengeluarkan darah, seluruh tubuhnya berubah merah.

Dari mulutnya keluar dua buah taring tajam, dan di sekujur tubuhnya tumbuh banyak daging yang berkedut, serta sisik hitam yang tumbuh layaknya karat.

"Argh, Hargh," Pria itu berteriak dahsyat.

"Oh wahai Dewi penuh kasih, limpahkan kasihmu kepada kami untuk menghukum orang yang sesat ini." Lucy dan Silas merapalkan mantra yang konsisten.

Sriing

Tubuh mereka diselimuti oleh cahaya kuning keemasan.

"Divine form, The Seventh Virtues."

Silas maju bersama dengan Lucy, mereka mendatangi sosok monster di depan mereka.

"Ha!"

Pedang Silas melesat tajam ke arah tubuh monster itu, sedangkan panah Lucy meluncur mengamankan ruang yang ada.

Boom!

Area itu dipenuhi oleh kepulan asap.

Whuuush...

"Lucy! Silas! Kalian aman?!" Theo berteriak mengkhawatirkan keadaan Lucy dan Silas.

"Tenang saja, kami aman." Lucy dan Silas segera keluar dari kepulan asap itu.

Ketika kepulan asam mulai menghilang, Monster itu terlihat masih hidup. Bahkan tidak terluka sedikitpun.

"Apa?!" Theo dan Silas berteriak.

"Serangan sekuat itu, seharusnya bisa membelah setidaknya lengannya."

Silas dan Lucy segera bersiap untuk menyerang monster itu lagi.

"Tunggu! ku tau ini gila, tapi coba kalian pakai ini."

Theo mengeluarkan tong cuka yang ia buat.

"Ugh, apapun untuk mengalahkannya."

Silas mengangkat tong itu, ia dan Lucy segera maju.

Berbeda dengan sebelumnya, Silas melempar tong itu lebih dulu.

Wung

Splash

Monster itu memecahkan tong cuka itu dengan cepat.

"Groarrrgh" Makhluk itu terlihat meronta kesakitan, sisik di tubuhnya mulai menghilang digantikan oleh daging tumbuh yang lunak.

Momen itupun segera di manfaatkan oleh Silas dan Lucy.

"Rasakan! Ini!" Silas dan Lucy menembakkan sebuah bola cahaya ke arah monster.

Duar!

Terdengar suara ledakan seketika bola itu menyentuh monster.

"Harrgh, kalian pikir, aku semudah itu dikalahkan?"

Monster itu mulai bertumbuh menjadi dua kali lipat lebih besar.

"Sial. Bagaimana bisa?"

Silas dan Lucy segera berlari ke arah Theo.

"Huh... Huh... Huh... Sepertinya, huft... Kita mundur saja." Lucy menyarankan agar mereka mundur, ide itu segera di sambut baik oleh Theo dan Silas.

"Huuh... Kakak, Mau mundur? White mau bantu, White mau bantu."

White mendongakkan kepalanya, lalu menjulurkan lidahnya.

Ssssshhhh

Terbentuk banyak jarum berwarna Hijau keemasan di depan mulut White.

"pup"

Jarum hijau keemasan itu melesat maju ke arah monster.

"Kuagh! Groarrrgh!"

Bruak!

Monster itu terduduk lemas dengan sekali serang.

Syuuuuttt

Ukuran monster itu mulai kembali menuju ukuran semulanya.

"Sialan, kalian apakan tubuhku?"

"Demi bulan hitam!"

Kresh

Orang itu terlihat mengunyah sesuatu di dalam mulutnya.

Hening...

Dari mulut orang itu keluar darah yang sangat banyak.

"Sialan!" Silas meninju badan orang itu.

"Hei, sudahlah yang penting kita berhasil." Theo berusaha menenangkan Silas.

"Lihat ini!" Silas memberikan kertas misi yang diberikan oleh resepsionis kuil.

"Tangkaplah pemimpin kelompok teroris di desa Utara, Jack hidup-hidup."

"Sial!" Theo berteriak kesal dengan kondisinya.

"Sudahlah, yang penting kita selamat. Oiya, kalian inget tadi nggak? Jack bilang, 'Demi Bulan Hitam.' itu apa ya?" Lucy mencoba menenangkan kedua rekannya dengan menanyakan arti kalimat yang diucapkan Jack.

"Aku pikir, itu merupakan nama kelompok Jack." Silas memberikan pendapatnya yang disambut dengan anggukan kepala oleh Theo dan Lucy.

"Oiya, Theo, gimana kamu tau cara menghilangkan sisik monster itu?"

"Mmm... Kayanya mending kita balik ke kuil dulu deh."

Silas sudah selesai mengikat mayat Jack, lalu ia menaiki kudanya dan membantu Theo menaiki kudanya.

"Ayo!"

Drap drap drap drap

Derap langkah kuda terdengar meninggalkan desa itu.

Sesampainya di kuil, Theo segera turun diikuti dengan kedua rekannya.

"Ho, sekarang berani turun ya?" Silas meledek Theo.

"Berisik!"

Pipi Theo memerah, dia malu karena sebelumnya dia takut naik kuda.

"Selamat datang semuanya, Bagaimana dengan misi yang kalian dapatkan?"

"Umm... anu..." Silas tidak dapat menjawab. Ia hanya membawa mayat dari Jack.

"Kalian membunuhnya? Berarti misi kalian gagal," ucap wanita kuil itu.

"Tunggu, bagaimana kalau kalian anggap aku yang memberi misi?" Robertus yang kebetulan lewat mendatangi mereka.

"Hei Robert." Theo menepuk pundak Robertus, mengundang tatapan penuh ketakutan dari Lucy dan Silas.

"Oho, Theo. Sahabat karibku, oiya aku punya mesin baru loh."

"Dasar sialan."

Tok!

Theo memukul kening Robertus, menambah suasana tegang antara anggota kuil lain.

"Hei, kenapa kalian tegang banget?" Theo memandang Silas, Lucy, dan wanita kuil yang memberi mereka misi.

"Umm..." Lucy segera menarik Theo.

"Dia adalah salah satu dari empat pemimpin kuil. Jadi, bisa dibilang dia adalah wakil ketua dari kuil ordo cahaya ini."

"Oh," ujar Theo singkat membalas penjelasan Lucy.

"Hei, Robert, aku baru aja ngelawan orang dengan sisik loh."

"Masa?" Mata Robertus terlihat berbinar-binar mendengar kata sisik.

"Iya, tanya mereka." Theo menunjuk Silas dan Lucy yang disambut dengan anggukan ringan.

"Wah! Kalo gitu aku anggap kalian menyelesaikan misi. Makasih ya Cecil."

Segera wanita itu mengangguk dan menjauh, menyisakan Robertus, Theo, Silas dan Lucy.

"Ayo kalian ikut aku."

Robertus menatap Lucy dan Silas dengan tatapan tajam.

"Selamat datang di Rubanah Suci."

Robertus membawa mereka ke dalam rubanah.

"Ceritakan bagaimana kalian bisa mengalahkan Jack." Robertus meminta mereka menceritakan dengan sedikit penekanan.

Setelah selesai mendengar cerita, Robertus terlihat lebih berbinar lagi.

"Ha? Dia meminum ramuan?"

Robertus menatap mata seorang alkemis.

Alkemis itu segera membawakan sebuah alat kepada Robertus.

...****************...

End Ch. 19 : Musuh

Makasih semuanya sudah membaca karyaku.

Jangan lupa like, comment, dan favorit semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!