Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. RItual Berbakti Nala
Pagi itu, Nala terbangun dengan ide yang menurutnya sejenak setara dengan pemikiran Albert Einstein.
"Nala, kalau kamu mau tetap tinggal di istana marmer ini, kamu harus jadi asisten rumah tangga yang legendaris. Saga harus merasa kehilangan kalau kamu pergi."
Nala keluar dari kamar tamu dengan langkah ninja. Ia melihat Saga masih mendekam di kamarnya. Sempurna. Waktunya beraksi.
Misi pertama: Penyegaran Udara.
Nala merasa aroma kayu cendana di apartemen itu terlalu "bau bapak-bapak pejabat".
Ia menemukan botol cologne bayi dan minyak telon di tasnya. Tanpa rasa berdosa, Nala mencampurkan keduanya dengan air, lalu memasukkannya ke dalam botol spray pembersih kaca yang ia temukan di bawah wastafel.
Nala menyemprotkan cairan "ajaib" itu ke gorden sutra Saga, sofa kulitnya, bahkan ke arah ventilasi AC.
"Nah, sekarang baunya kayak tempat penitipan anak. Lebih ceria!" gumam Nala puas.
Misi kedua: Optimalisasi Meja Kerja.
Nala melihat meja kerja Saga yang penuh dengan gulungan kertas besar dan maket bangunan dari styrofoam.
"Duh, ini debunya pasti banyak," pikir Nala. Ia mengambil kemoceng pelangi yang entah sejak kapan ada di kopernya, lalu mulai menyapu maket itu dengan tenaga kuli.
BRAK!
Satu pohon miniatur di maket itu tumbang. Nala panik. Ia mencoba memperbaikinya dengan permen karet yang sedang ia kunyah.
"Oke, nempel. Malah kelihatan kayak pohon yang habis kena badai, lebih realistis," bisiknya menenangkan diri sendiri.
Misi ketiga: Sarapan "Gizi Seimbang".
Nala memutuskan untuk membuat pancake, tapi ia tidak menemukan tepung terigu. Yang ia temukan hanya sebungkus tepung tapioka dan bubuk cokelat sasetan.
"Ah, sama-sama tepung ini," pikirnya optimis.
Nala mencampur semuanya dengan air panas sampai menjadi adonan yang kenyal mirip lem tikus.
Ia menggorengnya dengan mentega yang sangat banyak sampai asap putih mulai memenuhi ruangan.
Di saat itulah, pintu kamar utama terbuka.
Saga keluar dengan bathrobe sutrasnya, berniat memulai pagi dengan meditasi dan kopi latte tanpa gula. Namun, saat kakinya melangkah ke ruang tamu, ia langsung tersedak.
"Bau apa ini?! Kenapa rumah saya bau bayi baru lahir?!" teriak Saga, matanya perih karena uap minyak telon yang disemprotkan ke ventilasi AC.
Nala muncul dari dapur, memegang spatula kayu yang sudah menghitam.
"Pagi Mas Ganteng! Itu aromaterapi khusus dari saya. Biar Mas nggak stres mikirin garis melulu!"
Saga menoleh ke meja kerjanya dan hampir pingsan. Ia melihat maket proyek perpustakaan nasional miliknya kini memiliki "pohon permen karet" berwarna merah muda di tengah taman.
"Nala... apa... apa yang menempel di maket saya?!"
"Itu seni instalasi, Mas! Tadi copot dikit, jadi saya bantu lem pakai yang ada," jawab Nala tanpa dosa.
Belum sempat Saga mengamuk soal pohon
permen karet, suara ledakan kecil terdengar dari dapur.
PLOP!
Adonan tepung tapioka cokelat buatan Nala meletus karena suhu terlalu panas, melompat dari penggorengan, dan mendarat tepat di atas kepala Saga yang baru saja lewat di depan pintu dapur.
Saga membeku. Sesuatu yang lengket, panas, dan berwarna cokelat gelap kini menjuntai dari rambutnya yang klimis, perlahan mengalir turun ke dahinya.
"Nala..." suara Saga sangat rendah, jenis suara yang biasanya dimiliki oleh penjahat di film horor sebelum membantai korbannya.
"Eh... Mas... itu... itu pancake cokelatnya mau kenalan sama rambut Mas," Nala mundur perlahan, mencoba menyembunyikan spatula di balik punggungnya.
Saga menyapu "pancake" kenyal itu dari kepalanya dengan tangan gemetar. Ia melihat dapurnya kini penuh dengan bercak minyak telon dan asap cokelat. Ia melihat gorden mahalnya kini berbau minyak kayu putih.
Saga tidak meledak. Ia justru tertawa kecil—jenis tawa yang menandakan seseorang sudah kehilangan kewarasan.
"Cukup. Saya salah. Saya kira kamu cuma polusi suara," Saga berjalan menuju lemari perkakas dengan langkah yang sangat teratur meski kepalanya masih belepotan cokelat.
"Ternyata kamu adalah senjata pemusnah massal yang dikirim Pak Bambang untuk menghancurkan hidup saya."
Saga mengeluarkan gulungan isolasi hitam raksasa. Ia menatap Nala dengan mata yang berkilat-kilat.
"Mas... Mas mau ngapain? Jangan ikat saya pakai itu, Mas! Saya masih mau nikah!" teriak Nala panik.
Saga tidak bicara. Ia berlutut di lantai. Dengan kecepatan seorang profesional, ia menarik isolasi itu dari pintu depan, membelah ruang tamu, melewati kaki Nala (yang hampir ikut terisolasi), hingga berakhir di balkon.
"Ini," Saga menunjuk garis hitam yang
membagi ruangan menjadi 90% wilayahnya dan 10% wilayah Nala. "Adalah batas suci.
Jika kamu melewati garis ini, saya tidak akan memanggil polisi. Saya akan langsung menjual koper merah mudamu ke tukang loak!"
Nala melihat wilayahnya yang sangat sempit, bahkan untuk sekadar selonjoran saja kakinya pasti bakal menyeberang.
"Mas, ini mah bukan wilayah! Ini mah tempat parkir sapu!"
"Nikmati tempat parkirmu, Nala," ujar Saga sambil mengusap sisa cokelat di dahinya dengan tisu bermerk mahal. "Jangan bicara pada saya, jangan melihat saya, dan jangan berani-berani menyemprotkan aroma bayi lagi di wilayah saya!"
Saga masuk ke kamar mandi untuk membilas kepalanya, meninggalkan Nala yang berdiri termangu di atas garis hitam sambil memegang spatula cokelatnya.
"Sensi banget arsitek satu ini," gumam Nala.
"Padahal kan niat gue baik... biar dia awet muda baunya kayak bayi."
Nala baru saja akan kembali ke kamar tamu dengan langkah gontai ketika ia mendengar bunyi bip dari arah pintu depan. Ia menoleh dan membeku.
Seseorang baru saja menempelkan kartu akses dari luar. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat elegan dan tas Hermes asli masuk ke dalam ruangan.