Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Hujan Lebat, Dering Kematian, dan Jurang Keputusasaan
Langit di atas SMA Negeri 1 sore itu mengamuk. Awan hitam pekat bergulung-gulung, menelan habis sinar matahari dan menggantikannya dengan tirai air yang turun membabi buta. Hujan lebat menghantam atap dan kaca jendela dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, menciptakan suasana muram yang seolah mengisolasi sekolah itu dari sisa dunia. Sesekali, kilatan petir merobek langit kelabu, diikuti oleh suara guntur yang membuat kaca-kaca bergetar.
Bagi kebanyakan siswa, hujan badai ini adalah alasan sempurna untuk bermalas-malasan di kelas atau berteduh di kantin sambil menikmati teh hangat. Namun bagi Anandara Arunika, hujan selalu membawa serta hantu dari masa lalu. Suara rintik air yang deras itu adalah gema dari malam jahanam bertahun-tahun silam, malam di mana dunianya runtuh bersamaan dengan kepergian ibunya bersama pria lain.
Untuk mengalihkan pikirannya dari suara hujan yang memicu traumanya, Anandara mengasingkan diri di sudut paling sepi di perpustakaan sekolah. Di depannya terbentang buku tebal Kalkulus Lanjutan dan tumpukan catatan rumus yang rumit. Di tempat ini, dikelilingi oleh angka dan probabilitas yang pasti, Anandara merasa aman. Logika adalah selimut pelindungnya. Matematika tidak pernah berbohong, dan angka tidak pernah mengkhianati.
Udara dingin dari pendingin ruangan perpustakaan berpadu dengan hawa dingin dari luar, namun Anandara tetap fokus pada deretan angka di depannya. Setidaknya, hingga benda pipih persegi panjang di atas mejanya bergetar hebat.
Layar ponsel pintar itu menyala, menampilkan sederet nomor tidak dikenal yang terus memanggil.
Alis Anandara bertaut. Sangat sedikit orang yang mengetahui nomor pribadinya. Ayahnya sedang rapat dewan direksi dan biasanya asistennya yang akan menelepon jika ada hal mendesak. Sinta sedang terjebak di ruang teater karena hujan. Menolak untuk terdistraksi, Anandara mengabaikan panggilan pertama. Layar itu meredup.
Namun, tiga detik kemudian, ponsel itu kembali bergetar. Panggilan kedua. Lalu panggilan ketiga berturut-turut. Ada desakan yang agresif dari si penelepon.
Dengan helaan napas pendek yang terganggu, jemari lentik Anandara akhirnya menggeser ikon hijau di layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo. Ini dengan siapa ya?," sapanya dengan nada datar, profesional, dan sedingin es yang selalu menjadi ciri khasnya.
Di seberang sana, hanya terdengar keheningan selama beberapa detik. Hening yang anehnya terasa sangat berat dan menekan. Hanya ada suara tarikan napas yang sedikit gemetar, berpadu dengan suara samar rintik hujan dari latar belakang si penelepon.
Lalu, sebuah suara mengalun. Sebuah suara wanita.
"Nanda... ini Ibu, Sayang."
Deg.
Darah di sekujur tubuh Anandara seolah membeku detik itu juga. Jantungnya, yang sedetik lalu berdetak normal, tiba-tiba berhenti berdetak selama satu milisekon sebelum akhirnya meledak dalam ritme yang liar dan menyakitkan, menghantam tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri.
Pensil mekanik yang sedang digenggamnya patah menjadi dua.
Wajah Anandara yang sudah pucat karena suhu dingin kini berubah memutih seperti kapas. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis ke dalam sebuah ruang hampa, mencekik paru-parunya dengan sangat kejam. Bau buku-buku tua di perpustakaan seketika tergantikan oleh ilusi aroma parfum mewah yang menyengat, bau pengkhianatan yang sama yang ia cium di gerbang sekolah setahun yang lalu.
Bagaimana bisa? Bagaimana suara monster ini bisa menembus masuk ke dalam zona amannya?
"Dari mana Anda mendapatkan nomor ini?" desis Anandara. Suaranya tidak lebih dari sebuah bisikan tajam, namun di dalamnya terkandung ancaman mematikan dan kepanikan yang berusaha ia tekan mati-matian. Tangannya mulai gemetar hebat.
"Sayang, tolong... tolong jangan tutup teleponnya," suara Bu Riri di ujung sana terdengar memelas, mencoba memainkan intonasi penderitaan seorang ibu yang merindukan anaknya. "Ibu merindukanmu, Nanda. Ibu selalu memikirkanmu. Ibu tahu Ibu salah di masa lalu. Ibu egois. Tapi Ibu ingin menebus semuanya. Bisakah kita bertemu? Berdua saja. Ibu janji hanya sebentar. Ibu punya sesuatu untukmu..."
"Saya tidak punya ibu," potong Anandara, rahangnya mengeras hingga giginya bergemeretak. "Dan saya tidak menerima panggilan dari orang asing yang menderita delusi keibuan. Sekali lagi saya tanya, dari mana Anda mendapatkan nomor ini?!"
"Nanda, tolonglah mengerti posisi Ibu. Darah daging tetaplah darah daging. Ayahmu telah meracuni pikiranmu—"
Klik. Anandara memutus panggilan itu secara sepihak. Jari-jarinya yang gemetar dengan cepat menekan opsi blokir, menghapus nomor itu dari eksistensi ponselnya. Ia membanting ponsel itu ke atas meja. Napasnya memburu. Dadanya naik turun dengan cepat dan tidak teratur.
Ruang perpustakaan yang luas tiba-tiba terasa menyempit, dinding-dindingnya seolah bergerak merangsek maju untuk meremukkannya. Trauma yang selama bertahun-tahun ia kurung di balik jeruji besi logikanya kini meronta-ronta, membongkar gemboknya dengan paksa.
Otak jenius Anandara bekerja dengan kecepatan maksimal, memproses satu pertanyaan krusial: Siapa yang membocorkan nomornya?
Ayahnya tidak mungkin melakukannya. Ayahnya lebih memilih menelan pecahan kaca daripada berurusan dengan wanita itu lagi. Sinta? Mustahil. Sinta adalah anjing penjaganya, Sinta membenci Bu Riri sama besarnya dengan dirinya. Pak Yanto si sopir? Tidak punya akses.
Variabel-variabel itu dieliminasi satu per satu hingga menyisakan satu-satunya kemungkinan logis yang membuat perut Anandara mual tak tertahankan.
Sekolah. Pihak administrasi sekolah.
Tanpa memedulikan buku-bukunya yang berantakan, Anandara berdiri dengan kasar. Kursinya berderit mundur. Ia menyambar ponselnya dan melangkah keluar dari perpustakaan dengan langkah lebar dan cepat. Matanya berkilat penuh kemarahan yang membakar, menyapu bersih tatapan kosongnya. Di dalam dadanya, rasa dikhianati menyala-nyala seperti api neraka.
Ia berjalan lurus membelah koridor yang sepi. Suara pantofelnya beradu dengan lantai keramik menghasilkan bunyi tuk-tuk-tuk yang cepat dan memburu, berpacu dengan suara guntur di luar sana. Tujuannya hanya satu: Ruang Kepala Sekolah.
Sesampainya di depan pintu kayu jati berpelitur tebal bertuliskan "Kepala Sekolah", Anandara tidak repot-repot mengetuk. Etika kesopanan telah menguap dari kepalanya. Ia memutar kenop dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar dengan suara benturan yang keras.
Di dalam ruangan yang hangat dan nyaman itu, Pak Heru, kepala sekolah SMA Negeri 1 yang terkenal berwibawa dan bijaksana, sedang duduk di balik meja kebesarannya sambil menyesap teh chamomile. Pria paruh baya itu tersentak kaget hingga cangkirnya berdenting keras menyentuh tatakan. Ia mendongak dan melihat murid teladannya berdiri di ambang pintu dengan postur kaku, basah oleh keringat dingin, dan wajah yang terlihat seperti malaikat pencabut nyawa yang siap menjatuhkan vonis.
"Anandara? Ya ampun, Nak, kamu mengagetkan Bapak," Pak Heru membetulkan letak kacamatanya, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum kebapakan. "Ada apa? Kamu terlihat pucat sekali. Silakan masuk, duduklah dulu."
Anandara melangkah masuk, namun ia menolak untuk duduk. Ia berjalan menghampiri meja kerja Pak Heru, berhenti tepat di depannya. Ia menumpukan kedua tangannya di atas permukaan meja kaca yang dingin, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam mata kepala sekolahnya dengan tatapan setajam silet.
"Apakah Bapak memberikan nomor telepon pribadi saya kepada seorang wanita bernama Riri?" tanya Anandara. Ia tidak berteriak, suaranya terkontrol dan sangat pelan, namun justru karena itulah intonasinya terdengar begitu mengerikan, mengiris udara di ruangan itu.
Wajah Pak Heru seketika berubah pias. Senyum kebapakannya luntur. Ia membuang pandangannya sejenak, sebuah gestur kecil yang mengonfirmasi segalanya bagi Anandara.
"Duduklah dulu, Nanda. Kita bicarakan ini baik-baik. Bapak bisa jelaskan—"
"Jawab pertanyaan saya, Pak Heru. Ya atau tidak?!" desak Anandara, kali ini suaranya naik satu oktaf, rahangnya mengeras.
Pak Heru menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang anehnya bercampur dengan pembenaran moral. "Ya, Nanda. Bapak memberikannya. Kemarin sore, ibumu datang menemuiku di ruangan ini."
Anandara memejamkan matanya sejenak. Ia merasakan bumi seolah kehilangan gravitasinya. Tempat yang ia anggap sebagai benteng perlindungan terakhirnya, institusi yang ia percaya untuk melindungi data pribadinya, ternyata telah mengkhianatinya begitu saja karena kenaifan seorang birokrat.
"Atas dasar apa Bapak melakukan itu?" suara Anandara mulai bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Ini adalah pelanggaran privasi tingkat berat! Bapak tidak memiliki hak legal maupun moral untuk menyebarkan data pribadi saya tanpa persetujuan eksplisit dari saya atau ayah saya sebagai wali sah!"
"Nanda, tenangkan dirimu dan dengarkan Bapak," Pak Heru berdiri, mencoba menenangkan menggunakan otoritasnya. "Ibumu datang ke mari dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Dia memohon-mohon. Dia bercerita bagaimana keadaan keluargamu dulu... dia bilang ayahmu menjauhkanmu darinya selama bertahun-tahun. Dia bilang dia sedang menderita sakit parah dan hidupnya mungkin tidak lama lagi. Dia hanya ingin mendengar suara putri kandungnya sebelum semuanya terlambat."
Pak Heru menatap Anandara dengan tatapan memelas, menempatkan dirinya sebagai pahlawan kebijakan. "Sebagai seorang pendidik, dan terutama sebagai seorang ayah, hati Bapak tergerak, Nak. Bapak melihat penyesalan di matanya. Bapak pikir, sebesar apa pun masalah keluarga kalian di masa lalu, tidak ada salahnya merekatkan kembali hubungan antara ibu dan anak kandung. Surga itu ada di telapak kaki ibu, Nanda. Jangan sampai kamu menyesal saat dia sudah tidak ada."
Pernyataan itu adalah bom atom yang meluluhlantakkan sisa-sisa kewarasan Anandara siang itu.
Sebuah tawa kecil, sinis, sangat getir, dan dipenuhi penderitaan yang pekat meledak dari bibir gadis itu. Ia tertawa, namun matanya yang memerah memancarkan rasa sakit yang tak terlukiskan. Pak Heru tertegun melihat reaksi murid jeniusnya yang biasanya selalu tenang seperti permukaan danau itu kini terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.
"Surga?" ulang Anandara dengan nada mencemooh yang sangat tajam, senyum sinis tersungging di bibirnya yang gemetar. "Surga apa yang dijanjikan oleh seorang wanita yang membawa pria asing ke dalam ranjangnya saat suaminya sedang memeras keringat di tengah hujan badai?! Surga apa yang ada di telapak kaki seorang wanita yang menginjak-injak harga diri ayahnya dan membuang anak kandungnya seperti membuang sampah organik hanya demi tumpukan uang dan perhiasan?!"
Pak Heru terdiam kaku. Wajahnya semakin pucat mendengar kenyataan mengerikan yang sangat bertolak belakang dengan cerita sedih Bu Riri. "Nanda... Bapak... Bapak sungguh tidak tahu... dia bilang..."
"Tentu saja Bapak tidak tahu!" bentak Anandara, akhirnya kehilangan kendali atas volumenya. Suaranya menggema di ruangan itu, penuh dengan keputusasaan. Air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya. "Karena dunia sialan ini selalu berpihak pada stigma bahwa seorang ibu adalah makhluk suci yang tak pernah salah! Kalian orang-orang dewasa selalu buta pada luka seorang anak yang dikoyak dari dalam oleh ibunya sendiri! Anda mengorbankan ruang aman saya, keamanan psikologis saya, hanya karena Anda merasa berhak menjadi hakim moral bagi cerita bohongnya!"
"Nanda, Bapak sungguh minta maaf... Bapak akan mengganti nomormu, Bapak akan memastikan dia tidak—"
"Permintaan maaf Anda tidak ada artinya!" jerit Anandara parau. Ia memukul meja kaca itu dengan kepalan tangannya hingga menghasilkan bunyi berdebum yang keras. "Bapak baru saja membuka pintu kandang pertahanan saya dan membiarkan monster itu masuk kembali merangkak ke dalam hidup saya! Anda sama saja dengan dia. Anda mengkhianati saya!"
Tanpa menunggu balasan atau pembelaan lebih lanjut dari kepala sekolah yang kini berdiri mematung dengan rasa bersalah yang menggunung, Anandara berbalik. Ia berlari keluar dari ruangan itu.
Pikirannya kini benar-benar kacau balau. Logikanya yang selama bertahun-tahun ia asah telah dibajak sepenuhnya oleh emosi mentah, trauma, dan rasa takut yang absolut. Ia berlari menyusuri koridor, napasnya tersengal-sengal. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang akhirnya tumpah. Bisik-bisik dari beberapa siswa yang berteduh di koridor, menatapnya dengan pandangan keheranan, tidak lagi ia pedulikan.
Ia merasa terpojok. Sehebat apa pun ia belajar, setinggi apa pun nilai ujiannya, sebesar apa pun kekayaan perusahaan ayahnya sekarang, atau setebal apa pun dinding es yang ia bangun di hatinya, wanita itu... monster itu... akan selalu bisa menjangkaunya. Trauma itu bukanlah sesuatu yang bisa ia tinggalkan; trauma itu adalah parasit yang menempel pada DNA-nya, mengalir pekat dalam aliran darahnya.
Langkah kakinya secara instingtif membawanya menaiki tangga. Lantai demi lantai ia lewati dengan kecepatan penuh. Paru-parunya terasa terbakar, namun ia tidak berhenti. Ia ingin pergi ke tempat yang paling tinggi, tempat di mana tidak ada manusia, tempat di mana suara telepon tidak akan pernah bisa mencapainya.
Anandara tiba di lantai lima, di depan pintu akses menuju rooftop (atap sekolah). Pintu besi itu biasanya digembok, namun hari ini, entah karena kelalaian penjaga kebersihan atau karena takdir yang sedang bermain dengan nyawanya, gembok itu tidak terkunci dengan benar.
Anandara mendorong pintu besi yang berat itu dengan sisa tenaganya.
Seketika, angin badai mengamuk, menyambutnya dengan tamparan udara yang sangat dingin. Hujan deras yang menusuk-nusuk langsung menghantam tubuhnya, membasahi seragam putih abu-abunya hingga tembus ke kulit dalam hitungan detik. Kilat menyambar, menerangi langit gelap dan wajah Anandara yang kini penuh dengan keputusasaan.
Ia melangkah gontai keluar, menutup pintu besi itu di belakangnya, mengisolasi dirinya di atas atap yang tergenang air. Hujan menyamarkan air matanya, guntur menyamarkan suara isakannya.
Ia berjalan ke arah pinggiran atap. Tembok pembatas itu tingginya hanya sepinggang. Di bawah sana, lima lantai ke bawah, terhampar pelataran paving block sekolah yang keras, menanti dengan bisu.
Anandara menatap ke bawah. Kepalanya pusing, tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena hawa dingin dari luar, tetapi karena kebekuan di dalam jiwanya.
Pikiran-pikiran beracun mulai mengambil alih kendali otaknya. Suara ibunya berbaur dengan deru angin badai. "Darah daging tetaplah darah daging."
Aku adalah darah dagingnya, batin Anandara merintih pedih. Aku mewarisi matanya. Aku mewarisi garis wajahnya. Bagaimana kalau aku juga mewarisi sifat pengkhianatnya?
Rasa takut yang paling purba dan paling gelap merayapi benaknya. Selama ini ia mengunci hatinya karena ia takut disakiti oleh orang lain. Namun sore ini, di bawah guyuran hujan lebat, realita memukulnya dengan kesimpulan logis yang jauh lebih mengerikan: ia mengunci hatinya karena ia takut melukai orang lain.
Bagaimana kalau suatu hari nanti aku tanpa sadar akan menghancurkan pria yang mencintaiku, persis seperti apa yang dia lakukan pada ayah? Bagaimana kalau kelak aku menjadi monster egois yang menyakiti anak-anakku sendiri? Silsilah ini kotor. Darahku kotor.
Anandara naik ke atas pinggiran beton pembatas atap itu. Sepatu pantofelnya berpijak pada permukaan yang licin oleh lumut dan air hujan. Satu langkah salah, dan gravitasi akan menariknya ke bawah. Angin kencang meniup rambut basahnya ke segala arah, mengoyak keseimbangannya, namun ia tetap berdiri tegak di ambang kematian.
Ia memandang lurus ke arah cakrawala kota yang tertutup kabut hujan. Keputusasaan telah mencapai titik nadirnya. Logikanya yang cacat oleh trauma menyajikan satu-satunya solusi yang masuk akal baginya saat itu: untuk menghentikan siklus penderitaan ini, untuk memastikan ia tidak akan pernah menyakiti ayahnya, Sinta, atau siapa pun di masa depan... ia harus memusnahkan sumbernya. Dirinya sendiri.
Kematian menatapnya dari bawah sana, tidak lagi terlihat menakutkan, melainkan terlihat seperti pelukan hangat yang menawarkan kedamaian abadi. Menawarkan keheningan di mana suara ibunya tidak akan pernah bisa terdengar lagi.
"Maafkan Nanda, Bapak... Maafkan aku, Sinta," bisiknya parau, suaranya hilang ditelan badai. "Aku tidak bisa lari dari darahku sendiri. Lebih baik semuanya berakhir di sini."
Anandara memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengambil napas panjang terakhir yang terasa sedingin es. Tubuhnya mulai condong ke depan, memindahkan pusat gravitasinya melewati batas aman pinggiran beton, merelakan dirinya bersiap untuk jatuh ke pelukan kehampaan yang mematikan.
Di tengah hujan badai yang menderu, gadis jenius berhati hampa itu memutuskan bahwa logikanya telah berakhir di ambang jurang ini.
Bersambung...!
pengamat Senja_