Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Deva di kediaman Sanjaya
Alvaro menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang sarat akan kekecewaan. Dadanya terasa sesak, bukan karena Deva, melainkan karena Hanum. Ia merasa wanita yang dicintainya itu secara tidak langsung sedang mendorongnya pergi ke pelukan wanita lain.
Suasana di dalam mobil mendadak senyap, menyisakan deru mesin yang halus. Hanum segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela samping, mengamati deretan pohon yang melaju cepat, enggan menatap mata Alvaro yang ia tahu sedang menuntut penjelasan darinya lebih jauh.
Setibanya di gedung Sanjaya Group, atmosfer di antara mereka berubah menjadi dingin. Alvaro, yang biasanya selalu menyempatkan diri memberikan wejangan atau sekedar gurauan kecil sebelum bekerja, kini lebih memilih diam seribu bahasa. Ia melangkah tegap menuju meja kerjanya dengan raut wajahnya yang datar dan sulit untuk ditembus.
Hanum pun demikian. Ia menenggelamkan diri di balik tumpukan berkas penting, jemarinya lincah membolak-balikkan kertas seolah-olah dunianya hanya seputar angka dan strategi bisnis. Namun, di balik kefokusa nya, hatinya merasa gelisah melihat sikap Alvaro yang mendadak menjaga jarak.
Saat jam menunjukkan waktu makan siang, seorang staf kantor mengetuk pintu ruangan dengan ragu. Ia membawa beberapa kotak makanan mewah yang dibungkus dengan rapi.
"Maaf Tuan Alvaro, ini ada kiriman makan siang lagi dari Tuan Johan," lapor staf tersebut.
Alvaro bahkan tidak menoleh ke arah kotak-kotak mahal itu. "Berikan saja pada Adam dan sekretaris di depan. Aku tidak butuh," jawabnya singkat tanpa intonasi.
Rupanya, Johan sedang melancarkan aksi mencuri hati. Ia mencoba membangun kedekatan dengan cara yang menurutnya paling efektif: mengirimkan hidangan dari restoran bintang lima setiap hari. Johan merasa di atas angin, berpikir bahwa perut sang penguasa Sanjaya Group adalah kunci untuk kelancaran bisnisnya.
Alvaro bangkit dari kursinya. "Aku akan makan di restoran bawah," ucapnya pada Hanum tanpa menanti jawaban. Ia lebih memilih suasana ramai di kantin perusahaan daripada terjebak dalam keheningan yang menyesakkan bersama Hanum di ruangan itu. Sementara Hanum, ia hanya mengangguk kecil dan memilih tetap tinggal, makan siang sendirian di meja kerjanya dengan pikiran yang melayang.
*
*
Satu minggu berlalu dengan pola yang sama. Johan tetap gencar mengirimkan makanan mewah sebagai upaya pendekatan, tanpa tahu bahwa kiriman itu hanya menjadi santapan rutin para asisten Alvaro. Hanum pun semakin ahli dalam pekerjaannya, meski hubungannya dengan Alvaro masih terasa kaku.
Hingga tiba di penghujung minggu, saat Hanum sedang merapikan tasnya untuk bersiap pulang, ponsel canggih di atas mejanya bergetar. Sebuah pesan dari Deva muncul di layar.
Deva Prameswari:
"Num! Aku sudah di jalan menuju Jakarta. Sore ini aku langsung mampir ke rumahmu ya. Jangan lupa, kenalkan aku secara resmi lagi sama Kak Al yang tampan itu! See you!"
Hanum hanya bisa menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di kursi dengan perasaan yang kian tak menentu. Kehadiran Deva di kediaman Sanjaya bukan hanya sekadar kunjungan sahabat, melainkan sebuah ujian besar bagi perasaannya sendiri yang ia tekan habis-habisan.
"Ada apa lagi?" suara Alvaro terdengar dari balik pintu, ia rupanya sudah siap untuk pulang.
Hanum menatap Alvaro dengan ragu.
"Deva... dia sudah dalam perjalanan ke Jakarta. Sore ini dia akan berkunjung ke rumah kita, Kak."
Rahang Alvaro mengeras sesaat, namun ia hanya membalas dengan satu anggukan dingin. "Kalau begitu, mari pulang. Kita sambut tamu spesial mu itu."
Hanum merasa ada nada sindiran dalam ucapan Alvaro, dan ia tahu, akhir pekan ini tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan.
Apa menurutmu Hanum sebaiknya tetap jujur dengan perasaannya sendiri, atau membiarkan Deva melanjutkan upayanya mendekati Alvaro demi menjaga persahabatan mereka?
*
*
Suasana di kediaman Sanjaya tampak sibuk sore itu. Hanum segera menginstruksikan asisten rumah tangga untuk menyiapkan menu makan malam spesial. Meskipun hatinya terasa berat, ia ingin tetap memberikan penyambutan terbaik untuk sahabat lamanya.
Di sudut ruang tengah, Aliya dan Adiba memperhatikan kesibukan itu dengan wajah jengkel. Mereka merasa wilayah mereka sedang terancam oleh kehadiran orang asing.
"Kak, apakah kita sebaiknya bilang saja kalau Om Al itu menyukai Bunda?" bisik Adiba sambil melirik ibunya yang sibuk di dapur.
Aliya menggeleng cepat, matanya menyipit penuh rencana. "Jangan sekarang, Diba. Terlalu berisiko. Kalau kita langsung bilang begitu, Bunda bisa makin mengelak. Sebaiknya kita buat rencana lain agar Tante Deva ilfil sama Om Al!" jawab Aliya sambil memutar bola matanya, memikirkan strategi jahil.
Akibat kemacetan Jakarta yang tak terhindarkan, Deva baru tiba sekitar pukul 18.30. Saat itu, Hanum, Alvaro, dan si kembar baru saja selesai menunaikan salat Magrib berjamaah di musala rumah. Aroma mukena dan sarung yang segar masih terasa saat mereka menyambut Deva di ruang tamu.
Hanum menyambutnya dengan pelukan hangat, sementara Alvaro bersikap sangat tenang. Ia mencoba bersikap biasa saja, seolah pengakuan Hanum di mobil tempo hari tentang perasaan Deva tidak pernah terjadi. Baginya, menjaga wibawa di depan tamu adalah prioritas.
Setelah makan malam yang diiringi obrolan ringan, Aliya dan Adiba segera berpamitan. "Bun, Om Al, Tante Deva... kami masuk kamar dulu ya. Ada banyak PR yang harus diselesaikan," ucap Aliya dengan senyum yang dipaksakan. Padahal, begitu sampai di atas, mereka langsung merapat untuk menyusun taktik.
Hanum, Alvaro, dan Deva akhirnya berpindah ke balkon belakang. Udara malam yang sejuk menemani mereka menikmati camilan khas Lembang yang dibawa Deva. Alvaro tampak menikmati makanan tersebut karena rasanya yang gurih, bukan manis.
Hanum memperhatikan bagaimana Deva mulai bercerita dengan semangat, dan Alvaro menanggapi dengan sopan. Rasa sesak mulai menjalar di dadanya Hanum. Ia merasa menjadi orang ketiga di antara mereka.
"Oh iya, ponselku tertinggal di kamar. Aku ambil sebentar ya? Kalian ngobrol saja dulu," ucap Hanum mencari alasan, meski hatinya terasa seperti diremas saat melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Hanum menghilang dari balik pintu balkon, suasana menjadi sedikit lebih intim. Deva menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang sudah ia pendam bertahun-tahun.
"Kak Al... aku... emmhhhh..." Deva menjeda, jemarinya meremas pinggiran cangkir teh. "Aku sudah lama suka sama Kakak. Sejak dulu. Apakah aku memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan Kak Al?" tanyanya dengan suara bergetar karena gugup.
Alvaro meletakkan camilannya. Ia menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya untuk menatap Deva dengan serius. Tatapannya tidak dingin, tapi sangat tegas.
"Maaf Deva, tapi aku tidak bisa memberikan kesempatan itu," jawab Alvaro tenang. "Aku... aku sudah mengunci hatiku untuk wanita lain."
Deva terdiam. Keheningan menyelimuti balkon itu selama beberapa saat. Namun, bukannya menangis, Deva justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia sudah lama mengetahui jawabannya.
"Apakah wanita yang dari dulu Kakak sukai itu adalah Hanum? Iya kan, Kak?" tanya Deva langsung ke inti.
Deg!
Alvaro langsung melotot tak percaya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Deva bisa membaca perasaannya yang selama ini ia tutup rapat-rapat dengan label seorang kakak.
"Bagaimana kau..." Kalimat Alvaro menggantung di udara, sementara di balik pintu balkon yang sedikit terbuka, Aliya dan Adiba yang diam-diam menguping dari balik tembok sangat terkejut atas perkataan dari Deva.
"Oh my God!! Rupanya tante Deva sudah tahu perasaannya Om Al, Diba!"
"Iya kak, aku masih tidak percaya." Jawab Adiba ikut terkejut juga
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔