Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Pagi di gedung apartemen itu biasanya dimulai dengan suara denting mesin kopi dan gemerisik koran, namun pagi ini, atmosfernya jauh lebih panas daripada uap kafein mana pun. Sejak SUV mewah dan sedan perak Kingsley terparkir silih berganti di area parkir yang biasanya hanya diisi mobil-mobil tua, radar "kepo" para tetangga telah mencapai level siaga satu.
Lobi gedung lantai dasar kini menjadi pusat intelijen amatir. Mrs. Miller, yang berpura-pura sedang memeriksa kotak suratnya untuk yang kelima kalinya dalam satu jam, terus melirik ke arah lift. Di sampingnya, Mrs. Higgins berdiri sambil memegang anjing poodle-nya, telinganya dipasang tajam-tajam.
"Kau lihat cincin itu?" bisik Mrs. Miller, matanya berkilat penuh spekulasi. "Besarnya hampir seukuran kelereng. Mana mungkin diplomat biasa punya uang sebanyak itu? Aku curiga dia itu bukan diplomat, tapi bandar judi atau mungkin... simpanan wanita kaya."
Mrs. Higgins mendengus. "Jangan konyol, Miller. Diplomat atau bukan, yang jelas dia hidup kembali! Kemarin si Anna menangis sesenggukan bilang tunangan kakaknya tewas kecelakaan. Sekarang? Pria itu muncul seperti hantu, lebih tampan dan lebih kaya. Menurutku, keluarga Yosephine itu sedang melakukan sandiwara besar untuk menutupi rasa malu Faelynn yang tak kunjung menikah."
Di lantai empat, Faelynn baru saja hendak keluar untuk membeli susu di toko bawah ketika ia mendengar suara-suara berisik di koridor. Ia mengintip melalui peephole pintu dan menghela napas. Tiga tetangga dari unit ujung sedang berkumpul tepat di depan lift, sengaja berbicara dengan volume yang bisa didengar sampai ke dalam unitnya.
"Aku kasihan pada Ibner," suara salah satu tetangga terdengar. "Kemarin dia dipelototi pria raksasa itu di lobi. Padahal kan Ibner hanya ingin menyapa mantan kekasihnya. Si Faelynn itu sepertinya sudah mencuci otak kekasih barunya agar membenci semua orang di sini."
Faelynn menyandarkan dahinya di pintu. Rasa kesal mulai merayap. Ia sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan, tapi melibatkan Kingsley dalam drama picisan ini membuatnya merasa bersalah.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat mendarat di bahunya. Kingsley sudah berdiri di belakangnya, mengenakan kaos polo abu-abu yang membentuk otot dadanya dengan sempurna. Ia tampak sudah rapi, aroma parfum sandalwood-nya yang maskulin seketika menenangkan saraf Faelynn.
"Kenapa tidak jadi keluar?" tanya Kingsley lembut.
"Tetangga... mereka sedang mengadakan konferensi pers di depan lift," bisik Faelynn dengan nada sarkasme yang getir.
Kingsley tersenyum tipis, jenis senyum yang menandakan ia punya rencana. "Oh, benarkah? Kalau begitu, ini waktu yang tepat untuk memberikan mereka konten eksklusif. Ayo."
"King, jangan—"
Terlambat. Kingsley sudah membuka pintu apartemen dengan lebar. Ia menggenggam tangan Faelynn, menautkan jari-jari mereka dengan erat, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Begitu pintu terbuka, ketiga tetangga di depan lift itu langsung bungkam. Mereka menatap Kingsley seolah-olah melihat makhluk dari planet lain. Tinggi badan Kingsley yang mendominasi koridor sempit itu secara otomatis menciptakan tekanan psikologis yang membuat para tetangga itu mundur selangkah.
"Selamat pagi, Ibu-ibu," sapa Kingsley dengan suara baritonnya yang mantap. Ia tidak tersenyum, namun sorot matanya sangat tajam, menyapu wajah mereka satu per satu hingga mereka salah tingkah. "Indah sekali ya, melihat kalian begitu perhatian pada calon istriku pagi-pagi begini."
Mrs. Miller berdehem, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Oh... pagi, Tuan. Kami hanya... sedang membahas betapa beruntungnya Faelynn. Kami pikir Anda sudah... ya, tahu sendiri lah kabarnya."
"Kabar kematian saya?" Kingsley menaikkan sebelah alisnya. "Ah, itu hanya strategi lapangan. Terkadang, kita harus membiarkan musuh berpikir kita sudah tiada agar kita bisa menyerang balik dengan lebih telak. Kalian mengerti maksud saya, bukan?"
Kata 'menyerang balik' diucapkan Kingsley dengan penekanan yang membuat bulu kuduk para tetangga itu berdiri. Mereka mengangguk-angguk cepat seperti burung pelatuk.
"Kami permisi dulu," lanjut Kingsley sambil menarik Faelynn masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.
Begitu pintu lift tertutup, Faelynn melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan. "Kau menakut-nakuti mereka, King. Strategi lapangan? Serangan balik? Kau bicara seolah-olah mereka adalah target operasi intelijen."
Kingsley terkekeh, ia menarik Faelynn ke dalam pelukannya di dalam ruang lift yang sempit. "Di duniaku, penggosip adalah sumber kebocoran informasi yang paling berbahaya. Cara terbaik mengatasinya adalah dengan memberikan mereka sedikit ketakutan agar mereka tidak berani mengarang cerita lebih jauh."
Di supermarket bawah, suasana tidak jauh berbeda. Saat mereka berjalan di antara rak-rak bahan makanan, orang-orang berhenti bergerak hanya untuk memperhatikan mereka. Kingsley yang mendorong troli tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Namun, ada satu momen yang membuat Faelynn tersentuh. Saat mereka berada di barisan antrean kasir, seorang ibu muda yang membawa bayi sedang kesulitan karena kantong belanjanya robek. Tanpa diperintah, Kingsley langsung maju, membantu memegangi belanjaan wanita itu, dan dengan tenang membelikan kantong belanja baru yang lebih kuat dari rak pajangan di dekat kasir.
"Terima kasih banyak, Tuan. Anda sangat baik," ucap wanita itu dengan wajah memerah.
Kingsley hanya mengangguk sopan. "Sama-sama. Hati-hati di jalan."
Faelynn memperhatikan pemandangan itu dari samping. Pria ini—yang semalam mungkin saja sedang menghancurkan karier seseorang di Beverly Hills demi melindunginya—pagi ini sedang membantu seorang ibu asing dengan begitu tulus. Kingsley bukan sekadar "pria berbahaya"; dia adalah pria dengan integritas yang luar biasa.
Saat mereka kembali menuju gedung, mereka berpapasan dengan Ibner yang baru saja keluar dari toko serba ada. Ibner tampak berantakan, matanya merah seolah tidak tidur semalam. Begitu melihat Kingsley, Ibner seolah ingin berbalik lari, namun Kingsley memanggilnya.
"Ibner."
Langkah Ibner terhenti. Ia berbalik dengan kaku. "Y-ya?"
Kingsley berjalan mendekat, meninggalkan Faelynn beberapa langkah di belakang. Ia menatap Ibner dengan pandangan yang datar namun menusuk. "Aku dengar kau masih suka membicarakan hal-hal yang tidak benar tentang Faelynn di lingkungan ini. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal sebagai sesama pria."
Ibner menelan ludah dengan susah payah.
"Lima hari lagi adalah pernikahan kami. Setelah hari itu, Faelynn akan pindah dari gedung ini ke kediaman keluarga Emerson. Jika aku mendengar satu kata buruk lagi darimu atau tetangga lain yang bersumber darimu sebelum kami pindah... aku pastikan surat gugatan pencemaran nama baik akan sampai ke tanganmu sebelum kau sempat sarapan besok pagi. Dan percayalah, pengacaraku jauh lebih kejam daripada aku."
Ibner tidak berani membalas. Ia hanya mengangguk pelan dan hampir berlari meninggalkan area tersebut.
Kingsley kembali ke sisi Faelynn, wajahnya kembali melembut seolah tidak terjadi apa-apa. "Sudah selesai. Ayo, Ibu pasti sudah menunggu susunya."
Malam harinya, apartemen Faelynn kembali tenang, namun di luar sana, cerita tentang "Pria Misterius Faelynn" telah berubah dari gosip miring menjadi cerita tentang seorang pria kaya, berkuasa, dan sangat protektif yang tidak segan-segan menghancurkan siapa pun yang mengganggu wanitanya.
Para tetangga kini lebih memilih untuk menutup pintu rapat-rapat saat melihat Kingsley lewat. Tidak ada lagi bisikan di koridor, tidak ada lagi konferensi pers di depan lift. Kingsley telah membangun tembok perlindungan yang tidak terlihat namun sangat kokoh di sekeliling Faelynn.
"King," panggil Faelynn saat mereka sedang duduk di ruang tamu, membantu Melinda memilah daftar undangan yang sangat terbatas—hanya keluarga inti dan beberapa sahabat dekat.
"Ya, sayang?"
"Terima kasih karena sudah menjadi perisaiku. Tapi jangan terlalu keras pada mereka, ya? Mereka hanya orang-orang yang bosan dengan hidup mereka sendiri."
Kingsley meletakkan penanya, menatap Faelynn dengan kasih sayang yang mendalam. "Aku tidak keras, Lyn. Aku hanya sedang melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami. Menjaga ketenangan istrinya adalah prioritas utamaku."
"Istri..." Faelynn mengulang kata itu dengan senyuman kecil. "Kedengarannya masih sangat aneh."
"Biasakanlah. Karena kau akan mendengar panggilan itu selama sisa hidupmu," sahut Kingsley, mengecup jemari Faelynn yang mengenakan cincin berlian milik neneknya.
Lima hari menuju altar kini terasa bukan lagi sebagai pelarian dari masalah, melainkan perjalanan menuju kemenangan yang sesungguhnya. Dan bagi Faelynn, tetangga yang kepo atau masa lalu yang pahit hanyalah latar belakang dari sebuah cerita besar yang kini ia tulis dengan darah, keringat, dan cinta yang nyata dari seorang Kingsley Emerson.