Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.
Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Gerbang Benua Tengah
Kabut abu-abu Lautan Kekosongan akhirnya menipis. Pemandangan yang terbentang di balik tabir itu membuat siapa pun yang baru pertama kali melihatnya menahan napas kagum.
Benua Tengah bukanlah daratan datar seperti benua-benua pinggiran. Benua ini terbentuk dari puluhan ribu daratan raksasa yang melayang di angkasa, saling terhubung oleh jembatan pelangi spiritual dan rantai-rantai formasi kuno yang memancarkan cahaya keemasan. Qi Alam di sini sangat padat, hingga awan-awan di bawah pulau-pulau melayang itu terbuat dari tetesan embun surgawi murni.
Kapal Bayangan Naga milik Jian Zui yang meskipun disamarkan dengan sihir, tetap terlihat seperti kapal kayu tua dari luar berlayar pelan memasuki wilayah perairan udara Kota Pelabuhan Awan Awal.
Ini adalah gerbang utama menuju Benua Tengah dari arah Utara.
Pelabuhan ini dipenuhi oleh ribuan kereta terbang berlapis emas, pedang raksasa tingkat surga, dan binatang buas penarik dari klan-klan terpandang. Kedatangan kapal kayu kumuh di tengah kemegahan armada-armada ini tampak seperti pengemis yang nyasar ke perjamuan kaisar.
"Wah... Qi di tempat ini enak sekali," gumam Long Chen sambil mengendus udara. Paru-paru naganya menyerap Qi dengan rakus. "Tapi... kenapa semua orang menatap kita seolah kita baru saja merangkak keluar dari selokan?"
Long Chen benar. Para kultivator dari Benua Tengah yang berlalu lalang di pelabuhan menatap Kapal Bayangan Naga dengan pandangan meremehkan, jijik, atau tawa mengejek. Arogansi kultivator "pusat" terhadap orang "daerah pinggiran" sangat kental.
"Biarkan saja mereka, Tuan Muda Long," Jian Zui menyandarkan kapal di dermaga ujung yang paling sepi. "Di mata mereka, selain dari Tiga Klan Kaisar dan Dua Faksi Suci, semua orang adalah fana rendahan. Kita hanya perlu melewati pos pemeriksaan Gerbang dan masuk ke kota."
Zhao Xuan turun dari kapal dengan langkah pelan. Ia mengenakan jubah hitam sederhana (yang sebelumnya hangus dan kini dijahit ala kadarnya oleh Gu Tianxue). Namun, rambut merah nya yang bergerak seperti api kecil tetap membuatnya tampak sangat mencolok.
Mereka berempat berjalan menuju Gerbang raksasa yang terbuat dari Giok Putih. Di pos penjagaan, terdapat puluhan penjaga berseragam perak dengan Token "Timbangan Hukum", pertanda bahwa pelabuhan ini dikelola bersama oleh dewan aliansi faksi-faksi besar.
Di depan gerbang, antrean kultivator dari luar sedang diperiksa dengan ketat.
"Berhenti di sana, Orang Kampung!" bentak seorang Penjaga Kepala yang bertubuh gemuk, dengan kumis melintang dan aura God King Awal yang sangat tidak stabil akibat terlalu banyak mengonsumsi pil lansung.
Si Penjaga Kepala mengarahkan tombaknya ke arah dada Zhao Xuan yang berjalan paling depan.
"Kalian dari benua mana?! Baju compang-camping, kapal reyot, dan aura Qi yang tidak jelas. Apakah kalian pengungsi yang lari dari Benua Utara karena takut pada Iblis Darah?!" ejek si Penjaga dengan suara keras, sengaja menarik perhatian kerumunan di sekitar gerbang agar mereka ikut tertawa.
Para kultivator lokal Benua Tengah langsung terkekeh merendahkan.
Gu Tianxue mengerutkan kening. Tangannya sudah berada di gagang pedang bergeriginya. Niat Bayangannya siap untuk memenggal kepala gemuk itu dalam satu tarikan napas.
Namun, Zhao Xuan tidak mengubah ekspresi datarnya. Ia bahkan tidak berhenti berjalan.
"Kami datang karena ada anjing dari Benua Tengah yang mengirim undangan," jawab Zhao Xuan santai.
"Anjing?!" Wajah si Penjaga Kepala memerah karena marah. "Lancang! Kau mengotori pelabuhan suci ini dengan mulut kotormu! Keluarkan Cincin Spasial kalian semua! Biar kuperiksa apakah ada barang selundupan. Dan bayar Pajak Masuk: Seratus ribu Batu Giok Bintang per kepala!"
Long Chen melotot. "Seratus ribu?! Hei, Babi Gemuk, tarif di papan itu tertulis seribu Giok Bintang! Kau mencoba memalak kami?!"
"Aku penjaga di sini, aku yang menentukan hukumnya untuk gembel sepertimu!" Penjaga itu menyeringai licik, sengaja mencari gara-gara. Ini adalah hiburan rutinnya memalak kultivator dari benua luar yang biasanya terlalu takut untuk melawan otoritas lokal.
"Jika kalian tidak punya uang, berlutut, merangkak di antara kakiku, dan tinggalkan pelabuhan in—"
Ucapan Penjaga itu terputus.
Zhao Xuan yang sedari tadi terus berjalan, kini telah berada tepat di depan Penjaga Gemuk itu. Jarak mereka hanya selangkah.
Ia tidak mengeluarkan aura pembunuhan, tidak meledakkan Niat Qi, dan tidak mengucapkan satu kata ancaman pun. Ia hanya menatap tepat ke sepasang mata Penjaga itu. Lingkaran emas di pupil Zhao Xuan sedikit berkedip.
Seketika, di dalam pikiran Penjaga Gemuk tersebut, ilusi dari kengerian absolut meledak. Ia tidak melihat seorang pemuda fana, melainkan seekor Monster Asura raksasa berambut merah yang sedang menggenggam jiwa jutaan kultivator di tangannya, diselimuti oleh Api Putih Nirwana yang membakar fondasi surga.
BRUK.
Kedua lutut Penjaga Gemuk itu menghantam lantai giok dengan keras hingga retak. Wajahnya pucat pasi, matanya mendelik lebar, dan keringat dingin membasahi seluruh seragam peraknya. Rahangnya bergetar tak terkendali. Bau pesing menyengat perlahan menguar dari celananya.
Ia terkencing-kencing hanya karena ditatap!
"K-K-K-K-Ke... K-K-Keluar... S-Silakan lewat... Yang Mulia..." Penjaga itu meracau dengan lidah kelu, bersujud hingga dahinya membentur lantai, tidak berani menatap Zhao Xuan lagi.
Puluhan penjaga lain dan ratusan kultivator lokal di sekitar gerbang terdiam kaku. Tawa merendahkan mereka tersangkut di tenggorokan.
Seorang Penjaga Kepala God King Awal... berlutut kencing di celana hanya karena pemuda asing itu berjalan melewatinya?! Ilusi macam apa itu?!
Zhao Xuan terus melangkah santai melewati gerbang, menginjak punggung penjaga yang bersujud itu layaknya keset kaki, tanpa menoleh ke belakang.
Long Chen tertawa terbahak-bahak, menendang pelan pantat penjaga gemuk itu saat melewatinya. "Terima kasih atas sambutannya, Babi! Pelayanan di Benua Tengah ternyata sangat memuaskan!"
Jian Zui dan Gu Tianxue menyusul dalam keheningan, mengabaikan tatapan syok dan ngeri dari kerumunan elit lokal yang kini mulai menyadari bahwa sekelompok monster baru saja berjalan masuk ke wilayah mereka.
Setelah kelompok Zhao Xuan menjauh dan menghilang di balik keramaian kota...
Di sudut gerbang yang teduh, dua sosok yang sedari tadi menonton kejadian tersebut perlahan melangkah keluar dari bayang-bayang pilar giok.
Satu adalah seorang pemuda tampan dengan rambut perak panjang yang diikat rapi, mengenakan jubah biru es dengan lambang Pedang Menembus Bintang. Ia adalah Jian Chen, salah satu jenius teratas dari Paviliun Pedang Bintang.
Di sebelahnya, seorang gadis cantik dengan sisik naga kecil berwarna zamrud di pelipisnya, mengenakan zirah tipis hijau-emas. Ia adalah Ao Qing, Putri dari Klan Naga.
"Kau melihat matanya, Jian Chen?" gumam Ao Qing, matanya yang vertikal bagai reptil menyipit tajam. "Auranya terlihat sangat fana, tapi tekanan mental yang ia lepaskan tanpa sengaja barusan... membuat darah nagaku berdesir. Rambut merah itu... apakah itu sosok yang dibicarakan oleh Han Tianyi?"
Jian Chen mendengus dingin, tangannya mengelus gagang pedang di pinggangnya.
"Sebuah trik Ilusi Jiwa rendahan untuk menakuti anjing penjaga," ejek Jian Chen arogan. "Han Tianyi terlalu melebih-lebihkan kekuatan pemuda kampung ini. Dia mungkin bisa membunuh Iblis Darah yang kolot, tapi di hadapan Seni Pedang Bintang Sejati, Ilusi tidak ada gunanya."
Ao Qing terkekeh pelan. "Arogansimu akan membunuhmu suatu hari nanti, Pendekar Pedang. Tapi aku setuju. Jika dia adalah tamu istimewa yang diundang ke Perjamuan Resonansi Dao bulan depan, kita akan melihat apakah rambut merahnya itu bisa menahan tekanan dari jenius sejati Benua Tengah."
Kedua jenius itu berbalik dan menghilang ke dalam udara, diam-diam mengikuti pergerakan rombongan Zhao Xuan.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️