ig: @namemonarch
Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.
"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."
Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 — Su Wenzhou
Gerobak kayu itu berhenti dengan bunyi derit yang memekakkan telinga. Aroma anyir darah kering, daging membusuk, dan lumpur basah langsung menyengat penciuman. Dua penjaga Keluarga Lin yang bertugas mengawal kereta limbah tersebut melompat turun sambil menutup hidung mereka dengan kain kusam.
"Buang saja di pinggir Jurang Dangkal ini. Aku tidak sudi masuk lebih dalam ke wilayah anjing liar. Bau tempat ini bisa membuatku memuntahkan makan malamku," gerutu salah satu penjaga.
Penjaga lainnya mengangguk setuju. Tanpa basa-basi, mereka memiringkan bak gerobak. Tubuh Ye Chen, bersama tumpukan tanah sisa galian tambang dan beberapa bangkai binatang penarik, meluncur bebas dan terjerembap ke atas tanah berbatu dengan bunyi debum yang keras.
Batu-batu tajam menggores punggung Ye Chen, namun ia tetap menahan napasnya agar terdengar dangkal dan tidak beraturan, persis seperti buruh rendahan yang sedang menghembuskan napas terakhir.
Setelah memastikan gerobak itu telah berbalik arah dan suara roda kayunya menjauh hingga hilang ditelan jarak, Ye Chen perlahan membuka matanya. Langit sore mulai menguning, menebarkan cahaya redup di atas padang tandus pembuangan yang terletak tiga mil dari gerbang timur Kota Daun Gugur.
"Sistem, pindai radius lima ratus meter. Pastikan tidak ada fluktuasi Qi dari penjaga Keluarga Lin atau binatang buas," bisik Ye Chen pelan.
[Memindai lingkungan... Area aman. Dua entitas anjing liar tingkat fana terdeteksi di arah jam sembilan, namun mereka tidak menunjukkan niat mendekat.]
Ye Chen menggunakan tangan kanannya untuk menekan tanah, memaksa tubuhnya yang hancur untuk duduk. Lengan kirinya yang terikat bidai kain tampak mengenaskan—bengkak kehitaman dengan darah yang mulai mengering. Rasa sakit yang memancar dari tulang yang remuk dan meridian yang robek membuat pandangannya sesekali berkunang-kunang.
Ia memejamkan mata dan membuka antarmuka Toko Sistem di dalam benaknya. Sebagai pemilik lebih dari 146.000 Poin Kenaikan, ia memiliki modal yang cukup untuk mencari jalan pintas dari penderitaan ini.
"Sistem, saring daftar barang. Cari pil atau ramuan penyembuh tingkat tinggi yang mampu merekonstruksi tulang remuk dan menyambung meridian yang hangus dalam waktu singkat," perintah Ye Chen di dalam hatinya.
[Memproses pencarian di Toko Sistem...]
[Ditemukan: Pil Lahir Kembali Tulang Giok (Tingkat Menengah-Atas). Fungsi: Merekonstruksi tulang yang hancur dan menyembuhkan meridian tingkat Kondensasi Qi dalam 1 jam. Harga: 105.000 Poin Kenaikan.]
[Ditemukan: Salep Sumsum Naga Bumi (Tingkat Menengah). Fungsi: Menumbuhkan kembali jaringan saraf dan tulang. Harga: 98.000 Poin Kenaikan.]
Melihat deretan harga yang bercahaya di benaknya, mata Ye Chen menyipit dingin. Membeli salah satu dari obat tersebut akan menghabiskan lebih dari 70% total Poin Kenaikan yang baru saja ia peroleh dengan mempertaruhkan nyawanya semalaman.
Bagi Ye Chen, ini adalah kalkulasi untung-rugi yang sangat merugikan. Poin Kenaikan adalah energi fundamental yang sangat berharga; fungsinya yang paling krusial adalah untuk membuka Ruang Simulasi Mental, memahami hukum alam, dan menembus batas kebuntuan kultivasi. Menggunakan ratusan ribu poin hanya untuk mengobati luka jasmani—luka yang sebenarnya masih bisa disembuhkan oleh pengobatan duniawi—adalah sebuah pemborosan yang tidak akan pernah ia lakukan.
"Batal," putus Ye Chen tanpa keraguan. "Aku akan menggunakan metode medis konvensional. Tubuh ini butuh dirawat, dan aku butuh tempat yang aman untuk memulihkan diri."
Pikirannya langsung menyusun opsi yang tersedia di Kota Daun Gugur. Mencari balai pengobatan umum hanya akan mengungkap keberadaannya. Satu-satunya pihak yang memiliki tempat rahasia dan nyawanya berada tepat di dalam genggaman Ye Chen adalah sang peracik pil dari Rawa Racun Hitam: Ahli Alkimia Su Wenzhou.
Meskipun Su Wenzhou bukan seorang tabib yang ahli membedah tubuh, dan pria tua itu tidak memiliki kemampuan bertarung yang bisa diandalkan, Su pasti memiliki koneksi luas ke dunia bawah tanah medis di kota ini.
"Sistem, tampilkan rute menuju kediaman pribadi Su Wenzhou di Distrik Barat. Cari jalur gang sempit yang menghindari pos jaga utama," perintah Ye Chen.
Dengan tekad yang menekan batas kewarasan jasmaninya, ia bangkit berdiri. Ia menarik sisa Qi murni di Dantiannya, mengalirkannya secara tipis ke kaki kanannya untuk menopang beban, lalu mulai berjalan tertatih menembus bayang-bayang senja.
Malam telah larut menyelimuti Kota Daun Gugur. Kediaman Ahli Alkimia Su Wenzhou di Distrik Barat tampak damai dari luar. Di ruang bawah tanahnya, aroma tajam dari berbagai akar herbal yang sedang dipanggang menguar memenuhi udara.
Su Wenzhou sedang duduk santai di depan tungku perunggunya. Ia baru saja selesai memurnikan sepanci pil penambah darah tingkat rendah. Sejak ia kembali sendirian dari Rawa Racun Hitam dan menyebar kebohongan bahwa seluruh timnya tewas dimakan monster, hidupnya terasa sangat tenang.
Ia menyesap teh ginseng keemasannya. "Pemuda iblis bernama Ye Chen itu... semoga dia mati membusuk di suatu tempat. Jika dia tidak pernah kembali, rahasiaku akan aman selamanya," gumam sang ahli alkimia pelan.
"Sebuah harapan yang sangat dangkal, Su Wenzhou."
Suara dingin itu terdengar dari sudut tergelap ruangan, membuat cangkir teh di tangan pria tua itu terlepas dan hancur di lantai batu.
Su Wenzhou melompat dari kursinya, matanya melebar penuh teror. Dari balik rak penyimpanan akar spiritual, sesosok tubuh melangkah keluar. Jubah usangnya berlumuran lumpur tambang dan darah kering. Wajahnya pucat pasi, dan lengan kirinya terikat kaku di dada.
"K-kau... bagaimana kau bisa menembus formasi pelindung di halamanku?!" Su tergagap, mundur hingga punggungnya menabrak tungku perunggu yang panas.
"Hanya formasi elemen tanah tingkat rendah," jawab Ye Chen datar, berjalan perlahan ke tengah ruangan. Ia menarik sebuah kursi kayu dengan tangan kanannya dan duduk. "Menyelaraskan sirkulasi energi dengan frekuensi rotasi formasi bukanlah hal yang sulit."
Su Wenzhou menatap Ye Chen lekat-lekat. Instingnya mengamati pemuda itu yang tampak berada di ambang kelumpuhan. "Tulang lengan kirimu... hancur total. Meridian di sekitarnya hangus parah," ucap Su.
Su Wenzhou hanyalah kultivator di Alam Kondensasi Qi Tahap Awal. Karena kelemahannya dalam bertarung, ia selalu menyewa tentara bayaran untuk melindunginya. Namun saat ini, melihat kondisi Ye Chen yang sekarat dan tidak bisa melawan, sebuah dorongan kelam muncul di benak pria tua itu. Niat membunuh melintas di matanya. 'Jika aku membakarnya sekarang dengan api alkimia, rahasia di rawa itu akan lenyap tanpa sisa!'
"Aku bisa merasakan niat membunuhmu dari sini," ucap Ye Chen santai, sama sekali tidak terintimidasi oleh pendaran api tipis yang mulai muncul di telapak tangan Su. "Kau sadar kau ini lemah, tapi kau sedang memikirkan peluang untuk menyerangku saat aku terluka."
Su Wenzhou tersentak, api di tangannya bergetar goyah.
"Biar kuingatkan tentang satu hal," lanjut Ye Chen, jari tangan kanannya mengetuk sandaran kursi dengan ritme lambat yang mengancam. "Sebelum aku datang menemuimu malam ini, aku telah menulis sebuah gulungan surat. Isinya menceritakan kebenaran tentang Jantung Formasi di makam kuno itu dan bagaimana kau lari membiarkan Kapten Lei dibantai. Gulungan itu kusembunyikan di sebuah pos titipan rahasia. Jika aku tidak kembali untuk memperbarui segel energinya menjelang fajar besok, kotak itu akan otomatis terbuka dan isinya akan dikirim langsung ke meja Ketua Serikat Gagak Hitam."
Wajah Su seketika memucat, seputih kertas. Niat membunuhnya lenyap ditiup angin, digantikan oleh keputusasaan yang mendalam. Jika Serikat tahu ia sengaja membiarkan tim elit mereka mati demi menyelamatkan diri sendiri, ia akan dikuliti hidup-hidup.
"Singkirkan pikiran bodohmu itu," ucap Ye Chen dingin. "Aku datang bukan untuk mencabut nyawamu. Tubuhku butuh perawatan intensif malam ini juga."
"T-tapi..." Su menelan ludah, suaranya bergetar hebat. "Aku ini ahli alkimia! Aku meracik pil rendahan dan mengolah akar spiritual! Aku bukan seorang tabib yang bisa membedah daging, menyusun tulang yang remuk menjadi bubur, atau menjahit meridian! Jika aku yang menangani lenganmu dengan kemampuanku yang seadanya, kau pasti akan cacat seumur hidup!"
"Aku tahu kau tidak memiliki kemampuan medis murni seperti itu," jawab Ye Chen tenang, ekspresinya tidak berubah. "Karena itulah aku datang padamu. Sebagai ahli alkimia di kota ini, kau pasti tahu banyak koneksi. Siapa praktisi medis terbaik yang bergerak di bayang-bayang? Seseorang yang ahli dan tidak banyak bertanya dari mana luka ini berasal."
Su berpikir sejenak, keringat dingin menetes dari dahinya. "Ada... ada seorang tabib bernama Hua. Dia adalah seorang eksentrik yang membuka praktik rahasia di Distrik Timur. Kemampuan medisnya sangat luar biasa, kudengar dia bahkan bisa menyambung urat spiritual yang terputus total. Tapi... tarifnya sangat tidak masuk akal. Dia tidak menerima kepingan emas, dia hanya menerima bayaran dalam bentuk barang berharga atau batu spiritual."
Ye Chen mengangguk pelan, seolah semuanya sudah berada di dalam perhitungannya. Ia merogoh ke balik jubah kotornya dan melempar sebuah kantong kecil ke atas meja kayu di dekat Su.
Kantong itu terbuka, memperlihatkan lima potong serpihan kristal berwarna biru kehijauan yang memancarkan pendaran Qi sangat murni.
Mata Ahli Alkimia Su membelalak lebar. Mulutnya terbuka menatap cahaya kristal tersebut. "I-ini... Serpihan Intisari Batu Spiritual?! Kualitas menengah?! Dari surga mana kau mendapatkan harta semacam ini?!"
"Tutup mulutmu dan dengarkan instruksiku," perintah Ye Chen tajam. "Ambil kristal itu. Gunakan dua potong untuk membayar Tabib Hua, dan berikan alasan apa pun agar dia mau datang ke ruang bawah tanahmu ini malam ini juga. Tiga potong sisanya adalah milikmu—sebagai bayaran atas sewa tempat ini, dan untuk memastikan mulutmu tetap tertutup rapat."
Su menatap kristal itu dengan ketamakan yang luar biasa. Baginya yang kesulitan menembus Tahap Awal, tiga potong intisari batu spiritual kualitas menengah adalah harta karun yang tak ternilai. Ketakutan pria tua itu kini sepenuhnya tertutupi oleh keserakahan.
"Kau mengerti tugasmu?" tanya Ye Chen, suaranya membawa tekanan yang membekukan darah.
"M-mengerti! Aku akan segera menjemput Tabib Hua!" ucap Su tergesa-gesa. Ia mengantongi kristal tersebut, menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu bergegas berlari menaiki tangga keluar dari ruang bawah tanah, meninggalkan Ye Chen sendirian dalam keheningan.
Ye Chen menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam menahan gelombang rasa sakit yang terus menghantam sarafnya.
'Tabib Hua,' batin Ye Chen di tengah keheningan. 'Sebuah variabel baru. Mari kita lihat apakah kemampuannya sepadan dengan harganya.'
ada usul tidak jelas