NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Ketahuan !!

Beberapa menit berlalu, napas Darren sudah benar-benar stabil, warna wajahnya kembali segar, dan rasa sakit yang tadi menyiksa sudah lenyap tanpa bekas. Perlahan dia melepaskan pelukannya, tangannya masih menyentuh lengan Zinnia sebentar sebelum akhirnya menarik diri, matanya menatap lembut wajah gadis di hadapannya.

" Silahkan jika kamu mau pergi. Aku sudah membaik. Terima kasih.. " ucapnya pelan, nadanya tak ada lagi nada memaksa atau menggoda, hanya tulus berterima kasih.

Zinnia diam sejenak, kakinya mau melangkah pergi tapi pikirannya masih penasaran dengan semua yang baru saja dia dengar. Akhirnya dia menoleh kembali menatap Darren.

" Darren, katakan padaku, apa kamu pernah punya pacar sebelumnya? "

Darren mengangkat alisnya sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya.

" Sering.. kau tahu julukanku kan? Raja playboy, banyak yang bilang gitu. "

" Lalu bagaimana rasanya saat bersama mereka? Apakah... apakah mereka juga bisa membuat sakit kepalamu hilang? " tanya Zinnia lebih berani kali ini, matanya menatap tajam mencari kebohongan di wajah lelaki itu.

Darren menggeleng tegas, tatapannya serius tak bercanda sedikitpun.

" Sama saja, tidak ada bedanya. Semua sama saja, tak ada yang magis seperti kamu. "

" Bohong !! " potong Zinnia cepat, tak percaya begitu saja.

" Aku serius sayang.. " jawab Darren mendekat sedikit lagi, nadanya berat dan jujur.

" Ya pikir saja sendiri, untuk apa aku sampai nekat mendekati pacarnya sahabatku sendiri kalau cuma karena nafsu semata? Gila kali ya aku? Tapi memang kamu bikin gila juga sih.. " Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan.

" Hanya saja Zinnia aku serius, kamu satu-satunya. Sejak dulu sampai sekarang, tak ada orang lain yang punya efek sama seperti kamu padaku. Kamu obatnya, dan aku tak mau kehilangan itu. "

Zinnia menggeleng keras, dia tak mau terjebak lagi, tak mau tergoda oleh kata-kata manisnya.

" Darren dengar aku tak mau tahu soal itu, aku tak mau percaya juga. Tapi tolong berhenti menggangguku !! Kita tak mungkin terus begini. Aku juga sudah berjanji sama Rion. "

Darren menghela napas panjang, wajahnya terlihat kecewa dan sedih.

" Baiklah. Kamu tak kasihan padaku ya.. hm.. menyakitkan... "

" Bukan begitu. hanya alasanmu tidak masuk akal, aku belum percaya padamu soal itu semua. Aku perlu bukti, bukan cuma omongan. "

" Ya wajar. Aku juga tak akan percaya kalau posisi kita dibalik. Pergilah.. Rion pasti cari kamu.. dan kalau dia lihat apa yang aku buat di lehermu, dia pasti bakar aku hidup-hidup nanti. " ucap Darren sambil tersenyum getir.

Mendengar itu mata Zinnia langsung membelalak, dia langsung mengangkat tangan menyentuh lehernya, baru ingat masalah besar.

" AAAAAA !! Ya ampun !! Dia pasti marah besar karna kamu buat ini di leherku !! Ah ngeselin banget kamu !! Dasar cowok kurang ajar.. " keluhnya sambil menepuk dada Darren kesal, wajahnya langsung panik memikirkan reaksi Rion nanti.

Darren tertawa kecil melihat tingkahnya, lalu langsung mengangkat tangan menenangkan.

" Ah maaf maaf.. sini aku bantu tutupi. aku punya obat ampuh buat itu, dijamin hilang total, gak ada bekas sedikitpun. "

" Serius? Jangan bohong kamu!! "

" Ya, kapan aku bohong sama kamu? " jawab Darren sambil bangkit berdiri dan membuka laci nakas, mencari sesuatu di dalam sana.

Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna bening, isinya berupa krim berwarna putih pucat. Dia kembali duduk di samping Zinnia, lalu membuka tutupnya, mengambil sedikit dengan ujung jari.

Zinnia mendekatkan lehernya, dan Darren mulai mengoleskan krim itu perlahan, hati-hati menyentuh setiap bekas merah keunguan yang dia buat sendiri tadi. Gerakannya lembut, jemarinya bergerak memijat pelan agar meresap sempurna. Dan ajaib... detik demi detik, bekas-bekas ciuman itu perlahan memudar, warnanya makin samar, sampai akhirnya benar-benar hilang tak tersisa, kulit putihnya kembali mulus bersih seperti semula.

Zinnia menatap kaget, matanya tak percaya melihat hasilnya.

" Kok bisa? Ini apa sih? "

Darren menutup kembali botol kecil itu, lalu meletakkannya kembali ke dalam laci sambil tertawa geli.

" Gak tahu, aku dapet ini dari Koh meng, katanya kaga-jaga, kalau punya pacar. Aku awal nya gak ngerti maksud dia apa, tapi setelah Pacaran baru aku paham. "

" Hem gitu ya.. Yaudah aku mau kembali ke kabin dulu. "

" Ya silahkan tuan putri.. " Persilahkan Darren seraya membuka jalan untuk Zinnia melangkah.

***

Zinnia melangkah pelan menuju kabinnya, jantungnya berdebar kencang, kepalanya penuh perhitungan, dia berusaha sebisa mungkin agar Rion tak menyadari dia sempat pergi dan menghabiskan waktu di tempat Darren. Dia mengatur napasnya, memasang ekspresi biasa saja, lalu mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Tapi begitu kakinya menginjak lantai kayu, langkahnya langsung berhenti dan napasnya tertahan. Di atas kasur besar, Rion sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur, tangannya disilang di dada, dan matanya menatap tepat ke arahnya, tajam, dingin dan menusuk sampai ke tulang sumsum, aura amarahnya menyebar memenuhi seluruh ruangan sampai udara terasa berat. Jelas sekali lelaki ini sudah menunggu lama, dan jelas sekali dia sedang marah besar.

" Eh.. Kamu ada disini ya.. sejak kapan? Tadi aku cari kamu keluar.. tapi gak ketemu.. " ucap Zinnia cepat, mencoba berpura-pura polos, matanya bergerak kesana kemari tak berani menatap langsung.

" Gitu ya.. " Jawab Rion singkat, nadanya datar tanpa emosi, sama sekali tak terkesan dengan alasan itu.

" Kamu marah ya.. " Zinnia tahu dia tak bisa menghindar lama, jadi dia langsung mengubah strategi.

Dia melangkah cepat mendekat, lalu dengan santai duduk tepat di pangkuan Rion, melingkarkan tangan di leher lelaki itu, menggesekkan pipinya ke pipi Rion dengan sikap paling manja yang dia punya, berusaha meluluhkan hati lelaki itu.

Tapi kali ini tak berhasil. Rion tetap diam, tatapannya masih tajam, tangannya tak bergerak sama sekali, tak membalas pelukan atau usapan gadisnya.

" Kamu habis peluk siapa? " Tanya Rion tiba-tiba, suaranya rendah dan berat.

" Kenapa sih kok tanya begitu? aku gak habis peluk siapa-siapa.. kok.. " jawab Zinnia cepat, matanya membulat berpura-pura terkejut.

" Parfum kamu wanginya berubah.. " potong Rion langsung, hidungnya sudah menangkap perbedaan itu sejak Zinnia baru masuk. Aroma khas tubuh dan parfumnya masih ada, tapi bercampur dengan aroma lain yang sangat dia kenal... aroma milik Darren.

" Em.. i.. itu.. entahlah mungkin cuman perasaan kamu aja. " bantah Zinnia lagi, meski di dalam hatinya sudah panik hebat.

" Gak usah bohong kamu, aku tahu barusan kamu habis dari kabin Darren. Aku lihat bisa dengan jelas. "

DEG!

Seolah disiram air es dingin, seluruh tubuh Zinnia menegang kaku. Wajah pura-pura polosnya lenyap seketika, mulutnya terbuka mau berkata sesuatu tapi tak ada suara yang keluar. Dia tahu, kalau Rion sudah bilang begitu, berarti dia melihat semuanya, dan berbohong lagi cuma akan membuat keadaan makin buruk.

" Iya, aku memang kesana. Maaf.." akhirnya Zinnia pasrah, kepalanya menunduk tak berani menatap.

Rion menghela napas panjang, tapi amarah di matanya tak berkurang sedikitpun.

" Ok, kalau kamu masih mau bebas kesana kemari, masih mau dekat sama orang lain, masih mau pergi menemui Darren seenaknya... Rasanya, kita gak perlu punya hubungan khusus. Aku gak bisa berbagi sama siapapun Zinnia. Kamu tau sifatku, aku mau semuanya milikku, dan aku mau milikku cuma untukku saja. Kalau kamu gak bisa terima itu... lebih baik berhenti sekarang. "

Kalimat itu menusuk tepat ke hati Zinnia, membuatnya panik, bingung dan takut sekaligus. Dia tak mau kehilangan Rion, dia tak mau semuanya berakhir begini, tapi otaknya kosong tak tahu harus menjelaskan bagaimana, tak tahu cara membuat lelaki itu percaya.

Dan akhirnya sifat nekadnya muncul.

Tanpa berkata apapun, Zinnia mendorong dada Rion sampai lelaki itu terjatuh terlentang di atas kasur, lalu dia mengangkat tubuh sedikit dan menindih Rion, kedua lututnya berada di samping pinggang lelaki itu, posisinya akrab dan intim sekali.

Sebelum Rion sempat bertanya atau marah lagi, bibir Zinnia langsung menempel di leher lelaki itu. Dia menciumnya, menjilatnya, menggigit pelan titik-titik sensitif yang dia hafal betul, bergerak dari atas ke bawah, dari samping ke depan, usapan bibir dan lidahnya sengaja dibuat lambat dan menggoda, seolah mau menghapus semua amarah dengan rasa nikmat.

Rion langsung tertegun, seluruh otot tubuhnya menegang keras, napasnya yang tadinya teratur langsung berubah cepat dan berat, dan saat bibir gadisnya menyentuh titik yang paling sensitif... dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, matanya terpejam erat berusaha mempertahankan kewarasannya.

" Bahaya juga dia... berbuat salah, berbohong, pergi dengan orang lain, lalu sekarang menggodaku seenaknya... dan pada akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa marah lama, tak bisa melepaskannya... " gumamnya dalam hati, merasa kalah telak.

Saat Rion sudah mulai goyah, saat api di dalam tubuhnya sudah menyala besar, Zinnia tiba-tiba menghentikan aksinya. Dia mengangkat wajahnya, dan mata yang tadinya penuh godaan kini sudah berkaca-kaca, lalu butiran bening jatuh satu per satu membasahi pipinya dan juga dada Rion.

" Maaf.. aku salah.. aku salah menemui Darren.. aku tadi dengar dia merintih kesakitan parah, dia terlihat sakit sekali sampai tak bisa berdiri, aku cuma kasihan.. aku gak ada maksud apa-apa, aku gak mau dekat sama dia, aku cuma mau kamu saja.. maaf apapun itu maafin aku Rion... Aku gak siap berpisah sama kamu.... "

Suaranya terguncang terisak-isak, tangannya mencengkeram erat kemeja Rion, tubuhnya gemetar ketakutan, air matanya terus mengalir deras seolah mau habis semua.

Dan melihat itu... semua amarah, semua kecurigaan, semua rasa sakit hati yang ada di hati Rion seketika lenyap begitu saja, digantikan rasa iba, rasa sayang dan rasa ingin melindungi yang meluap-luap.

Dia mengangkat tangannya, memegang wajah gadis itu, mengusap air matanya dengan ibu jarinya lembut sekali, tatapannya kini sudah kembali lembut, meski masih ada sedikit sisa kekhawatiran di dalamnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!