Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7# Menemukan yang di cari
“Pantas saja Rhea langsung pergi, kamu nyakitin dia lagi Ga?” tanya Aiden pada Rega, dia lantas menuju mama Indah. “Maaf tadi ke jebak macet, tan.” Aiden berjalan menghampiri mama Indah.
Semua orang langsung menatap kearah Aiden, begitu juga Karin yang menatap sendu kearah pria tersebut. Tenggorokannya seolah tercekat, dia hanya bisa diam dan menatap lekat pria tersebut. Sedangkan Aiden belum menyadari keberadaan Karin karena dia masih menyapa mama Indah dan papa Harun, terlebih Karin langsung membalik badan.
Rega menghampiri Aiden, dia memastikan tidak salah dengar dengan ucapan sepupunya yang bilang kalau Rhea ada di sana. Aiden mengangguk, dia menunjuk kearah luar rumah. “Dia baru saja pergi,” ucap Aiden.
“Kamu bilang Rhea ada disini?” tanya Rega diangguki Aiden. “Itu baru saja jalan keluar,” jawab Aiden yang tadi berpapasan dengan Rhea saat dia baru mau masuk, namun Rhea yang diambang pintu langsung memutar balik tubuhnya dan bergegas pergi.
Dengan langkah seribu dia keluar mengejar Rhea setelah sebelumnya Rega berjanji pada mama Indah akan membawa calon menantunya kembali. Rega menyakinkan mama dan papanya kalau dia tidak berbuat sampai sejauh itu dengan Karin, mama Indah membiarkannya pergi. Papa Harun bahkan meminta Aldo untuk mengikuti Rega, entah kenapa perasaan papa Harun tidak tenang saat itu.
Setelah Rega dan Aldo pergi, di sana hanya tinggal mama Indah, papa Harun dan tentunya Aiden sang keponakan. Di ruang tamu keluarga Darmawan saat itu masih terjadi ketegangan disana, dimana mama Nirma masih meyakini bahwa anak yang dikandung Karin adalah anak Rega.
Perdebatan dua ras terkuat di bumi kembali terjadi dan tidak bisa terelakkan, papa Andi dan papa Harun bahkan kesulitan untuk menghentikan ke duanya. Mama Indah tetap percaya pada ucapan putranya, mama Indah bahkan menyuruh mama Nirma untuk menanyakan pada Karin siapa ayah dari anak yang di kandungnya. Sayangnya mama Nirma selain keras kepala, dia juga kekeh dengan pendiriannya.
Sementara itu Aiden masih dengan kebingungannya, dia baru saja datang. Sebelumnya Aiden tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana, namun dia kemudian memperhatikan perempuan yang terlihat menunduk sambil terisak. Aiden tidak bisa melihat wajahnya karena perempuan tersebut berdiri membelakanginya.
“Karin! Kamu jangan diam saja, kalau memang anak itu milik Rega. Dia harus bertanggung jawab,” sentak papa Andi.
Deg
“Ka-Karin? Apa dia Karin yang aku cari?” gumam Aiden, dia memberanikan diri menghampiri Karin.
Jantung Aiden semakin berdetak tidak karuan, dia yakin kalau perempuan yang berdiri membelakanginya tersebut adalah orang yang selama ini dia cari. Aiden meraih tangan Karin, dia membuat tubuh Karin berbalik agar menghadapnya. “Apa dia anakku, Rin?”
Deg
Karin mendongakkan wajahnya menatap Aiden. “Ka-kak Aiden?” dia semakin terisak dengan keras.
Papa Harun dan mama Indah terkejut mendengar ucapan Aiden.
“Apa maksud kamu, Aiden?” papa Harun menyela.
Aiden menghela napas, dia menatap pamannya tersebut.
“Om, tante. Karin adalah perempuan yang Aiden ceritakan, dia yang Aiden cari selama ini. Aiden yakin anak yang dia kandung adalah anakku,” ucapnya pada mama Indah dan papa Harun.
Mama Indah langsung terduduk lemas, tidak berbeda dengan mama Nirma yang juga syok. Sedangkan Alya hanya diam membatu, dia sedang mencerna situasi yang kacau disana.
Mendengar hal tersebut papa Andi langsung menarik kerah kemeja Aiden. “Berani-beraninya kamu,” satu tangan lain sudah terkepal dan papa Andi siap untuk melayangkan bogem mentahnya pada Aiden.
“Tunggu Andi!” papa Harun langsung mencekal tangan sahabatnya yang hendak me mukul keponakannya tersebut. “Jangan menghalangiku, Harun! Meskipun dia keponakanmu, aku akan tetap memberinya pelajaran. Lepaskan tanganmu dariku!” teriak papa Andi.
“Apa dengan cara seperti ini masalah bisa selesai? Kita bicarakan baik-baik, kita harus mendengar versi mereka berdua. Aku tidak akan menghalangimu menghukum Aiden jika memang dia bersalah,” papa Harun memang kecewa, namun dia masih bisa berpikir dengan kepala dingin.
Papa Andi menurunkan tangannya, dia melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kemeja Aiden. Papa Andi langsung memalingkan wajahnya dari Aiden dan Karin.
“Karin. Om harap kamu berkata jujur, apa benar kamu mengandung anak Aiden?” tanya papa Harun dengan suara yang tenan dan lembut.
Karin mengangguk. “Maafin Karin,”
“Karin! Kamu benar-benar,” mama Nirma berdiri dan sudah mengangkat tangannya keatas, Karin langsung memejamkan matanya.
“Semua tidak seperti yang kalian bayangkan,” Aiden menjadi tameng untuk Karin. “Ijinkan saya menjelaskan kejadian yang sebenarnya,” ucapnya kemudian.
Mereka akhirnya duduk dengan tenang dan Aiden mulai menceritakan pertemuannya dengan Karin satu setengah bulan yang lalu. Semua berawal saat Karin mengambil cuti libur ke Malaysia bersama dengan teman-temannya, Aiden kebetulan memang sedang menghadiri pertemuan bisnis dan menginap di hotel yang sama dengan tempat Karin menginap.
Aiden melihat beberapa perempuan yang sedang menikmati pesta di mana Aiden juga menemani kliennya disana berpesta, diantara mereka semua ada Karin. Terlihat memang Karin tidak terlalu nyaman disana karena teman-temannya memaksa untuk ikut minum. Namun Karin menolak dan dia pamit ketoilet, saat itulah sepertinya salah satu temannya mengerjai Karin. Dia menukar minuman Karin, dan si alnya Karin meminumnya setelah kembali dari toilet.
Karena merasa pusing, Karin pamit untuk kembali kekamar hotelnya. Karin berjalan sempoyongan dan masuk kedalam lift dimana Aiden juga ada disana. Aiden membantu memapah Karin karena dia sudah hampir kehilangan kesadaran.
“Maafkan saya om, tante. Malam itu saya juga dalam pengaruh minuman, harusnya saya minta tolong petugas hotel. Tapi malam itu saya membawa Karin masuk kedalam kamar saya, hingga kejadian itu kami alami tanpa sadar sepenuhnya. Saya akan terima hukuman apapun dari om Andi,” ucap Aiden, dia memang harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan.
"Apapun alasannya, saya tahu perbuatan kami tidak bisa di benarkan. Saat itu saya hanya berpikir ingin membantu Karin, sama sekali tidak ada niatan apapun. Kami bahkan juga tidak saling mengenal saat itu," lanjut Aiden, dia tidak membela diri. Karena apapun alasannya itu semua tidak di benarkan.
Mama Indah dan papa Harun menghela napas, ada rasa lega karena bukan Rega. Namun ada rasa sedih dan kecewa, karena merekalah yang selalu menjadi tempat sang keponakan utuk pulang semenjak kedua orang tua Aiden bercerai.
***
“Papa kecewa denganmu Karin, papa sudah pernah bilang untuk berhenti berteman dengan mereka. Sekarang kamu lihat sendiri bagaimana hasilnya, merekalah yang menghancurkanmu. Kamu sendiri yang harus menanggungnya,” ucap papa Andi dengan penuh kekecewaan.
Karin hanya menunduk, dia tahu salah.
“Tidak seharusnya papa hanya menyalahkan Karin, Rhea juga bersalah pa. Harusnya dari awal Rhea mengalah pada Karin,”
“Semua tidak ada hubungannya dengan Rhea, ma! Jangan menyalahkan siapapun,” sentak papa Andi.
“Papa selalu seperti itu. Apa karena dia putri Alana, jadi papa selalu membelanya?” mama Nirma menaikkan suaranya.
“Cukup ma, pa! Karin muak, Karin capek. Semua ini salah papa dan mama, papa dan mama selalu bertengkar hanya karena wanita yang bahkan tidak ada lagi di dunia. Mama pikir karena siapa Karin membenci mbak Rhea? Semua karena mama, mama selalu bilang kak Rhea merebut kasih sayang papa. Karena kak Rhea anak dari cinta pertama papa, karena itu papa menyayanginya. Bahkan papa yang minta mama untuk mengadopsi kak Rhea,” teriak Karin, tangisnya kembali pecah. "Tapi nyatanya semua itu bohong. Mama membohongiku dan mbak Rhea," lanjutnya, Aiden langsung meraih tubuh Karin dan mendekapnya.
Plak
Mama Indah menam par mama Nirma. “Jadi ini alasanmu mengadopsi Rhea, Nirma? Disini bukan Rhea yang bersalah, tapi kamu dan Andi. Rhea tidak pernah tahu tentang masalah kalian dengan orang tuanya, dan perlu kamu tahu Nirma. Alana tidak pernah mencintai Andi, karena dia dan Huan sudah dijodohkan sejak kecil. Dan tanpa kalian semua tahu, Alana dan Huan sudah menikah semenjak mereka duduk di bangku kuliah. Mereka berhasil menyembunyikan hingga lulus kuliah,”
Papa Andi dan papa Harun pun terkejut atas ucapan mama Indah, karena mereka berdua juga baru tahu tentang kenyataan tersebut. “Bagaimana kamu tahu, ma?” tanya papa Harun pada mama Indah.
“Alana dan Latifa yang menceritakan padaku, pa. Karena itulah Alana tidak mau berteman dengan pria saat kuliah, karena dia menjaga diri dan hati yang sudah menjadi milik Huan. Mereka baru menggelar resepsi setelah lulus, tentu kalian berdua lebih tahu karena kalian sahabat Huan.”
Alya yang menddngar itu tersenyum smirk. “Alya tidak pernah menyangka, mama bersikap tidak adil pada kak Rhea karena masalah mama dengan papa.” Alya kemudian meletakkan dua amplop di meja tepat dihadapan kedua orang tuanya. “Kak Rhea menitipkan itu pada Alya, semua biaya selama kak Rhea tinggal disini. Kak Rhea tidak pernah menggunakannya,” Alya kemudian pergi dari sana meninggalkan semua orang yang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
“Alya kecewa sama mama, papa. Juga paa mu, mbak Karin." ucapnya sebelum meninggalkan ruang tamu.
Drrt
Drrt
Aiden mengambil ponselnya, tadinya dia hendak menolak panggilan telepon tersebut. Namun saat tahu Aldo yang menghubunginya, Aiden langsung menggeser tombol hijau. Dia terlihat tegang saat bicara dengan Aldo.
“Oke, Aldo. Aku segera ke sana!” Aiden memutus sambungan teleponnya dengan Aldo, dia lantas menatap mama Indah dan papa Harun. Dia menghela napas sebelum mengatakan pada mereka apa yang terjadi. Aiden memberitahu mama Indah dan papa Harun kalau Rega baru saja mengalami kecelakaan, saat ini dia sedang di tangani di rumah sakit Hasafa.
Dia harus bergegas membawa ke dua orang tua Rega ke rumah sakit, Aiden berat meninggalkan Karin yang masih dalam masalah seperti ini.
Aiden menatap Karin. “Jaga dia baik-baik, aku akan kembali dan menikahimu setelah memastikan kondisi Rega. Kamu bisa pegang janjiku,” ucapnya pada Karin.
“Om, tante. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab, om tahu dimana mencari saya jika saya ingkar. Permisi!” Aiden mengusap lembut puncak kepala Karin, selanjutnya dia berangkat ke rumah sakit Hasafa.
Baru setelah itu Aiden membawa mama Indah dan papa Harun ke Hasafa, sebelum itu dia sempat minta nomor ponsel Karin. Aiden berjanji untuk menghubungi Karin setelah nanti samapi di rumah sakit.