NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 : Nayra Terkejut

Koridor itu kembali hening. Udara terasa lebih berat begitu Arsen berhenti tepat di depan Nayra.

Raya langsung maju setengah langkah, berdiri di depan ibunya. Tatapannya tajam, penuh waspada.

Arsen menurunkan pandangannya sedikit, menatap Raya. Tidak marah, tidak juga tersinggung. Justru… tenang.

“Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak dia izinkan,” ucapnya datar.

Raya tidak langsung mundur. “Tapi tadi...”

“Aku berhenti.” Kalimat itu singkat, tegas dan tak terbantahkan.

Raya terdiam.

Nayra menatap Arsen beberapa detik. Ada sesuatu di dalam ucapannya yang jujur.

“Apa maumu?” tanya Nayra pelan.

Arsen tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah Alea yang sedang memegang gaun Nayra, lalu kembali ke Nayra.

“Kita selesaikan ini,” ucapnya. “Tanpa paksaan.”

Nayra menatapnya, mencoba membaca maksud di balik kalimat itu.

“Aku tidak suka disentuh,” jawab Nayra akhirnya... jujur. “Dan aku tidak suka, kita di posisikan seolah pasangan kekasih.”

Arsen sedikit mengangguk, ia tdak membantah. “Baik.”

Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat Nayra sedikit terkejut.

“Aku akan mengikuti maumu,” lanjutnya. “Bukan pada fotografer atau siapa pun.”

Raya melirik Nayra. “Mama…”

Nayra menarik napas panjang. Lalu perlahan berdiri tegak kembali. “Oke, lima menit lagi,” ucapnya pelan. “Kita selesaikan.”

Arsen mengangguk. Tanpa senyum. Tapi, ada sesuatu yang melunak di matanya.

Kembali ke Sesi Pemotretan...

Lampu kembali fokus. Kamera siap. Namun kali ini... suasananya berbeda. Arsen berdiri di samping Nayra. Jarak mereka tidak terlalu dekat.

Fotografer sempat terlihat bingung, tapi tetap melanjutkan. “Baik… pose terakhir.”

Kali ini, Arsen tidak langsung menyentuh. Ia hanya menoleh sedikit ke Nayra, seolah memberi isyarat.

Nayra terdiam sesaat… lalu, perlahan ia sendiri yang melangkah setengah langkah mendekat.

Arsen menahan napas sebentar. Untuk pertama kalinya, bukan dia yang mengontrol jarak. Tatapan mereka bertemu lagi, kini lebih tenang.

Klik.

Tidak banyak arahan dan gerakan.

***

Mobil hitam berhenti di depan mansion milik Arsen. Lampu-lampu taman menyala hangat. Bangunan itu sangat indah jika di liat pada malam hari.

Pintu mobil terbuka.

Nayra turun lebih dulu. Disusul Raya dan Alea. Alea langsung menatap bangunan itu dengan mata berbinar.

“Woaaah… istana om Arsen bagus sekali kalau di lihat malam hari.”

"Alea!" tegur Raya.

Alea langsung terdiam melihat wajah kakaknya yang menakutkan.

Arsen turun dari sisi lain. Langkahnya tenang seperti biasa.

Pintu utama mansion terbuka perlahan.

Cahaya hangat dari dalam menyambut mereka, kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Lantai marmer mengkilap, lampu gantung besar berkilauan di langit-langit tinggi, dan aroma lembut kayu serta parfum ruangan langsung terasa begitu mereka melangkah masuk.

Namun… keindahan itu tidak benar-benar sampai ke hati Nayra. Langkahnya pelan, wajahnya jelas terlihat lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga pikirannya.

Raya berjalan di sampingnya, wajahnya masih kaku. Tatapannya sesekali menyapu sekitar.

Sementara Alea… ia menguap kecil, lalu mengucek matanya. Tangannya masih menggenggam ujung gaun Nayra.

“Ngantuk…” gumamnya pelan.

Langkah Arsen berhenti beberapa meter di depan mereka.

“Nayra.”

Suara itu tenang, tapi cukup membuat Nayra mengangkat wajahnya.

Arsen melirik ke arah seorang wanita paruh baya yang sejak tadi menunggu di dalam.

“Martha.”

Wanita itu langsung mendekat. “Ya, Tuan.”

“Antar mereka ke kamar,” ucap Arsen singkat, lalu melirik ke arah Raya dan Alea. "Kalian harus istirahat."

Raya langsung mengernyit. “Aku tidak...”

“Raya,” potong Nayra pelan.

Nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan protes itu.

Raya menatap ibunya beberapa detik. Lalu akhirnya dia diam, meski jelas tidak sepenuhnya setuju.

Martha tersenyum lembut. “Mari, Nona saya antar.”

Alea langsung mengangguk kecil. “Ayo, Kak…”

Raya menghela napas, lalu mengikutinya. Namun sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Nayra… tatapannya penuh tanya dan kekhawatiran.

Nayra membalas dengan senyum tipis. Meyakinkan, meski ia sendiri tidak benar-benar yakin. Langkah kaki mereka perlahan menjauh, naik ke lantai atas.

Kini hanya tersisa Nayra dan Arsen. Arsen menatapnya sejenak. Lalu berbalik.

“Ikuti aku.” Singkat. Tanpa penjelasan.

Nayra tidak langsung bergerak. Tapi beberapa detik kemudian, ia mengikuti Arsen dari belakang.

Di depan ruang kerja Arsen.

Pintu terbuka.

Ruangan itu luas, tapi terasa lebih dingin dibanding bagian rumah lainnya. Dinding didominasi warna gelap, rak buku tinggi memenuhi sisi ruangan, dan sebuah meja besar berdiri di tengah, rapi tanpa banyak benda.

Arsen masuk lebih dulu. Nayra berhenti di dekat pintu. “Masuk,” ucap Arsen tanpa menoleh.

Nayra melangkah masuk pelan. Pintu tertutup di belakangnya. Suasana langsung terasa mencekam.

Arsen berjalan menuju mejanya, lalu berhenti. Ia tidak duduk. Hanya berdiri, membelakangi Nayra beberapa detik.

“Tolong persiapkan dirimu. Aku tidak ingin ada kekacauan saat pesta pernikahan kita.”

Suara Arsen datar, tapi tegas. Ia berdiri di dekat meja kerjanya, jemarinya mengetuk pelan permukaan kayu yang mengkilap.

Nayra mengangguk singkat. “Iya… aku mengerti.” Jawabannya pelan.

Arsen menoleh. Tatapannya langsung mengunci Nayra, tanpa celah untuk dihindari.

“Besok Ayahku akan kembali dari Swiss.”

Ia berhenti sejenak. Bahunya sedikit menegang, lalu napasnya keluar perlahan... tertahan, seperti ada beban yang tidak bisa ia ucapkan.

“Aku mohon…” suaranya lebih rendah kini, “kamu dan kedua anakmu harus berpakaian pantas.”

Tatapannya turun sekilas, memperhatikan gaun yang masih dikenakan Nayra, lalu kembali ke wajahnya.

“Dan pakaian yang kamu bawa dari rumah lamamu…” Ia berhenti lagi. Rahangnya mengeras. "Jangan pernah kalian sentuh.”

Nayra tidak langsung menjawab. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung gaun yang ia pakai sekarang, kainnya sedikit berkerut di genggamannya.

Ia menghela napas pelan, bahunya turun. “Itu masih layak pakai,” ucapnya. Suaranya tidak tinggi, tapi ada getaran yang terlihat.

Arsen tidak langsung menyela. Namun ketika Nayra mengangkat wajah, ia sudah lebih dulu menatapnya. Tatapan yang sama... dingin, lurus, tak tergoyahkan.

“Aku mohon…” ulangnya, lebih pelan, tapi justru terasa lebih menekan. “Jangan membantah.”

Tapi ruang di antara mereka seolah menyempit. Nayra terdiam. Arsen melangkah satu langkah mendekat.

“Karena yang datang besok…” ucapnya, suaranya kembali datar, “bukan hanya Ayah dan Ibuku.”

Ia berhenti tepat beberapa langkah di depan Nayra. “Kakekku juga akan datang.”

Nama itu tidak diucapkan dengan keras. Tapi cukup membuat udara terasa lebih berat.

Arsen menatapnya dalam. “Dia pemilik seluruh warisan keluarga ini.”

Nayra tidak berkata apa-apa, ia hanya terdiam. Namun jemarinya perlahan terlepas dari kain gaunnya… lalu jatuh lemas di sisi tubuhnya.

“Jadi…” suaranya pelan dan sedikit ada keraguan. “keluargamu… besok datang?”

Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Nayra.

“Ya,” jawabnya tegas.

Nayra menelan ludah pelan. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali naik.

“Apa ada lagi selain... mereka?"

Arsen menarik napas pelan, lalu berjalan menjauh beberapa langkah, memberi jarak. Jemarinya menyentuh tepi meja.

“Tentu ada, karena aku juga mengundang semua kolega bisnisku," jelasnya.

Nayra seketika membeku.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!