NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUMBU CINTA DALAM SECANGKIR KOPI.

Malam telah larut ketika Maheer melangkah masuk ke dalam mansion. Suasana rumah terasa hangat, jauh dari kesan dingin yang ia bawa dari kantor. Di ruang tengah, ia melihat Assel dan Razka duduk bersila di atas karpet bulu. Meja rendah di hadapan mereka penuh dengan pemandangan yang kontras; buku PR sekolah paud milik Razka bersanding dengan lembaran-lembaran kertas putih berisi sketsa gaun-gaun elegan hasil goresan tangan Assel.

Maheer berdiri mematung di dekat pilar. Ia memperhatikan bagaimana jemari Assel begitu lincah menari di atas kertas, menggambar lekukan pakaian yang rumit, namun di detik berikutnya ia dengan sabar menunjuk angka-angka di buku Razka. Seolah-olah kehadiran Maheer hanyalah embusan angin, mereka sama sekali tidak menoleh. Kebersamaan itu menciptakan benteng tak kasat mata yang membuat Maheer merasa seperti hantu di rumahnya sendiri.

Merasa diabaikan, Maheer mendengus pelan dan melangkah menuju tangga. Langkah sepatunya sengaja ia beratkan, namun ibu dan anak itu tetap bergeming dalam dunia mereka. Baru setelah Maheer menutup pintu kamar tamu di lantai atas, suara mungil Razka memecah keheningan di bawah.

"Sampai kapankah Om Jahat itu akan tinggal bersama kita, Mama?" tanya Razka dengan nada polos namun penuh selidik.

Assel menghentikan gerakan pensilnya, ia menatap putranya dengan tatapan teduh. "Hust, Mama kan sudah bilang tadi pagi. Tidak boleh berkata sembarangan, Razka. Kau harus menghormati orang yang lebih tua darimu."

Razka mendengus, melipat tangannya di dada. "Kan memang kenyataannya begitu, Ma. Om itu jahat, sudah bikin Mama menangis terus."

Assel menghela napas panjang, mengelus rambut lebat putranya dengan kasih sayang. "Sudah, jangan dibahas lagi. Sekarang kau sudah selesaikan PR-nya? Pergilah tidur, ini sudah malam." Assel mengecup puncak kepala Razka dengan lembut.

"Mama, boleh tidak malam ini Azka tidur di kamar Mama lagi? Biar Azka bisa jaga Mama," pinta si kecil sambil menatap ibunya dengan mata bulat memohon.

Assel tersenyum kecil, hatinya luluh melihat keinginan tulus putranya untuk menjadi pelindung. "Hanya malam ini saja ya? Karena mulai besok kau harus kembali ke kamarmu sendiri."

"Oke Mama, terima kasih!" seru Razka gembira, mengecup pipi ibunya sebelum berlari kecil menuju tangga.

Assel kembali terdiam di ruang tengah. Ia melanjutkan coretan sketsanya dengan dahi berkerut, begitu serius hingga ia tak sadar bahwa Maheer sudah turun kembali ke lantai bawah dengan mengenakan piyama satin hitam.

"Apa yang sedang kau kerjakan? Mengapa kau belum tidur?" tanya Maheer tiba-tiba, suaranya memecah kesunyian.

Assel sedikit tersentak, namun ia tidak menoleh sama sekali. Tangannya tetap sibuk dengan pensil. "Apakah aku wajib menjawabnya?" tanya Assel dengan nada ketus.

Maheer mengepalkan tangan, rasa kesalnya naik ke ubun-ubun. "Menurutmu? Kau pasti tahu jawabannya. Ingat Assel, sekarang aku adalah suamimu. Kau seharusnya tahu bagaimana cara memperlakukan suamimu dengan benar."

Assel mendengus sinis. Ia mulai menyusun kertas-kertas sketsanya yang berserakan dengan gerakan teratur. Setelah rapi, ia berdiri dan memeluk kertas-kertas itu di dadanya. Ia berbalik, menatap Maheer dengan sorot mata yang tajam dan dingin.

"Ingatlah juga janjimu, Maheer," balas Assel tanpa getar di suaranya. "Selama masa iddah-ku belum selesai, kau tidak boleh menuntut apa pun dariku. Termasuk perhatianku."

Tanpa menunggu balasan, Assel melangkah pergi melewati Maheer menuju tangga. Pintu kamarnya tertutup dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Maheer yang terpaku dalam kemarahan yang tertahan. Maheer berjalan cepat menuju dapur, mengambil air dingin dan menegaknya hingga tandas. Hatinya terasa panas, bukan karena haus, tapi karena tembok tinggi yang dibangun Assel seolah tak tertembus.

Di dalam kamarnya, Maheer tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata mendiang kakaknya terus terngiang seperti kaset rusak. Kau akan menyesal bila tahu kebenarannya. Lalu ucapan Assel di mobil tempo hari kembali menghantui. Aku pastikan kau akan memohon ampun padaku.

"Apa sebenarnya yang tidak aku tahu?" gumam Maheer gelisah.

Ia teringat Muzammil pernah berkata memiliki bukti sebelum kecelakaan itu terjadi. Maheer bangkit dari ranjang, rasa ingin tahunya memuncak. Ia keluar kamar dan menuju ruang kerja kakaknya yang gelap. Dengan perlahan, ia menyalakan lampu meja. Matanya langsung tertuju pada sebuah bingkai foto perak di atas meja jati itu.

Foto itu memperlihatkan Assel yang memeluk Muzammil dari belakang, sementara Muzammil memangku Razka yang tertawa. Ketiganya tersenyum begitu lepas, sebuah potret kebahagiaan yang sempurna. Rasa sesak langsung menghimpit dada Maheer. Air matanya merembes tanpa bisa ditahan.

"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku yang telah membuatmu pergi," bisik Maheer lirih. Rasa bersalah itu kembali merayap, melumpuhkan niatnya untuk mencari bukti. Ia merasa tidak pantas mengusik ruangan itu lebih lama lagi. Dengan langkah lunglai, ia kembali ke kamarnya.

Keesokan paginya, Maheer bangun lebih awal. Ia berniat pergi ke kantor sebelum matahari tinggi untuk menghindari interaksi yang menyesakkan. Namun, saat ia sampai di dapur untuk membuat kopi, ia terkejut melihat sosok Assel sudah berada di depan kompor. Bau harum nasi goreng bumbu tradisional memenuhi ruangan. Mbok Ratmi sibuk menata piring di meja makan.

"Kenapa Nyonya yang masak, Mbok? Apakah kalian tidak bisa memasak?" tanya Maheer pada Mbok Ratmi dengan nada heran.

Mbok Ratmi menoleh sambil tersenyum. "Nyonya memang sudah terbiasa begini, Tuan. Katanya, beliau ingin suami dan anaknya memakan masakan yang dibumbui dengan cinta dari tangannya sendiri."

Maheer terdiam. Ia menarik kursi dan duduk. Di depannya sudah tersedia secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap. "Ini siapa yang membuatkan?"

"Nyonya juga yang membuatnya tadi, Tuan," jawab Mbok Ratmi.

Maheer menyesap kopi itu perlahan. Rasanya mantap, persis seperti kopi yang ia minum kemarin pagi. Itu artinya, meski ia bersikap kasar, Assel tetap menjalankan perannya secara diam-diam.

Tak lama, Razka muncul dengan seragam PAUD-nya yang rapi. "Mama, Azka sudah rapi kan? Azka sudah bisa pakai baju sendiri!" lapor bocah itu dengan bangga.

Assel berbalik, membawa piring besar berisi nasi goreng hangat. "Wah, anak Mama semakin pintar ya. Sini, hadiahnya!" Assel mendaratkan kecupan hangat di pipi Razka, membuat bocah itu tertawa geli. "Sekarang ayo kita sarapan."

Tanpa berkata apa pun, Assel mengambil piring di hadapan Maheer. Ia menyendokkan nasi goreng dan meletakkan telur mata sapi setengah matang di atasnya, persis seperti cara Muzammil menyukai sarapannya dulu. Setelah itu, ia meletakkan piring itu kembali di hadapan Maheer tanpa sepatah kata pun.

Maheer memperhatikan wajah Assel dari samping. Wanita ini begitu kontradiktif. Di satu sisi ia begitu ketus dan dingin, namun di sisi lain, ia masih melayaninya di meja makan. Maheer mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng itu ke mulutnya.

Matanya sedikit membelalak. Rasanya sangat enak, jauh lebih lezat dari masakan koki di luar negeri. Ia teringat ucapan Mbok Ratmi tadi. Dibumbui dengan cinta.

"Benarkah masakan ini dibumbui cinta? Ataukah ini hanya cara dia untuk menunjukkan bahwa dia tetap wanita terhormat meski aku merendahkannya?" batin Maheer.

Suasana sarapan itu berlangsung hening namun terasa berbeda. Maheer merasa, memiliki istri ternyata tidak semengerikan yang ia bayangkan. Dilayani saat makan memberikan rasa nyaman yang aneh di hatinya. Sambil mengunyah, ia terus mencuri pandang ke arah Assel yang sedang sibuk menyuapi Razka. Ada sesuatu yang mulai bergeser di dalam dada Maheer, sebuah rasa penasaran yang perlahan mengikis kebenciannya.

Namun, ia tahu, perjalanan ini masih sangat jauh. Di balik nasi goreng yang enak ini, masih ada rahasia besar yang belum terungkap, dan ada luka yang belum benar-benar sembuh. Maheer menatap kopi hitamnya, menyadari bahwa mungkin ia memang harus mulai mencari kebenaran yang tertunda itu.

1
partini
lebih tau agama hemmm pintar kamu her
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih kesempatan dah langsung nyosor aja tuh 🤭🤭🤭lanjut thorr😍😍
Lia siti marlia
ok maherr ...semangat up nya thorrr💪💪💪😍
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!